Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2. Cintanya Mungkin Kandas

Acara pernikahan yang penuh dengan kemeriahan telah usai. Tamu undangan mulai meninggalkan gedung untuk kembali ke rumah masing-masing.

Anah dan Ruby berpamitan pulang.

"Apakah kita tidak bisa pulang bersama-sama?" protes Nirmala.

"Sama-sama?" goda Anah seraya menyikut lengan Nirmala.

"Anah, kenapa bicaramu seperti itu?" Nirmala masih tidak paham mengapa Anah bersikap genit dan manja.

Anah malah tersenyum dan menggoda Nirmala lagi. Dia kemudian menarik tangan Ruby menjauh dari Nirmala.

"Maaf, Mala. Kami pulang dulu." Ruby pulang bersama Anah. Nirmala hendak mengejar mereka, tetapi tidak jadi karena ibu mertuanya memanggil.

Nirmala panik ketika melihat ibu mertuanya terkulai lemas. "Mami," gumamnya seraya berjalan cepat ke arah nyonya Lau. Ia lalu membantu ibu mertuanya menuju ke sebuah kamar hotel.

Nyonya Lau masih sangat terpukul dengan kenyataan yang ia dengar dari putranya sendiri sampai-sampai membuatnya kesulitan sekedar untuk berjalan. Sesampainya di kamar, Nirmala segera mengambilkan segelas air mineral untuknya.

"Terima kasih, Sayang," ucap nyonya Lau.

Nirmala mengangguk dan tersenyum.

Nyonya Lau meminum secara perlahan, seteguk demi seteguk. Sesekali terlihat ia menarik napas panjang. "Mami tidak menyangka Salsa setega itu. Selama ini dia kelihatan tulus sama Kevin, makanya Mami memaksa Kevin untuk menikahinya." Nyonya Lau nampak kecewa terhadap Salsa.

"Akan tetapi, Mami juga sangat senang karena akhirnya Kevin bisa menikah denganmu, itu adalah impian sejak lama." Senyum nyonya Lau seketika mengembang.

Jantung Nirmala terasa mau copot mendengar untaian kata dari ibu mertua yang tiba-tiba memeluknya.

"Bagaimana kabarmu Sayang? Kamu pasti menderita harus melewati cobaan yang begitu berat sendirian."

Nirmala tersenyum dalam pelukan, air matanya hampir menetes, tetapi ia tahan sekuat hati. Pelukan nyonya Lau begitu hangat. Sudah lama ia tidak mendapatkan pelukan sehangat itu. "Alhamdulillah Nirmala baik-baik saja, Mam."

Beberapa tahun yang lalu, Nirmala melewati banyak cobaan. Dari dijodohkan dengan pria yang tak dicintai, ditinggalkan Kevin hingga kehilangan kedua orang tuanya dan bahkan dia yang kelulusan kedokteran dilarang membuka praktek dan di-blacklist dari semua rumah sakit karena fitnah yang tidak pernah ia perbuat.

Hal itu membuatnya terpaksa bekerja di perusahaan Jeff dan memilih tinggal di rumah kecil karena semua harta warisan orang tuanya dia sumbangkan ke yayasan sosial.

Orang tuanya sudah bekerja keras selama ini. Sudah sepantasnya mereka menikmati hasil jerih payahnya di alam yang berbeda. Nirmala memang anak yang berbakti. Dia tidak haus harta dan tahta.

Takdir seolah ingin terus bercanda dengannya. Tiada angin, tiada hujan, kini dia telah resmi menjadi seorang istri. Sungguh tidak ada di pikirannya, ia bakal mendadak menikah. Kejadiannya begitu cepat tanpa bisa dihindari bahkan dia seperti belum menyadarinya.

Sementara itu, Kevin pergi menemui Tirta dan Bharata yang sedari tadi berdiri di depan pintu kamar Salsa.

Tirta berjalan menghampiri Kevin. "Kevin, kau berhutang budi padaku," sergah Tirta seraya tersenyum miring.

"Itu bisa diatur, kalian boleh pergi sekarang," perintah Kevin kemudian berlalu menuju ke kamar hotel ibunya.

"Mam, apa Mami sudah merasa lebih baik?" tanya Kevin sesaat setelah membuka pintu kamar.

"Mami baik-baik saja. Kalian tidak perlu khawatir."

Kevin tersenyum lega kemudian melirik ke arah Nirmala.

Nirmala terlihat menunduk dan tidak berani menatap wajah suaminya.

Nyonya Lau berdiri dengan hati-hati. "Mami merasa sangat lelah, Mami pulang dulu." Sebelum benar-benar pergi, dia membelai wajah Nirmala lagi. "Kau terlihat semakin cantik," ucapnya lembut. Ia kemudian mendekati putranya. "Jaga dia baik-baik."

Kevin mengangguk seraya tersenyum manis.

Kini di kamar hotel itu hanya ada Nirmala dan Kevin.

Nirmala masih terdiam dan belum bisa berkata apa-apa.

"Maaf karena aku sudah meninggalkanmu dan membuatmu mengalami masa-masa sulit sendirian," ujar Kevin seperti berbicara pada orang lain, padahal wanita di hadapannya kini adalah istrinya. Dia merasa menyesal karena dulu pernah meninggalkan Nirmala.

"Tidak apa-apa, tidak perlu dibahas lagi. Maaf Kevin, aku harus segera pulang." Nirmala mulai bangkit dari tempat duduknya dan melangkah keluar dari kamar hotel itu.

"Tunggu ...!" cegah Kevin.

Nirmala menghentikan langkahnya lalu menoleh, tiba-tiba Kevin kembali mendaratkan ciuman di bibirnya. Kali ini Kevin berhasil melakukannya dengan sempurna.

Nirmala tidak sempat menghindar, ia mematung. Jantungnya berdebar-debar, tetapi ia tidak tahu apakah itu karena masih ada cinta di hatinya untuk Kevin? Untuk seseorang yang pernah melukai hatinya?

"Hati-hati," pesan Kevin setelah selesai melakukan aksinya.

Kevin tidak berusaha mencegah kepergian Nirmala, dia sendiri masih tidak yakin dengan pernikahannya yang terkesan seperti ilusi dan bayangan. Setelah Nirmala pergi dari hadapannya, ia baru menyadari bahwa seharusnya dia tidak membiarkan istrinya berlalu begitu saja.

"Astaga, kenapa aku membiarkan Nirmala pergi? Bukankah dia istriku sekarang?" Kevin menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu dengan segera mengejar Nirmala, tetapi pengejarannya sia-sia. Istrinya sudah tidak terlihat lagi.

Nirmala duduk termenung di dalam sebuah taksi, dia masih memegang bibirnya seakan ingin memastikan bahwa keadaannya tetap baik-baik saja walau sudah mendapat gigitan lembut dari suaminya.

"Ya ampun, ada apa dengan hari ini? Mimpi apa aku semalam? Atau jangan-jangan sekarang aku sedang bermimpi?" batinnya penuh dengan tanda tanya besar. Dia menepuk-nepuk pipinya lalu mencubit lengannya sendiri untuk memastikan yang dialami hari ini bukanlah sebuah mimpi. "Aw ...." Dia meringis kesakitan setelah mencubit lengannya.

Selama hidupnya, dia memang hanya mencintai Kevin. Bahkan dia sempat menolak perjodohan itu hanya karena menjaga cintanya untuk Kevin. Namun, Kevin justru pergi meninggalkannya ke luar negeri setelah mendengar bahwa ia dijodohkan dengan Riko. Nirmala sangat kecewa saat itu. Kenapa Kevin tidak memperjuangkannya?

Sekarang mereka disatukan kembali dalam ikatan pernikahan yang sulit dimengerti. Bahkan buku nikah pun harus terlambat dicetak karena ada kesalahan penulisan nama mempelai wanita. Sebenarnya bukan salah, itu hanya alasan Kevin saja untuk menutup semua aibnya. Ya, aib karena pernikahannya dengan wanita ular itu harus gagal di saat pestanya sudah mulai.

Nirmala kini sudah sampai di rumahnya, dia membaringkan badannya di kasur dan menghela napas panjang-panjang. Dia tidak habis pikir kalau kedatangannya di pesta pernikahan itu merupakan pesta pernikahannya sendiri. "Ya Tuhan, cobaan apalagi ini?" gumamnya pelan. Tanpa sadar, ia memejamkan kedua bola matanya dan tertidur.

Nirmala senyum-senyum sendiri menikmati mimpinya. Mimpi yang sama seperti hari-hari lainnya. Dia selalu memimpikan Kevin seolah pria itu tidak mau jauh darinya.

Meskipun Nirmala sadar kalau cintanya mungkin telah kandas sejak beberapa tahun yang lalu. Akan tetapi, melihat Kevin hanya dalam mimpi sudah membuatnya bahagia.

Biarpun seperti itu, Nirmala tidak pernah menampakan perasaannya kepada siapapun. Dia memendam rindu itu sendiri dan bahkan berusaha untuk mengubur cintanya dalam-dalam. Apalagi ketika ia mendapat undangan pernikahan seminggu lalu, ia menyiapkan hati dan mengumpulkan kekuatan untuk bisa hadir.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel