Are You Jealous?
Hari Kamis, Araz sengaja berangkat lebih awal karena ingin bertemu seseorang. Siapa, ya? Pasti tau, lah. Namun, kali ini ia berangkat memakai mobil. Maklum, sekolah elit.
Sesampainya di sekolah, ia menuju tempat biasanya, lapangan sekolah. Ia mulai membuka dan membaca bukunya. Disaat Ali membalik halaman, seseorang memanggil.
"Raz," panggil seseorang lirih.
"Hm?" jawab Araz cuek tetap membaca buku.
"Cuek, ih!"
"Oh, Alin! Eh yaa ya ada apa?" kaget Araz gelagapan sampai bukunya terjatuh.
"Tengill-tengiill!"
Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundak Alin, ia langsung memutar tubuhnya.
"Pagi." sapanya tersenyum manis.
"Pagi, Rav." sapa Alin balik.
Araz yang berada di belakang mereka berdua hanya memutar bola mata malas.
"Oh ya, nanti sore ada acara gak?"
"Gak ada Rav, kenapa emang?"
"Ya cuman ngajak jalan aja, bisa gak?"
"Oke."
"Gue ke kelas dulu, ya." pamit Alin pergi meninggalkan Arav yang saat ini tengah bahagia karena gadis itu menerima ajakannya.
Awalnya Alin sempat bingung, kenapa Araz pergi terlebih dahulu? Apa karena ada Arav? Ah, sepertinya tidak.
"Eh, ngil! Kenapa lo tadi ninggalin gue?" tanya Alin duduk di bangku depan Araz. Namun cowok itu tak menghiraukan pertanyaan Alin.
"Tengil, lo denger gak sih?"
"Denger." jawab Araz cuek.
"Hhhh, Araz yang ganteng, keren, cool, lo kenapa sihh?" tanya Alin lagi selembut mungkin.
"Gue gapapa, Alin chubby, jutek, cantiikk,"
"Nah, gitu dong! Sekarang kenapa?"
"Kan lo tadi udah sama Arav,"
"Lo cemburu, yaaaaaa? Ciee cieee," goda Alin menekan-nekan pipi Araz.
"Gak!"
"Terserah, tapi gue tau dari wajah lo. Ciee tengil cemburu cieeeee!"
"Serah dah."
Prilly hanya tersenyum dan kembali ke tempat duduk asalnya.
Setelah duduk di bangku, Alin bergumam, "Aneh tu anak."
"Lin, nanti sore lo mau pergi kan sama Kak Arav? Cieeee," tanya Fira tiba-tiba setelah duduk di sebelah Alin.
"Ehm ... heh kok lo tau sih, Fir?" heran Alin.
"Iyalah, gue liat di statusnya," jawab Fira sambil mengutak-atik handphone.
Jangan tanya kenapa mereka diperbolehkan membawa handphone, karena sekolahnya termasuk sekolah elit se-Jakarta.
"Status? Aaaa, gue minta dongg nomernyaaa!"
"What?! Segampang itu lo minta ke gue? Gue aja mintanya tujuh hari tujuh malem, tau! Ish, secara dia kan kakak kelas yang terkece di sekolah ini," cibir Fira.
"Kakak kelas? Jadi Arav kakel kita? Terkece? Maksud lo apa, sih?" tanya Alin yang lagi-lagi bingung karena ucapan Fira.
"Dia itu di sekolah ini banyak yang naksir. Dia juga kapten basket. Hih, gue aja naksir sama dia!"
"Oh gituu, coba gue liat statusnya,"
"Wait," Fira pun memberikan handphone kepada Prilly dan dilihatnya status Arav.
~ this afternoon, Zealin:) ~
"Cool, keren." gumam Alin pelan setelah melihat foto profil Arav yang memakai display name "Aaravabr"
"Nih Fir, thanks, ya!"
"Oke."
•••
Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Segera ia keluar dari rumahnya.
"Maa, Ake keluar dulu, ya," pamit Alin sebelum pergi lalu mencium tangan mamanya.
"Sama siapa?"
"Sama temen aku, Arav. Dah, Ma! Assalamualaikum."
"Hati-hati, sayang." pesan sang Mama.
"Arav sama Araz beda, kah? Atau sama aja?" gumam Mama Alin bingung.
Alin pun langsung menghampiri Arav yang sedang bersandar di mobilnya.
"Kak," panggil Alin. Arav memalingkan wajahnya, menatap gadis yang terlihat cantik sekali dengan balutan dress berwarna hitam.
"Cantik," gumam Arav tanpa disadari.
"Makasih." balas Prilly sedikit tersipu.
"Ayo berangkat."
Akhirnya sampailah mereka dan di sebuah cafe yang besar dan megah; 'Cafetaria'. Arav mengajak Alin di meja pojok atau meja yang tak ramai oleh pengunjung.
"Cafe? Jadi ceritanya kita dinner, Kak?" tanya Alin bingung setelah duduk.
"Iya, hehe,"
"Mau mesen apa?"
"Sunday roast sama chocolate coffe aja,"
"Sunday roast 2 , chocolate coffe, sama lemon tea ya, mbak,"
"Sudah dicatat, tunggu ya mbak, mas."
"Oke mbak."
Hening. Tak ada yang berani memulai percakapan. Arav hanya diam sesekali menatap ke wajah Alin yang--entah kenapa malam ini terlihat sangat cantik. Sedangkan Alin, ia bersikap canggung sebab sedari tadi lelaki di hadapannya tak kunjung membuka topik.
"Ehm, Kak. Gue baru tau kalau kakak itu kakak kelas. Maaf, ya, kemarin-kemarin manggilnya agak gak sopan, hehe." ucap Alin mengawali.
"Ah, iya. Gak apa-apa, santai aja. Lagian gue juga keliatan masih muda, kok,"
"Keliatannya aja, kan?" ejek Alin. Arav tertawa.
Jadilah suasana di antara keduanya mencair. Senyum Alin mengembang. Ia tak menduga bahwa kapten basket di hadapannya ini memiliki karakter yang humoris.
Di tempat lain ....
"Kak, ke cafe yuk," ajak Araz pada kakanya yang sedang memainkan handphone.
"Tumben ngajak gue, biasanya juga takut dikejar fans.,"
"Yaelah. Bosen gue di rumah mulu!"
"Oke, tapi gue ajak Zafran, yaa?"
"Terserah lah. Gue ganti baju dulu."
"Jadi obat nyamuk dah gue!" gumam Araz setelah pergi dari hadapan Faza.
•••
"Za, kamu tunggu di luar sekalian nunggu Araz, ya. Aku mau parkir mobil dulu," ucap Zafran mengusap rambut Kaia.
"Iya, jangan lama-lama." ucap Faza turun dari mobil, lalu mencari keberadaan adiknya.
"Kak, Kak Zafran mana?" tanya Araz tiba-tiba muncul di belakang Faza.
"Eh Araz, Zafran ke parkiran. Tunggu bentar."
"Araz, Faza, ayo masuk keburu banyak fans kamu."
"Ayo." Faza menggandeng tangan Zafran.
Sampai di dalam cafe, Araz lebih memilih di tempat yang sepi pengunjung. Baru saja Araz hendak duduk di kursinya, ia melihat Arav di ujung meja sana.
"Arav! Pasti sama Alin."
"Bro! Bengong mulu," ujar Zafran mengagetkan Araz.
"Eh, iya kak, iya." sahut Araz, ia langsung mengambil handphonenya dan membuat status baru.
~ cafetaria makes me feel bad ~
