Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Don't Call Me Baby

Sesampainya di kelas ....

"Lin ... sadar gak, sih? Gue mau duduk tau!" ucap Araz berbisik tepat di telinga Alin.

"Yaudah duduk aja sono!" jawab Alin ketus.

"Your hand, baby." ujar Araz yang kini berbisik lebih lembut dari sebelumnya, membuat Alin 'geli'.

"Jijik!!" ketus Alin melepaskan genggaman tangannya pada tangan Araz.

"Megang-megang sendiri, dasar bawel!" gerutu Araz lirih, namun masih bisa didengar oleh Alin.

"Araaaaazzz!!!" teriak Alin yang otomatis menjadi pusat perhatian di kelasnya.

"Apa, sayang?" jawab Araz dengan genitnya.

"Cieee-cieee!!" sorak seluruh murid di kelas itu.

"Iuw iuw iuwww!! Najis! Araz! Awas lo!" ancam Alin memberikan tatapan mematikan kepada Araz. Sedang yang ditatap malah senyum-senyum tak berdosa.

•••

"Araz! Jangan manggil gue sayang kaya tadi!!" kesal Alin melototkan matanya kepada Araz. Semakin jengkel Alin karena lelaki di sampingnya malah menghiraukannya.

"Araz!! Denger gak, sih?" teriak Alin di dalam mobil Araz yang sedang berhenti.

"Apa sih, Alin sayang?" goda Araz mengangkat kedua alisnya. Menurutnya, Alin sangat lucu dan cantik jika sedang ngambek.

"Araz tengil, stop manggil gue sayang dan gue mau turun di sini. Oke? Bye!!" kesal Alin hendak turun. Namun sayang, tangannya sudah ditarik terlebih dahulu oleh Araz. Akhirnya Alin duduk kembali seperti semula.

"Oke. Gue gak akan manggil sayang dan gak akan buat lo marah lagi! Kalo ngambek iya," ujar Araz masih memegang lengan Alin agar ia tak turun lagi.

"Ah, Araz maahh, yaudah," rengek Alin manja sembari melipatkan kedua tangannya.

"Iya Alin, gue gak janji, tapi jangan marah yayayayayaya," Araz sedikit memohon. Alin menatap wajah Araz yang tampan itu, dengan cepat ia mengangguk.

"Oke, lo gue anter pulang,"

"Tap--"

"Gak ada penolakan,"

"Jalan-jalan duluuuu,"

"Iya-iya." pasrah Araz kemudian mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi karena jalan cukup sepi.

"Turun." ucap Araz membukakan pintu kepada Alin

"Makasih, Raz," ucap Alin dengan senyuman khasnya. Senyuman manis yang membuat setiap orang melihatnya diabetes.

"Lagiagi senyuman itu." batin Ali, tanpa disadari ia tengah melamun.

"Araz, ayoo!" ajak Araz menggandeng tangan Araz 'tuk masuk ke dalam mall.

Mereka berdua pun masuk ke dalam mall itu. Sebenarnya Araz jarang sekali datang ke mall karena ia tak ingin dikejar oleh kaum hawa yang menggilainya. Hanya demi Alin ia mau masuk ke dalam mall.

"Araz, mau ituuuuu," rengek Alin menunjuk salah satu boneka doraemon yang berukuran sedang.

"Ya beli, lah," sahut Araz cuek.

"Yaudah lo tunggu disini," Alin meninggalkan Araz. Lelaki itu mengikuti Alin sampai ke depan toko penjual boneka.

"Berapa, Pak?" tanya Araz sesampainya di kasir. Alin menoleh ke belakang dan menautkan kedua alisnya.

"Becanda," jawab Araztersenyum manis.

"Hanya untukku, senyuman itu. Jangan orang lain." batin Alin berbicara.

"Hey, ayo makan dulu. Pasti laper, kan?" ajak Araz sembari membawakan boneka milik Alin yang dibelinya tadi.

"Yuk!"

Belum sampai mereka di restoran, sudah banyak orang yang mengajak mereka foto dan meminta tanda tangan. Namun, Araz maupun Alin tidak terbebani oleh itu. Alin sekarang menjadi dikenal banyak orang karena ia dekat bersama Faaraz Ibrahim, Araz.

Setelah tidak ada fnas lagi, barulah mereka berdua pergi ke sebuah restoran.

"Makan apa?"

"Kayak lo aja," Kemudian, Araz memanggil seorang pelayan yang ada di sana dan memesan apa yang akan mereka makan.

Setelah makanan datang, segera mereka menyantap makanan dengan lahap.

Di sela-sela makan, ada seseorang menepuk pundak Araz. Sontak lelaki itu langsung menoleh ke belakang. Mata Araz terbelalak tak percaya.

"Hey, apa kabar? Ayo duduk. Udah lama banget, ya," ajak Araz antusias dan menggeser duduknya, memberi isyarat agar seorang itu duduk disampingnya. Sedangkan Prilly? Ia hanya terdiam bingung.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel