Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Fall Down

"Ayass udah ngerjain tugas yang dikasih Bu Sarah kemarin belom?" tanya Alin mencoba mencairkan suasana.

"Udah kemarin malem," jawab Araz sekenanya.

"Yaudah, apa aja yang lo gak bisa? Biar gue bantu sini,"

"Ajarin dong,"

"Apa?"

"Ajarin gue bahagiain lo. Hahahaha!" gelak Araz disambut dengan senyuman manis Alin.

"Pertahankan senyuman itu untukku. Bukan untuk orang lain." batin Araz berbicara.

"Gue ambil tas dulu, ya," Alin berdiri.

"Gue juga." sahut Araz yang juga ikut berdiri.

Saat hendak melangkah, kaki Alin terkilir akibat sebuah batu di depannya. Tapi untung saja ada Araz yang sigap menangkap tubuh Alin sebelum terjatuh.

Cukup lama mereka dalam posisi itu, hingga Araz mendekatkan wajahnya ke wajah Alin. Hembusan napas Araz bahkan sudah menerpa seluruh wajah Alin yang cantik itu.

"Raz ...," lirih Alin.

Namun Araz terus mendekatkan wajahnya sehingga ...

BRAK!

Secara refleks Araz menjatuhkan tubuh Alin di rerumputan tepi danau. Sakit? Oh, tentu saja.

"Aaaww!" pekik Alin memegangi pantatnya yang sakit akibat Araz menjatuhkannya.

"Lin, maaf ya. Maaf, lo gapapa kan? Maaf ya, gue gak se-" Belum habis Araz berbicara, Alin memotongnya dengan menempelkan jari telunjuk ke bibir merah Araz. Ini pertama kali Alin menyentuh bibir laki-laki selain miliknya sendiri.

"Ga perlu minta maaf," jawab Alin sedikit meringis. Sedangkan Araz masih terdiam dengan sikap Alin padanya. Ia merasa bersalah karena sudah membuat Alin jatuh dan kesakitan.

"Tapi kan lo kesakitan gara-gara gue, Lin. Sumpah gue gak sengaja, gue refleks tadi. Gue nyesel, maaf-maaaafff banget yaaa," ucap Araz lembut dan penuh penyesalan.  Alin hanya tersenyum melihat Araz yang begitu khawatir pada dirinya.

"Raz ... boleh minta tolong, gak?"

"Apa? Apapun itu,"

"Berhenti minta maaf."

"Okay. Gue turutin. Asal lo udah maafin gue,"

"Lo gak salah. Gak ada yang salah dan sekarang kaki gue sakit, jadi tolong bantuin gue yaaaa," pinta Alin dengan wajah puppy eyesnya, membuat Araz mencubit pipi chubby milik Alin.

"Aww sakit tauu!! Ayo bantuin gue!!"

"Ayoo gue gendong atau apa nih?" goda Araz sembari mengerlingkan matanya.

"Dasar genit!! Buruan deh bantuin gue!!" Seketika sifat jutek Alin kembali lagi.

"Okay okay. Sini." Araz membantu Prilly berdiri dan menuntunnya sampai ke atas (rumah pohon). Berjaga-jaga, takut terkilir dan terjatuh lagi.

"Masih sakit?" tanya Araz sambil memijit kaki Alin yang terkilir tadi dan dibalas anggukan kecil olehnya.

"Maaf yaaaa," uhar Araz lembut.

"Kan udah aku bilang kalo gak usah minta maaf lagi," jawab Alin kesal mengerucutkan bibirnya.

"Iya, deh. Tapi bentar, tadi bilang apa? Aku?" tanya Araz berniat menggoda Alin

"Ehm-em, apaan, sih! Engga kok." jawab Alin gugup dan memalingkan wajahnya ke segala arah, menutupi pipinya yang sekarang sudah memerah seperti kepiting rebus.

"Udah deh jangan ditutup-tutupin, masih keliatan tau,"

"Iiikkhhh Arazz!!" kesal Alin mencubit lengan Araz pelan.

"Apa?"

"Kita jadi belajar gak, sih?"

"Kita? Ya jadi dong,"

"Gak usah dulu deh, Raz, gue lagi males banget hari ini ditambah kaki gue sakit lagi," keluh Alin bete memanyunkan bibirnya.

"Suruh siapa jatoh,"

"Suruh siapa dijatohin," balas Alin tak mau kalah.

Araz pun tersenyum mengingat kejadian tadi ketika Alin terjatuh.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel