Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Basah dalam Kuasa

Uap hangat memenuhi ruangan kamar mandi yang luasnya hampir menyamai kamar tidur utama itu. Dinding marmer Carrara yang putih bersih kini tampak buram oleh embun, menciptakan suasana yang tertutup dan terisolasi dari dunia luar. Helena melangkah gontai menuju bathtub berbentuk oval yang sudah terisi air hangat dengan taburan kelopak bunga mawar dan aroma essential oil yang menenangkan.

Ia melepaskan selimut yang melilit tubuhnya, membiarkan kain itu jatuh ke lantai marmer yang dingin. Saat ia melihat pantulan dirinya di cermin besar yang beruap, Helena menyentuh lehernya. Jejak kemerahan itu kontras dengan kulit putihnya—tanda kepemilikan Marco yang tak terhapuskan.

"Seharusnya aku membencinya," bisik Helena pada sunyi. Namun, setiap kali Marco menyentuhnya, kebencian itu seolah menguap, digantikan oleh ketergantungan yang mengerikan.

Baru saja Helena hendak melangkah masuk ke dalam air, pintu geser kamar mandi terbuka dengan suara desisan halus. Helena tersentak, refleks menyilangkan tangan di dada. Di ambang pintu, Marco berdiri. Jubah sutranya sudah dilepas, menyisakan tubuh atletis tanpa sehelai benang pun yang terpapar uap panas.

"Tuan... saya pikir Anda sudah di bawah," suara Helena bergetar.

Marco tidak menjawab. Ia berjalan mendekat dengan langkah pelan dan penuh perhitungan, seperti predator yang memojokkan mangsanya di ruang sempit. Matanya yang gelap menelusuri lekuk tubuh Helena yang gemetar, seolah sedang menilai sebuah karya seni yang sangat berharga.

"Aku berubah pikiran," gumam Marco. Suaranya terdengar lebih berat di dalam ruangan yang bergema itu. "Makan malam bisa menunggu. Tapi melihatmu mandi sendirian... itu pemborosan pemandangan."

Marco berhenti tepat di depan Helena. Jarak mereka begitu dekat hingga Helena bisa merasakan hawa panas yang memancar dari tubuh pria itu. Marco mengulurkan tangan, jemarinya yang panjang merayap di bahu Helena, menekan pelan hingga gadis itu dipaksa untuk melepaskan pelukan tangannya sendiri.

"Jangan bersembunyi dariku, Helena. Tidak ada satu inci pun dari tubuhmu yang belum kukenal," bisik Marco tepat di depan bibirnya.

Pria itu kemudian membimbing Helena masuk ke dalam bathtub. Air hangat yang meluap membasahi lantai, namun tak ada yang peduli. Marco ikut masuk ke belakang Helena, membiarkan gadis itu bersandar di dada bidangnya yang basah. Tangan Marco mulai bekerja, mengambil spons lembut dan menyabuni pundak Helena dengan gerakan yang sangat lambat, namun penuh tekanan yang membuat bulu kuduk Helena meremang.

Sentuhan itu perlahan berubah dari sekadar memandikan menjadi sesuatu yang jauh lebih intens. Tangan Marco yang berbusa merambat turun, melewati dada Helena, lalu berhenti di perutnya. Helena mendongakkan kepala, bersandar pada bahu Marco, matanya terpejam saat ia merasakan napas hangat pria itu di lehernya.

"Tuan, kumohon... bukankah Anda bilang kita harus makan malam?" desah Helena, meskipun tangannya justru mencengkeram lengan Marco yang melingkar di perutnya.

"Aku sedang makan malam, Helena," bisik Marco serak, lalu ia mulai menciumi bahu basah gadis itu. "Dan kau adalah hidangan utamanya."

Marco memutar tubuh Helena di dalam air hingga kini mereka berhadapan. Di bawah permukaan air yang bertabur kelopak mawar, tangan Marco kembali menjelajah tanpa ampun. Setiap sentuhannya terasa ribuan kali lebih sensitif karena pertemuan antara kulit yang basah dan licin. Helena merasa otaknya seolah mencair. Ia mencoba untuk tetap sadar, namun dominasi Marco di tempat sempit ini terasa begitu absolut.

