Sangkar Beludru dan Rahasia yang Berbisik
Keesokkan nya, saat fajar belum benar-benar menyingsing, namun cahaya abu-abu yang dingin mulai merayap masuk melalui celah gorden sutra yang sengaja disisakan sedikit terbuka. Di dalam kamar utama yang luas itu, udara terasa mati. Keheningan pasca-badai semalam terasa lebih menyesakkan daripada teriakan apa pun.
Helena terbangun dengan perasaan seolah tubuhnya baru saja dihantam oleh kereta api. Setiap persendiannya terasa kaku, dan kulitnya terasa perih akibat gesekan seprai dan kasar-lembutnya sentuhan Marco semalam. Ia mencoba menggerakkan lengannya, namun beban berat yang melingkar di pinggangnya membuatnya tetap terpaku.
Marco masih tertidur di sampingnya. Dalam tidurnya, pria itu tidak tampak seperti monster yang mengancam ibunya atau tiran yang mengurung Helena. Garis wajahnya yang biasanya keras kini sedikit melunak, meski alisnya tetap bertaut seolah dalam mimpinya pun ia sedang menyusun rencana dominasi. Tangan besarnya masih mencengkeram pinggang Helena dengan posesif, seolah-olah jika ia melonggarkan pegangannya sedetik saja, Helena akan menguap menjadi udara.
Helena menatap langit-langit, air matanya yang kering meninggalkan jejak lengket di pipi. Ia merasakan konflik batin yang luar biasa. Logikanya berteriak bahwa ia harus lari, bahwa ia harus membenci pria ini dengan setiap sel di tubuhnya. Namun, saat ia merasakan napas hangat Marco yang teratur di tengkuknya, ada getaran lain yang muncul—getaran yang membuatnya merasa aman sekaligus hancur. Ini adalah jenis cinta yang sakit, sebuah romansa gelap yang tumbuh di tanah yang beracun.
“Kau milikku, Helena. Dan cara terbaik untuk melindungi kelemahan adalah dengan menyembunyikannya dari dunia.”
Kata-kata Marco semalam terus terngiang, menjadi mantra yang mengunci pintu kebebasannya.
Sentuhan yang Menyesatkan
Perlahan, Marco mulai terjaga. Helena bisa merasakan perubahan ritme napas pria itu. Bukannya melepaskan pelukannya, Marco justru semakin merapatkan tubuh mereka. Jari-jarinya yang panjang mulai menelusuri garis tulang rusuk Helena, naik perlahan menuju dadanya yang berdetak kencang.
"Kau sudah bangun," bisik Marco, suaranya serak khas orang bangun tidur, namun mengandung otoritas yang tak tergoyahkan.
Helena tidak menjawab. Ia tetap mematung, membiarkan jemari Marco melakukan eksplorasi pagi yang malas namun menuntut. Pria itu memutar tubuh Helena agar menghadapnya. Saat mata mereka bertemu, Helena merasakan jiwanya kembali tersedot ke dalam pusaran kegelapan yang sama.
"Kau memikirkan apa?" tanya Marco, tangannya kini beralih memainkan helai rambut Helena yang berantakan.
"Memikirkan apakah matahari masih terbit di luar sana," jawab Helena lirih, suaranya parau karena terlalu banyak menangis semalam. "Atau apakah dunia luar sudah menganggapku mati."
Marco menyunggingkan senyum tipis, jenis senyum yang membuat Helena merinding karena keindahannya yang mematikan. "Bagimu, dunia luar sudah tidak ada, Helena. Duniamu adalah aku. Kamar ini, lorong-lorong penthouse ini, dan semua yang aku berikan padamu adalah satu-satunya realita yang perlu kau tahu."
Marco merunduk, memberikan kecupan lembut di dahi Helena, lalu turun ke kelopak matanya, seolah ingin menghapus sisa-sisa kesedihan di sana. Cumbuan ini berbeda dengan kegilaan semalam; ini lebih lambat, lebih intim, dan justru karena itu, terasa lebih berbahaya. Kelembutan Marco adalah candu yang paling mematikan bagi Helena.
"Aku membencimu, Tuan Marco," bisik Helena, meski tangannya tanpa sadar merambat naik ke leher Marco, menarik pria itu lebih dekat.
"Bagus," sahut Marco sambil membenamkan wajahnya di antara leher dan bahu Helena, menghirup aroma tubuh gadis itu yang selalu membuatnya lapar. "Benci aku sesukamu, selama kau tetap berada di bawahku. Kebencianmu adalah api yang menghangatkan ranjang ini."
Marco mulai menciumi bahu Helena, jemarinya bergerak dengan presisi yang membuat Helena mendesah pendek. Di dalam kamar yang terisolasi ini, setiap sentuhan terasa ribuan kali lebih intens. Helena merasa seolah saraf-saraf tubuhnya telah diprogram ulang hanya untuk merespons pria ini. Ia membenci betapa tubuhnya mengkhianati harga dirinya, bagaimana rasa lapar yang sama mulai bangkit di dalam dirinya meskipun hatinya terluka.
Keintiman mereka pagi itu berlangsung dalam keheningan yang panjang, hanya diiringi suara gesekan kulit dan napas yang memburu. Marco tidak terburu-buru. Ia memperlakukan Helena seperti sebuah instrumen musik yang sangat berharga namun rapuh, memetik setiap nada gairah dengan sabar hingga Helena melupakan dunianya yang hancur.
Rahasia di Balik Ruang Terkunci
Setelah beberapa saat, Marco bangkit untuk mandi, meninggalkan Helena yang masih terbaring lemas di atas ranjang yang kini berantakan dengan noda-noda gairah mereka. Kali ini, Marco tidak mengajaknya mandi bersama. Pria itu tampak sibuk dengan pikirannya sendiri, mungkin memikirkan ancaman ibunya atau langkah bisnis selanjutnya.
Begitu mendengar suara air mengalir di kamar mandi, Helena bangkit dengan susah payah. Ia mengenakan jubah mandi sutranya dan melangkah keluar kamar. Ia tahu ada penjaga di depan pintu utama, namun rasa penasaran dan keputusasaan menuntun langkahnya menuju bagian penthouse yang jarang ia kunjungi—sebuah koridor panjang yang menuju ke arah sayap timur gedung.
Di ujung koridor itu, ada sebuah pintu kayu jati yang kokoh tanpa pegangan pintu biasa, hanya ada panel sensor sidik jari. Helena pernah melihat Marco masuk ke sana beberapa kali dengan wajah yang sangat gelap.
Saat ia mendekati pintu itu, ia melihat sebuah berkas tertinggal di atas meja konsol kecil di samping pintu. Mungkin Marco terburu-buru semalam hingga menjatuhkannya. Dengan tangan gemetar, Helena membuka map tersebut.
Matanya terbelalak saat membaca dokumen di dalamnya. Itu bukan dokumen bisnis. Itu adalah laporan investigasi pribadi mengenai kematian orang tua Helena sepuluh tahun yang lalu—sebuah kecelakaan yang selama ini ia yakini sebagai murni nasib buruk.
Di lembar kedua, terdapat sebuah foto lama. Foto ayahnya sedang bersalaman dengan seorang pria muda yang wajahnya sangat familiar. Marco. Tapi Marco yang jauh lebih muda, mungkin baru berusia awal dua puluhan. Di bawah foto itu tertulis catatan kaki: "Kesepakatan Likuidasi Aset. Subjek gagal bayar."
Jantung Helena terasa berhenti berdetak. Selama ini ia mengira pertemuannya dengan Marco adalah sebuah kebetulan di kelab malam saat ia sedang terdesak ekonomi. Ia mengira Marco adalah "penyelamat" yang membelinya dari kemiskinan. Namun, dokumen ini menunjukkan sesuatu yang jauh lebih gelap.
Marco tidak menemukannya. Marco mengejarnya. Marco adalah bagian dari alasan mengapa keluarganya hancur.
"Apa yang kau lakukan di sini, Helena?"
Suara itu datang dari belakang, sedingin es dan setajam pisau. Helena tersentak hingga dokumen di tangannya berhamburan ke lantai. Marco berdiri di sana, hanya mengenakan celana kain hitam tanpa atasan, rambutnya masih basah, dan matanya memancarkan amarah yang bisa membakar seluruh gedung ini.
Helena berbalik dengan wajah pucat pasi. "Kau... kau mengenal ayahku?"
Marco menatap dokumen yang berserakan di lantai, lalu kembali menatap Helena. Tidak ada rasa bersalah di matanya. Yang ada hanyalah kegelapan yang semakin pekat.
"Aku sudah memperingatkanmu, Helena," kata Marco sambil berjalan mendekat, langkahnya pelan dan mengintimidasi. "Beberapa pintu memang sebaiknya tetap terkunci. Beberapa rahasia terlalu berat untuk kau tanggung."
Helena mundur hingga punggungnya menempel pada pintu jati yang dingin itu. "Jadi ini alasanmu mengurungku? Bukan karena ibumu, tapi karena kau takut aku tahu bahwa kau adalah orang yang menghancurkan keluargaku?"
Marco berhenti tepat di depan Helena, mengunci gadis itu dengan kedua tangannya yang menumpu di pintu. Ia merunduk, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Helena.
"Aku tidak menghancurkan mereka, Helena. Ayahmu berjudi dengan orang yang salah, dan aku hanyalah orang yang datang untuk menagih taruhannya," bisik Marco, suaranya sangat rendah hingga terasa seperti getaran di tulang Helena. "Dan sekarang, kau adalah cicilan terakhir yang harus kubayar. Kau pikir kenapa aku memberimu segalanya? Kenapa aku begitu terobsesi padamu?"
Marco meraih dagu Helena, memaksa gadis itu menatapnya. "Karena kau adalah piala dari kemenangan terbesarku. Kau adalah bukti bahwa aku bisa memiliki apa pun yang pernah dimiliki oleh orang-orang yang meremehkanku."
Air mata Helena mengalir deras. Rasa sakit akibat pengkhianatan ini jauh lebih hebat daripada rasa sakit fisik mana pun. Ia merasa telah jatuh cinta pada iblis yang mengenakan setelan jas mewah.
"Lepaskan aku... kumohon, lepaskan aku," rintih Helena.
Marco menyeringai, sebuah seringai yang penuh dengan rasa kepemilikan yang sakit. "Lepaskan? Setelah aku menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membawamu ke sini? Tidak akan pernah, Helena."
Marco tiba-tiba mengangkat tubuh Helena ke bahunya. Gadis itu memukul-mukul punggung Marco, berteriak, dan meronta, namun pria itu tidak bergeming. Ia membawa Helena kembali ke kamar utama, lalu melemparkannya ke atas ranjang.
Kali ini, Marco tidak menggunakan kelembutan. Ia mengambil syal sutra dari laci nakas dan dengan cepat mengikat salah satu tangan Helena ke tiang tempat tidur.
"Kau ingin tahu apa yang ada di balik pintu itu?" tanya Marco sambil menatap Helena yang menangis histeris. "Di balik pintu itu adalah bukti bahwa kau tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini kecuali aku. Tidak ada masa lalu, tidak ada keluarga, tidak ada pelarian."
Marco merangkak naik ke atas tempat tidur, menghimpit Helena yang kini benar-benar tak berdaya. Ia mencium paksa bibir Helena, sebuah ciuman yang terasa pahit karena air mata dan kebencian.
"Sekarang, kau akan belajar bagaimana caranya mencintai monster yang menciptakan duniamu," bisik Marco di tengah ciumannya.
Helena memejamkan mata, merasakan kegelapan yang sempurna menelannya. Di dalam sangkar beludru ini, ia menyadari sebuah kebenaran yang mengerikan: ia membenci Marco dengan seluruh jiwanya, namun ia juga tidak bisa membayangkan hidup tanpa siksaan yang pria itu berikan. Ia terjebak dalam siklus ketergantungan yang tidak masuk akal—sebuah romansa gelap yang telah mencapai titik tidak bisa kembali, penthouse Marco kembali menjadi saksi bisu, di mana cinta dan penghancuran menjadi dua sisi dari koin yang sama.
