Comfortable
Author POV
"Maaaa, Papa mana? Kok gak keliatan dari pagi?" tanya Alin menghampiri Mamanya yang sedang menonton tv.
"Oh iya, Papa tadi habis Subuh udah terbang ke Thailand. Biasalah rapat kantor."
"Kok Ake gak dibangunin sih, Ma?"
"Suruh siapa kebo." celetuk Zaidan tiba-tiba datang dan duduk di samping Mamanya.
"Dasar lo!"
Ddrrtt ... Drrtt ...
Handphone Alin bergetar, ia melihat notifikasi di instagramnya banyak sekali. Jarang media sosial satu ini ramai. Padahal ia juga tak pernah lagi mengupload foto bahkan membukanya saja tidak pernah. Hemat paketan, katanya.
@arazibr started following you.
"What?! Araz follow gue? Kenapa tiba-tiba, sih?!" batin Alin. Dengan cepat ia mem-follow back instagram Araz.
"Terus yang bikin rame apaan, nih?" gumam Alin bingung karena ia merasa handphonenya bergetar terus-menerus. Alin membuka instagram Araz, betapa terkejutnya ia menemukan foto dirinya yang sedang membaca buku di rumah pohon. Dengan caption :
~Jutek but smart~
Alin terus men-stalk instagram Araz. Ada foto dirinya daann--- ia juga menemukan foto Araz bersama seorang gadis yang sepertinya sedang berulang tahun. Setelah dilihat, foto itu diunggah sekitar lima bulan yang lalu.
Pantas saja instagramnya ramai. Faaraz Ibrahim, seorang selebgram dan adik dari seorang artis yang terkenal dengan ketampanannya mem-post foto seorang perempuan, dirinya.
Jemari Alin bergerak membuka "Photos Of You" di akunnya yang bernama @zeake itu. Alin membuka satu persatu foto yang men-tag dirinya.
razious_jkt :
~siapa lagi nih Zealin Zakeisha? Gebetan barunya Bang Araz kali, yaaa~
shaf99 :
~Temen apa demen nih ke neng Alin??? Hayooo @arazibr @zeake~
officialrazious :
~kode nihh kodeee @zeake~
Ya begitulah sebagian caption-caption yang terdapat di foto- foto itu. Alin juga membalas fans Araz yang mempost foto dirinya di kolom komentar bahkan mem-follback nya yang membuat instagramnya makin jebol. Tetapi, Alin juga berterima kasih pada Araz, followers instagram ya bertambah drastis! Hohoho :v
•
•
•
Sore yang indah. Terlihat dua insan tengah duduk di tepi danau kesukaan Araz--yang saat ini juga sudah menjadi kesukaan Alin. Menatap jernihnya air dan daun-daun yang berguguran jatuh ke dasar air.
"Cieee .... yang follow gue di instagram," goda Alin memencet-mencet pipi Araz yang sedang diam tak banyak bicara di tepi danau tersebut.
"Haha, tapi berkat gue juga kan followers lo naik," sahut Araz diselingi tawanya.
"Sialan lo, ngil! Oh ya, satu lagi! Jangan manggil gue dengan sebutan jutek, karena gue gak sejutek yang lo pikirin!" ucap Alin dengan nada ketusnya.
"Iya deh bawel,"
"Au ah."
"Alin," panggil Araz tiba tiba memasang wajah serius. Posisinya kini menghadap Alin. Namun gadis terdebut tak menghadapnya, masih sibuk melihat hamparan danau luas itu.
"Lihat gue dong,"
"Apa?" jawab Alin yang akhirnya menoleh pada Araz, hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa kilometer, eh sentimeter saja.
"Okay. Focus Araazz." batinnya menyemangati diri sendiri.
"Apa, Raz?" ulang Alin. Refleks dirinya kaget dengan Araz yang tiba-tiba memegang kedua pundaknya.
"Asal lo tau, gue nyaman ketika deket sama lo," ujar Araz serius dan menatap lekat mata hazel Alin.
Sedangkan Alin? Gadis itu mencoba mencari kebohongan disana, tapi apa? Hasilnya nihil. Araz mengatakannya dengan tulus dan jujur. Hingga Alin sendiri tak bisa mengatakan apapun lagi dan mencerna kata demi kata yang diucapkan Araz barusan. Baginya, apakah ini tidak terlalu cepat untuk mengungkapkan perasaan? Kenal saja baru satu bulan. Yah, mungkin terdengar wajar. Tetapi--
"Apa lo gak percaya?" tanya Araz, perlahan melepaskan tangannya dari pundak Alin.
"Gue gak tau, yang jelas gue nyaman sama lo. Nyaman. Ga tau lagi apa yang ada di hati gue selain itu. Cuma nyaman yang bisa gue rasain," lanjut Araz mengungkapkan perasaannya. Jantungnya berdegup sedari tadi, antara malu dan ragu.
Alin yang mendengarkannya hanya bisa diam, ia tak bisa berkata lagi. Hatinya mengatakan hal yang sama.
"Apa lo juga sama?" Araz kini memandang Alin yang sedang menunduk.
"Gu-gue juga ngerasain hal yang sama," jawab Alin juga menatap mata tajam Araz yang sangat disukainya.
"Dan ... gue harap lo bisa ngasih gue kenyamanan itu setiap hari," ujar Araz penuh kasih sayang.
"Semoga."
Sunyi menyelimuti. Tak ada pembicaraan setelah masing-masing dari mereka memutuskan untuk mengungkapkan rasa nyaman.
Alin berharap hubungan antara dirinya dengan Araz bisa terus seperti ini. Tidak berpisah karena masalah cinta yang harusnya bisa diselesaikan baik-baik. Tidak memutuskan tali persahabatan karena persoalan asmara.
Di sisi lain, Araz pun berharap bahwa ini adalah langkah awal perjuangan cintanya. Setelah lama mencoba menghapus jejak sang mantan, kini dirinya kembali merangkai kisah baru, bersama orang baru juga tentunya.
"Alin, semoga lo yang terakhir."
