Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2 Just Skin Care

Mingyu keluar dari kamar mandi begitu selesai mengganti pakaiannya dengan kaos oblong putih polos dan celana panjang hitam, sama dengan istrinya yang sedang membaca buku di atas kasur itu.

Jihye tidak pernah memakai piyama meskipun mereka memiliki sepasang piyama bermotif senada sejak pernikahan mereka, itu yang diketahui Mingyu. Entah kenapa kebiasaan Jihye berimbas pada sang suami yang ikut-ikutan tidak memakai piyama saat tidur dan memilih memakai kaos oblong serta celana panjang sepertinya.

Mingyu beralih ke kursi yang dihadapkan pada cermin. Mengambil sederet skincare miliknya. Ya, di saat Jihye tidak peduli dengan berbagai produk skincare, maka Mingyu cukup peduli dengan barang-barang untuk merawat kulitnya itu demi pekerjaan yang menuntutnya merawat diri.

"Sayang" panggil Mingyu dengan menggerakkan salah satu botol skincare, memberi kode untuk dipakaikan.

"Kenapa? Aku tidak memakainya" ucap wanita itu dan kembali membaca buku.

Tuh kan tidak peka. Mingyu menghela nafas.

"Aku tau kau tidak memakai ini. Cuma minta tolong bantu aku menggunakannya, aku terlalu malas" Mingyu membuat wajahnya memelas.

Jihye menutup buku dan melepas kacamata, meletakkannya di meja. Meskipun ia agak cuek tentang ketampanan Mingyu, tapi tetap saja ia wanita yang bisa gemas dengan tingkah suaminya.

Begitu istrinya bangkit, Mingyu tersenyum dan merubah posisi kursinya menjadi sedikit serong, agar lebih mudah.

Jihye berdiri di depan Mingyu untuk menjepit poni, dan mulai bergerak sesuai dengan ingatannya tentang cara melakukan perawatan yang sudah beberapa kali ia lakukan berdasarkan instruksi Mingyu. Ia sempat mengira Mingyu menawarkannya memakai skincare tadi, karena Mingyu pernah melakukannya beberapa hari lalu, namun ditolak secara halus.

"Aw" Mingyu sedikit meringis saat tidak sengaja memar di keningnya tertekan.

"Maaf" Jihye mengusapnya pelan.

"Tak apa"

"Sebenarnya bagaimana bisa kau mencetak memar lagi?" tanya Jihye saat Mingyu melirik ke arah kaca, melihat seberapa dekat jarak mereka yang ternyata sangat dekat.

"Aku dan Seokmin berniat jalan-jalan sore, kemudian mampir ke kedai ramen pinggir jalan yang katanya enak. Kau tahu kan, tinggi pintu masuk kedai yang dibangun dari tenda bongkar pasang itu?". Jihye mengangguk mengerti. Tinggi pintunya memang tidak sampai dua meter. Orang dewasa dengan kelebihan kalsium seperti Mingyu harus sedikit menunduk untuk keluar masuk kedai. Sebenarnya tinggi sol sepatu Mingyu ikut andil dalam hal ini.

"Awalnya memang tidak masalah. Sampai aku baru saja memakan dua suap ramen... Ada dua gadis penggemar memanggilku.. Aku dan Seokmin buru-buru keluar dari sana dan kau pasti tahu apa yang terjadi. Aku tidak fokus dengan yang ada di depanku dan tercetak lah karya menyakitkan ini" Jihye mengangguk lagi. Sampai Mingyu baru sadar kalau perawatannya sudah selesai. Meskipun sedikit kecewa ia tetap mengucapkan terimakasih.

"Sepertinya besok akan sembuh" ucap Jihye beranjak ke kasur dan menarik selimut, diikuti Mingyu.

"Sebenarnya bisa sembuh dengan cepat dalam waktu lima detik" balas Mingyu, menoleh ke sang istri yang balik menatapnya dengan tatapan bertanya.

"Dicium saja, pasti sudah sembuh"

Jihye membalikkan badan dan mematikan lampu.

"Jangan mengada-ada"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel