Bab 5. Pertemuan Sederhana
Keesokan harinya, seperti biasa Nirmala pergi ke kantor. Sebagai sekretaris di kantor Jeff, ia yang bertanggung jawab atas berbagai jadwal tuannya itu. Akan tetapi, Jeff selalu menolak jika Nirmala memanggilnya tuan, Jeff hanya mau dipanggil nama seperti biasanya.
Nirmala nampak sibuk dengan berkas-berkas di atas meja kerjanya, sedangkan Jeff sebagai direktur utama perusahaan tersebut masih belum datang. Ia kembali melihat jadwal meeting atasannya hari ini lalu melirik jam di pergelangan tangannya.
"Jam sepuluh pagi pertemuan dengan pimpinan Perusahaan LAU. Bukankah pimpinannya selalu di luar negeri? Apa mungkin sudah kembali ke Indonesia? Ah, biarlah, lagipula ini urusan Jeff," gumamnya sambil merapikan meja kerja.
"Selamat pagi Tuan .... Selamat pagi Tuan ...." Suara para karyawan menyambut pimpinan Perusahaan EL. Siapa lagi jika bukan Jeff Elvandrew? Ceo muda, tampan dan berbakat.
"Selamat pagi, Tampan." Sapaan yang setiap hari diucapkan oleh Anah ketika melihat Jeff mendatangi kantornya.
Jeff hanya menggeleng seperti biasanya, dia tidak berani memecat Anah karena biar bagaimanapun Anah adalah karyawan yang paling setia dan juga berprestasi. Dia segera melangkah masuk ke ruangannya, nampak di sana ada Nirmala yang sedang sibuk dan tidak menyadari kehadirannya. Jeff berdeham. Barulah Nirmala sadar kalau atasannya sudah datang.
Nirmala buru-buru berdiri dan merapikan pakaian yang tidak berantakan. "Ah, Tuan Jeff sudah datang. Selamat pagi, Tuan." Nirmala setengah menundukkan badannya dan memberikan senyuman untuk Jeff.
"Sudah aku bilang, jangan terlalu formal. Apa jadwalku hari ini?" tanya Jeff kemudian menarik kursi kebanggaannya dan duduk kemudian menyalakan laptopnya.
"Hari ini ada jadwal meeting bersama pimpinan Perusahaan LAU. Langsung bertemu dengan pimpinannya," kata Nirmala.
"Menyenangkan," gumam Jeff seraya tersenyum sinis.
"Menyenangkan?" Nirmala mengernyitkan dahinya dan menatap Jeff dalam-dalam untuk memastikan ucapan yang baru saja ia dengar karena biasanya Jeff tidak sebahagia itu jika ada meeting.
"Iya, ini akan sangat menyenangkan. Pimpinan Perusahan LAU. Bukankah itu si buaya darat? Laki-laki yang selalu kamu banggakan, tetapi meninggalkanmu di saat kamu terpuruk. Apa kamu lupa?" tanya Jeff menjabarkan panjang lebar.
"Laki-laki yang aku banggakan?" gumam Nirmala lirih mengulangi pertanyaan Jeff.
"Astaga, Mala. Secepat itu kamu melupakannya? Seminggu yang lalu dia pulang ke Indonesia dan kemarin dia menikah. Apa kau sudah ingat? Biar aku perjelas. Pimpinan Perusahaan LAU tidak lain dan tidak bukan adalah Kevin Lau."
Nirmala terperanjat kaget mendengar ucapan Jeff. Setahu Nirmala, perusahaan Kevin dulu bukan bernama LAU. "Sejak kapan perusahaan itu berganti nama?" batinnya.
"Oh ya, kemarin kamu hadir di pestanya. Iya, 'kan? Bagaimana? Apa dia terlihat bahagia?" tanya Jeff menginterogasi Nirmala yang sedang sibuk menyiapkan berkas meeting.
"Dia terlihat sangat bahagia," jawab Nirmala datar.
"Oh, bagus. Dia memang buaya, dia sudah mempermainkan perasaanmu lalu pergi begitu saja dan kembali untuk menikah dengan wanita lain. Apa dia melihatmu datang?" tanya Jeff lagi.
Nirmala mengangguk pelan. "Iya, dia melihatku."
"Ah, Jeff, jadwal meeting-nya sebentar lagi. Apa tidak sebaiknya kita bersiap-siap dan menuju ke sana?" Nirmala mengalihkan pembicaraan.
"Jangan bilang kalau kau ingin segera bertemu dengan buaya itu," timpal Jeff menyeledik. "Ingat, dia sudah menikah," bisik Jeff di telinga Nirmala lalu marapikan dasinya yang tidak berantakan.
Nirmala terdiam sambil berpikir. Apa Jeff benar-benar tidak tahu kalau yang dinikahi oleh Kevin adalah dirinya? Apakah tidak ada seorang pun yang memberitahu Jeff kalau yang menjadi istri Kevin adalah Nirmala?
Nirmala pun enggan membahas soal itu, dia juga masih merasa pernikahan yang terjadi kemarin bukanlah sebuah pernikahan. Hanya kecelakaan atau mungkin suatu kebetulan saja.
Jeff melenggang keluar dari ruangannya diikuti oleh Nirmala dan asisten pribadinya, Dicko.
Saat melewati meja Anah, Nirmala berhenti sejenak. "Anah, apa Jeff tidak tahu perihal kemarin? Kemarin ... pernikahan aku dan Kevin." bisik Nirmala.
Jeff yang melihatnya berhenti di meja kerja Anah kemudian berdeham. "Nona Mala, bisa kita bekerja secara profesional? Ngobrolnya lain kali saja bila sudah jam istirahat. Oke?" ucapan Jeff dengan tatapan meledek seketika membuat Nirmala berlari kecil menghampirinya dan meninggalkan Anah sebelum mendapat jawaban.
Dicko menyalakan mobil, dia duduk di kursi depan seperti biasa menyetir mobil Jeff. Sedangkan Nirmala dan Jeff duduk di belakangnya.
Jeff selalu ingin dekat dengan Nirmala dan ia senang sekali berlama-lama memandangi wajah gadis yang berada di sampingnya itu. "Aku akan memberi kejutan untuk Kevin," ujar Jeff memulai percakapannya.
"Kejutan? Maksudnya? Apa kamu akan menolak kerjasamanya?" tanya Nirmala ingin tahu.
"Justru aku akan menerimanya, aku akan memberi kejutan karena kamu adalah sekretaris pribadiku. Aku yakin walaupun dia sudah menikah dengan Salsa, dia masih menyimpan rasa untukmu. Dan aku akan membuatnya terbakar hari ini." Jeff menyeringai senyuman.
"Astaga Jeff, apa kamu benar-benar tidak mengetahuinya? Jika kamu tahu kenyataannya aku adalah istrinya, kamu pasti akan menjadi abu. Ya ampun, aku terlalu percaya diri," batin Nirmala.
Tidak lama mobil yang mereka tumpangi itu berhenti di sebuah bangunan mewah dengan tanaman-tanaman bunga di sisi kanan dan kiri sebuah parkiran. Mereka akan mengadakan rapat di gedung ini, gedung restoran berbintang.
Dicko keluar dari mobil dan membuka pintu di bagian tuannya. "Mari, Tuan." Setengah membungkuk saat dia menyambut Jeff keluar dari mobil.
Nirmala membuka pintunya sendiri lalu berjalan di sisi kiri Jeff, sementara Dicko di sisi kanan. Mereka mencari tempat duduk sesuai yang sudah dipesan oleh Kevin.
"Selamat pagi, Tuan Kevin." Jeff mulai menyapa saat sudah berada tepat di samping Kevin.
Kevin menoleh kemudian ia berdiri bangkit dari tempat duduknya, tidak percaya ia juga bisa bertemu dengan istrinya. Membuatnya melupakan rapat dan justru fokus menatap wajah cantik wanita yang terlihat menunduk. Ia mengulurkan tangannya menyambut kedatangan Jeff. Saat ia mengulurkan tangan kepada Nirmala, Jeff menyambutnya untuk kedua kali.
"Tidak perlu bersalaman dengannya, kita mulai saja rapat sederhana ini," ketus Jeff kemudian menarik kursinya.
Kevin kemudian mempersilakan mereka untuk duduk.
Nirmala mulai membuka laptopnya.
Kevin masih terus menatap istrinya tanpa berkedip.
"Tuan Kevin." Jeff memetik jarinya di depan kedua bola mata Kevin.
"Ah, iya. Kita bisa mulai sekarang," ujar Kevin.
Mereka kemudian membicarakan proyek kerjasamanya dan deal. Kerjasama disepakati.
"Tuan Kevin, bukankah anda sudah menikah? Tidak baik seorang suami memandangi wanita lain, apalagi Anda adalah seorang pimpinan perusahaan. Itu bisa merusak nama baik Anda," cerca Jeff setelah rapat selesai.
Kevin merasa kebingungan dan sedikit aneh. Apakah Jeff tidak tahu bahwa wanita yang bersamanya itu adalah istrinya?
Nirmala masih menunduk. Sikapnya semakin membuat Kevin tidak tahan untuk memeluknya, tetapi dia tidak bisa melakukan itu.
"Oh ya, pertama-tama saya ingin mengucapkan selamat atas pernikahan Anda. Mohon maaf kemarin tidak bisa hadir karena ada sesuatu hal yang lebih penting," kata Jeff membuat Kevin mengerti mengapa Jeff tidak tahu kalau Nirmala adalah istrinya.
"Oh, jadi begitu. Ternyata dia tidak hadir, tetapi kenapa Nirmala hanya diam? Apa dia masih belum bisa menerimaku sebagai suaminya? Apa dia meragukan cintaku?" batin Kevin bergejolak.
"Terimakasih, saya mengerti kalau Tuan Jeff pasti sangat sibuk dan punya banyak urusan yang sangat penting," tukas Kevin dengan masih menatap Nirmala.
"Sebaiknya berhenti menatap sekretarisku seperti itu. Ya, kemarin adalah hal yang sangat penting menyambut kelahiran keponakanku, aku sekarang sudah menjadi paman dan keponakanku cantik sekali, seperti Nirmala." Jeff tiba-tiba menatap Nirmala.
Dua pria yang menatapnya membuat Nirmala semakin menunduk. "Dia cantik seperti ibunya, Tuan Jeff," sela Nirmala sambil membereskan berkas dan menutup laptopnya.
"Nirmala benar. Seorang bayi yang lahir tidak mungkin mirip orang lain, dia pasti seperti ibunya atau ayahnya. Kalau begitu sampaikan salamku untuk Chika," pinta Kevin seraya meminum kopi yang dipesannya.
"Tidak akan aku sampaikan," ketus Jeff.
"Kau masih dendam padaku?" tanya Kevin merasa penasaran.
"Jika aku dendam, untuk apa aku setuju dengan proyekmu?" Pembelaan Jeff cukup masuk akal.
"Sebentar lagi Anda juga akan punya bayi. Iya 'kan, Tuan Kevin? Anda pasti sudah membuatnya, aku benarkan?" Pertanyaan Jeff mendadak membuat jantung Nirmala berdetak sangat kencang. Mana mungkin Kevin sudah membuatnya, sedangkan ia sendiri belum pernah tidur dengan istrinya.
"Belum, aku belum pernah membuatnya," ucap Kevin kembali memandangi Nirmala.
Nirmala merasa pembicaraan mereka sudah tidak ada hubungannya dengan bisnis sehingga dia mencari cara agar bisa segera mengakhiri rapat hari ini. "Maaf, Tuan Jeff. Jika rapatnya sudah selesai, sebaiknya kita segera kembali karena masih ada pekerjaan lain yang menunggu," ujar Nirmala berharap Jeff mengakhiri pertemuannya dengan Kevin.
Jeff kemudian setuju dengan kata-kata Nirmala dan mereka pun menyudahi rapatnya. Ia dan Dicko berjalan lebih dulu, Nirmala menyusul di belakang mereka. Saat itulah Kevin dengan sengaja memegang tangan istrinya, hanya sentuhan selama beberapa detik. Nirmala sama sekali tidak menoleh ataupun membalas sentuhannya.
