Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3. Marah Sampai Ubun-ubun

"Bu, kenapa Kevin lama sekali?" tanya Salsa seraya mematikan musik dari ponselnya.

"Ibu juga tidak tahu, Sa. Tunggu sebentar, Ibu akan melihatnya."

Ibunya Salsa mencoba membuka pintu tetapi tidak bisa. "Ngapain pakai dikunci segala sih," gerutunya.

"Kenapa Bu?"

"Ini kenapa pintunya dikunci, Sa? Mana kuncinya?"

"Salsa tidak menguncinya, Bu." Salsa berpikir sejenak kemudian ingat kalau Kevin pasti membawa kunci tersebut. "Salsa telepon Kevin dulu," ucapnya.

Salsa dan Ibunya yang masih terkurung di kamar hotel mencoba menghubungi Kevin, tetapi sama sekali tidak mendapat jawaban.

"Gimana, Sa?" tanya sang Ibu yang mulai panik.

"Nggak ada jawaban, Bu," sahut Salsa yang mulai kesal. Ia dengan kasar menaik turunkan gagang pintu dan sesekali menggedor pintu tersebut.

"Apa ada orang di luar!" pekik Salsa, tetapi tidak ada yang menjawab.

Ia kesal lalu menendang pintu tersebut. Dak!

"Dasar resepsionis bodoh," umpatnya sangat kesal.

Ia lalu menelepon Kevin lagi, tetapi masih sama. Tidak ada jawaban.

"Aaargh!" Teriaknya histeris.

"Tenang Sa, tenang," bujuk ibunya.

Salsa menghela napas panjang berusaha untuk tenang. Ia kembali menggedor-gedor pintu tersebut dan berteriak berharap akan ada yang membukanya. Namun, usahanya tak membuahkan hasil. Ia menjadi semakin kesal.

"Kurangajar! Siapa yang berani mengerjaiku!"

Salsa yang semakin kesal tak menghiraukan nasehat dari ibunya. "Cepat buka pintunya!"

"Buka! Cepat buka pintunya! Dasar bodoh!" Emosi Salsa meluap tak bisa dibendung lagi.

Seseorang yang tanpa sengaja melewati depan kamarnya menjadi ketakutan, dia kemudian melaporkan kejadian tersebut kepada satpam hotel.

Tidak lama kemudian security datang. Akhirnya Salsa dan ibunya bisa keluar dari kamar.

Seharusnya Salsa berterima kasih kepada seseorang yang telah menolongnya. Namun, bukannya mengucapkan terima kasih, ia malah memaki pegawai hotel yang telah menolongnya.

"Dasar kalian tidak becus! Saya akan melaporkan kalian ke manajer agar secepatnya kalian dipecat!"

"Sa, sudah Sa. Sekarang yang penting pernikahan kamu dan Kevin," peringati ibunya.

"Tunggu selesai aku menikah, kalian akan segera menjadi pengangguran," geram Salsa seraya menunjuk wajah-wajah pegawai hotel.

Salsa bergegas menuju ke gedung di mana pernikahannya akan berlangsung, tetapi dia tidak menemukan siapa pun kecuali hanya beberapa petugas kebersihan.

Salsa dan ibunya merasa bingung melihat kondisi gedung. "Bu, apa ini Bu? Apakah acara pernikahannya ditunda?" tanya Salsa heran.

Cleaning service yang tidak sengaja mendengar pertanyaan Salsa kemudian menimpali, "Acara pernikahannya tidak ditunda Non, tetapi sudah selesai."

"Sudah selesai? Hati-hati kalau bicara ya? Kamu tahu kamu sedang bicara dengan siapa, hah?" Salsa sangat marah mendengar ucapan cleaning service tersebut.

"Maaf Non, saya tidak tahu siapa anda. Tapi apa yang saya katakan itu benar, acara pernikahannya memang sudah selesai," jawab petugas kebersihan santai.

Salsa tersenyum bengis. "Kemari kau, lihat aku baik-baik."

Wanita petugas kebersihan itu memperhatikan Salsa dari ujung kaki hingga ujung rambut. "Dandanannya seperti seorang pengantin," batinnya.

"Sudah? Sudah bisa lihat dengan jelas, hah?"

Wanita petugas kebersihan itu hanya mengangguk.

Salsa merapikan rambutnya dan tersenyum sadis. "Saya ini mempelai wanitanya. Bagaimana mungkin acaranya selesai tanpa ada mempelai wanita di samping mempelai prianya!" bentak Salsa seraya mendorong cleaning service itu dengan kasar hingga wanita malang itu tersungkur ke lantai.

"Saya berkata jujur Non, acaranya memang sudah selesai dan mempelai wanitanya juga ada, saya ikut menyaksikan ijab qabulnya kok."

Salsa menajamkan pandangan membuat petugas kebersihan ketakutan dan langsung pergi.

Kemarahan semakin memuncak. "Tidak mungkin! Tidak mungkin Kevin menikah dengan wanita lain! Itu tidak mungkin! Aaargh ...!" Salsa mengamuk seketika. Memporak-porandakan semua yang ada di sekelilingnya.

"Sa, tenang. Tenang, Sa." Ibunya mencoba menenangkan Salsa lagi.

"Bagaimana Salsa bisa tenang Bu? Di hari pernikahan yang sudah lama Salsa tunggu-tunggu, Kevin justru menikah dengan wanita lain!" kesal Salsa berapi-api.

"Mungkin saja yang barusan itu bukan pernikahan Kevin, bisa jadi pernikahan orang lain 'kan? Coba kamu telepon Kevin sekali lagi," pinta ibunya.

Salsa yang sudah sangat kesal kembali mencoba menghubungi Kevin. Tersambung, tetapi tidak diangkat. "Tidak diangkat Bu," keluh Salsa, ia menggeleng dalam keputusasaan.

"Mungkin dia sedang sibuk." Ibunya masih belum berpikiran buruk dan bahkan masih bisa tersenyum. Meskipun di dalam hati, ia juga cemas.

"Kevin sedang tidak sibuk Bu, dia pasti sengaja membatalkan rencana pernikahan ini." Salsa mulai menaruh curiga.

"Untuk apa, Sa? Untuk apa Kevin melakukan semua ini? Ibu tidak percaya."

Salsa mulai mengatur napasnya untuk menenangkan diri. Tiba-tiba dia tersenyum. "Entahlah, tetapi Ibu tenang saja, Salsa pasti akan mendapatkan jawabannya."

"Lihat saja nanti Kevin, kamu tidak akan bisa lari dariku lagi," geram Salsa dari dalam hati seraya meremas gaun pengantinnya.

Salsa dan ibunya kemudian keluar dari gedung dan pulang ke rumah.

Salsa merupakan teman sekolah Nirmala. Sejak masih SMA, dia sudah jatuh cinta kepada Kevin dan selalu melakukan segala cara untuk bisa mendapatkan hati pria idamannya itu.

Dia tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan disukai oleh banyak pria, tetapi kecantikan yang didapatnya itu bukanlah sesuatu yang murni melainkan dengan melakukan berbagai upaya termasuk operasi plastik.

Pekerjaannya sebagai model menuntutnya agar selalu tampil menawan di depan kamera.

"Kevin benar-benar membuatku kesal." Salsa kembali mengumpat setelah sampai di depan pintu rumahnya.

Dia kemudian masuk ke dalam kamarnya dan mengganti gaun pengantin dengan baju santai yang memperlihatkan lekuk bentuk tubuhnya dengan belahan dada yang menampakkan keindahannya dan rok yang sangat pendek hanya menutupi pahanya.

Kakinya yang jenjang dengan mengenakan high hells warna hitam menambah penampilannya semakin penuh pesona. Dia berniat pergi lagi dari rumahnya.

"Sa, mau ke mana?" tanya sang ibu yang memergoki putrinya begitu menawan berjalan dengan sangat terburu-buru.

"Salsa ada pemotretan hari ini, Bu," ujarnya kemudian masuk ke dalam mobil. Dia terbiasa mengendarai mobilnya sendiri.

Sesampainya di lokasi pemotretan, seperti biasa pria-pria hidung belang akan semangat menggodanya. Namun, tidak ada satu pun yang menarik perhatiannya. "Kalian semua pria miskin, berani sekali menggodaku," umpatnya dari dalam hati.

"Sombong," gerutu para pria dan berhenti menggoda Salsa.

Salsa duduk dengan arogan dan meminta penata rias untuk segera merias wajahnya. Seraya dirias, Salsa terus memikirkan Kevin dan wanita yang berani mengganti posisinya. "Siapa wanita itu?" batinnya.

Salsa telah selesai dirias dan kini ia siap di depan kamera. Namun, fotografer kecewa dengan hasilnya dan meminta Salsa untuk lebih fokus.

"Sa, ini nggak seperti biasa lho. Biasanya hasilnya bagus. Yang serius dong."

"Oke, oke. Sorry, aku sedang banyak pikiran."

"Mikirin apalagi? Bukankah kamu baru saja menikah dengan pria kaya?"

Salsa tertegun, ternyata fotografer tidak tahu kalau pernikahannya batal.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel