Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4: Lencana Awan Hitam

Udara pagi di ibu kota Tianxia terasa lebih dingin daripada biasanya. Kabar mengenai pembunuhan seorang pria misterius di Gang Seribu Lentera telah menyebar ke seluruh penjuru kota. Banyak yang mengira itu hanyalah peristiwa kriminal biasa, tetapi bagi Shen Tian, kematian itu merupakan mata rantai baru dari pembunuhan Lin Guoxing.

Di ruang pemeriksaan Balairung Keadilan, tubuh pria bermantel abu-abu telah dibaringkan di atas meja kayu. Mo Yan memeriksa setiap bagian tubuhnya dengan teliti, sementara Lei Hu menjaga pintu agar tidak ada seorang pun masuk tanpa izin.

"Ada sesuatu yang aneh," gumam Mo Yan.

Shen Tian mendekat.

"Apa yang kau temukan?"

Mo Yan menunjuk luka di dada korban.

"Anak panah ini memang penyebab kematian, tetapi lihat bagian belakang lehernya."

Shen Tian memperhatikan sebuah bekas luka kecil yang hampir tidak terlihat.

"Bukan luka baru."

"Benar. Bekas ini sudah berusia beberapa tahun."

Mo Yan membuka kerah pakaian korban lebih lebar. Tepat di bawah tengkuk tampak sebuah tato kecil berbentuk awan hitam.

Lambangnya sama persis dengan lencana yang ditemukan semalam.

Lei Hu mengerutkan kening.

"Berarti ia anggota organisasi itu?"

"Belum tentu," jawab Shen Tian. "Bisa jadi anggota, bisa juga mantan anggota."

Mo Yan mengangguk.

"Kalau seseorang ingin keluar dari organisasi rahasia, biasanya mereka diberi tanda agar tidak pernah melupakan asal-usulnya."

Shen Tian menggenggam lencana perunggu itu.

"Organisasi ini lebih besar daripada yang kita duga."

---

Menjelang siang, seorang utusan istana datang membawa perintah Kaisar.

"Yang Mulia meminta Hakim Shen Tian segera menghadap."

Tak lama kemudian, Shen Tian tiba di taman belakang istana. Berbeda dengan balairung yang penuh protokol, taman itu begitu tenang. Kaisar sedang memberi makan ikan di kolam batu.

"Bagaimana perkembangan penyelidikanmu?" tanya Kaisar tanpa menoleh.

"Hamba menemukan sebuah organisasi yang diduga terlibat."

"Lambangnya?"

Shen Tian menyerahkan lencana perunggu.

Tatapan Kaisar berubah tajam sesaat melihat simbol itu.

"Sudah lama aku tidak melihat benda ini."

"Apakah Yang Mulia mengenalnya?"

Kaisar menghela napas.

"Dua puluh tahun lalu pernah ada perkumpulan rahasia bernama Bayangan Hitam."

"Mereka pemberontak?"

"Bukan."

"Lalu?"

"Mereka adalah kumpulan mata-mata yang dibentuk pada masa pemerintahan ayahku."

Shen Tian terdiam.

"Namun organisasi itu dibubarkan setelah banyak anggotanya menyalahgunakan kekuasaan."

"Apakah semua anggotanya telah ditangkap?"

"Itulah yang selama ini kami yakini."

Kaisar memandang langit.

"Jika lambang ini muncul kembali, berarti seseorang telah membangkitkan mereka."

---

Sore harinya, Han Wei kembali membawa kabar.

"Yang Mulia, kami berhasil mengetahui identitas korban."

"Siapa dia?"

"Namanya Wu Jian."

"Seorang pedagang?"

"Bukan."

Han Wei menyerahkan berkas.

"Dulu ia bekerja sebagai penjaga gudang garam milik pemerintah."

Mo Yan segera membaca catatan itu.

"Lima tahun lalu ia menghilang tanpa jejak."

"Dan kini muncul sebagai pria bermantel abu-abu," ujar Shen Tian pelan.

Semakin banyak teka-teki bermunculan.

Jika Wu Jian telah menghilang lima tahun, bagaimana ia bisa terlibat dalam kasus ini?

---

Menjelang malam, Zhao Ming yang menyamar sebagai pedagang kembali dengan informasi baru.

"Hamba mendengar desas-desus di kedai arak."

"Ceritakan."

"Beberapa orang menyebut nama Wu Jian pernah terlihat memasuki Gudang Timur tiga hari sebelum kematiannya."

Lei Hu bertanya, "Gudang Timur milik siapa?"

"Secara resmi milik pemerintah."

"Tetapi?"

"Sudah lama kosong."

Shen Tian tersenyum tipis.

"Kalau begitu, besok kita berkunjung."

---

Keesokan dini hari, mereka berlima berangkat tanpa membawa banyak pengawal.

Gudang Timur berdiri di pinggir sungai. Bangunannya tua dan sebagian atapnya telah runtuh.

Pintu depannya digembok.

Lei Hu mengangkat pedangnya.

"Perlu saya hancurkan?"

"Tidak."

Shen Tian berjalan mengitari bangunan.

Di sisi belakang, ia menemukan bekas roda gerobak yang masih baru.

"Gudang kosong tidak mungkin memiliki jejak seperti ini."

Han Wei berjongkok memeriksa tanah.

"Benar. Jejaknya belum terkena hujan."

Artinya, dalam satu atau dua hari terakhir masih ada aktivitas di tempat itu.

Zhao Ming menemukan jendela kecil yang tidak terkunci.

Mereka masuk dengan hati-hati.

Bagian dalam gudang dipenuhi peti-peti kayu.

Sebagian kosong.

Sebagian lagi berisi kain kasar.

Namun saat Mo Yan mengetuk salah satu peti, terdengar suara berbeda.

"Peti ini berlubang."

Lei Hu membuka tutupnya.

Di dalamnya bukan kain, melainkan puluhan lencana awan hitam yang tersusun rapi.

Semua orang saling berpandangan.

"Jadi tempat ini..." bisik Han Wei.

"...adalah gudang perlengkapan mereka," sambung Mo Yan.

Belum sempat mereka memeriksa lebih jauh, terdengar suara siulan panjang dari luar.

"Itu tanda bahaya!" seru Zhao Ming.

Puluhan pria berpakaian hitam bermunculan dari balik gudang sambil membawa pedang.

"Serahkan lencana itu!" teriak salah seorang.

Lei Hu maju selangkah.

"Yang Mulia, mundurlah."

Shen Tian menggeleng.

"Tidak. Kita keluar bersama."

Tanpa aba-aba, para penyerang langsung menyerbu.

Lei Hu menangkis pedang pertama dengan cepat. Han Wei menggunakan tongkat pendek untuk menjatuhkan lawan tanpa membunuhnya, sementara Zhao Ming menarik Shen Tian menjauh dari kepungan.

Mo Yan justru memperhatikan gerakan para penyerang.

"Mereka bukan prajurit biasa!"

"Apa maksudmu?" tanya Shen Tian.

"Lihat langkah kaki mereka. Semua bergerak dengan pola yang sama. Mereka pasti pernah berlatih di tempat yang sama."

Pertarungan berlangsung singkat. Saat mendengar suara peluit dari kejauhan, seluruh penyerang tiba-tiba mundur serempak.

Sebelum menghilang, pemimpin mereka melemparkan sebuah gulungan bambu ke arah Shen Tian.

"Ini hadiah dari pemimpin kami!"

Sesaat kemudian mereka lenyap di balik kabut sungai.

Lei Hu hendak mengejar, tetapi Shen Tian menahannya.

"Jangan."

"Mereka bisa kabur!"

"Itulah yang mereka inginkan."

Shen Tian membuka gulungan bambu itu.

Di dalamnya hanya ada satu kalimat.

"Jika ingin mengetahui siapa pembunuh Lin Guoxing, datanglah seorang diri ke Kuil Seribu Lonceng saat bulan purnama."

Tak ada nama.

Tak ada cap.

Hanya simbol awan hitam di bagian bawah.

Shen Tian menggulung kembali surat itu.

Tatapannya tenang, tetapi dalam hatinya ia tahu bahwa lawannya kini tidak lagi bersembunyi.

Mereka baru saja mengirim undangan.

Undangan menuju permainan yang jauh lebih berbahaya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel