Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4 Atasan dan Bawahan

“He, mau ke mana kamu?”

Tari yang berjalan keluar dari gedung, lantas berhenti dan berbalik badan.

“Saya ... mau makan siang, Pak.”

“Ikut saya!” tandasku, tegas.

“Tapi, Pak. Saya mau makan—“

“Nanti. Kamu harus ikut saya sekarang. Tidak ada bantahan apa pun!”

Tari mengangguk pelan, kemudian mengikuti langkahku menuju tempat parkir di luar gedung.

“Kita mau ke—“

“Berhenti. Jangan bicara lagi. Jangan banyak tanya.” Aku membuka pintu mobil hitam elegan—CR-V—milikku. “Masuk!”

Tak banyak tanya lagi, Tari segera masuk ke mobil.

Sebelum jam makan siang tadi, seorang pria bernama Abdi Jaya memintaku menemuinya di sebuah restoran hotel bintang lima. Abdi Jaya merupakan seorang investor kaya raya, sudah berpengalaman dalam investasi di bidang properti. Pria berusia 40 tahun yang pandai melihat peluang dalam berbagai bisnis.

Sampai di hotel dan menambatkan mobil, Tari kembali buka suara. “Pak? K-kita mau ... ngapain di sini?” tanyanya dengan nada agak gugup.

“Ikut saja. Kita mau bertemu investor penting. Kamu harus menjaga sikap. Saya meminta kamu menemani saya agar mencatat poin-poin penting yang nanti akan dipaparkan investor kita dalam pengembangan bisnis ke depannya.”

Aku mematikan mesin mobil dan keluar. Berjalan menuju lobi hotel dan bertanya pada receptionist, kemudian menuju ke restoran diikuti oleh Tari di belakangku.

Di meja nomor 37, pria bernama Abdi Jaya tersebut telah menunggu sambil menikmati minuman dan beberapa makanan.

“Selamat siang, Pak Abdi Jaya,” ucapku dengan segurat senyum.

Pria tersebut berdiri dan menjabat tanganku. “Selamat siang, Andra. Wah, Anda semakin terlihat tampan,” pujinya kemudian. Aku duduk berhadapan dengannya, sementara itu Tari berdiri sambil menautkan kedua tangannya di depan.

“Dia ....”

Abdi Jaya melirik Tari, meneliti perempuan dengan lesung pipit tersebut. Tari tersenyum tipis guna menghormati sang investor.

“Oh, dia sekretaris saya, Pak.”

“Oh, begitu.” Tatapan Abdi Jaya berubah seketika, ia manggut-manggut, masih memandang Tari dengan lamat.

Aku berdeham untuk membuyarkan suasana hening di antara kami, lalu berkata, “Jadi, bagaimana soal rencana Pak Abdi untuk investasi di perusahaan saya?”

Abdi Jaya menolehkan pandangan padaku. “Oh, oke. Keputusan saya sudah bulat untuk menanam modal di perusahaan kamu, Andra.”

“Syukurlah. Rencana pengembangan kita bagaimana?”

“Oh, ayolah, Andra. Jangan terlalu serius begitu. Kamu pesanlah kopi dulu biar kita bisa berbincang dengan santai.”

Aku mengangguk dan mengacungkan tangan kepada pelayan untuk memesan secangkir kopi.

“Iya, Pak? Anda mau memesan apa?”

“Saya pesan kopi saja. Kopi hitam, tidak terlalu manis, dan tidak terlalu pahit.”

Pelayan mencatat pesananku. “Ada lagi?”

Aku menolehkan pandangan ke arah Tari yang masih setia berdiri di belakangku. “Nggak ada, Mbak.”

Tari menundukkan wajahnya.

“Eh, kamu nggak pesan makanan buat sekretaris kamu?”

“Oh, nggak usah. Dia sudah makan tadi. Katanya kenyang.”

Aku tahu Tari pasti akan sangat kesal, bahkan dendam padaku setelah mengajaknya ke restoran ini di jam istirahat, lalu tidak memesan makanan juga untuknya.

“Jadi, bagaimana soal pengembangan perusahaan?”

Pertemuan dengan Abdi Jaya berlangsung hingga 1 jam 30 menit. Tari terus berdiri, bahkan tidak pernah kutawarkan duduk dalam waktu yang cukup lama tersebut. Saat pertemuan berakhir, kami kembali ke mobil. Aku melihat wajah Tari, ekspresinya geram, menyimpan dendam yang mungkin sudah terkumpul cukup banyak di benaknya.

“Kamu kenapa?” tanyaku sebelum melajukan mobil.

Tari menggeleng pelan.

“Ngomong.”

“Saya tidak apa-apa, Pak.”

“Oh, baguslah.”

Aku pun melajukan mobil untuk kembali ke kantor.

Sekitar dua puluh menit mengendarai, kami tiba di kantor. Tari langsung membuka pintu mobil setelah aku menambatkan mobil.

“He.”

Tari berniat berjalan duluan untuk memasuki gedung, tetapi berhenti lagi kala aku memanggilnya. Ia berbalik badan, masih bersikap lembut. Ekspresi geramnya sudah tak tampak lagi.

“Kamu boleh makan. Saya berikan waktu lima belas menit. Setelah itu, kamu harus kembali bekerja.”

“Baik. Terima kasih, Pak.”

-II-

Terdengar ketukan berasal dari pintu ruang kerja. Aku menghentikan aktivitas, lalu meminta seseorang di luar untuk masuk.

“Maaf, Pak. Ada yang mau bicara sama Bapak.”

“Bicara sama saya? Siapa? Klien penting?”

“Bukan, Pak. Saya tidak tahu. Seorang perempuan.”

“Ya, sudah. Kamu sambungkan dengan saya.”

Tari melangkah kembali ke ruangannya. Tak berselang lama, telepon di mejaku berdering.

“Halo. Dengan Andra di sini, ada yang bisa saya bantu?”

“Andra ... ini gue, N-Nadia.”

Aku melenguh gusar mengetahui penelepon ternyata hanya seorang mantan yang dulu membuangku saat aku belum menjadi apa-apa. Meremehkan nasib, menertawakan pekerjaanku sebelumnya.

“Ada apa lagi kamu menghubungi saya? Dan apa harus kamu menelepon saya melalui sekretaris saya?”

“Maaf, Ndra. Kalau gue nelepon ke nomor lo—“

“Saya tidak peduli lagi sama kamu. Apa belum cukup jelas kata-kata saya waktu itu, hah? Kamu mencampakkan saya enam tahun yang lalu. Kamu meninggalkan saya, bahkan tidak mau mengakui saya sebagai kekasih kamu. Orang tua kamu menendang saya, mengusir saya dengan kasar. Apa kamu punya otak? Dan sekarang kamu MEMINTA SAYA UNTUK KEMBALI MENJALIN HUBUNGAN DENGAN KAMU?!”

Emosi meluap-luap tanpa bisa kukendalikan. Masih teringat sangat jelas bagaimana dia dan orang tuanya memperlakukanku seperti binatang yang paling hina di dunia ini. Mereka tidak menginginkan aku. Merendahkan pekerjaanku. Tidak mau tahu tentang cerita kerja keras dan pengorbanan yang aku lakukan untuk bisa menikahinya, membuktikan bahwa aku sangat mencintai dia kala itu.

“Andra ... gue benar-benar minta maaf. Tapi, gue sangat mencintai lo, Andra. Gue—“

“DIAM KAMU! JANGAN PERNAH HUBUNGI SAYA LAGI!”

Gagang telepon aku banting ke lantai hingga lebur, kepingan-kepingannya berserakan di mana-mana. Aku memijat pelipis, kulihat pada kaca beberapa pekerja bergeming dan pandangan mereka mengarah pada ruanganku.

“KEMBALI BEKERJA!”

Dengan lugas semuanya kembali duduk, melakukan pekerjaan mereka seperti biasa.

-II-

Malamnya, seperti biasa aku selalu sulit untuk tidur. Hal itu pun memaksaku untuk selalu mengonsumsi obat tidur. Aku tidak pernah tahu apa yang aku pikirkan sebenarnya. Kehidupanku sudah lebih dari cukup. Aku punya harta yang melimpah, perusahaan, punya uang untuk membeli segalanya. Namun, setiap hari aku merasa kosong. Aku merasa ada yang belum lengkap dalam hidup ini. Entahlah. Hal itu selalu membuatku berpikir keras hingga kadang-kadang membuat kepalaku sakit tak tertahankan.

Pagi hari di hari libur, aku menyempatkan diri berolahraga di taman yang tidak jauh dari kompleks perumahan. Setelah memasang sepatu dan pakaian training, aku berlari santai mengelilingi taman. Hanya butuh waktu sekitar 30 menit saja, setelahnya aku beristirahat dan duduk di bangku taman. Meneguk sebotol mineral yang aku bawa dari rumah, terselip di pinggangku.

Melihat jalanan yang tengah ramai oleh orang-orang dari berbagai tempat, aku melihat sesosok perempuan yang tak asing. Tari, ia tidak datang untuk berolahraga. Namun, ia dengan pakaian kaus biasa berwarna putih sambil membawa tas, tengah berjalan menyusuri jalanan di sekitar taman. Aku penasaran ke mana perempuan itu akan pergi.

Meskipun cukup jauh dari tempatku berada, aku berusaha mengejarnya.

“Mau ke mana kamu?” tanyaku yang membuat Tari terkesiap dan buru-buru menoleh ke arahku yang berada di sebelah kanannya.

“P-Pak Andra?” Mengetahui di sampingnya adalah aku, ia menolehkan tatapannya ke depan. “Tidak ke mana-mana, Pak. Saya ... hanya ....” Tari tiba-tiba diam. Ia seperti menyembunyikan sesuatu dariku atau mungkin kepada semua orang.

“Ke mana? Kenapa kamu diam?”

“Maaf, Pak. Ini bukan urusan Bapak.” Tari mempercepat langkahnya, berusaha menjauh dariku.

Aku tidak ingin kalah darinya, lantas menambah laju kakiku.

“He! Kenapa kamu tidak mau memberitahu saya? Kamu ingat peraturan yang saya—“

“Ini hari libur, Pak.” Tari menghentikan langkahnya kemudian. Ia menatapku dengan tajam. “Anda tidak bisa memerintah saya karena kita tidak sedang dalam jam kerja. Saya tidak berkewajiban menjawab pertanyaan-pertanyaan Anda.”

Cukup lamat ia menatapku. Memang benar apa yang ia katakan. Semua aturan dan perintahku tidak akan mempan padanya karena kami tidak sedang dalam jam kerja. Hubungan kami di luar sudah bukan lagi atasan dengan bawahan, tetapi mungkin hanya orang asing yang kebetulan saja bertemu.

“Jangan ikuti saya. Anda tidak berhak melakukannya.”

Bergeming. Aku memutuskan tidak mengikuti perempuan tersebut. Ya, sebelumnya aku berpikir tidak akan mengikutinya, tetapi setelah ia melangkah cukup jauh, aku melanjutkan langkah untuk mengikutinya. Aku berusaha sekeras mungkin agar dia tidak merasa curiga pada langkah kakiku. Aneh, ia masuk ke sebuah rumah sakit. Siapa yang sakit?

-II-

“Berada di ruangan ini, artinya kita sedang dalam jam kerja. Jika sedang dalam jam kerja, artinya apa pun pertanyaan saya, apa pun yang saya perintahkan, kamu wajib menjawab dan melakukannya.” Aku merebahkan diri di punggung kursi, lalu menaikkan kedua kaki pada meja. “Apa yang kamu lakukan di rumah sakit kemarin?”

Tari menunduk sejenak, sedetik setelahnya kembali menatap lurus ke depan.

“Maaf, itu bukan urusan Bapak. Itu urusan pribadi saya—“

“Jawab!”

“Anda memang atasan saya, Pak. Tapi Anda juga tidak berhak masuk ke kehidupan pribadi saya. Cukup Anda perintahkan saya yang berkaitan dengan pekerjaan.”

Cukup emosi dengan kalimat yang keluar dari mulut perempuan tersebut, aku berdiri dan mendekatinya. “Jadi, kamu sudah mulai membantah? Kamu berani membantah saya?” Aku menatap Tari dengan seringai.

“Sekali lagi, Anda tidak bisa seenaknya masuk ke dalam kehidupan—“

“DIAM! Kamu harus menjawab pertanyaan saya!”

“Tidak, Pak. Bukan begini seharusnya sikap seorang atasan kepada bawahannya. Permisi, saya kembali ke ruangan saya. Kalau Anda butuh sesuatu, Anda hanya perlu menghubungi saya melalui telepon.”

Tari dengan cepat melangkah keluar.

“Tari! Tari!”

Perempuan tersebut tidak mau menoleh atau berhenti. Ia membuka pintu, lantas keluar dan menutup pintu dengan tenaga yang cukup besar.

“Ah! Sial!”

Yakinlah, aku tidak berniat melakukan sesuatu yang buruk. Aku hanya ingin tahu apa yang dia lakukan di rumah sakit, siapa yang sakit atau ada urusan apa dia di sana? Namun, mungkin caraku terlalu kasar dan tentu saja salah.

-II-

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel