Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

What Is This Feeling?

At garden

"Terlambat 15 menit," ucap seseorang di belakangku, sontak aku langsung membalikkan badan.

"Araz!" pekikku kaget.

"Iya, dari mana aja lo?" tanyanya ketus.

"Yaelah, gue kan habis main sama Fira." jawabku santai.

"Hm, ayo berangkat."

Ketika aku tengah berjalan bersama Araz, seseorang memanggilku (lagi).

"Alin!"

"Eh, Arav. Ada apa?" tanyaku menghentikan langkah dan berbicara dengannya.

"Gak apa-apa. Oh ya, mau kemana?"

"Ini mau belajar bareng. Mau ikut?" tawarku.

"Eng-enggak deh takut ganggu, hehe. Gue pergi dulu ya." pamit Arav lalu berlalu dari hadapanku.

Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Dan, Araz! Hampir saja aku melupakan dia.

"Emh ... Raz, ayo berangkat." ajakku lirih, takut kalau dia marah.

"Buang waktu tau gak!" bentaknya, lalu meninggalkanku menuju motor. Aku membuntuti dari belakang, menaiki motor setelah ia naik. Lagi-lagi Araz mengajakku ke danau, danau yang sangat indah dan luas ini.

•••

Normal POV

"Ayo ke atas, keburu hujan lagi." ajak Araz menarik tangan Alin.

"Ih, Araz! Bentar napa sih, gue mau main-main duluuuu!" rengek Alin mendekati sebuah ayunan dekat danau. Ia bermain dengan sangat senang, tak ada hentinya ia tersenyum. Sedangkan Araz hanya memandangi dari jauh.

"Lucu, jutek, cantik dan manja. Alin." 

"Woy! Ngapain lo ngelamun? Gue tau, ngelamunin gue ya pastinyaaa." ucap Alin dengan percaya diri terlalu tinggi.

"Gak! Ayo ke atas." elak Araz melengos ke atas mendahului Alin.

"Gue lagi males belajar," ucap Araz tiba-tiba ketika sudah sampai di rumah pohon.

"Astoge, Araz!!! Kenapa lo gak bilang dari tadi? Kan gue bisa main-main dulu di danau. Dasar tengil!" kesal Alin memasang wajah juteknya.

"Hehe..." jawab Araz nyengir tanpa merasa bersalah.

"Yaudah, gue mau pulang."

"Jangan ... nanti aja," cegah Araz melihat Alin yang hendak turun.

"Kenapa? Oohh, lo masih mau sama gue, ya? Hayo ngakuuuu!"

"Tau tanya." jawab Araz sekenanya. Alin yang mendengar jawaban cowok tersebut hanya diam tak menjawab apapun.

Hening. Hanya keheningan yg menyelimuti mereka, hingga akhirnya ada yang memulai pembicaraan.

"Lin,"

"Raz," panggil mereka bersamaan.

"Lo dulu," ucap mereka bersamaan lagi.

"Ladies first,"

"Kakak lo itu ... Kak Faza?"

"Dan kakak lo itu Kak Zafran?"

"Kok lo tau, sih!" sahut mereka bersamaan lagi.

"Emh ... iya, Faza kakak gue dan Alvin temen nongkrong gue. Tapi kenapa kita ga pernah tau, ya?" Alin mengendikkan bahu.

"Araazz, pulaangg." ajak Alin manja menarik-narik baju Araz. Araz yang melihatnya gemas lalu mencubit kedua pipi gadis di hadapannya.

"Gemes," ucap Araz. Sedang Alin yang mendengarnya hanya malu.

"Jutek, wajah lo kok merah?" goda Araz mendekatkan wajahnya pada Alin. Alin sedikit terkejut, buru-buru ia memalingkan dan menjauhkan wajahnya dari Araz.

"Udah mau malem nih. Pulang yuk!" ajak Alin tak menggubris pertanyaan Araz tadi.

Alin turun terlebih dahulu dan disusul Araz, ia kembali ke rumahnya diantar Araz untuk yang kesekian kalinya.

•••

Araz POV

Gue gak tau rasa apa yang ada di hati ini. Gue suka Alin. Mungkin cuma kagum, tapi yang jelas gue sangat nyaman berada di dekat dia. Gue juga gak tau dia juga suka atau enggak sama gue. Gue pun gak mau maksa dia suka gue balik.

Gak tau kenapa gue merasa ada sesuatu yang ganjal ketika dia akrab sama Arav, sepupu gue sendiri. Mereka udah saling kenal, sejak kapan?

Ping!!!Ping!!!

•Zealinkeisha : Araz?

•Faarazibr : why?

•Zealinkeisha: Gapapa, hehe.

Besok di rumahku aja yaaa

•Faarazibr : Baik nyonya

•Zealinkeisha : dasar tengil lu-_- oh iya, lo kenal Arav, ga?

•Faarazibr : kenal, dia sepupu gue. Knapa?

•Zealinkeisha : gapapa sih, dia keren hihi

•••

Author POV

"Whaatt!!! Diread doang? Apa jangan-jangan karena gue bahas Arav, ya?" batin Prilly.

"Harus banget, ya, bahas Arav kalo sama gue? Gue gak suka tau gak! Eh, apa gue cemburu yak? Gak, ah!" batin Ali kesal.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel