Closer
"Cafetaria? Berarti Araz ada di sini dong. Tapi kenapa statusnya begini?" batin Alin setelah melihat status baru di media sosial Araz.
"Alin, kenapa? Ada masalah?" tanya Arav ketika melihat Alin diam saja.
"Eng-enggak kok gak apa-apa, gue ke toilet dulu ya." Arav mengangguk.
Namun, tepat di depan kamar mandi ...
BRUK!
"Eh maaf mas, gak seng--Araz?!" pekik Alin kaget.
"Alin? Lo kesini sama siapa?" tanya Araz pura-pura tidak tahu, padahal ....
"S-sama Araz,"
"Oh," jawab Araz santai.
"Lo kesini sama siapa?"
"Sama Kak Zafran, Kak Faza juga,"
"Kak Zafran? Oh gitu, gue balik dulu, ya." Alin memutar tubuhnya hendak pergi, mengurungkan niat ke toilet. Namun, tangannya ditahan, siapa lagi kalau bukan Araz?
"Ada apa?" tanya gadis itu bingung bingung.
"Emh ... besok gue jemput,ya?" tanya Araz ragu karena melihat Alin yang tengah berpikir.
"Boleh." jawab Alin tersenyum manis. Entah kenapa dirinya sangat senang Alin tak menolak tawarannya.
Baru beberapa langkah kembali, suara berat Araz kembali terdengar.
"Kenapa?" tanya Alin mengangkat kedua alisnya.
"Cantik."
Alin tertegun sesaat, "Thank you." Kemudian bergegas pergi meninggalkan Araz yang saat ini tengah senyum sendiri.
Sama halnya dengan Araz, Alin berlalu dengan senyum yang belum hilang di wajah manisnya.
"Kok lama?" tanya Arav setelah Alin kembali.
"Tadi tabrakan sama orang, jadi agak lama dikit,"
"Pulang, yuk."
"Yuk, keburu malem."
Akhirnya Arav dan Alin pergi dari kafe itu. Sementara Araz hanya melihatnya dari jauh. Berniat untuk pulang juga, karena ia malas menjadi obat nyamuk antara kebucinan kedua kakaknya.
"Kak, pulang duluan ya." pamit Araz.
"Oh oke, kalo Mama tanya bilang aja gue pergi sama Zafran, ya!" jawab Faza.
"Oke."
Ali pun juga meninggalkan kafe itu.
•
•
•
Pagi yang indah dan sejuk, sesejuk hati seorang gadis saat ini, Zealin Zakeisha. Hari ini gadis itu sangat semangat untuk pergi ke sekolahnya.
Tin!! Tin!!
Suara klakson mobil di bawah seolah menuntut Alin untuk keluar secepatnya.
"Ma, Ake berangkat, ya. Assalamualaikum." pamit Alin mencium punggung tangan Mamanya.
"Waalaikumsalam, hati-hati."
"Hey," sapa Araz tersenyum.
"Senyum yang sangat manis." batin Alin.
"Hey," ulang Araz lagi melambaikan tangannya di depan wajah Alin. Hm, sepertinya gadis itu tengah melamun karena terpana oleh ketampanan lelaki blasteran Arab dan Sunda ini.
"E-eh iya, Araz! Pagi," jawab Alin yang akhirnya tersadar sembari tersenyum kikuk. Malu.
Alin merasa ada yang berbeda dari penampilan Araz saat ini. Ia mengenakan topi dan kacamata. Ukh, menurutnya Araz sangat keren dengan penampilan seperti ini.
"Lin," panggil Araz di dalam mobil, memecahkan keheningan. Namun tatapannya masih lurus membelah jalan.
"Iya?"
"Lo p-pacaran sama Arav?" tanya Araz gagap, sedang Alin malah menjawab dengan tertawa.
"Kok ketawa, sih? Emang lucu?" protes lelaki itu menampilkan wajah sebalnya.
"Pertanyaan lo lucu tau gak!" kelakar Alin yang masih setia dengan tawanya.
"Arav tuh udah gue anggep kakak sendiri, tau!" jawab Alin dengan sisa-sisa tawa yang masih ada.
"Yaa, kirain pacaran, abis romantis banget,"
"Are you jealous, Faaraz Ibrahim?" goda Alin dengan nada yang sedikit dibuat-buat.
"Noo!!" elak Araz. Alin menahan tawanya sekaligus gemas karena terlihat jelas sekali semburat merah di pipi lelaki tampan itu.
"Iih-ihh Ayas kamu tuh yucu anget au gak," ucap Alin dengan suara seperti anak kecil dan mencubit pipi Araz.
"Akit tau!!" sahut Araz meniru suara Alin.
"Dibalik orang nya tengil, asik juga." batin Alin membuatnya senyum sendiri.
"Turun Esyaaa udah nyampek,"
"Kok Esya?"
"Nama belakang lo Keisha, kan?"
"Iya juga, sih. Yaudah, ya. Gue turun duluan ya, makasih banyak, Ayas!" ucap Alin segera turun dari mobil Araz.
"Ayas Esya." batin Ali tersenyum.
Setelah memarkirkan mobil, ia segera menuju kelas.
Alin POV
Entah kenapa hari ini aku merasa senang sekali diantar oleh Ali berangkat sekolah. Padahal hanya diantar saja, tapi kenapa harus sesenang ini?
Sebenarnya aku masih bingung, setiap berada di dekat dia, jantungku pesta di dalam sana, jaaauh beda kalau sama Arav. Bedaaa banget.
Pertemuan awal kita dari rumah pohon dan belajar bersama. Apa aku mulai suka, ya? Entah. Yang saat ini bisa aku ungkapkan hanya ... nyaman. Ya, nyaman! Sudah cukup jelas, bukan?
Drrttt...
Getaran handphone membuat Alin tersadar dari lamunannya. Dua pesan.
•Faarazibr : Esyaaaa
•Faarazibr : Pulang bareng, yaaaaaa
Lah? Baru aja masuk kelas udah ngajak pulang bareng? Kan bisa nanti ngomongnyaa dasar tengiill tengiill. Aku lirik dia yang sibuk bermain handphone. Dia juga menoleh ke arahku, lalu mengedipkan sebelah mata. Iuw! Jijik tapi lucu.
•Zealinekeisha : Mau gak, ya? Hm ...
Dengan cepat Araz membalas pesan dari Alin
•Faarazibr : Yaudah.
Yaelah! Ngambekan banget sih ini anak.
•Zealinekeisha : Iya iya mauuu, ngambekan banget ciihh:*
Sengaja aku memberi emoticon kiss, ingin tahu responnya.
•Faarazibr : Dih cium cium, gue cium beneran tau rasa lo!
Aku read aja pesan dari dia. Lagi pula, Bu Sarah sudah datang. Bisa-bisa kena ceramah tiga hari tiga malam, nih, kalau kena.
