Bab 3: Saksi yang Menghilang
Hujan yang mengguyur ibu kota sejak sore akhirnya reda menjelang tengah malam. Halaman Paviliun Teratai masih dipenuhi genangan air, sementara para prajurit berjaga dengan obor di tangan. Tidak seorang pun diizinkan keluar atau masuk tanpa seizin Shen Tian.
Hilangnya Mei Lan, pelayan yang terakhir melihat Lin Guoxing hidup, membuat arah penyelidikan berubah. Jika sebelumnya semua orang mengira pembunuhan itu terjadi karena perselisihan dagang, kini jelas ada seseorang yang berusaha menghapus jejak.
Shen Tian berdiri di depan pintu utama sambil memandangi secarik kain bertuliskan tiga kata.
Jangan Mencari.
Tulisan itu dibuat dengan tinta berkualitas tinggi. Goresannya tegas, rapi, dan tidak menunjukkan kepanikan.
"Orang yang menulis ini cukup terpelajar," ujar Mo Yan setelah mengamatinya.
"Bukan hanya itu," jawab Shen Tian. "Ia sengaja meninggalkan pesan agar kita percaya Mei Lan pergi atas kemauannya sendiri."
Lei Hu mengerutkan kening.
"Apakah itu tidak mungkin?"
Shen Tian menggeleng.
"Seorang pelayan yang ketakutan tidak akan sempat menulis pesan setenang ini. Apalagi ia tahu dirinya adalah saksi penting."
Han Wei datang tergesa-gesa dari halaman belakang.
"Yang Mulia, kami menemukan jejak kaki menuju gudang, tetapi jejak itu menghilang di jalan berbatu."
"Apakah ada bekas roda kereta?"
"Tidak ada."
"Berarti pelakunya datang dengan berjalan kaki."
Mo Yan menambahkan, "Atau memang mengenal setiap sudut rumah ini."
Kalimat itu membuat semua orang terdiam.
Jika pembunuh mengetahui keberadaan lorong rahasia, berarti ia bukan orang asing.
---
Keesokan paginya, Shen Tian memerintahkan seluruh penghuni rumah berkumpul di aula.
Tatapannya menyapu wajah mereka satu per satu.
"Aku akan mengajukan pertanyaan yang sama kepada kalian semua."
Tak seorang pun berani mengangkat kepala.
"Siapa yang mengetahui keberadaan lorong rahasia?"
Ruangan menjadi sunyi.
Beberapa pelayan saling berpandangan, seolah takut menjadi orang pertama yang menjawab.
Akhirnya kepala pelayan yang telah bekerja lebih dari dua puluh tahun melangkah maju.
"Hamba mengetahuinya, Yang Mulia."
"Siapa lagi?"
"Majikan... dan tukang bangunan yang membuat rumah ini. Selain itu, hamba tidak tahu."
"Apakah lorong itu sering digunakan?"
"Tidak pernah. Bahkan sudah bertahun-tahun tidak dibuka."
Mo Yan melirik lorong yang semalam mereka temukan.
"Kalau begitu, mengapa engsel pintunya masih begitu halus?"
Kepala pelayan tampak bingung.
"Hamba... tidak mengerti."
Shen Tian tersenyum tipis.
"Itulah yang sedang kami cari."
---
Setelah memeriksa seluruh rumah, Zhao Ming menemukan sesuatu yang terlewatkan.
Di bawah tempat tidur Mei Lan terdapat sebuah kotak kayu kecil.
Isinya hanya pakaian sederhana, beberapa keping uang tembaga, dan sebuah jepit rambut berbentuk bunga plum.
Namun saat Mo Yan mengangkat kotak itu, terdengar suara benda bergeser dari bagian bawah.
"Ada lapisan ganda."
Ia membuka papan tipis tersebut.
Di dalamnya tersimpan secarik kertas yang sudah mulai menguning.
Shen Tian membacanya perlahan.
"Jika sesuatu terjadi padaku, carilah lelaki bermantel abu-abu di Jembatan Bulan."
Tidak ada nama pengirim.
Tidak ada tanggal.
Hanya satu kalimat pendek.
Lei Hu mengepalkan tangan.
"Apakah ini ditulis Mei Lan?"
"Belum tentu," jawab Shen Tian. "Tetapi surat ini disembunyikan dengan sangat rapi. Artinya pemiliknya takut ditemukan."
Mo Yan mengangguk.
"Jembatan Bulan hanya ramai saat malam."
"Kalau begitu, kita ke sana malam ini."
---
Menjelang senja, Shen Tian tidak membawa banyak pengawal.
Ia hanya ditemani Mo Yan, Lei Hu, dan Zhao Ming yang menyamar sebagai pedagang.
Jembatan Bulan terletak di atas sungai yang membelah ibu kota. Pada malam hari, tempat itu dipenuhi penjual makanan, pemain musik, dan para pelancong.
Mereka berpencar agar tidak menarik perhatian.
Shen Tian berjalan santai sambil mengamati setiap orang yang mengenakan mantel abu-abu.
Satu jam berlalu.
Tidak ada yang mencurigakan.
Tiba-tiba Zhao Ming memberi isyarat halus.
Seorang pria bertubuh sedang dengan mantel abu-abu berdiri di dekat warung mi. Ia terus melihat ke segala arah, seolah sedang menunggu seseorang.
"Itukah orangnya?" bisik Lei Hu.
"Jangan bertindak dulu," jawab Shen Tian.
Beberapa saat kemudian, pria itu menerima sebuah kantong kain dari seorang pengemis tua.
Gerakannya sangat cepat.
Pengemis itu langsung pergi tanpa menoleh.
"Ikuti mereka," perintah Shen Tian.
Zhao Ming membuntuti pria bermantel abu-abu.
Lei Hu mengikuti pengemis.
Sementara Shen Tian dan Mo Yan tetap berada di jembatan agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Namun belum sampai seratus langkah, terdengar teriakan dari arah gang sempit.
"Pembunuhan!"
Shen Tian segera berlari.
Orang-orang berhamburan menjauh.
Di ujung gang, pria bermantel abu-abu tergeletak bersimbah darah.
Dadanya tertancap anak panah pendek.
Ia masih bernapas, tetapi sangat lemah.
Shen Tian berlutut di sampingnya.
"Siapa yang melakukan ini?"
Pria itu berusaha mengangkat tangan.
Bibirnya bergetar.
"Ba..."
"Ba apa?"
"Ba...ya..."
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, kepalanya terkulai.
Ia mengembuskan napas terakhir.
Lei Hu datang sambil menggertakkan gigi.
"Pengemis itu lolos."
Mo Yan memeriksa luka korban.
"Anak panahnya beracun."
"Apakah kau mengenali racunnya?"
"Belum. Tetapi racun ini bekerja sangat cepat."
Shen Tian menutup mata korban dengan tangannya.
"Pembunuh ingin membungkamnya."
---
Saat tubuh korban diperiksa, Han Wei yang baru tiba menemukan sebuah benda tersembunyi di balik ikat pinggangnya.
Sebuah lencana perunggu berbentuk awan hitam.
Tidak ada tulisan apa pun.
Hanya simbol awan yang melingkar seperti pusaran.
Mo Yan memandang lencana itu dengan wajah serius.
"Aku pernah melihat lambang seperti ini."
"Di mana?"
"Dalam catatan lama akademi."
"Artinya?"
"Sebuah organisasi rahasia yang pernah dibubarkan puluhan tahun lalu."
Shen Tian menggenggam lencana tersebut.
Entah mengapa, firasatnya mengatakan bahwa pembunuhan Lin Guoxing bukan sekadar perselisihan dagang.
Ada tangan yang jauh lebih besar sedang bergerak di balik layar.
Dan tangan itu tidak segan membunuh siapa pun yang mengetahui rahasianya.
Malam semakin larut.
Di atap sebuah bangunan yang menghadap gang sempit, sosok berjubah hitam kembali muncul.
Ia melihat Shen Tian dari kejauhan, lalu berkata pelan,
"Kalau begitu... mari kita lihat seberapa jauh kau mampu melangkah, Hakim Langit."
Bayangannya lenyap ditelan kegelapan sebelum seorang prajurit sempat mendongak ke arah atap.
