Araz Is So Annoying
Araz POV
Hari ini gue seneng banget! Jelas! Gimana enggak? Alin juga ngerasain hal yang sama kayak gue, nyaman. Rasanya pengin memutarkan waktu. Namun apalah daya, gue gak bisa ngelakuin itu, bahkan semua orang juga.
Andai gue bisa merasakan apa yang gue rasain ke dia, cinta atau enggak? Sepertinya iya. Tapi no! Itu terlalu cepat bagi dia.
Gue biarin dia jadi selebgram hanya karena gue follow dan upload fotonya. Sekarang, gue udah ngerasa lega banget. Gue udah bisa move on dari masa lalu. Masa lalu yang berawal manis, berakhir pahit. Cinta emang kayak gitu, kan?
Lima bulan yg lalu, gue mutusin untuk ninggalin dia karena dia telah mengakhiri hubungan tanpa alasan. Di sini, di Jakarta akhirnya gue menemukan seorang gadis yang membuat hari-hari gue cerah seperti pelangi yang muncul setelah hujan.
For your information, kota kelahiran gue adalah Bandung, my first love.
I'm feel bored today! Gue pengin banget ngajak seseorang buat yang asik diajak ngobrol. Kak Faza dan Mama sekarang pergi shopping ke sebuah mall dekat sini. Gak heran, sih, perempuan memang seperti itu.
Aha! Gue main twitter aja hari ini ddaaannn ... tentunya aku akan mem-follback twitter Alin. Gue tau dari awal kalau dia follow gue. Gue pengin kali ini bukan instagram aja yang rame, tapi twitter juga. Biarlah handphone gue kali ini meledak akibat notifikasi yg jelas-jelas jebooolllll.
•Faaraz Ibrahim
@arazibr_
Heh, cewek jutek! @akesh
Aku sudah mengirimkan satu tweet yg berisi menyapanya. Belum satu menit handphone ku sudah bergetar, mungkin ini juga yang dialami oleh Prilly, biarlah. Oh ya! Bagaimana aku bisa tau nama twitter prilly? Jelas aku tau karna aku melihat di bio instagramnya. Karena kepoku tingkat akut, aku men-stalk twitter dan favnya. Aku melihat sebuah tweet dan sebuah foto seorang lelaki dan dirinya yang sedang melakukan makan malam di sebuah cafe. Sekitar 6 bulan yang lalu tweet itu diunggah. Cukup lama. Apakah ini kekasih Prilly? Atau mantan?
•••
"Alin! Zealin! Keisha! Esya! Zealin Zakeisha! Anj*r! Woi!" Teriakan lantang seorang Araz menggema di koridor angkatan kelasnya.
"Berisik lo, Raz!"
"Si Alin budeg apa gimana, si?"
Cibiran dari teman-teman lain pun ikut geram karena terganggu dengan suara berat Araz. Ramai.
Ketika melihat Alin mengangguk-anggukkan kepala serta menghentakkan kakinya pelan, Araz mengeluarkan napasnya kasar. Dengan cepat ia menarik headset itu.
"Siapa sih yang--Araz?! Kenapa ditarik, sih?! Lagi reff juga!" Lelaki di hadapannya malah memasang wajah datar. Lalu menyodorkan headset milik Alin.
"Ada apa? Kok aneh gitu?"
"Gue manggil lo ribuan kali sampe teriak-teriak dan tenggorokan gue hampir copot, lo malah asik dengerin lagu di sini. Gila kali," Kini giliran Alin yang memasang wajah tanpa ekspresi.
"Lo nyalahin gue karena gue dengerin musik? Harusnya lo bilang semalem kalau mau manggil gue, jadi gue ga perlu bawa headset biar bisa denger panggilan dari lo,"
Kemudian, keduanya sama-sama terdiam. Saling menatap kesal satu sama lain. Beberapa menit setelahnya, Alin dan Araz tertawa.
"HAHA! Apaan sih, Raz! Masa gitu aja sampe debat ga jelas. Gila!"
"Lo juga apaan, woi? Masa iya gue harus nelpon dulu kalo mau manggil. Lebih gila!" kelakar keduanya dengan sisa tawa yang tak ada habis-habisnya.
"Oh, iya. Ada apa?"
"Gak ada apa-apa, sih. Cuma mau manggil aja,"
"Whatt!?!?" Araz nyengir sembari menunjukkan jari telunjuk dan tengahnya membentuk tanda peace.
"Yaudah yuk, sayang, masuk kelas aja," Alin mengiyakan ajakan Araz. Setelah dua langkah, ia berhenti.
"Apa, Raz? Lo bilang apa tadi?"
"Apa?" tanya Araz balik dengan tampang polos.
"Coba ulang waktu ngajak tadi,"
"Yaudah yuk, sayang, masuk kelas aja,"
"Tuh, kan! Bisa gak sekali aja jangan genit-genit?"
Araz tertawa. "Gak bisa, sayang,"
"Ih, Araz! Yauda nih gue ngambek!" Araz hanya tersenyum lalu berinisiatif untuk menggelitik Alin. Sedang Alin terus berusaha berlari, menghindar dari Araz yang mencoba untuk menggelitik.
Tanpa sadar, keduanya sudah jauh berlari hingga ke taman belakang.
"HAHA! Udah, Raz! Geli tau, gak! Ngambek nih," Lelaki itu tak menggubris, ia tetap mengejar Alin bahkan terlihat seperti tengah memeluk tubuh kecil Alin.
"Maaf dong,"
"Ga mau,"
'Cup!'
Sebuah kecupan mendarat di pipi chubby Alin. Sontak Alin kaget atas apa yang dilakukan Araz padanya. Untung saja tidak ada murid yang ada di taman itu.
"A-Araz ..." lirih Alin, ia menundukkan kepalanya menutupi wajah yang saat ini sudah sangat-sangat merona akibat ciuman singkat itu.
"Maafin gue,"
"Enggak," jawab Alin cuek.
"Yaudah gue bakal manggil lo sayang lagi,"
"Yaelah ...itu mau lo kali."
"Gue cium nih," ujar Araz menggoda, mendekatkan wajahnya ke Alin dan memonyongkan *apaini-_- bibirnya.
"Aaaaaa tolooonggg!!!" teriak Alim berlari kecil. Ali berlari mengejar Prilly dan--
'Hap!'
Akhirnya Araz berhasil mendekap Alin dari belakang.
"Hayoloh dapeett hahah!" sorak Araz yang terus tertawa, begitu juga dengan Alin.
'Kring! Kring! Kring!'
Bunyi bel masuk pun memecahkan suasana mereka. Yang tadinya tertawa, kini semakin hening. Araz juga tentunya yang perlahan melepaskan dekapannya dari Alin.
"Engh-maaf," ucap Araz. Entah kenapa suasana menjadi begitu canggung setelah sadar apa yang ia lakukan tadi.
"Udah sih gapapa, santai aja. Yuk, ke kelas!" ucap Alin tersenyum dan menggenggam tangan Araz tanpa sadar.
"Raz,"
"Hm?"
"Kalau cium jangan di sekolah. Gak baik. Kalau ada yang liat, gimana?"
"Iya-iya, maap. Berarti kalo mau cium jangan di sekolah, ya?"
Alin mengangguk.
"Di mana?"
Tatapan Alin berubah tajam.
"Jangan bilang lo mau cium gue lagi? Gue tampol lo!"
"Yah, ketahuan deh."
