Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

New Spirit

Normal POV

Hari ini, Alin hendak pergi ke taman menemui kakaknya. Sebenarnya Alin heran, kenapa harus di taman? Kenapa tidak di bandara saja? Dasar, Monyed Aneh!

"Hey, Kutu!!" panggil seseorang di belakang Alin. Alin langsung menoleh.

"Aaa Monyeeeddd!!! Gue kangen banget sama loooo!!!" Gadis imut itu berlari menghampiri sang kakak dan memeluknya.

"Gue juga kangen banget tau! Ya, meskipun cuman satu bulan, sih." Ia membalas pelukan Alin juga. Beberapa saat kemudian gadis itu melepas pelukannya.

"Gimana kabar Faza? Dia baik-baik aja kan, Ke? Dia gak selingkuh, kan?"

"OMG Kak Ariii!! Sekarang ini lo lagi sama adek yang paling cetar membahana badaiii, kenapa yang ditanya Kak Faza sih?" kesal Alin mencubit lengan kekar lelaki bernama panjang Zafran Ghifari.

"Hehe, maaf yaa, Kutu Jutekku tersayaang ...." Mereka memang selalu bertengkar setiap kali bertemu, namun kasih sayang mereka juga sangat besar.

"Kak Faza itu artis kan, Kak? Kakak kenapa gak takut diambil orang lain?"

"Eh, Kutu! Faza itu sayang, cinta banget sama gue. Jadi gue gak takut!" ujar Zafran belagu.

"Dih! Yaudah yok pulang, capek banget gue." Alin merangkul tangan kakaknya.

"Emang lu habis ngapain?"

Tiba tiba, suara handphone Alin berbunyi. Tanda line masuk.

•faarazibrahim : malem cewek jutek

"OMG!! Araz nge-line gue?" batin Alin kegirangan. Dengan cepat ia membalasnya.

•zealinkeisha : araz? ada apa?

•faarazibrahim : lagi ngapain cantik?

•zealinkeisha : tadi jutek sekarang cantik, dasar labil.

•faarazibrahim : becanda Zealin ...

•zealinkeisha : ih dasar! Dapet line gue dari mana lo?

•faarazibr : dari hatimu

•zealinkeisha : Y

•faarazibr : O

•zealinkeisha : ih males gue sama lo! bai

•faarazibr : Haha oke. gdnght, ya

Alin hanya tersenyum membacanya. Baru pertama kali ia diucapkan good night oleh seorang lelaki, selain kakak atau papanya setelah lama ia putus bersama sang kekasih.

"Weh! Kesambet apaan lo senyam-senyum sendiri sama hape?" ujar Zafran tiba-tiba di belakang Alin.

"Eh Monyed, apaan sih lo!"

"Sini liat hapenya." Zafran merebut handphone adiknya. Gadis itu ingin sekali mengambil kembali, namun apa daya ia lebih pendek dari kakaknya.

"Cieee line-an sama Araz cieeeee,"

"Loh? Kakak kenal?"

"Iyalah, dia kan adeknya Faza,"

Alin melongo. Pantas saja nama mereka mirip. Faraz. Faza. Faraz. Faza. Akh!

"Jadi teori dunia sempit itu bener, ya?"

•••

Alin POV

Entah mengapa aku menjadi sedikit semangat untuk pergi ke sekolah. Aku juga tak tahu apa penyebabnya. Yang jelas seakan ada seseorang yang menjadi penyemangat dalam hidupku. Tapi siapa? Entah, aku pun tak tahu.

Waktu masih menunjukkan pukul enam pagi, aku segera berangkat ke sekolah. Ya, meskipun jam pelajaran dimulai pukul tujuh pagi. Tak ada salahnya , kan, sesekali menjadi rajin?

Mataku tertuju pada seseorang yang sedang membaca buku. Araz! Cowok ngeselin, huh!

Aku menghiraukannya, lanjut saja aku berjalan tepat di depannya. Tanpa kusadari, ada seseorang yang menggenggam tanganku. Aku segera menoleh, mataku bertemu dengannya, lebih tepatnya bertatapan. Entah kenapa jantungku berdetak dengan cepat. Bulu mata lentik dan alis tebal. Oh, sungguh indah! Ah tidak tidak, kenapa aku jadi memujinya?!

"Emh ... maaf," ucapnya melepas tanganku. Kulihat sedikit semburat merah tipis di pipinya dan di pipiku juga, lebih tepatnya malu.

"Ada apa?" tanyaku to the point.

"Nanti jadi, kan? Jam berapa?" tanyanya tanpa memandangku. Kenapa aku jadi ingin dipandangnya?

"Jadi, jam empat."

"Kok jam empat sih, Jutek? Kan sebentar doang!" sanggahnya sedikit kaget.

"Emang kenapa? Aaah, gue tau, lo pengen sama gue lama lama, yaaaa," godaku. Muncul lagi semburat merah di pipinya. Uh, gemas sekali, ingin sekali aku mencubitnya.

"Eng-enggak kok. Eh, mau bareng gak?"

"Ayo aja, sih."

Aku dan dia, cowok tengil plus nyebelin berjalan bersama ke kelas. Banyak yang melihat dan juga menggodaku. Hish! Kenapa, sih? Baru kenal juga.

Sampai di kelas, aku berjalan mendahuluinya dan langsung duduk di meja.

•••

"Prill, pulang bareng yuk!" ajak Fira menggandeng lengan kananku.

"Ehm.. gimana ya?" jawabku sambil berpikir.

"Ayolah ...,"

"Baiklah temanku."

Aku dan Fira pulang,  ia bermain ke rumahku cukup lama, hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul setengah empat sore. Baru saja ingat, kalau aku ada janji bersama Araz.

"Emh ... Fir, gue mau keluar sama Araz."

"Cie ...."

"Apaan, cuman mau belajar kok,"

"Yaudah gue pulang dulu ya, congrats!" goda Fira sambil mengedipkan matanya.

"Apaan, udah sono!"

"Cie ngambek. Dadaaa!!"

Fira melenggang pergi dari rumahku dengan motor vespanya. Aku segera mandi dan berganti baju. Aku harus secepatnya pergi ke taman.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel