Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Jamuan di Meja Berduri

Jakarta terasa lebih dingin dari biasanya saat malam hari, setidaknya itu bagi Helena. Di dalam mobil Rolls-Royce yang melaju membelah kemacetan kota, keheningan terasa mencekam. Marco duduk di sampingnya, rahangnya terkatup rapat, matanya menatap tajam ke arah jendela yang dibasahi sisa gerimis. Tidak ada lagi sentuhan hangat atau bisikan menggoda yang tadi mereka bagi di bathtub. Pria di sampingnya kini telah kembali menjadi Sang Tiran—dingin, tak tersentuh, dan penuh otoritas.

Helena meremas jemarinya di atas pangkuan. Ia mengenakan gaun sutra berwarna biru safir yang dipilihkan Marco—potongannya sangat elegan namun memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna, memperlihatkan sedikit bagian bahu yang masih menyisakan jejak samar kemerahan dari "pergulatan" mereka sebelumnya. Ia merasa seperti domba yang sedang dihias sebelum diantar ke meja pemotongan.

"Tuan... apakah Ibu Anda orang yang sangat kaku?" tanya Helena akhirnya, memecah keheningan yang menyiksa.

Marco tidak langsung menjawab. Ia menoleh perlahan, tatapannya menyapu wajah Helena seolah sedang memeriksa apakah riasan gadis itu sudah cukup sempurna untuk menutupi kerapuhannya. "Ibuku, Sofia, bukan sekadar kaku, Helena. Dia adalah wanita yang membangun dinasti bisnis ini bersama ayahku dengan darah dan air mata. Baginya, setiap orang adalah aset. Dan dia sangat tidak suka melihat asetnya 'tercemar' oleh sesuatu yang tidak berguna."

Kata 'tidak berguna' menghujam jantung Helena seperti belati. Ia tahu posisinya. Ia bukan putri bangsawan, bukan pula rekan bisnis yang setara. Ia hanyalah wanita yang "disimpan" Marco di puncak menaranya.

"Lalu kenapa dia ingin menemuiku?"

"Karena dia mencium aroma kelemahan padaku," jawab Marco tajam. "Dan dia yakin kelemahan itu adalah kau."

Mobil berhenti di depan sebuah restoran mewah yang telah dikosongkan untuk malam itu. Restoran ini terletak di lantai teratas sebuah gedung pencakar langit, dengan pemandangan lampu kota yang berkelap-kelip seperti berlian di atas beludru hitam. Saat pintu mobil dibuka oleh pelayan, Marco keluar lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya pada Helena.

"Tegakkan kepalamu, Helena. Jangan biarkan dia melihat ketakutanmu, atau dia akan mengulitimu hidup-hidup," bisik Marco tepat di telinganya sebelum mereka melangkah masuk.

Di tengah ruangan yang luas dan sunyi, hanya ada satu meja panjang yang telah ditata sempurna. Di ujung meja, seorang wanita paruh baya duduk dengan keanggunan yang mengintimidasi. Sofia mengenakan setelan jas hitam dengan kalung mutiara yang melingkar di lehernya. Rambutnya disanggul rapi tanpa ada satu helai pun yang keluar dari tempatnya. Matanya—yang sama persis dengan mata Marco—menatap mereka dengan tajam saat mereka mendekat.

"Ibu," sapa Marco dengan nada datar. Ia menarik kursi untuk Helena, lalu duduk di sampingnya.

Sofia tidak menjawab sapaan putranya. Pandangannya langsung tertuju pada Helena, menelusuri dari ujung rambut hingga ke jemari Helena yang gemetar di bawah meja. "Jadi, ini alasan kau melewatkan rapat dewan komisaris bulan lalu, Marco? Seorang gadis dengan mata yang terlalu banyak bertanya?"

Suara Sofia terdengar tenang, namun setiap katanya mengandung racun.

"Helena bukan sekadar alasan, Ibu. Dia adalah milikku," sahut Marco, suaranya tenang namun ada nada peringatan di sana.

Sofia tertawa kecil, tawa yang tidak mencapai matanya. "Milikmu? Kau bicara seolah dia adalah seekor anjing peliharaan yang baru kau beli dari toko. Tapi kau lupa satu hal, Marco. Di keluarga ini, kita tidak memelihara sesuatu yang tidak memberikan keuntungan. Katakan padaku, Nona Helena... apa yang kau tawarkan kepada putraku selain tubuhmu yang tampaknya sudah sangat sering dia 'gunakan'?"

Wajah Helena memerah padam. Ia merasa terhina, dipermalukan di depan pria yang baru saja memujanya di kamar mandi. Ia menoleh ke arah Marco, berharap pria itu akan membantunya, namun Marco hanya diam, matanya menatap ibunya dengan sengit.

"Saya mencintai Tuan Marco," ucap Helena dengan suara yang sedikit bergetar namun mencoba untuk tetap tegas.

"Cinta?" Sofia mengangkat satu alisnya, lalu memberi isyarat pada pelayan untuk menuangkan anggur. "Cinta adalah kata yang digunakan oleh orang miskin untuk membenarkan ketidakberdayaan mereka. Marco tidak butuh cinta. Dia butuh sekutu. Dia butuh wanita yang bisa berdiri di sampingnya di pesta kedutaan, wanita yang bisa menambah angka di rekening banknya, bukan wanita yang hanya bisa merintih di bawah tubuhnya saat malam tiba."

Sofia kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Helena tepat di manik mata. "Berapa? Sebutkan angkanya. Berapa yang kau inginkan untuk meninggalkan putraku malam ini juga?"

Ruangan itu mendadak terasa sangat sempit. Helena merasa oksigen di sekitarnya menghilang. Ia melirik Marco, namun pria itu justru mengambil gelas anggurnya dan meminumnya dengan tenang, seolah sedang menonton sebuah pertunjukan drama yang menarik.

"Marco?" bisik Helena, merasa dikhianati oleh keterdiaman pria itu.

Marco meletakkan gelasnya dengan denting yang keras di atas meja. "Ibu, aku membawa Helena ke sini bukan untuk kau beli. Aku membawanya ke sini untuk memberitahumu bahwa dialah yang akan tetap berada di sampingku, entah kau suka atau tidak."

"Oh, benarkah?" Sofia tersenyum sinis. Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari tasnya dan melemparkannya ke tengah meja. Amplop itu terbuka, memperlihatkan foto-foto Helena di masa lalu—foto-foto saat dia masih bekerja di kelab malam sebagai pelayan untuk membiayai pengobatan ibunya, foto-foto yang Helena pikir sudah dikubur dalam-dalam oleh Marco.

"Putraku mungkin berpikir dia sudah membersihkan sejarahmu, Helena. Tapi tidak ada yang bisa disembunyikan dari saya," lanjut Sofia. "Jika foto-foto ini sampai ke pers, saham perusahaan Marco akan terjun bebas. Kau adalah skandal berjalan. Apakah kau masih merasa 'cinta' mu itu cukup untuk menutupi kerugian miliaran dolar yang akan dia hadapi?"

Helena terpaku. Ia menatap foto-foto itu dengan rasa mual yang meluap. Ia menoleh ke arah Marco dan melihat rahang pria itu mengeras. Marco meraih salah satu foto, matanya berkilat penuh amarah yang tertahan.

"Kau berani mengancamku dengan ini, Ibu?" desis Marco.

"Ini bukan ancaman, ini adalah realita bisnis," jawab Sofia dingin. "Pilih, Marco. Pertahankan mainan ini dan lihat kerajaan yang kau bangun runtuh, atau buang dia sekarang dan aku akan mengatur pernikahanmu dengan putri keluarga Wiratama minggu depan."

Hening. Detak jantung Helena terasa seperti genderang perang di telinganya. Ia menunggu Marco bicara, menunggu pria itu membentak ibunya dan menariknya pergi dari tempat terkutuk ini. Namun, Marco justru terdiam cukup lama.

Tiba-tiba, Marco berdiri. Ia berjalan memutar meja menuju ke arah Helena. Ia mengulurkan tangannya, dan untuk sesaat, Helena berpikir Marco akan membawanya keluar. Namun, tangan Marco justru mencengkeram dagu Helena dengan kuat, memaksanya menatap pria itu.

"Kau dengar itu, Helena? Kau adalah skandal," bisik Marco. Suaranya tidak lagi dingin, tapi terdengar penuh kegilaan yang gelap. "Dan kau tahu apa yang aku lakukan pada sesuatu yang berbahaya?"

Helena menggeleng lemah, air mata mulai menetes.

Marco merunduk, berbisik di telinga Helena namun cukup keras untuk didengar oleh ibunya. "Aku tidak akan membuangnya, Ibu. Aku akan menghancurkannya sendiri sampai tidak ada orang lain yang bisa mengenalinya. Dia tidak akan meninggalkan tempat ini, tapi dia juga tidak akan pernah melihat dunia luar lagi. Jika dia adalah skandal, maka aku akan menguburnya di dalam penthouse-ku selamanya."

Sofia tampak terkejut dengan jawaban putranya yang melenceng dari dugaannya. Marco tidak melepaskan, tapi justru ingin mengurung Helena lebih dalam.

Marco beralih menatap ibunya dengan tatapan iblis. "Kirimkan foto itu ke pers jika Ibu mau. Tapi sebelum foto itu terbit, aku pastikan semua aset Ibu di luar negeri akan lenyap dalam semalam. Jangan pernah mencoba bermain catur denganku, Ibu. Aku yang memiliki papan permainannya sekarang."

Tanpa menunggu balasan, Marco menyambar lengan Helena dengan kasar, memaksanya berdiri hingga gadis itu meringis kesakitan.

"Kita pulang," geram Marco.

Sepanjang perjalanan pulang, Marco tidak melepaskan cengkeramannya di pergelangan tangan Helena. Sesampainya di penthouse, Marco menyeret Helena masuk ke dalam kamar dan membanting pintu dengan keras.

"Tuan, sakit..." rintih Helena sambil memegang tangannya yang memerah.

Marco tidak peduli. Ia melepaskan jasnya dan melemparkannya ke sembarang arah. Matanya menyala dengan emosi yang meledak-ledak—antara amarah pada ibunya dan obsesi yang semakin liar pada Helena.

"Kau dengar apa yang kukatakan tadi?" tanya Marco sambil mendekati Helena yang terpojok di sudut tempat tidur. "Mulai besok, tidak ada lagi balkon. Tidak ada lagi jalan-jalan di taman bawah. Kau akan berada di sini, di bawah pengawasanku dua puluh empat jam sehari."

"Anda tidak bisa melakukan itu! Saya bukan tawanan!" teriak Helena frustrasi.

Marco tertawa, suara tawa yang menyeramkan. Ia menerjang Helena, menjatuhkannya ke kasur dan mengunci kedua tangan gadis itu di atas kepala—persis seperti yang ia lakukan di Bab 1, namun kali ini dengan intensitas yang jauh lebih berbahaya.

"Kau adalah tawananku sejak saat aku membelimu dari kehidupan lamamu yang menyedihkan itu, Helena," bisik Marco sambil menekan tubuhnya ke tubuh Helena. "Ibu benar, kau adalah kelemahanku. Dan cara terbaik untuk melindungi kelemahan adalah dengan menyembunyikannya dari dunia."

Marco mulai menciumi leher Helena dengan kasar, seolah ingin menghapus tatapan merendahkan ibunya tadi dari ingatan Helena. Tangan pria itu mulai merobek gaun biru yang tadi ia banggakan, tidak lagi peduli pada kemewahan kain tersebut.

"Jangan, Marco... kumohon, tidak seperti ini..." Helena terisak.

"Diam!" bentak Marco. "Tatap aku! Katakan bahwa kau milikku! Katakan bahwa kau tidak butuh dunia luar selama kau memilikiku!"

Di tengah isak tangisnya, Helena menyadari bahwa malam ini, pintu kebebasannya telah tertutup rapat. Marco bukan lagi pelindungnya; pria itu telah menjelma menjadi sipir penjara yang paling kejam. Namun, di tengah ketakutan yang luar biasa itu, ada sensasi aneh yang menjalar di tubuh Helena—sebuah kepasrahan yang gelap yang membuatnya merasa bahwa mungkin, memang di sinilah tempatnya. Menjadi milik sang tiran sepenuhnya.

Marco menghentikan ciumannya sejenak, menatap mata Helena yang basah. "Katakan, Helena. Katakan!"

"Saya... saya milikmu, Marco," bisik Helena akhirnya, menyerah pada takdirnya yang kelam.

Marco menyeringai puas. "Anak pintar."

Pria itu kemudian kembali menyerang bibir Helena, memulai sebuah malam yang jauh lebih panjang dan lebih menyiksa daripada sebelumnya, sebuah malam yang menandai dimulainya masa pengasingan Helena di bawah kuasa sang tiran yang kini telah benar-benar kehilangan akal sehatnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel