BAB 2
Anna terdiam memandangi dirinya di cermin. Acara pernikahan telah usai. Namun tidak seperti pengantin-pengantin pada umumnya yang merasa lega dan bahagia setelah pesta pernikahan. Anna justru sangat sedih dan juga bingung. Bagi Anna hidupnya saat ini sudah hancur. Masa depannya telah berakhir sampai di sini.
Betapa tidak, jabatan manager yang telah Tuan Dirga hadiahkan kepadanya atas prestasi yang selama ini dia dapatkan harus Anna tinggalkan. Abi memintanya untuk tetap di rumah setelah menikah. Abi tidak mau jika ada orang yang berkomentar bahwa dia tidak bisa memberikan uang yang cukup untuk istrinya sehingga istrinya harus bekerja.
Drrt.. Drrt..
Sebuah panggilan masuk ke ponsel Anna. Tertera nama Rina di layar.
“Hallo Rin.”
“Hai Annaku Sayang, ups sorry maksudku Nyonya Abi.”
“Ihh apaan sih?”
“Enggak apa-apa, Cuma mau bilang jangan lupa kado dari aku di buka sekarang.”
“Emang kamu ngasih apa?”
“Lihat aja sendiri, pasti kamu suka.”
Anna melirik ke arah meja yang berisi tumpukan kado-kado. Mata Anna berhenti pada sebuah kotak berwarna merah terang, “itu pasti kado dari Rina”, fikirnya yang sudah mulai kepo.
Anna beranjak dari tempat duduknya dan mengambil kotak tersebut.
“Emang ini isinya apa Rin?”
“Buka dong.”
Anna menurut perintah Rina untuk membukanya. Dan tampaklah beberapa buah baju tidur super transparan.
“Rin, kamu gila ya ngasih aku ginian.”
“Hahaha.. Selamat bermalam pertama Anna.” Ucapnya langsung menutup sambungan telefonnya.
Anna masih terpaku sambil memandang dan mengamati baju tidur yang saat ini dia pegang. “Ini baju gimana makenya sih?” Gumam Anna sambil membolak-balik baju itu.
Meskipun Anna adalah perempuan dewasa, namun dia sangat lugu tentang hal-hal seperti itu. Saat masih berpacaran dengan Bastian pun, Anna selalu bisa menjaga diri. Tidak hanya sekali Bastian meminta hal lebih dari Anna, namun Anna selalu menolak. Dia hanya ingin memberikan kehormatannya untuk suaminya kelak. Dan artinya saat ini Anna harus memberikan hal itu kepada Abi.
“Iihhh tidaaaakk..” Ucap Anna setelah membayangkan bagaimana jadinya jika dirinya harus melakukan hal itu dengan Abi. “Ihh jijik.” Batinnya.
“Ngapain kamu pegang-pegang baju kayak gitu. Kamu mau menggoda saya?” Ucap sebuah suara dari belakang.
Anna sangat terkejut, dia menoleh ke arah sumber suara. Dan ternyata Tuan Abi adalah pemilik suara tersebut.
“Ahh, ini ahh ini Cuma…”
“kamu ngomong apa sih?”
“Tidak Tuan, saya tidak ingin menggoda Tuan. Ini hanya kado dari pernikahan dari teman saya.”
“Saya tegaskan sekali lagi sama kamu ya, saya sama sekali tidak menyukai kamu apalagi mencintai kamu. Jadi kamu buang jauh-jauh keinginan kamu untuk melakukan hal itu dengan saya.” Hardik Tuan Abi sambil mengarahkan jari telunjuknya tepat di wajah Anna.
Anna hanya bisa terdiam dengan perlakuan Abi yang seperti itu. Sebenarnya anggota badannya sudah geli ingin membela diri, ingin mencabik-cabik mulut suaminya yang sama sekali tidak memiliki tata krama. Namun hati Anna selalu menahannya.
“Kamu mau ngapaian?” Tanya Tuan Abi dengan nada membentak.
“Tidur Tuan.” Jawabku sambil menyiapkan diri untuk mengakhiri malam ini di sebuah kasur empuk.
“Siapa yang menyuruh kamu tidur di kasur saya hahh? Kamu sama sekali tidak pantas untuk tidur di sini. Tempat kamu di sana.” Ujar Tuan Abi sambil menunjukkan karpet di lantai.
Dengan mata memerah menahan air mata Anna berjalan menuju tempat yang ditunjukkan Tuan Abi. Kemudian meletakkan tubuhnya di lantai yang hanya tertutup dengan karpet. Anna berusaha menutup mata dan berharap saat esok matanya terbuka dia menyadari bahwa semua ini hanyalah mimpi.
