Bab 1. Mendadak Menikah
Nirmala mendapat undangan pernikahan dari teman sekolahnya, Salsa. Tertulis jelas di selembar kertas hitam dengan tinta emas itu acara pernikahan Salsa dengan Kevin Lau. Tangannya gemetar dan bibirnya membeku. Jantungnya berdetak sangat kencang dan entah kenapa ada sakit yang begitu perih di dalam hatinya, tetapi ia berusaha tegar menerima kenyataan. Pasalnya, pria tampan yang akan menikah dengan teman sekolahnya itu adalah mantan pacarnya.
Dulu saat masih duduk di bangku SMA hingga kuliah, Nirmala menjalin cinta dengan pria itu. Mereka saling mencintai, tetapi perjalanan cintanya tidak berjalan mulus karena orang tua Nirmala sudah menjodohkannya dengan Riko, putra tunggal rekan bisnis ayahnya. Ayahnya sangat tidak menyukai Kevin.
Saat mengetahui Nirmala dijodohkan, Kevin memilih pergi ke luar negeri dan disusul oleh Salsa.
Salsa mengatakan kalau Nirmala sudah menikah dengan Riko, padahal kenyataannya belum.
Nirmala membatalkan rencana pernikahannya dengan Riko saat penyidik menemukan bukti-bukti lengkap tentang kematian kedua orang tuanya, Wicaksana dan Wulandari. Bukti-bukti itu membenarkan bahwa kejadian buruk yang menimpa keduanya bukanlah sebuah kecelakaan biasa, melainkan rencana pembunuhan. Tidak lain dalang dari semua itu adalah Riko, calon suaminya sendiri. Kini Riko mendekam di penjara.
Kevin mendengar kabar pernikahan Nirmala yang dibatalkan itu sehari sebelum acara pernikahannya dengan Salsa digelar. "Kenapa aku baru mengetahuinya sekarang? Jadi selama ini Salsa membohongiku? Bodohnya aku, kenapa percaya begitu saja dengan kata-kata Salsa?" batin Kevin penuh dengan penyesalan.
Akan tetapi, undangan pernikahannya dengan Salsa sudah terlanjur disebar sejak satu minggu yang lalu. Tidak mungkin dia membatalkannya begitu saja, bisa hancur reputasinya nanti di mata publik, pikirnya.
Pagi ini merupakan hari pernikahan Kevin. Dengan berat hati ia berjalan menuju ke sebuah kamar hotel bermaksud untuk mengajak Salsa ke pelaminan. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti tatkala tanpa sengaja mendengar Salsa sedang berbicara dengan ibunya.
"Ibu tenang saja, setelah aku menjadi nyonya Kevin, aku akan selalu memberikan Ibu uang yang banyak, Ibu bisa shopping-shopping ke mall dan jalan-jalan ke luar negeri kapan saja Ibu mau." Salsa tersenyum bahagia seraya memandang wajahnya di depan cermin. Riasannya begitu sempurna, dia terlihat sangat cantik berbalut gaun pengantin berwarna putih. "Mengenai maminya Kevin yang sok cantik itu, Ibu tidak usah khawatir. Karena aku akan segera menyingkirkannya, tinggal menambahkan bubuk ini ke dalam minumannya, maka dia akan menjadi putri tidur yang tidak akan pernah bangun, selamanya. Hahahaha ...." Salsa dan ibunya tertawa tanpa mengetahui keberadaan Kevin.
Kevin mendengar semua yang dikatakan oleh Salsa. Dia kemudian balik badan dan tanpa sengaja menabrak Tirta.
Bruk!
"Kalian?" Kevin kaget sekaligus senang tanpa sengaja bertemu dengan Tirta dan Bharata.
"Oh, calon pengantin," decak Tirta.
"Sstt ... jangan keras-keras." Kevin menarik Tirta dan Bharata sedikit menjauh dari kamar Salsa.
"Ini adalah kunci kamar Salsa." Kevin tiba-tiba memberikan kunci kamar hotel kepada Tirta. "Salsa dan ibunya ada di dalam, kunci mereka dari luar. Kau orang yang jenius, jangan banyak bertanya. Tolong bantu aku." Kevin kemudian berlari tergesa-gesa mencari ibunya.
Tirta melaksanakan perintah Kevin dan mengunci Salsa dari luar.
"Kevin, tidak sabaran, ya?" celetuk Bharata.
Tirta hanya tersenyum miring. Dia tahu kalau sebenarnya Kevin tidak pernah mencintai Salsa. "Kamu salah Bharata, dia bukan tidak sabaran, tetapi dia ingin kabur dari pernikahan ini." Tebakan Tirta hampir tepat, tetapi sedikit meleset.
Kevin yang masih terus berlari tanpa sengaja menabrak Nirmala, mantan kekasihnya yang sampai saat ini masih bertahta di dalam hatinya.
"Kevin?" Nirmala terkejut melihat Kevin yang nampak terburu-buru.
Kevin tak kalah kaget, dia tidak menyangka kalau Nirmala akan hadir di pestanya. Dia menatap Nirmala dengan jutaan rasa rindu setelah bertahun-tahun tidak bertemu. Kevin yang hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, kemudian lebih mendekati Nirmala hingga gadis itu mundur dan mentok pada dinding. Kevin terus memandanginya hingga ia hampir mendaratkan ciuman pada bibir Nirmala.
Nirmala segera menutup mulutnya menggunakan tangan kanannya sehingga Kevin gagal mendapatkan bibir mungilnya. Gadis itu kemudian mendorong tubuh Kevin menjauh. "Kevin! Kau gila ya!" hardik Nirmala dengan wajah memerah menahan malu juga kesal.
Kevin tersenyum tanpa menanggapi omelan Nirmala, ia kemudian menarik paksa tangan mantan kekasihnya itu dan membawanya menuju ke pelaminan. Kevin mendapatkan titik terang, ia yang semula bingung harus berbuat apa, kini sudah menemukan jawabannya.
"Kevin! Lepaskan tanganku! Kamu ini apa-apaan!" teriak Nirmala sembari memukul-mukul tangan Kevin.
"Ikutlah denganku ke pelaminan," pinta Kevin.
"Ya ampun, apa maksudnya dia mau pamer kemesraan kepadaku? Dasar Kevin, benar apa yang Jeff katakan. Dia memang buaya," umpat Nirmala dalam hati.
"Astaga, Kevin. Apakah kamu mabuk? Kamu calon suami Salsa, tidak sepantasnya memegang tangan wanita lain, lepaskan aku sekarang juga!" sarkas Nirmala masih terus memukul tangan Kevin dan meronta agar dilepaskan.
Setelah sampai di pelaminan, ibu Kevin sangat kaget sekaligus senang melihat Nirmala. "Kevin, mana Salsa? Kenapa kamu justru membawa Nirmala ke sini?" bisik ibunya di telinga Kevin.
Kevin kemudian menceritakan apa yang barusan ia dengar mengenai rencana Salsa. Mendengar cerita Kevin, ibunya langsung terkulai lemas merasa tidak percaya.
"Pernikahan ini harus tetap dilanjutkan, Mam."
"Kau sudah tahu Salsa seperti itu tapi masih mau melanjutkan pernikahan ini?" berontak sang ibu.
Kevin tersenyum dan meminta agar ibunya tetap tenang. "Kevin akan menikah dengan Nirmala," tegasnya lembut seraya melirik Nirmala dengan lirikan mematikan penuh cinta.
Ibunya sangat terkejut, begitu pula dengan Nirmala.
Menurut Kevin, acara pernikahan ini menyangkut nama baik perusahaannya. Lagipula selama ini orang-orang tidak pernah tahu tentang hubungan Kevin dan Salsa di luar negeri. Pria itu tiba-tiba pulang dan ingin menikah, undangan disebar seminggu sebelum hari H. Itu karena dia tidak ingin terbayang-bayang masa lalu cintanya dengan Nirmala yang dia kira sudah menikah dengan Riko.
Di dalam surat undangan tertera nama Salsa, tetapi biarlah tentang nama itu, dia bisa menjelaskan bahwa namanya salah ketik. Yang penting pernikahan bisa berjalan dengan lancar dan menyelamatkan reputasi perusahaannya.
"Sah ...! Sah ...! Sah ...!" ucap semua orang yang ada di hadapan dua mempelai itu.
Pada akhirnya, apa yang telah ditakdirkan untukmu, pasti akan menjadi milikmu. Pernikahan yang sejatinya dibuat untuk Salsa, justru menjadi pernikahan Nirmala dan Kevin.
Anah yang ikut menyaksikan kejadian itu merasa hampir pingsan. Ruby yang duduk di sebelahnya pun tak kalah kaget karena di undangan tertera nama sahabatnya, Salsa. Walaupun sempat sebelumnya, Ruby juga tidak percaya kalau Kevin akhirnya membuka hati untuk Salsa. "Ruby, apakah aku sedang bermimpi?" tanya Anah yang terkulai lemas.
"Anah, ini bukan mimpi, tetapi di mana Salsa?" Ruby mengedarkan pandangan ke segala penjuru mencari keberadaan Salsa.
"Jeff, dia juga belum datang. Iya, 'kan?" tanya Anah dengan posisi badan yang sudah tak bertulang, lemah tak berdaya.
"Dia tidak akan datang karena kak Chika hari ini akan melahirkan," terang Ruby.
"Sialan, Kevin menikahi Nirmala," gerutu Tirta saat mendengar ijab qabul Kevin di pengeras suara.
"Aku masih tidak mengerti, Tirta," ungkap Bharata. Tirta hanya menghela napas berat menanggapi kalimat Bharata.
