Bab 5 Penasaran
Hal yang paling aku benci adalah timbulnya rasa penasaran pada urusan orang lain. Tidak hanya terjadi sekali saja, tetapi dulu ketika aku mengenal Nadia, berawal dari rasa penasaranlah yang membuat perempuan itu menjadikan bahuku sebagai sandaran. Sangat sulit bagiku untuk mengendalikan perasaan ini.
Aku mungkin telah salah ikut campur dengan urusan pribadi Tari, tetapi entah mengapa emosi kerap kali hadir ketika aku tidak berhasil mengetahui sesuatu yang ia tutup dengan rapat dariku. Sebagai manusia, aku tahu perilaku ini sangat tak wajar. Bagi kebanyakan orang, aku bukan manusia. Aku tidak pantas menjadi seorang pemimpin, atasan, atau sesuatu yang mendeskripsikan kepemimpinan itu sendiri. Karena seperti yang semua orang tahu, aku terlalu memaksakan kehendak kepada mereka.
“Tari, saya mau melihat schedule saya beberapa minggu ke depan. Tolong kamu bawakan dokumennya ke ruangan saya.”
Setelah menelepon perempuan itu, ia masuk ke ruanganku sambil membawa secarik kertas.
“Silakan, Pak.” Ia menyodorkan kertas tersebut, dan aku mengambilnya.
Selesai membaca beberapa jadwal yang mengharuskanku untuk melakukan pertemuan, memimpin rapat dan segalanya, aku mengembuskan napas gusar.
“Ada apa, Pak?” tanya Tari.
“Tidak apa-apa. Bawa ini, dan kembalilah ke ruanganmu.”
Tari mengambil kertas di tanganku, lalu ia melangkah pergi. Sementara itu, aku memperhatikan tubuhnya yang perlahan menjauh, menutup pintu dan tak terlihat lagi.
Sejak mengurus perusahaan, aku menjadi orang yang gila kerja. Aku jarang sekali berlibur atau melakukan hal yang seharusnya bisa membuat pikiranku tidak gundah.
Hal biasa yang aku lakukan untuk melampiaskan kegundahan itu adalah kerja lembur. Tidak jarang juga aku tak memperbolehkan beberapa pekerja pulang meskipun jam kerja mereka telah habis.
“Permisi, Pak. Ini beberapa dokumen yang harus Anda tandatangani dalam perjanjian kerjasama dengan mitra.” Setumpuk kertas Tari letakkan di mejaku.
Aku mengambil dan membaca tumpukan paling atas.
“Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak.” Setelah menundukkan wajah, Tari mencoba melangkah pergi.
“Tunggu. Kamu mau ke mana?”
Perempuan tersebut berbalik badan, lalu menjawab, “Pulang, Pak. Ini sudah jam pulang.”
“Saya mau kamu tetap di sini untuk beberapa jam. Kita lembur. Ada beberapa dokumen yang harus kamu kerjakan dan selesaikan hari ini juga.”
“Tapi, Pak. Saya sudah ada janji untuk—“
“Jangan membantah! Lakukan saja apa yang saya perintahkan!” tegasku kemudian sehingga Tari memejamkan kedua mata beberapa detik, lalu mengembuskan napas.
“Baik.”
“Kembali ke ruangan kamu. Akan saya kirimkan dokumennya ke komputer kamu.”
Tak merespons, Tari langsung melangkah pergi.
-II-
Asyifa masuk ke ruanganku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Hal yang selalu membuatku tidak menyukai dia. Sikapnya semena-mena, tidak tahu aturan, dan banyak lagi yang aku tidak suka dari dirinya. Termasuk caranya bersikap pada orang lain yang seolah-olah menganggap dirinya jauh lebih tinggi dan terhormat.
“Sayang. Aku kangeeenn banget sama kamu,” ucapnya seraya bergegas memeluk diriku yang tengah duduk di kursi.
Aku tentu saja menghindari hal tersebut.
“Loh, kenapa? Kok menghindar?”
“Kalau masuk, kamu ketuk pintu dulu. Dan ini bukan kafe atau club. Ini ruang kerja saya. Kantor. Kamu tidak bisa sembarangan memeluk saya atau mencium saya.”
“Oh my God! Ayolah, Sayang. Kamu nggak tahu seberapa rindunya aku sama kamu. Kamu selalu sibuk kerja. Kalau diajakin ketemu, alasannya inilah, itulah. Aku juga butuh kamu,” cecar perempuan berlipstik merah menyala di hadapanku.
Aku tak merespons. Karena percuma saja merespons Asyifa, ia selalu saja cerewet. Bahkan, aku tidak pernah menganggap dia sebagai kekasihku. Aku tidak pernah menyatakan perasaan padanya. Namun, entah bagaimana ia kini selalu mengaku-ngaku sebagai kekasihku.
Asyifa tak menyerah begitu saja, ia terus menggoda, bahkan berposisi menindih tubuhku di atas kursi. Ia menarik dasi yang terikat di leherku.
“Aku sangat ingin mencium kamu, Sayang,” bisiknya, tajam. Seketika semerbak wangi napasnya tercium jelas di hidung. Tak bisa, sangat mustahil ia bisa menggoda lelaki sepertiku. Mau bagaimanapun penampilan atau tingkahnya di depan mataku, aku tidak akan terpengaruh olehnya. Aku tak akan teperdaya oleh perempuan sialan ini.
Tak berselang lama, muncullah Tari. Masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Seketika aku memperbaiki posisi, lalu menjauhkan Asyifa dari tubuhku.
Melihat hal yang tidak wajar di hadapannya, Tari tampak ragu untuk melanjutkan langkah.
“Tidak apa-apa, masuklah. Lain kali, kamu harus mengetuk pintu.”
“Maaf, saya lupa, Pak.”
“Ya, sudah. Ada apa?”
“Ini ... berkas-berkas yang Anda minta, Pak.” Dia menyodorkan sekumpulan berkas.
Aku memeriksa beberapa berkas yang telah dikerjakan oleh Tari.
“Oke, bagus. Sudah betul semua.”
“Dia siapa, Sayang?” Asyifa bertanya sambil mendekati Tari yang tertunduk gugup.
“Sekretaris baru.”
“Kamu, kok, nggak bilang aku, sih, kalau ada pegawai baru? Pengganti si Rani? Cantik juga.”
“S-saya Tari, sekretaris baru, Bu.”
“IBU?! Kamu manggil saya ibu? Hei, saya masih muda. Kamu panggil saya nona.”
“M-maaf, Nona.”
“Bagus.”
“Asyifa! Jangan seenaknya kamu menyuruh-nyuruh pegawai saya. Kamu tidak berhak atas itu.”
“Loh, memangnya kenapa, Sayang? Bukannya pemberi modal paling besar di perusahaan kamu ini ayahku, ya? Aku punya hak, dong, Sayang. Kamu gimana, sih.”
Inilah salah satu hal yang aku benci dari Asyifa. Senjata ampuh baginya untuk membungkam mulutku agar tidak mampu merespons lagi.
“Tari, kembalilah ke ruangan kamu.”
“Baik, Pak.”
Seperginya Tari dari ruangan, Asyifa menatapku dengan lamat. Ia menyipitkan matanya penuh selidik.
“Kamu pintar, ya, ternyata memilih karyawan, Sayang. Cantik,” ucapnya pelan dengan nada mengolok-olok. Ada nada amarah yang juga aku dengar keluar dari kalimatnya barusan.
Ia mendekatkan bibir di telingaku, lalu berbisik, “Kalau sampai kamu tergoda sama sekretaris baru kamu itu, kamu akan tahu akibatnya, Sayang ....”
Aku menelan ludah sendiri. Di titik ini, aku begitu kesal padanya. Entah kenapa setiap kali aku melihat perempuan ini, emosiku langsung memuncak tak terkendali. Ingin sekali aku membentaknya, sayangnya itu akan menghancurkan bisnis yang enam tahun sudah kuperjuangkan ini.
“Oh, ya. Aku tunggu kamu di rumah, ya. Jemput aku.”
Asyifa melangkah pergi tanpa peduli apakah aku sanggup atau tidak. Tentu saja, mau tidak mau aku harus menuruti apa yang ia katakan. Jika tidak, ia akan mengadu pada ayahnya dan membuat usahaku bangkrut.
Asyifa—perempuan dengan hooded eyes yang selalu mengandalkan kekayaan, kejam dan tidak punya hati. Keinginannya harus terpenuhi. Seorang Andra tidak bisa berkutik jika berurusan dengannya.
Aku memukul meja amat keras, melampiaskan kekesalan yang dipicu keluar oleh Asyifa.
-II-
Keluar dari ruang kerja, aku melihat Tari di luar pintu ruangannya tengah meregangkan otot-otot yang mungkin terasa pegal karena lembur. Sudah pukul 8.00 malam, wajar saja dia merasa pegal-pegal, jam pulangnya mundur beberapa jam dari semestinya.
Aku menatap perempuan tersebut lamat sambil mengunci pintu. Ia belum menyadari. Namun, beberapa saat setelah melihatku sedang menatap ke arahnya penuh tanya, ia berusaha bersikap biasa saja. Ia menyunggingkan senyuman tipis, lalu akhirnya melangkah untuk keluar dari gedung.
Di luar, aku melihat Tari berdiri di pinggir jalan sembari celingukan ke kiri dan kanan.
“Tari, ikut saya,” ucapku yang berdiri beberapa meter di belakangnya.
“Ada apa lagi, Pak? Saya tidak berkewajiban lagi mengikuti perintah Anda.”
“Ikut saya!”
Tari bersikeras, tetap tidak mau melangkahkan kakinya. Aku pun tak menunggu lama, dengan segera kuraih tangan perempuan tersebut dan membuatnya mengikutiku.
“Pak! Anda tidak bisa semena-mena dengan saya! Apa yang sebenarnya Anda lakukan?!”
Sampai di tempat parkir mobil, aku berkata, “Saya akan mengantar kamu pulang.”
Tari menggeleng pelan. “Tidak usah, Pak. Saya bisa pakai taksi.”
“Tidak. Saya bisa antar kamu pulang. Maaf, saya sudah membuat kamu lembur. Tapi, saya mau berterima kasih karena kamu sudah menyelesaikan dokumen-dokumen penting itu.”
“Tidak perlu, Pak. Saya sudah ikhlas.”
Tari tetap tidak mau, ia berbalik badan, tetapi dengan lugas, aku kembali meraih lengannya sambil membuka pintu mobil.
“Pak! Lepasin! Ini namanya pemaksaan, Pak! Anda tidak bisa seperti itu, dong!”
Tidak peduli, aku tetap membuat tubuh ramping Tari memasuki mobil.
Selama perjalanan, aku melihat rahang perempuan di sebelahku mengeras. Ia tampak kesal. Tak terelakkan, tetapi aku benar-benar hanya ingin berterima kasih kepadanya.
“Maaf, cara saya mungkin kasar. Tapi, saya sangat tidak suka kalau orang menolak niat baik saya.”
“Denger, ya, Pak! Jika bukan karena sangat butuh pekerjaan, saya tidak akan pernah sudi menjadi bawahan Anda!” Nada Tari penuh penekanan. Akhirnya, ia bisa juga meluapkan emosi dan kekesalannya itu.
“Oh, oke. No problem bagi saya. Yang pasti, kamu sudah ditakdirkan jadi bawahan saya!”
Suasana menjadi hening seketika, Tari tak bersuara lagi. Ia bersedekap tangan, lalu berekspresi penuh emosi.
“Ngomong-ngomong, apa kamu tidak mau memberitahukan jalan ke rumahmu?”
“Lurus saja. Persimpangan empat di depan belok ke kiri. Saya mau turun di sana dan saya tidak mau Anda ikut campur lagi!”
Aku hanya menanggapi dengan anggukan. Sampai di persimpangan empat dan berbelok ke kiri, sesuai yang diminta perempuan tersebut, aku menghentikan mobil. Tari keluar dan menutup pintu mobil dengan cara sedikit membantingnya.
Ia berjalan buru-buru. Sedangkan aku belum melajukan mobil, hanya memandanganya sampai akhir dia berbelok ke sebuah kompleks perumahan.
Sekarang saya tahu.
-II-
