Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6. Nomor Tak Dikenal

Kevin duduk kembali dan menghela napas panjang. "Farhan," panggil Kevin kepada asisten pribadinya. "Kamu tahu siapa sekretaris tuan Jeff itu?" tanya Kevin sambil memegang mug kopinya.

"Saya tahu Tuan, nyonya Mala adalah istri Tuan," jawabnya dengan sangat hati-hati. "Kenapa Tuan tidak bicara terus terang saja?" Lanjutnya.

"Tidak, Mala masih belum bisa menerima pernikahan ini. Antar aku ke kantor, setelah itu cari informasi di mana nyonya Mala tinggal dan beritahu aku berapa nomor ponselnya," perintah Kevin.

"Baik, Tuan."

Mereka kemudian bergegas kembali ke kantor. Sesampainya di parkiran, Farhan dengan cekatan langsung pergi mencari informasi tentang Nirmala. Sementara Kevin, dia berjalan menuju ke ruangannya. Ia membuka pintu ruangannya lalu menutupnya kembali. Sebuah pelukan melingkar di tubuhnya dengan aroma yang sudah tidak asing, seorang wanita berpakaian minim mencoba menggodanya.

"Salsa, sedang apa kau di sini?" Kevin sangat kaget melihat Salsa seperti ulat bulu yang membuatnya merinding.

"Sayang, aku merindukanmu. Apa kamu tidak kangen sama aku? Lalu kemarin kamu ke mana di hari pernikahan kita?" Salsa masih belum melepaskan pelukannya, dia bergelanyutan di dada Kevin. Kevin mendorongnya menjauh, lalu ia segera duduk di kursinya.

Salsa masih belum puas menggodanya, ia pun memijat pundak Kevin dengan begitu mesra. Sampai seorang karyawan masuk dan membuat karyawan itu salah paham.

Karyawan tersebut kemudian keluar dari ruangan Kevin. "Maaf Tuan, saya tidak tahu, permisi." Karyawan itu buru-buru pergi dan menutup kembali pintunya.

"Jelaskan apa maumu?" sarkas Kevin.

Kini Salsa semakin bergelanyut dan dia menundukkan setengah badannya sengaja mendekatkan perhiasannya ke wajah Kevin. Pakaiannya yang memperlihatkan belahan dadanya sengaja untuk ia pertontonkan di hadapan pria tampan yang kaya raya itu. Sayangnya Kevin sama sekali tidak tertarik dan justru mengusirnya.

"Pergi dari ruangan saya, sekarang!" bentak Kevin.

Salsa merasa tersinggung, tetapi dia masih bisa menstabilkan emosinya. "Sayang, kamu jangan kasar begitu dong sama aku. Kamu masih belum menjawab pertanyaanku."

"Aku sudah menikah, kau puas? Sekarang pergi atau aku akan memakai cara kasar untuk mengusirmu. Security ...!" panggil Kevin dengan teriakan.

Sebelum security itu datang, Salsa sudah mundur beberapa langkah. "Iya, iya ... aku akan pergi, tetapi katakan siapa wanita yang berani merebutmu dariku dan apa alasanmu meninggalkanku?" tanya Salsa penasaran.

"Kau ingin menyingkirkan ibuku?" Seketika Salsa langsung terdiam.

"Sudah mengerti alasannya? Sekarang pergi dari sini!"

"Security ...!" Kevin kembali berteriak.

Tidak lama kemudian security datang.

"Bawa gadis ini pergi dan ingat, jangan biarkan dia menginjakkan kaki di kantor ini lagi."

"Kevin ...! Beraninya kau perlakukan aku seperti ini. Aku pasti akan membalasmu!" teriak Salsa sambil memberontak enggan dipegang oleh dua security. "Lepaskan aku! Aku bisa keluar sendiri. Jauhkan tangan miskin kalian!" hardik Salsa kepada security itu.

Kevin kembali duduk dan mengacak-ngacak rambutnya. Dia merasa sangat menyesal pernah membuka hati untuk Salsa. "Semua ini gara-gara Daigo dan pesta perayaan tahun baru di Jepang beberapa tahun silam," dengusnya kesal.

Kevin mengingat kejadian pertama kali dia mulai dekat dengan Salsa. Waktu itu, Daigo, sahabatnya mengadakan pesta dan mewajibkan para tamu undangan untuk memilih pasangannya bagi yang belum punya pasangan. Daigo kemudian memasangkan Kevin dan Salsa karena keduanya masih jomblo. Sejak saat itulah, teman-teman Kevin mengira mereka benar-benar jadian, meskipun Kevin tidak pernah mengatakan cinta kepada Salsa, tetapi dia selalu memberikan barang-barang dan fasilitas mewah untuk Salsa dan ibunya. Perhatian yang Kevin berikan membuat semua orang salah paham dan mengira mereka saling mencintai.

"Huft ...." Lagi-lagi Kevin menghela napas dan mengacak-ngacak rambutnya. Dia kemudian membuka laci mejanya dan memilih sebuah kunci mobil. Kevin memang memiliki banyak mobil, mobilnya berderet di kantor dan apartemennya. Setelah mendapatkan kunci mobilnya, dia bergegas keluar dari ruangannya dan menuju ke mobil lalu melesat pulang ke apartemen.

Sesampainya di apartemen dia segera mandi dan keramas mencuci rambutnya. Keluar dari kamar mandi, dia hanya mengenakan handuk kimono sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Dia kemudian duduk dan menelepon Farhan, asisten pribadinya. "Farhan, bagaimana dengan tugasmu?"

"Sudah selesai, Tuan." Farhan kemudian memberi tahu di mana Nirmala tinggal sekarang dan memberikan pula nomor handphone-nya.

"Sekarang nyonya Mala ada di rumahnya, dia tinggal sendirian. Apa perlu saya membawanya ke apartemen Tuan?"

"Tidak perlu Farhan, kamu awasi saja dia dengan baik," perintah Kevin kemudian meletakkan ponselnya di kasur. Dia kemudian menghentikan gerakannya mengeringkan rambut kepalanya karena merasa sudah cukup, dia mulai membuka lemari dan memilih kaus boxer serta celana pendek. Dia kemudian duduk di kasurnya dan mulai membuka laptop meneruskan pekerjaannya.

Selesai dengan urusan pekerjaan, kini dia mulai membuka file pernikahannya dengan Mala. Dia memperbesar gambar istrinya dan memandanginya dalam-dalam. "Mala, kecantikan yang abadi, tetapi kenapa sifatnya sekarang sangat berbeda? Dulu dia begitu manja, tetapi sekarang dia bersikap dingin," gumamnya pelan.

"Ini semua kesalahanku sendiri, aku pernah meninggalkannya di saat dia sangat membutuhkanku." Kevin kembali teringat saat-saat terakhir Nirmala menangisi kepergiannya.

'Aku mohon Kevin, bawa aku pergi bersamamu'.

Kalimat itu terus membayangi Kevin, kata-kata terakhir yang pernah Nirmala ucapkan dengan derai air mata. Namun, tak dihiraukannya. Kevin tetap memilih pergi karena dia tidak sanggup jika harus melihat Nirmala menikah dengan Riko. Mungkin itulah yang kemudian membuat Nirmala kini bersikap dingin kepadanya. Meskipun mereka sekarang terikat hubungan suci, hubungan pernikahan. Namun, Kevin merasa kalau Nirmala belum bisa merimanya.

***

Setelah mandi karena lelah seharian bekerja di kantor, kini Nirmala sedang menyantap capjay kuah kesukaannya di depan televisi. Meskipun tinggal sendiri, dia tidak pernah merasa kesepian karena Anah dan Ruby terkadang juga menginap di rumahnya.

Tok ....Tok .... Tok

Nirmala meletakkan mangkoknya dan mengecilkan volume televisinya lalu beranjak berdiri melangkah ke sumber suara. Dia membuka pintu dengan sangat pelan.

"Jeff? Ada apa kamu kemari? Bukankah pekerjaan kantor sudah selesai? Biarkan aku beristirahat."

Jeglek ...!

Nirmala menutup kembali pintunya dan membuat kepala Jeff terbentur. Jeff mengusap dahinya yang sama sekali tidak sakit ataupun lecet.

"Mala, buka dulu pintunya. Kamu tidak sopan memperlakukan atasan seperti ini!" teriak Jeff dari luar pintu.

"Tuan Jeff, sebaiknya Anda pulang dan jangan merendahkan reputasi dengan mengunjungi rumah kecilku ini!" pekik Nirmala dari dalam.

"Dasar keras kepala," gerutu Jeff kemudian meninggalkan bunga mawar putih dan kado kecil di depan pintu.

"Aku pulang!" teriak Jeff.

"Iya, Tuan Jeff. Hati-hati di jalan Tuan!" balas Nirmala dari dalam. Dia kemudian mengintip dari jendela untuk memastikan bahwa Jeff benar-benar sudah pergi dari rumahnya.

Setelah Jeff benar-benar pergi, Nirmala kemudian membuka pintu rumahnya dan mengambil mawar putih beserta kotak kado.

Jeff sudah sering memberinya bunga dan perhiasan mewah, tetapi itu tidak membuatnya serta merta menerima cinta tuan muda yang romantis itu.

"Lagi-lagi Jeff memberiku hadiah. Terima kasih Jeff, tetapi aku tetap tidak bisa menerimamu, apalagi sekarang aku sudah menikah," ucapnya pelan lalu membawa hadiah Jeff masuk dan kembali menutup pintunya. Kali ini Nirmala menguncinya karena dia sudah sangat lelah dan enggan untuk menerima tamu lagi.

Farhan kemudian melaporkan kejadian yang baru saja disaksikan kepada tuannya.

"Cari informasi apakah mereka ada hubungan spesial atau tidak?" perintah Kevin setelah mendengar cerita dari asisten pribadinya.

"Baik, Tuan."

"Jika benar mereka ada hubungan, itu artinya aku adalah orang ketiga," batin Kevin gelisah. "Apa yang harus aku lakukan?" Kevin merasa dalam kebingungan yang tidak berarti.

Sementara itu, Nirmala justru berpikir sebaliknya. "Jika Kevin tahu soal ini, apakah dia akan salah paham? Apakah dia akan menceraikan aku? Ya Tuhan, untuk apa aku mengkhawatirkan soal perceraian? Bukankah pernikahan itu hanya sebuah kecelakaan? Lagipula jika Kevin benar-benar mencintaiku, dia tidak akan pernah meninggalkanku. Namun, dia bahkan tidak peduli dengan air mataku. Untuk apa aku terus menyimpan cinta untuknya? Dan pernikahan ini, ah lupakan saja."

Tiba-tiba handphone Nirmala berdering, dilihatnya nomor kontak baru yang belum tersimpan. Dia kemudian mengangkatnya. "Hallo, hallo? Hallo, maaf ini dengan siapa?" Nirmala mengangkat telepon itu, tetapi pemilik nomor tidak menyahutnya.

Itu adalah nomor handphone Kevin, dia merasa rindu dengan istrinya, tetapi dia hanya diam.

Nirmala kemudian mematikan panggilannya. "Jangan-jangan itu nomor Jeff, dia sengaja ingin menggangguku, dasar tuan muda tidak tahu aturan," gerutunya.

Lagi-lagi ponselnya berdering, masih dengan nomor yang sama. Nirmala mengangkat dan langsung berteriak membuat Kevin menjauhkan ponselnya dari telinga. "Dengar, Jeff! Berhenti menggangguku!" teriak Nirmala.

Kali ini, Kevin bersuara. "Mala ...," sapa Kevin lembut.

"Bukan suara Jeff dan lebih mirip suara ... Kevin. Astaga, apakah benar ini suara Kevin? Dari mana dia mendapatkan nomor ponselku. Aku tidak boleh lemah, aku juga tidak boleh terlihat masih menyukainya. Dia harus membayar sikapnya yang dulu mengabaikanku, tetapi sekarang dia suamiku." Nirmala menghela napas frustasi.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel