The Tree House
Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Araz sudah siap dengan pakaiannya, kaos lengan pendek dan celana selutut. Ia segera pergi ke taman menemui Alin. Terlihat disana Alin duduk memakai kaos polos yang serupa dengannya namun berbeda warna.
Araz menghampiri Alin, "Woy, ayo ikut gue!" ucapnya menarik tangan Alin. Gadis itu hanya diam tak memberontak sedikitpun.
"Heh! Lo bisa gak sih gak kasar sama gue?" bentak Alin sedikit berteriak.
"Udah, buruan naik." jawab Araz menaiki motornya terlebih dahulu. Alin hanya mendengus kesal dan menaiki motor Araz.
Akhirnya Araz telah sampai membawa Alin di sebuah tempat yang sepi dari keramaian yaitu danau.
Ya, danau itu adalah tempat Araz jika ia galau atau menenangkan diri. Hanya dirinya dan mantan kekasihnya dulu, namun sekarang Alin juga mengetahuinya. Danau itu penuh kenangan, kenangan yang pahit ataupun manis.
"OMG Araz! Bagus banget danaunyaaa!" sorak Alin terkagum-kagum, lagi-lagi Araz tersenyum dibuatnya.
"Eh, kok ada danau sih di Jakarta?" tanya Alineran.
"Danau ini di sudut kota Jakarta," jawab Araz menghampiri Alin di tepi danau, "dan juga banyak kenangan."
"Kenangan? Sama pacar yaaa," goda Alin. Namun ia menggeleng, membuat Alin menautkan alisnya.
"Mantan." jawab Araz dengan pandangan kosong. Alin yang tahu akan perasaan lelaki di sampingnya langsung menepuk pundak Araz pelan.
"Eh, maaf gue jadi melow,"
"Katanya belajar?"
"Ke sana aja." ajak Araz menunjuk sebuah pohon besar di sisi kanan danau.
Kini kedua insan itu tengah belajar di sebuah tempat yang tak begitu besar. Di sebuah rumah pohon. Alin sangat senang karena baru pertama kali ia diajak oleh seorang laki-laki yang baru saja ia kenal, membawanya ke tempat yang begitu indah.
"Ini gimana sih, Lin?" tanya Araz menunjuk sebuah soal matematika, bukan fisika, karena memang kekurangan Araz pada pelajaran itu.
"Mana? Oh ini, ini gampang tau. Ini dikali dulu, terus dibagi. Lo caranya salah, lo dibagi dulu ya hasilnya beda," terang Alin pada Araz, ia begitu sabar mengajarkan lelaki itu.
Rintik hujan mulai turun di wilayah Jakarta, termasuk dimana Araz-Alin kini berada.
"Yah, ujan ...." lirih Alin menatap butiran air yang menetes keluar dari setiap gumpalan awan hitam.
"Tenang aja, gue anter pulang."
Sepertinya rumah pohon itu sedikit bocor, sehingga tempat Alin pun menjadi basah terkena air hujan.
"Lin, lo berdiri deh." suruh Araz. Alin berdiri, lalu lelaki di sampingnya membuka jaket dan memayungkannya pada mereka berdua. Awalnya Alin disikapi seperti ini merasa gugup, karena baru pertama kali ia sedekat ini dengan laki-laki yang baru ia kenal.
"Lin ..." panggil Araz membuat Alin menoleh ke arahnya. Jarak mereka sangat dekat. Hanya beberapa senti saja. Mata mereka saling beradu, bertatapan. Alin yang menyadarinya langsung membuang muka, malu.
"Oh tuhaann, kenapa harus seperti ini?" teriak Alin dalam hati. Ketika berpandangan tadi, jantungnya berdegup kencang tak karuan. Apa karena ia sudah tak terbiasa seperti ini lagi?
Hening. Tak ada yg mau memulai pembicaraan. Mungkin karena hal tadi yang membuat mereka diam. Lalu, terdengar suara petir yg begitu keras, refleks membuat Alin memeluk Araz dari samping.
"AAAAAAAAAA,, ARAZ AKU TAKUUTTT!!" teriak Alin ketakutan. Tanpa Araz sadari, gadis mungil itu menangis dalam pelukannya. Araz berusaha menenangkan Alin, ia juga membalas pelukannya. Entah kenapa Ali merasa jantungnya berdegup kencang tak beraturan. Ia merasa kenyamanan ketika memeluk Alin. Terasa pas di lengan kokohnya.
"Maaf," ucap Alin lirih setelah melepas pelukannya.
"Lo kenapa nangis?"
"Gue takut petir,"
"Oh i see, kayaknya hujan udah reda, daripada lo sakit mending gue anterin pulang."
Araz menuntun Alin turun dari rumah pohon dan mengantar pulang ke rumahnya.
"Tante ... maaf udah buat Alin kehujanan," ucap Araz ramah setelah berada di rumah Alin.
"Iya gapapa kok. Ake, kamu masuk ke kamar, ganti baju terus istirahat, ya." ucap wanita paruh baya itu pada anaknya.
"Oh iya, Te. Nama saya Araz,"
"Iya, Araz. Makasih, ya, udah mau anterin anak saya,"
"Selalu, Tante. Saya pulang dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
•••
Araz POV
Entah kenapa gue jadi terus-terusan mikirin dia. Cewek jutek, Alin. Gue gak tahu ini rasa apa, padahal baru bertemu beberapa minggu aja. Nyaman, itulah yang gue rasakan ketika bareng sama dia.
Sebelum ini, gue gak pernah jadi semangat saat belajar dengan orang lain. Huuhh, ingin rasanya gue jadi orang bodoh biar bisa selalu diajarin dia. Duh! Bodohnya gue, kenapa gak minta nomernya? Yaudahlah ... besok aja.
"Araaazzzz, lo udah pulang belom?" teriak kakak gue dari luar. Namanya Faaza Ibrahim, Faza. Sangat cantik dan sederhana. Dia seorang artis. Huh, karena dia gue selalu dikejar wanita ketika bepergian. Padahal gue bukan artis, kan?
"Udah kak, sini masuk." Gue lihat dia jalan menuju balkon kamarku.
"Tumben sore-sore keluar rumah?"
"Belajar,"
"Hah? Seorang Faaraz Ibrahim belajar di luar rumah? Pasti cewek nih yang ngajarin,"
"Tau aja,"
"Cieee yang lagi jatuh cintaaa, siapa namanya?"
"Alin. Eh, gue gak jatuh cinta, ya. Ngadi-ngadi aje lu,"
"Hah? Alin? Itu kan--"
"Siapa, Kak?"
"Dia adek pacar aku tau! Tapi, kakaknya pergi ke Singapore, huhu," ucapnya memasang wajah sedih.
"Yes!!! Kak minta nomer dia dong," bujuk gue dengan wajah memelas.
"Ntaran aja napa, sih! Gatau apa gue lagi sedih gini,"
"Hehehe." Gue nyengir kuda. Eh, dia malah mendengus kesal.