Bibir mereka bertemu lagi, kali ini dengan rasa yang berbeda—campuran antara uap panas, aroma mawar, dan gairah yang kembali tersulut. Marco mengangkat tubuh Helena, memposisikan gadis itu di atas pangkuannya. Air yang tumpah ke lantai menciptakan suara gemericik yang ritmis, mengiringi suara napas mereka yang kian memburu.

"Katakan namaku," perintah Marco di sela-sela ciumannya. Ia tidak ingin dipanggil 'Tuan' saat mereka seintim ini. Ia ingin Helena mengakui kehadirannya sebagai pria, bukan sekadar majikan.

"Mar... Marco..." rintih Helena, suaranya nyaris hilang.

Nama itu terdengar seperti musik di telinga Marco. Ia semakin memperdalam cumbuan itu, tangannya mengunci pinggang Helena dengan erat seolah takut gadis itu akan lari—padahal tak ada tempat untuk lari di dalam kuasa Marco. Keintiman di dalam bathroom ini terasa lebih menyesakkan daripada di tempat tidur tadi. Ruangan yang terbatas, uap yang menghalangi pandangan, dan air yang menyatukan mereka membuat segalanya terasa jauh lebih primitif.

Helena merasa dunianya hanya berputar pada sosok pria di hadapannya. Ia membenci betapa mudahnya Marco membangkitkan gairahnya kembali setelah ia merasa hampir mati kelelahan. Pria ini tahu tombol mana yang harus ditekan, tahu kapan harus kasar dan kapan harus memberikan kelembutan yang mematikan.

Setelah waktu yang seolah tak terhitung, Marco akhirnya menyandarkan dahinya ke dahi Helena. Keduanya terengah-engah, tubuh mereka masih terendam di air yang kini mulai mendingin. Marco menatap mata Helena yang sayu dengan tatapan posesif yang begitu kuat.

"Kau milikku, Helena. Jangan pernah lupakan itu, bahkan saat kau sedang bernapas sekalipun," ucapnya pelan namun penuh penekanan.

Marco bangkit lebih dulu, keluar dari bathtub dengan keanggunan yang tetap terjaga meski dalam keadaan basah kuyup. Ia mengambil handuk besar, melilitkannya di pinggang, lalu mengambil handuk lain untuk membungkus tubuh Helena dan menggendongnya keluar dari kamar mandi seolah gadis itu adalah boneka porselen yang mudah pecah.

Ia mendudukkan Helena di tepi tempat tidur, lalu mulai mengeringkan rambut gadis itu dengan telaten—sebuah sisi lembut Marco yang hanya keluar di saat-saat tertentu. Namun, kelembutan itu mendadak terhenti saat ponsel Marco di atas nakas bergetar hebat.

Marco meraih ponselnya, melihat nama yang tertera di layar, dan seketika itu juga raut wajahnya berubah. Garis wajahnya kembali mengeras, dan aura dingin yang tadi sempat mencair kini membeku kembali.

Ia mematikan panggilan itu tanpa menjawab, lalu menoleh ke arah Helena dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Pakai gaunmu sekarang. Kita tidak makan malam di rumah," kata Marco dingin, suaranya berubah drastis dari beberapa menit yang lalu.

"Kita mau ke mana, Tuan?" tanya Helena bingung dengan perubahan sikapnya yang tiba-tiba.

Marco berdiri, mengenakan pakaiannya dengan terburu-buru. "Seseorang dari masa laluku baru saja mendarat di kota ini. Dan dia menuntut untuk menemuimu, Helena."

Jantung Helena mencelos. Masa lalu Marco adalah labirin gelap yang tak pernah diceritakan padanya.

"Siapa?" tanya Helena pelan.

Marco berhenti memakai jasnya, menatap Helena tajam. "Ibuku. Dan dia tidak datang untuk memberkati hubungan kita."

Helena terpaku. Ia tahu, kebahagiaan singkat di dalam kamar ini hanyalah fatamorgana sebelum badai besar menghantamnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel