Bab 3 Tari Fitrianti
“Tari! Ke sini kamu!”
Tari berjalan masuk ke ruanganku yang pintunya sedang terbuka. Aku duduk berhadapan dengan Damar, seorang HRD yang seharusnya mengurus perihal lamaran pekerjaan dan sumber daya manusia di perusahaan ini.
“Iya, Pak? Ada yang bisa saya bantu?” tanya Tari, sopan.
“Kenalkan, dia Damar, HRD di sini. Seharusnya kemarin dia yang mengurus lamaran pekerjaan kamu di sini. Dokumen prestasi memang tidak penting bagi saya, tapi bagaimanapun juga, dokumen kamu akan tetap diarsipkan untuk menjaga kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi di masa yang akan datang. Kamu pasti mengerti maksud saya. Silakan berikan dokumen kamu pada Damar.”
“Baik, Pak. Tunggu sebentar, saya akan ambil di meja saya.”
Sementara itu, Damar menatap lamat Tari yang tengah berjalan keluar.
“He, Damar. Ada laporan apa hari ini?”
Seketika itu, Damar terhenyak dan menolehkan pandangannya ke depan sambil mengatur posisinya senyaman mungkin.
“Oh, iya. Maaf, Pak. Iya, ada beberapa karyawan yang kinerjanya mulai menurun.”
“Saya serahkan semuanya padamu. Ingat, kesalahan fatal dalam perusahaan ini adalah jatuh cinta sesama karyawan. Bahkan kamu sekalipun tidak boleh melanggar aturan itu, kecuali kamu memang sudah menikah. Tapi tetap saja, jika istrimu juga bekerja di perusahaan ini, bermesraan adalah hal yang terlarang. Kalau ingin bermesraan, silakan di rumah saja.”
Cukup banyak yang tidak setuju dengan aturan tidak logis yang aku terapkan. Ya, aku tahu hal itu cukup menyebalkan. Namun, jika memang maksud dan tujuan mereka adalah bekerja, maka masalah percintaan seharusnya bukanlah apa-apa.
“Permisi, Pak. Ini dokumen saya.” Tari berdiri di sebelah sofa, lalu memberikan Damar beberapa dokumen penting yang beberapa waktu lalu ia bawa untuk melamar pekerjaan di perusahaan ini.
Damar menerimanya dengan baik dan sopan, lalu membuka beberapa dokumen. Ia membacanya kemudian.
“Tari Fitrianti. Kamu pernah bekerja sebagai sekretaris juga di sebuah perusahaan advertising. Pendidikan terakhir kamu adalah Administrasi Perkantoran, S1. CV-mu bagus menurut saya. Tidak ada masalah.” Damar manggut-manggut sambil memasukkan kembali dokumen-dokumen tersebut ke dalam amplop.
“Damar, bagaimana dengan Rani, sekretaris tidak becus rekomendasi dari kamu? Kenapa dia tidak pernah ada di saat saya butuh?”
“M-maaf, Pak. Rani tidak pernah bisa dihubungi. Terakhir kali ia ngobrol dengan saya, dia bercerita sedang ada masalah keluarga.”
“Pecat dia! Berikan pesangon yang cukup. Saya tidak butuh orang tidak becus.”
Lelaki dengan hidung pesek, serta alis tebal tersebut tampak menelan saliva. Ia mengangguk atas perintahku. “Baik, Pak.”
“Dan kamu, Tari! Karena saya sudah berbaik hati mau menerima kamu di perusahaan saya, kamu tidak boleh mengecewakan saya!”
“I-iya, Pak. S-saya tidak akan mengecewakan Bapak.”
“Bagus kalau kamu sudah mengerti. Sekarang, lakukan tugasmu dengan baik. Kembali ke ruangan. Kamu juga, Damar. Hari ini saya ada pertemuan penting dengan Pak Hartono.”
“Permisi, Pak.”
Tiga detik kemudian, keduanya keluar dari kantorku.
-II-
“Tari! Apa jadwal saya hari ini?”
“Pukul 10.00 pagi, Bapak ada pertemuan dengan klien penting. Kemarin beliau sudah membuat kesepakatan, namanya Ibu Satia. Kemudian, pukul 11.00 siang, Bapak ada undangan ke kantor mitra untuk membahas kerja sama yang kemarin Bapak telah sepakati.”
“Ada lagi?”
“Tidak ada, Pak.”
“Baik. Ini masih jam sembilan. Buatkan saya kopi.”
“Tapi, Pak. Membuat kopi sepertinya bukan—“
“Sekarang juga!” potongku, bernada sedikit tinggi.
Tari menunduk, entah ekspresi apa yang ia tunjukkan saat itu. Yang jelas dan memang tidak satu pun karyawan di perusahaan ini yang tidak menyimpan dendam padaku.
“B-baik, Pak. Akan saya buatkan segera.” Tari berbalik badan, lalu berjalan untuk melaksanakan perintahku.
Sebelum perempuan itu benar-benar keluar, aku berujar, “Tari! Ingat, saya tidak suka kopi yang terlalu pahit, juga tidak suka yang terlalu manis.”
“Baik, Pak.” Perempuan dengan dagu lancip tersebut mengangguk, lantas keluar.
Sekembalinya, ia meletakkan secangkir kopi hitam hangat yang asapnya masih mengepul di udara kantorku yang dingin.
Aku mengangkat cangkir, lalu menciumi aroma kopi.
“Tidak ada aroma kopi yang kental. Kamu yakin kopi ini akan nikmat saat saya meminumnya?” Aku mengangkat sebelah alis, mencari kepastian Tari yang masih berdiri di depan meja.
“Saya ... yakin, Pak.”
Melihat ekspresi Tari yang agak ragu, aku pun memutuskan menyeruput kopi itu perlahan. Beberapa kali kuseruput, dahiku mengerut spontan.
“Bagaimana, Pak?” tanya Tari, memastikan.
“Tidak terlalu spesial. Biasa saja.” Aku meletakkan kembali mug di meja. “Sudah. Kamu boleh kembali ke ruangan kamu. Selama pertemuan nanti dengan Ibu Satia, temui saya di kafe depan gedung jika ada yang menelepon.”
“Baik, Pak.”
Tari berjalan keluar, tetapi aku menghentikannya lagi. “Oh, ya. Bekerja yang benar. Saya tidak tahu apa yang membuat kamu mau bekerja di sini sambil memohon-mohon seperti beberapa hari yang lalu. Tapi, jangan khianati kepercayaan saya.”
“Terima kasih, Pak.”
-II-
Aku datang ke kantor pada pukul 8.00 pagi. Saat melewati ruangan Tari, tampaknya masih sepi. Ia sepertinya belum datang. Aku berjalan kembali ke meja receptionist.
“Lina, apa Tari sudah datang?” tanyaku pada Lina.
“Saya belum melihat Mbak Tari melewati lobi dari setengah jam yang lalu, Pak.”
“Oke. Kalau kamu melihat dia datang nanti lebih dari lima menit dari sekarang, suruh dia ke ruangan saya saat itu juga.”
“Baik, Pak.”
Lima menit menunggu sambil memangku kepala di meja, Tari belum juga datang. Hari ini, tampaknya ia akan sangat terlambat. Kesalahan fatal kedua, dan aturan kedua yang tidak boleh dilanggar berkali-kali.
Hingga lima belas menit berlalu, barulah kenop pintu ruanganku berputar. Pintu didorong masuk, muncullah sosok Tari dengan wajah berkerut. Setelah berdiri di hadapanku, aku memperhatikan keringatnya berlomba-lomba keluar. Mungkin bukan hal mustahil jika keringat itu karena dia berusaha tiba di kantor dengan cepat. Namun, juga bukan hal mustahil jika keringat itu adalah bukti bahwa dia sedang takut jika aku memarahinya.
“Pak. Maaf—“
“Kamu tahu bahwa terlambat adalah aturan kedua yang sangat tidak boleh dilanggar. Ketika saya datang, artinya semua karyawan sudah harus datang dan berada di ruangan masing-masing.” Tanpa menatap perempuan itu, aku berdalih.
“Maaf. Saya ... tadi ada keperluan penting, Pak. Dan jalanan—“
“Macet? Kenapa tidak berangkat lebih awal? Jika kamu tahu bahwa kamu ada keperluan, kenapa kamu tidak bersiap-siap lebih pagi? Saya tidak butuh alasan, TARI! Perusahaan ini bisa hancur karena kamu yang tidak disiplin!”
Hal biasa yang aku lakukan ketika memberi teguran kepada karyawan, terutama sekretaris yang bekerja di bawahku adalah marah-marah dengan membentak atau nada tinggi. Meskipun kantorku dikelilingi kaca, tetapi jika berteriak demikian, suaranya bisa sampai keluar hingga akhirnya karyawan yang berada di luar sering kali tidak berani menatap ke kantor ini.
Tari menundukkan wajahnya dengan gelimang sesal yang dapat aku lihat dengan jelas. Matanya sedikit memerah. Sedetik kemudian aku mengalihkan pandangan darinya.
“Bekerja itu harus komitmen, Tari. Kamu tidak boleh seenaknya, karena ini adalah perusahaan saya.”
“Saya—“
“Diam! Saya belum memberi kesempatan kepada kamu untuk bicara. Diam dan dengarkan saya. Apa begitu susah mendengarkan saja dulu?”
Aku beranjak dari kursi, melangkah lebih dekat pada perempuan tersebut.
“Kamu ingat? Aturan saya, apakah kamu ingat? Kamu tidak boleh bicara sebelum saya perbolehkan. Bila perlu, kamu catat di otak kamu!” Aku menghela napas dalam-dalam. “Saya tidak mau mendengar alasan apa pun dari kamu. Keluar dari ruangan saya, dan lakukan pekerjaan kamu seperti biasa.”
Merespons dengan anggukan, Tari berjalan cepat meninggalkan ruangan.
Aku memijat pelipis kemudian, lalu membanting pantat di kursi. Beberapa saat, ponselku berdering panjang, menandakan ada sebuah panggilan masuk. Asyifa, aku mengangkatnya kemudian.
“Halo. Ada apa?”
“Sayang? Nada bicaramu, kok, kayak orang yang lagi marah gitu? Hari ini, kan, hari Sabtu. Kamu nggak lembur, kan, Sayang? Aku mau mengajak kamu—“
“Maaf, saya sibuk.”
Klik.
Asyifa—putri dari keluarga Hartono—pemberi modal terbesar di perusahaan ini. Perempuan yang hanya memanfaatkan harta orang tuanya. Tidak pernah tahu bagaimana rasanya berjuang, berusaha dari titik nol sehingga mengorbankan banyak hal sampai darah penghabisan. Pada dasarnya, aku tidak suka perempuan seperti Asyifa. Namun, karena kebetulan Pak Hartono selalu baik padaku, aku pun harus mencoba dekat dengan perempuan itu. Tidak ada yang spesial dari dirinya. Ia pun mengincarku karena harta dan kemewahan. Dia biasa hidup glamor dan berpoya-poya menghabiskan banyak uang.
Aku keluar ruangan. Melewati ruangan Tari, aku melihatnya dari kaca jendela tengah menunduk sambil terpaku di kursi. Tiba-tiba dia menatap ke arahku dan kami bertukar pandangan, ia menyadari aku sedang berdiri di luar. Ia bergeming sesaat. Beberapa detik setelah itu, ia kembali bekerja, berkutat dengan komputer di depannya.
Aku berjalan keluar dari gedung. Pada dasarnya aku tidak ingin tahu apa pun tentang perempuan tersebut. Meskipun beberapa saat yang lalu, aku melihat sebulir air mata di netrranya.
-II-