“Ibu.. Anna kangen. Anna enggak mau di sini bu.” Gumam Anna lirih disertai dengan derai air mata yang membanjiri pipinya.
Anna melirik jam di ponselnya, pukul 2 dini hari. “Dingin banget sih”, gumam Anna sambil menyilangkan tangan di dada. Sepertinya udara di luar sangat dingin, ditambah dengan AC yang menyala membuat tempat ini seperti berada di dalam kulkas.
Dilihatnya Abi yang tertidur pulas dengan selimut tebal yang menutupi tubuhnya. “Keterlaluan”, gumam Anna sambil terus menggigil.
Ya, jangankan selimut bahkan Abi tidak memperbolehkan Anna untuk mengambil bantal. Malam ini Anna tidur hanya beralaskan karpet sebagai kasur dan bantalnya.
Anna berjalan mengitari kamar untuk mencari remot AC. “Ini remot AC dimana sih?” Gerutunya. Dia terus mencari di setiap sudut dengan menggunakan lampu senter ponselnya. Sebelum tidur Abi telah memberitahunya bahwa dia tidak sukae tidur dengan lampu menyala. Dan apapun yang dikatakan Abi adalah subuah perintah bagi Anna.
Pencariannya berhenti kala dia melihat sebuah benda putih berada di samping Abi. “Kasian banget, ngelonin kok remot AC.” Ucap Anna sambil berjalan menuju tempat tidur king size tersebut tak lupa dia mematikan senter di ponselnya, Anna tidak mau dihina lagi hanya karena Abi terbangun melihat cahaya yang dibuatnya.
Tangan Anna meraba-raba tempat tidur berharap menemukan remote itu meskipun dalam keadaan temaram. Setidaknya dia telah mengetahui titik mana yang harus dia raba untuk mendapatkan remote yang dia cari.
“Eh apa ini kok keras, tapi kenyal, ada banyak lagi. Kok remotnya jadi gini sih, apa remote AC mahal emang kayak gini bentuknya. .” Batin Anna sambil terus meraba.
“Bodoh ahh, aku ambl aaja buruan.” Batinnya kemudian sambil menarik benda keras nan kenyal tersebut.
Namun,
“Aaauu..” Abi berteriak mengerang kesakitan. Anna lalu mundur ke belakang, dia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi dengan suaminya. Saat ini Abi telah menyalakan lampu di meja sebelahnya.
“Hey, apa yang kamu lakukan sama perut saya? Saya sudah berkali-kali bilang sama kamu jangan pernah sekalipun kamu menyentuh saya.” Hardik Abi dengan wajah merah padam sambil memegang perutnya.
“Saya enggak nyentuh Tuan Abi, saya mau ambil remote AC.” Jawab Anna ketakutan. Selama hidupnya belum pernah sekalipun dia melihat wajah orang yang semarah itu.
“Remote AC kamu bilang? Kamu sudah mencubit perut saya. Kamu emang bener-bener ya cewek kampungan.”
“Jadi itu tadi perut.” Batin Anna. “Maaf Tuan saya sama sekali tidak tahu kalau itu perut Tuan, saya fikir itu tadi remote AC. Karena tadi saya lihat remote AC ada di sebelah Tuan. Saya mau ambil, tapi karena gelap saya jadi salah ambil.” Ujar Anna ketakutan dan juga kedinginan sehingga suaranya terdengar bergetar.
“Kenapa kamu mau ambil remote AC? Kedinginan?”
“Iya Tuan, saya kedinginan. Saya ingin mematikan AC.”
“Enak saja, ini kamar saya. Suka-suka saya mau kamar ini anget kek dingin kek. Dan sekarang saya ingin kamar saya dingin. Masalah buat kamu?”
“Tapi Tuan saya dingin sekali. Atau mungkin saya bisa pinjam selimutnya Tuan?”
“Enak aja. Selimut saya mahal, enggak cocok dipakai sama cewek kampungan kayak kamu. Tuh pindah pojokan sana. Anget disana.” Kata Tuan abi sambil menunjukkan tempat di pojok yang Anna juga yakin bahwa tempat itu tidak dilalui oleh udara yang keluar dari AC, sehingga lebih hangat.
“Hiiiiihhhh…” Gumam Anna sambil mengepalkan kedua tangannya seolah-olah ingin meninju kepala Abi. “Dasar jelek, gila, sombong, psikopat.” Umpatnya dalam hati.
Mau tidak mau Anna pun menuruti saran dari Abi untuk pindah ke pojok, dan mengakhiri malam ini dengan meringkuk di lantai yang hanya beralaskan karpet.
