Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4. Pergi ke Rumah Sakit

"Apa yang terjadi? Kenapa aku merasa tubuhku sangat ringan?"

"Kevin?" Nirmala kaget berada di gendongan Kevin. Kevin tersenyum manis kepadanya.

"Kevin! Turunkan aku!"

Nirmala berteriak, ia memberontak agar Kevin segera melepaskannya.

Tiba-tiba handphone-nya berdering dan membuatnya terbangun. "Huft, aku memimpikannya lagi." Dia mengangkat telepon itu dengan setengah sadar.

"Hallo ...," sapa Nirmala. Suaranya terdengar tidak begitu jelas.

"Hallo Tante Mala yang cantik ...." Suara Jeff dibuat-buat layaknya anak kecil.

"Jeff, kau memanggilku, Tante?" tukas Nirmala merasa tidak terima dengan panggilan barunya. Menurutnya itu terdengar sangat tua.

"Bukan aku yang memanggilmu tante, tetapi Aurora," jawab Jeff Elvandrew sembari melirik bayi mungil di dekapan Chika.

"Aurora?" Nirmala mengernyitkan dahinya, mengangkat kedua alisnya dan berpikir keras.

Jeff kemudian menjelaskan bahwa ia sekarang sudah menjadi seorang paman. Kakak perempuan satu-satunya sudah melahirkan bayi yang sangat cantik. "Kak Chika sudah melahirkan, Mala. Bayinya perempuan, dia cantik seperti kamu," puji Jeff.

"Jeff ...!" Terdengar teriakan dari Chika yang membuat Nirmala seketika menjauhkan handphone itu dari telinganya.

"Iya ... Iya ... mirip ibunya," sergah Jeff menoleh ke arah kakaknya.

Nirmala tertawa pelan mendengar percakapan adik dan kakak dari handphone yang ia tempelkan pada telinganya.

"Wah ... selamat ya, Om Jeff. Sekarang sudah menjadi paman. Tolong sampaikan kepada kak Chika, selamat sudah menjadi ibu. Semoga Aurora menjadi anak yang sholehah." Nirmala menitipkan pesan sekaligus mendoakan keponakan Jeff.

"Amin. Terima kasih Tante Mala. Oh ya, bagaimana acara pernikahan Kevin? Kamu hadir tidak?" Pertanyaan Jeff seketika membuat jantung Nirmala berpacu sangat cepat. Dia bahkan sempat mengalami musim gugur dadakan.

Nirmala masih merasa pernikahannya itu bukanlah kenyataan.

"Hallo Mala, apa kau masih ada di sana?" panggil Jeff karena Nirmala tidak menjawab pertanyaannya.

"Mala ...."

"Hallo, Mala."

"Ah, iya. Maaf Jeff." Nirmala merapikan rambutnya ke belakang telinga.

'Apakah Jeff benar-benar tidak tahu tentang pernikahan yang baru saja terjadi? Apa tidak ada seorang pun yang memberitahunya? Aku harus jawab apa?' batin Nirmala.

"Kau itu kenapa? Tadi hadir tidak?" tanya Jeff mengulangi pertanyaannya.

"Ah, i--iya Jeff. Aku tadi hadir di sana," jawab Nirmala sedikit gugup.

"Lalu bagaimana perasaanmu? Apa kamu bisa mengendalikan diri?" tanya Jeff lagi.

"I--iya, tentu saja aku bisa mengendalikan diri dengan baik. Iya, hehehe ...." Nirmala menjawab sambil nyengir.

Jeff menghela napas pendek. "Syukurlah."

"Maaf ya, aku tidak bisa menemanimu tadi. Apa kau melihat raut wajah Kevin? Apa dia nampak bahagia dengan pernikahannya? Apa dia melihatmu di sana?" Jeff menanyakan berbagai pertanyaan yang semakin membuat Nirmala gugup.

'Apa Jeff benar-benar tidak tahu?' batin Nirmala lagi.

"Ah, iya. Kevin nampak sangat bahagia dan dia juga melihatku di sana. Iya ... kami sempat bertemu," balas Nirmala penuh kecemasan.

"Syukurlah," kata Jeff lagi. "Mala, apa kamu bisa datang ke sini? Melihat Aurora."

"Iya, aku pasti datang. Aku akan datang bersama dengan Anah."

"Astaga, sekali-kali datanglah tanpa Anah," mohon Jeff.

"Tidak bisa, Jeff. Anah adalah sahabatku, ke mana pun aku pergi, aku selalu bersamanya. Kau dan Anah adalah sahabat terbaikku. Aku menyayangi kalian," aku Nirmala tanpa merasa canggung.

Jeff menghela napas pasrah. "Iya, baiklah. Aku tunggu sekarang," ucap Jeff mengakhiri panggilannya.

Setelah menutup panggilan dari Jeff, Nirmala segera mencari nama kontak Anah di gawainya. Tersambung, terdengar nada dering dari ponsel Anah.

"Hallo, Mala." Anah sedang berada di salon, dia baru saja melakukan perawatan wajah, rambut, badan dan juga kuku.

Sementara Nirmala, dia bahkan baru bangun dari tidurnya dengan wajah yang masih polos dan rambut yang sedikit berantakan, tetapi justru menambah kecantikan alaminya.

"Anah, selamat ya, Anah," ucap Nirmala tiba-tiba membuat Anah tidak bisa mencerna maksud ucapannya itu.

"Selamat?" Anah masih belum mengerti.

"Iya, selamat, selamat Tante Anah. Tante Anah ...." Nirmala membuat Anah semakin bingung.

"Mala, bicara yang jelas. Aku tidak mengerti," tukas Anah sembari memberikan kartu kredit kepada kasir di salon.

"Jeff ... Anah, Jeff sekarang sudah menjadi paman. Itu artinya kamu akan dipanggil tante. Tante Anah," jelas Nirmala penuh kegirangan.

"Aaa ...! Benarkah?" Anah berteriak lebih girang lagi membuat Nirmala menjauhkan handphone-nya dari telinga dan membuat seisi salon mengarahkan pandangan ke arahnya. Ia kemudian bergegas ke rumah Nirmala menaiki taksi.

Nirmala bersiap-siap menunggu kehadiran Anah untuk selanjutnya berangkat bersama-sama ke rumah sakit.

Anah sudah sampai di depan rumah mungil Nirmala. Dia meminta supir taksi untuk menunggunya. "Tenang saja, aku akan membayar lebih," tegas Anah kepada supir.

Tok .... Tok .... Tok ....

Anah mengetuk pintu rumah Nirmala.

Dari dalam Nirmala sudah tahu kalau itu Anah. "Masuk, Anah! Pintunya tidak dikunci!" Nirmala berteriak sambil berdiri di depan cermin seraya menyisir rambutnya.

Setelah siap, mereka segera berangkat.

Sebelum ke rumah sakit, Anah dan Nirmala mampir ke baby shop untuk mencari kado yang bagus sebagai hadiah bayi yang baru lahir.

"Mala, kau sudah menemukan kadonya?" tanya Anah.

"Iya, sudah Anah," jawab Nirmala.

Mereka kemudian ke kasir untuk membayar belanjaan dan setelah keluar dari toko, mereka segera melanjutkan perjalanannya ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit mereka langsung menuju ke ruang perawatan Chika sesuai yang dikatakan oleh Jeff.

"Assalamualaikum, permisi ...," ucap Anah dan Nirmala.

Jeff yang mendengarnya segera membuka pintu itu. "Waalaikumsalam, kalian sudah tiba?"

Tidak ada yang menjawab pertanyaan Jeff.

Anah langsung memeluk Jeff begitu pintu terbuka.

Jeff berusaha melepas pelukan Anah, tetapi sangat sulit. Anah memeluknya begitu erat.

Nirmala tersenyum geli melihat kekonyolan sahabatnya lalu berjalan mendekati Chika. "Selamat ya, Kak," ucap Nirmala kemudian meletakkan kadonya di atas meja.

"Terima kasih kamu sudah datang, Mala." Chika kemudian memposisikan dirinya setengah duduk.

Nirmala memandangi bayi Chika yang sedang tidur dengan lelapnya. Pemandangan yang sangat menggembirakan dan menyenangkan hati.

Chika juga merasa beruntung karena Nirmala tidak pernah sedikit pun menaruh dendam, padahal selama ini dia sudah jahat dan selalu membuat Nirmala dalam masalah.

Jeff dan Anah saling menatap satu sama lain dan tersenyum. Mereka senang melihat keharmonisan yang tercipta di antara Nirmala dan Chika.

"Mala, maafkan Kakak, ya? Selama ini Kakak sudah banyak salah sama kamu," kata Chika sambil menggenggam tangan Nirmala.

"Nggak apa-apa Kak, tidak perlu dibahas lagi. Jika bukan karena kesaksian Kak Chika, Riko mungkin sekarang masih bisa bebas. Semua terungkap juga berkat Kakak," tukas Nirmala seraya membalas genggaman tangan Chika.

Mereka kemudian saling berpelukan.

Chika terlihat sangat tulus meminta maaf kepada Nirmala. Kedua matanya sampai berkaca-kaca.

Belum lama mereka datang, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang masuk, dia adalah Aldo, suami Chika.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel