Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5: Undangan dari Bayangan Hitam

Balairung Keadilan diselimuti keheningan. Gulungan bambu bertuliskan undangan dari Bayangan Hitam tergeletak di atas meja kerja Shen Tian. Cahaya matahari pagi menerobos jendela, tetapi tidak mampu mengusir suasana tegang yang memenuhi ruangan.

Lei Hu memecah kesunyian.

"Yang Mulia, jelas ini jebakan."

"Aku tahu."

"Kalau begitu, jangan datang."

Mo Yan menatap gulungan itu sambil mengusap dagunya.

"Justru karena ini jebakan, mereka yakin kita akan menolak."

Shen Tian mengangguk pelan.

"Dan karena itulah kita harus datang."

Semua orang memandangnya.

"Tetapi bukan dengan cara yang mereka harapkan."

---

Hari itu, Shen Tian memerintahkan seluruh anggota tim menyelidiki Kuil Seribu Lonceng secara diam-diam.

Han Wei menyamar sebagai pemotong kayu dan mengamati jalan menuju kuil.

Zhao Ming berpura-pura menjadi pedagang dupa.

Xu Qian memeriksa bukit di belakang kuil, sedangkan Lei Hu mengawasi jalur utama menuju gerbang.

Sementara itu, Shen Tian dan Mo Yan mengunjungi perpustakaan istana.

Mereka mencari catatan lama mengenai Bayangan Hitam.

Seorang pustakawan tua membawa tiga gulungan bambu yang dipenuhi debu.

"Sudah bertahun-tahun tidak ada yang meminta dokumen ini."

Mo Yan membuka gulungan pertama.

Isinya hanya daftar nama anggota yang telah dihukum mati dua puluh tahun lalu.

Namun gulungan kedua berisi sesuatu yang jauh lebih menarik.

"Shen Tian... lihat ini."

Di bagian bawah terdapat sebuah kalimat.

"Pemimpin Bayangan Hitam tidak pernah berhasil ditangkap."

Ruangan seketika terasa sunyi.

"Berarti organisasi itu tidak pernah benar-benar hancur," gumam Shen Tian.

Pustakawan tua mengangguk perlahan.

"Orang-orang percaya pemimpinnya telah mati."

"Tetapi tidak ada bukti."

Shen Tian menutup gulungan itu.

Kini semuanya mulai masuk akal.

---

Menjelang malam, Han Wei kembali lebih dahulu.

"Yang Mulia, kuil tampak sepi."

"Apakah ada penjaga?"

"Hanya dua biksu."

"Tidak ada orang mencurigakan?"

Han Wei menggeleng.

"Itulah yang aneh."

Mo Yan tersenyum tipis.

"Kalau terlalu sepi, berarti seseorang sedang menunggu."

---

Bulan purnama akhirnya muncul di langit.

Sesuai isi surat, Shen Tian datang seorang diri menuju Kuil Seribu Lonceng.

Setidaknya begitulah yang terlihat.

Padahal Han Wei, Zhao Ming, Xu Qian, Lei Hu, dan Mo Yan telah bersembunyi di beberapa titik tanpa diketahui siapa pun.

Kuil itu berdiri di puncak bukit.

Lonceng-lonceng tembaga bergoyang perlahan tertiup angin malam, menghasilkan dentingan yang membuat suasana terasa semakin sunyi.

Di pelataran kuil hanya ada seorang biksu tua sedang menyapu daun.

"Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Shen Tian.

Biksu itu tersenyum ramah.

"Silakan."

"Apakah malam ini ada tamu lain?"

"Selain Anda... tidak ada."

Shen Tian mengangguk.

Tatapannya menyapu seluruh halaman.

Tidak ada tanda-tanda penyergapan.

Namun justru itulah yang membuatnya semakin waspada.

Ia melangkah memasuki aula utama.

Di tengah ruangan telah tersedia sebuah meja kecil.

Di atasnya terdapat papan catur.

Persis seperti yang ditemukannya di rumah Lin Guoxing.

Di samping papan itu terdapat secangkir teh yang masih hangat.

Suara seseorang tiba-tiba terdengar.

"Duduklah, Hakim Shen."

Suara itu datang dari balik tirai.

Shen Tian tidak melihat siapa pun.

"Apakah ini cara Bayangan Hitam menyambut tamu?"

"Tamu yang cerdas pantas dihormati."

Shen Tian duduk di depan papan catur.

"Kalau begitu, keluarlah."

"Tidak perlu."

"Takut?"

Terdengar tawa pelan.

"Bukan takut."

"Hanya belum waktunya."

Sebuah bidak hitam bergerak sendiri.

Shen Tian segera menyadari ada benang tipis yang hampir tidak terlihat.

Lawan sengaja memainkan bidak dari balik tirai.

"Mainlah satu pertandingan denganku," kata suara itu.

"Kalau aku menang?"

"Aku akan menjawab satu pertanyaanmu."

"Kalau aku kalah?"

"Kau pulang tanpa jawaban."

Permainan pun dimulai.

Shen Tian memainkan bidak putih.

Lawan menggunakan bidak hitam.

Setiap langkah berlangsung cepat.

Di balik tirai, orang misterius itu ternyata memiliki kemampuan bermain catur yang luar biasa.

Namun Shen Tian tidak hanya memperhatikan papan.

Ia juga mendengarkan suara napas, arah benang bergerak, hingga gema suara di ruangan.

Mo Yan pernah berkata bahwa seorang penyelidik harus menggunakan semua indranya.

Beberapa puluh langkah berlalu.

Tiba-tiba Shen Tian menghentikan tangannya.

"Kau kalah."

Suara di balik tirai tertawa.

"Belum."

"Bukan di papan catur."

"Lalu?"

"Dalam penyamaran."

Ruangan mendadak hening.

Shen Tian berdiri perlahan.

"Sejak awal kau tidak pernah berada di balik tirai."

Benang yang menggerakkan bidak ternyata terhubung ke sebuah roda kecil.

Tidak ada seorang pun di belakangnya.

Suara itu berasal dari tabung bambu yang dipasang di langit-langit.

Saat bersamaan, terdengar bunyi tepuk tangan dari arah pintu utama.

"Hebat."

Seorang pria berjubah hitam berdiri di sana sambil mengenakan topeng perak.

Wajahnya tidak terlihat.

Hanya sepasang mata tajam yang memandang Shen Tian.

"Akhirnya kita bertemu."

"Kaulah yang mengirim surat itu?"

"Benar."

"Apakah kau pembunuh Lin Guoxing?"

Pria itu menggeleng.

"Tidak."

"Siapa?"

"Aku tidak akan memberitahumu."

"Katamu akan menjawab satu pertanyaanku."

"Aku sudah menjawab."

Shen Tian tersenyum tipis.

"Kau memang licik."

Pria bertopeng itu tertawa.

"Tetapi aku membawa hadiah."

Ia melemparkan sebuah kantong kain.

Di dalamnya terdapat cincin giok milik Lin Guoxing yang sebelumnya tidak ditemukan di tempat kejadian.

"Carilah pemilik cincin itu sebelum terlambat."

"Siapa pemiliknya?"

Pria itu mundur beberapa langkah.

"Orang yang paling kau percayai... bisa saja menjadi musuhmu."

Tiba-tiba puluhan anak panah meluncur dari atap kuil.

Lei Hu dan yang lainnya segera keluar dari persembunyian.

"Yang Mulia!"

Namun pria bertopeng itu telah menghilang dalam kepulan asap putih.

Han Wei mengejar hingga ke hutan belakang kuil, tetapi hanya menemukan jejak kaki yang berakhir di tebing.

Tidak ada siapa-siapa.

Shen Tian menatap cincin giok di tangannya.

Di bagian dalam cincin terdapat ukiran kecil yang sebelumnya tidak terlihat.

Seekor burung phoenix mengapit satu huruf.

Huruf itu berbunyi...

"Gao."

Nama yang sama dengan pejabat pajak, Gao Ren.

Apakah ini hanya jebakan baru, atau justru petunjuk yang selama ini mereka cari?

Shen Tian menggenggam cincin itu erat.

Kasus pembunuhan Lin Guoxing kini memasuki babak yang jauh lebih berbahaya.
Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel