Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Kesucian yang Terenggut Sebelum Pernikahan

“Sampai bertemu besok di pelaminan, Sayang,” ujar Arkhanza Maheswari pada calon istrinya lewat telepon. Ia tersenyum melihat sang kakak melintas. Diikutinya sang kakak setelah memasukkan ponsel ke dalam saku dan mengambil tas kerja.

Khanza, begitulah ia dipanggil. Pengusaha itu akan menikahi Neena Zahara, desainer ternama yang tak lain adalah sahabat sekaligus kekasihnya.

“Kak, gantikan aku rapat, ya. Aku mohon. Besok aku akan menikah. Tuxedo saja baru tadi kuambil. Lihat, aku harus membantu persiapan pernikahan,” ujarnya, memerhatikan orang-orang yang sibuk.

“Tidak mau! Pergi saja sendiri. Aku baru juga pulang, masih lelah,” jawab Soka-kakaknya, memasuki kamar.

“Ayolah, Kak. Aku benar-benar tidak bisa pergi. Jangan hanya karena Kakak tidak menyukai calon istriku, Kakak malah melakukan ini padaku,” ungkap Khanza.

Dia tahu betul bahwa Soka adalah orang pertama yang menentang hubungannya.

Soka menoleh, urung membuka jas.

“Tidak bisa!” Soka tetap pada pendiriannya.

“Aku janji tidak akan memaksamu lagi. Please, pergi ya. Demi Adikmu ini,” bujuknya memelas.

“Astaga!” Soka mengusap wajah.

“Baiklah, aku akan pergi. Dasar merepotkan!” Direbutnya tas kerja di tangan adiknya, lantas pergi sambil mengomel panjang.

Sementara Khanza melompat kegirangan karena berhasil membuat kakaknya pergi rapat, Neena Zahara merasa tidak nyaman. Sejak pulang dari butik untuk mengambil gaun, ia merasa diawasi.

Pandangannya tertuju pada jendela. “Aku yakin melihat sesosok bayangan di balik pohon persis seperti yang aku rasakan saat di butik.” Wanita

berumur 25 tahun itu buru-buru menutup tirai.

“Masa iya? Ah, ini pikiranku saja. Lebih baik aku tidur,” katanya, mencoba menghilangkan pikiran-pikiran buruk.***

Malam semakin larut. Sesosok bayangan terlihat menatap arloji dari balik pohon. “Sudah waktunya.” Sosok bertopeng itu pun mengendap-ngendap sembari memerhatikan sekeliling. ‘Aman,’ batinnya.

Yakin tidak ada siapa pun di sana, sosok itu memanjat pohon menuju ke balkon. Tak butuh waktu lama, ia berhasil mendarat dengan mulus.

“Untung aku sudah menyiapkan kunci duplikat,” ujarnya, mengeluarkan kunci dari saku celana, lantas membukanya segera. Masuklah ia, langsung mengunci pintu dari dalam.

Terlihat Neena sedang tertidur pulas. Tubuhnya yang tertutup selimut, terlihat dari pantulan cahaya lampu dari balkon. “Pulas sekali tidurmu.” Laki-laki itu sedikit menaikkan topengnya, lantas menyingkap selimut.

Diperhatikan seluruh tubuh Neena yang tak bisa ia pandangi leluasa, jika bukan seperti ini. Wajah cantiknya seolah membuai keinginan untuk menyentuh. Dikeluarkannya tali dari saku celana.

Diikatnya kaki dan tangan Neena pada tiang ranjang. Saking nyenyaknya, Neena tidak sadar apa yang terjadi. "Mudah sekali. Hihihi.”

Wanita itu sesekali menggerakkan kaki, masih terpejam rapat. Ia tak menyadari sosok misterius kini mengikatnya tanpa peduli akibatnya. “Ummm.” Neena menggeliat.

Bahkan tangannya bergerak menyentuh lengan. Akibatnya, Neena terkejut dan bangun saat menyadari sesuatu tak beres menimpa.

“Apa ini?” Neena kesulitan bergerak. Ia kaget mendapati tangan dan kaki diikat. “Hei, siapa kau? Lepaskan!” Dicobanya membuka ikatan di tangan, tapi tidak bisa. Terlalu kuat ikatan itu membelenggu.

“Diam!” Sosok itu menghardik.

Neena berusaha menolak, tapi tenaganya kalah.

“Lepaskan aku! Si-siapa kau? A-apa yang kau mau? Jangan sentuh aku! Aku akan menikah besok. Jangan, aku mohon.” Air mata Neena mulai mengalir saat tangan itu mulai bergerak.

“Aku akan melaporkanmu pada polisi!” bentaknya.

“Polisi? Itu kalau kau berhasil melihat wajahku, kan?” Pria misterius dengan wajah bertopeng hitam tetap membuka kancing baju, dan melemparkannya ke lantai.

“Seseorang!!! Tolooonggg!!!” Sekuat tenaga Neena berteriak. Dicobanya lagi untuk melepaskan ikatan. Dia yakin saat ini pergelangan tangannya pasti sudah membiru akibat gesekan dengan tali.

“Teriaklah sekencang mungkin! Tidak akan ada yang datang. Kau tahu kenapa? Karena aku sudah menyuruh seseorang mencampur obat tidur pada semua makanan dan minuman.” Sosok itu sedikit menggeser posisinya.

“Kau tahu apa yang menarik? Mereka menghabiskannya. Hahahaha!”

Neena kaget. Itu artinya, sosok yang kini berada di sana sudah merencanakan hal ini dengan sangat matang bersama suruhannya, persis yang ia takutkan.

“Tidak! Jangan apa-apakan aku! A-aku akan memberikan apa pun yang kamu mau. Am-ambil saja semua barang berharga di rumah ini, tetapi jangan sentuh aku.” Neena semakin menangis.

Pria bertopeng menyentuh rambut Neena, membuat wanita itu menelan ludah dengan kasar. Napasnya bahkan bisa dirasakan saking dekatnya wajah mereka. Disekanya air mata wanita yang ketakutan setengah mati di bawahnya.

“Baiklah. Aku akan memberimu pilihan. Batalkan pernikahan esok dan kau selamat, atau kau tetap pada keputusanmu dan berakhir denganku!” Pria itu bicara seolah tengah bernegosiasi.

“Tidak akan! Memang kau siapa, berani memerintah? Aku akan tetap menikahi Khanza!”

“Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, Sayang. Kau membuatku semakin kesal, apa lagi menyebut nama itu!” Pria itu menekan.

Kini tubuhnya menjadi incaran yang tidak terelakkan. Neena ketakutan. Bagaimana kalau ia dinodai menjelang hari pernikahan?

Neena terus memohon, berharap tangis pilu itu akan membuat si misterius akan luluh dan mengurungkan niatnya.

“Tolong ... jangan lakukan ini. A-aku akan mengikuti keinginanmu, tapi lepaskan aku,” rengeknya.

“Terlambat! Waktumu untuk berpikir sudah habis. Sekarang semuanya ada di tanganku!”

“Lepaskan aku!”

“Kau berisik sekali!” geram sosok bertopeng itu. Ia mengambil kain yang terjatuh di lantai lalu membungkam suara Neena.

“Emm ... emmm ....” Neena menggeleng panik. Air matanya terus mengalir tanpa henti. Tubuhnya gemetar hebat saat menyadari dirinya benar-benar tidak memiliki jalan keluar.

“Kau jangan menangis, Sayang. Mari, kita terbang ke surga, dan menikmati malam yang indah ini. Aku tidak butuh semua barangmu sebab kau yang aku mau. Hahahah!” Sosok itu sekuat tenaga menyobek pakaian Neena.

“Tidak!!! Mama!!!” Neena berteriak histeris. Ia menendang-nendang ke segala arah agar tangan itu tak menyentuhnya. Namun, sosok itu menakut-nakuti diiringi tawa menggelegar, membuat tubuh Neena bergetar hebat.

Sosok itu tak lagi memedulikan penolakan Neena. Semua permohonan dan tangisan wanita itu seakan tak berarti apa pun baginya. Malam yang seharusnya menjadi malam terakhir sebelum pernikahan berubah menjadi mimpi buruk yang menghancurkan segalanya.

Neena terus meronta, berusaha melepaskan diri meski tenaganya semakin melemah. Dalam hati, ia berteriak memanggil kedua orang tuanya, berharap seseorang datang menyelamatkannya.

Namun, tidak ada siapa pun.

seperti yang pria itu katakan sebelumnya, bahwa mungkin saat ini semua orang lelap dalam peraduan tanpa tahu kini Neena dalam bahaya.

Yang tersisa hanyalah rasa takut, sakit, dan kehancuran yang perlahan meremukkan dirinya.

Air mata membasahi wajahnya tanpa henti. Ia merasa harga dirinya dirampas bersama semua kebahagiaan yang selama ini dijaga dengan begitu baik.

‘Aku akan membunuhmu ...!’ batin Neena penuh kebencian.

Sementara itu, dia beraksi seolah tanpa rasa bersalah sedikit pun, seolah penderitaan Neena bukan sesuatu yang penting baginya.

Malam terasa begitu panjang bagi Neena. Detik demi detik berlalu seperti hukuman yang tak berujung. Hingga akhirnya, ketika semuanya usai, tubuh wanita itu hanya bisa terkulai lemah dengan hati yang hancur.

Malam semakin berlalu. Suara ayam mulai terdengar dari kejauhan. Sosok itu bangkit perlahan, lalu memandang Neena yang masih menangis dalam diam.

“Bagaimana, Sayang? Sekarang kau tahu aku tidak main-main,” ujarnya dingin.

Neena memejamkan mata rapat. Ia merasa jijik, marah, dan hancur dalam waktu bersamaan. Tubuhnya terasa nyeri, tetapi rasa sakit di hatinya jauh lebih menyiksa.

“Jangan pernah menyalahkanku,” lanjut pria itu pelan. “Salahkan dirimu sendiri karena memilih pria lain.”

Neena terkejut mendengar alasan itu. Dadanya terasa semakin sesak. Ia bahkan tidak tahu siapa pria di balik topeng tersebut, tetapi orang itu berbicara seolah memiliki hak atas hidupnya.

Setelah membuka ikatan di tubuh Neena, pria itu membungkuk dan berbisik pelan di telinganya.

“Sampai aku tahu kau melapor pada polisi, bersiaplah kehilangan keluargamu.”

Ancaman itu membuat tubuh Neena kembali bergetar ketakutan.

Tak lama kemudian, sosok tersebut pergi lewat balkon, meninggalkan kamar yang kini terasa begitu gelap dan menyesakkan.

“Tidaaaakkkk ...!” tangis Neena pecah begitu pintu balkon tertutup.

Ia memeluk tubuhnya sendiri sambil terisak. Semua impian tentang hari pernikahannya terasa hancur dalam semalam.

Dengan tubuh lemah dan pikiran yang kacau, Neena akhirnya kehilangan kesadaran.

Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Siapakah dalang di balik insiden tersebut?****

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel