Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Her Name Is Alin

Pagi yang cerah. Matahari telah menampakkan wujudnya di timur sana. Burung-burung juga telah berkicau, bernyanyi di pagi yang cerah ini. Terlihat seorang gadis dengan sedikit terburu-buru turun dari tangga, menghampiri meja makan.

"Pagi, Ma, Pa, Zaidaannn!!" sapa Alin girang kemudian memeluk mamanya dari belakang.

"Pasti berisik."

"Pagi sayang, ayo sarapan dulu." sahut sang Papa.

"Enggak deh pa, Ake sarapan di sekolah aja. Assalamualaikum!" Gadis bernama kecil Ake itu berpamitan, mencium kedua tangan orangtuanya lalu pergi ke sekolah.

Zealine Zakeisha. Anak bungsu dari seorang keluarga yang baru saja pindah dari Bandung. Untuk alasan pindah, mungkin tidak jauh dari masalah bisnis dan semacamnya.

Memiliki lesung pipit di kedua pipi membuat wajah lucunya semakin menggemaskan untuk dinikmati. Ditambah mata hazelnya yang--sekali tatap,--bisa meluruhkan hati lelaki.

•••

Alin POV

Aku berjalan di sekitar sekolah. Sepi, sangat sepi karena aku memang sengaja berangkat lebih pagi untuk melihat sekolah yang baru ini. Aku bingung harus kemana, tak ada orang yang kulihat selain satpam di pojok sana.

Ah! Akhirnya aku menemukan gadis sebayaku sedang berjalan menuju kelasnya. Aku pun berlari menuju gadis itu. Setelah cukup dekat, aku menepuk pundaknya pelan.

"Hay, selamat pagi," sapaku padanya. Gadis ini sangat manis, dan cantik. Sepertinya dia juga baik.

"Hey, pagi juga," sapanya tersenyum hangat padaku.

"Nama lo siapa?"

"Ayunindya Shafira Barsha. Panggil aja Fira," ucapnya tersenyum manis sembari mengulurkan tangan.

"Zealine Zakeisha. Terserah mau panggil apa, hehe,"

"Apa, ya? Alin aja, deh. By the way, lo anak baru, ya?"

"Iya, kelas XI-B dimana, ya?"

"Wah! Kebetulan banget, itu kelas gue! Ayo bareng!" Dia mengantarku ke kelasnya yang sekarang menjadi kelasku juga.

"Sepertinya kita bisa jadi temen baik," ucap Fira setelah duduk bersamaku di kelas.

"Ehm, nama lo bagus,"

Gadis berambut ikal kecoklatan itu tersenyum lagi, "Banyak yang bilang gitu. Alasan Mama ngasih gue nama Barsha adalah karena sejak kecil, --katanya-- gue suka hujan,"

"Oh ya?"

"Iya, dan kakak gue tuh suka iri karena dia mau nama Barsha juga," Aku tertawa melihat gaya berceritanya yang ekspresif. Lucu.

Aku pun berbincang lama dengannya. Namun, ada satu topik yang membuatku bosan; Fira membicarakan tentang laki-laki bernama Faaraz Ibrahim. Katanya, ia tampan dan banyak digilai oleh kaum hawa di sekolah, dan katanya juga ia duduk di kelas ini. Aku tak mempercayai ucapan Fira, aku tak mudah luluh pada laki-laki. Namun, bukan berarti aku tidak pernah mencintai. Itu hal yang lumrah, bukan?

Akhirnya bel masuk pun telah berbunyi. Aku memperkenalkan diri pada teman-teman kelas dan memulai pelajaran dengan tenang.

"Araz! Kenapa nilai fisikamu menurun? Apakah ada masalah? Tak biasanya kamu begini!" ucap guru itu di depan kelas, ia terlihat memarahi Araz, namun tak ada wajah amarah yang nampak.

"Maaf, Bu, saya kemarin habis mengantar ayah dari rumah sakit, jadi tidak sempat belajar," jawab Araz menundukkan kepalanya. Sepertinya ia siswa yang pandai.

"Kalau begitu, nanti setelah pulang sekolah kamu dan Zealine jangan pulang dulu." Guru itu tiba- tiba menyebut namaku. Apa salahku? Kenapa aku tak boleh pulang? Aku hanya diam tak berkomentar.

•••

Normal POV

Jika tadi bel berbunyi tanda masuk, kali ini bel berbunyi tanda istirahat. Para siswa berhamburan keluar kelas dan sebagian dari mereka banyak yang menuju kantin. Lapar setelah menguras pikiran.

BRRUUKK!!

Terlihat Alin dan Araz, ternyata yang bertabrakan adalah mereka.

"Weh! Kalo jalan liat-liat dong!" omel Araz.

"Maaf, gue gak sengaja." jawab Alin. Ia juga tak menyangka sifat Araz begitu kasar padanya, lalu mengapa begitu banyak yang menyukainya? Entahlah ....

"Makanya, lain kali kalo jalan pake mata, jangan pake idung!" omel lelaki itu lagi.

"Maaf, gue pergi dulu." Alin melenggang pergi menuju tempat yang ingin ia tuju sedari tadi, kantin.

•••

Alin tengah asik memakan makanan yang telah ia beli dari penjual kantin. Ia sendirian, karena memang Fira pergi ke perpus 'tuk meminjam buku. Alin melahap makanan di hadapannya, sebab tadi pagi ia tidak sarapan.

"Permisi, gue boleh duduk di sini?" tanya seorang lelaki cukup tampan, membuat Alin menghentikan makannya.

"Boleh- boleh."

"Maaf, bangku kantin penuh," ucap lelaki itu mengambil duduk di hadapan Alin.

"Gapapa kok, lagian gue juga sendirian,"

"Nama lo siapa?"

"Zealine Zakeisha. Lo?"

"Wah, susah juga, ya. Gue Aarav Abraham. Arav,"

"HAHA, panggil Alin aja kalo susah,"

"Lo ... anak baru?" tanya Aarav sambil memakan baso. Alin mengangguk, masih sibuk mengunyah.

"Makanya gak pernah keliatan."

•••

"Araz, Zealine, jangan pulang dulu!" ucap guru bernama Sarah itu mencegah Araz yang hendak keluar kelas. Ia pun hanya pasrah dan duduk kembali.

"Araz, akhir-akhir ini nilai kamu semakin menurun. Ada apa? Ibu tidak mau prestasi kamu menurun di sekolah ini," ucap Bu Sarah memulai topik.

"Maaf bu, ayah saya ada di rumah sakit sebulan yang lalu, jadi saya tidak bisa belajar dengan tenang di rumah,"

"Tapi tidak mengurangi kewajiban kamu untuk belajar, kan?" Pandangan Bu Sarah beralih ke arah Alin.

"Dan kamu Zeline! Alasan Ibu memilih kamu adalah karena riwayat prestasi di sekolah lamamu. Kamu pernah menjadi juara pertama lomba fisika nasional, kan?" Alin mengangguk pelan.

"Ibu harap kamu bisa membantu Araz untuk mendapatkan nilai hijaunya kembali," Melihat Alin membuka mulut, Bu Sarah melanjutkan, "Dan Ibu harap kamu tidak mengecewakan saya, Zealine."

"Baik, Bu." pasrah Alin.

"Baiklah, kalian boleh pulang." ucap Bu Sarah meninggalkan kelas terlebih dahulu.

"Ketemu di taman kota jam tiga." ucap Araz menghampiri meja Alin, lalu pergi begitu saja.

•••

Hari ini, Alin tak mau langsung pulang. Ia ingin membaca novel terlebih dahulu di taman belakang sekolah. Namun, Alin melihat sosok laki-laki di salah satu bangku taman. Yup, benar sekali, itu Araz.

"Kenapa gue harus ketemu dia, sih?" gumam Alin mengomel sendiri.

Gadis itu memilih duduk di atas rumput di taman itu. Taman memang sangat sepi jika jam seperti ini. Ia pun mulai mengambil novel di tas dan mulai membaca.

Araz yang sedari tadi juga melihat Alin dari jauh bergumam sendiri, "Kenapa baru kali ini gue ketemu sama cewek yang gak klepek-klepek sama gue, dan baru pertama kali gue dijutekin sama cewek." ucap Araz memasukkan buku yang ia baca.

Memang, di sekolah Araz sangat terkenal dengan ketampanan dan kepintarannya. Alasan lain adalah; karena ia adik dari seorang artis. Banyak gadis yang mendekati dan menyukai. Namun, Araz tak menanggapi hal itu. Ia masih trauma dengan yang namanya cinta. Dan yang heran sampai sekarang, ia hanya mempunyai satu mantan pacar saja.

"Gue penasaran sama dia," gumam Araz menghampiri Alin dan langsung duduk di dekatnya. Alin hanya menoleh pada Araz sebentar lalu melanjutkan membaca novel yang berjudul 'Ajari Aku Mengenal Duniamu' tersebut.

"Gila! Jutek banget nih cewek!" batin Araz menggerutu.

"Hey, sendirian aja nih?"

"Udah tau sendiri, masih tanya." jawab Alin dengan juteknya, karena ia memang sangat benci jika ketika membaca novel diganggu.

"Jangan lupa, di taman jam tiga. Inget, cuman ketemu."

"Hm."

Karena sikap Araz yang penasaran, usahanya tak berhenti sampai di situ saja. Ia terus berusaha mendekati gadis jutek nan misterius ini.

"Lo gak pulang?"

Tanpa basa-basi Alin langsung pergi dari tempat itu dan meninggalkan Araz sendiri.

"Cewek jutek, Zealine." gumam Araz tersenyum.

Jarang sekali seorang Faaraz ini tersenyum, kecuali jika bersama orang yang ia sayangi. Entah kenapa ia menjadi sangat-sangat penasaran dan ingin mengenalnya lebih dekat. Ia pun langsung bangun dari duduknya, meninggalkan taman itu dan pulang.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel