Bab 2 : Petunjuk di Balik Debu
Hujan turun perlahan membasahi halaman Paviliun Teratai. Para prajurit yang berjaga segera menutupi tubuh jenazah Lin Guoxing dengan kain putih, sementara rakyat yang sejak tadi berkerumun mulai berbisik-bisik. Berita tentang pembunuhan saudagar terkaya di ibu kota telah menyebar lebih cepat daripada angin.
Di dalam kamar, Shen Tian masih berdiri di dekat jendela timur. Jemarinya mengusap bingkai kayu yang dipenuhi debu, lalu memperhatikan bekas bersih sepanjang beberapa jari.
"Mo Yan."
Penasihatnya segera mendekat.
"Apa pendapatmu tentang bekas ini?"
Mo Yan mengamati dengan saksama. Ia menyentuh bagian yang berdebu, kemudian membandingkannya dengan bagian yang bersih.
"Bekas ini baru. Debunya belum sempat kembali menempel."
"Tepat."
Lei Hu yang berdiri di belakang bertanya, "Apakah pembunuh keluar melalui jendela?"
Shen Tian menggeleng.
"Tidak mungkin."
"Kenapa?"
"Karena pengunci jendela masih utuh dari dalam. Jika seseorang keluar melalui sini, penguncinya tidak mungkin kembali menutup dengan sendirinya."
Mo Yan mengangguk pelan.
"Jadi bekas ini bukan karena jendela dibuka?"
"Bisa jadi, tetapi kita belum boleh mengambil kesimpulan."
Shen Tian berlutut di dekat meja tempat papan catur berada. Susunan bidaknya masih sama seperti saat pertama kali ia datang. Anehnya, permainan itu belum selesai.
"Apakah Tuan Lin gemar bermain catur?" tanyanya kepada pelayan Liu Sheng.
"Benar, Yang Mulia. Hampir setiap malam beliau bermain."
"Dengan siapa?"
Pelayan itu menggeleng.
"Sering kali beliau bermain sendiri."
"Bermain sendiri?"
"Beliau mengatakan itu membantunya berpikir."
Shen Tian mengamati papan itu lebih lama. Bidak hitam tampak unggul, sedangkan bidak putih berada di posisi sulit.
"Tidak biasa," gumamnya.
Mo Yan menatap papan yang sama.
"Apa yang aneh?"
"Orang yang bermain sendiri biasanya memahami kedua sisi permainan. Tetapi di sini, langkah terakhir terlalu ceroboh."
Mo Yan menyipitkan mata.
"Berarti..."
"Bisa jadi ada orang lain yang memindahkan bidak setelah kematian korban."
Keheningan kembali menyelimuti ruangan.
Shen Tian berdiri.
"Panggil semua orang yang berada di rumah ini tadi malam."
---
Tak lama kemudian, delapan orang berkumpul di aula utama.
Mereka terdiri atas dua pelayan pria, tiga pelayan wanita, juru masak, penjaga gerbang, dan kepala pelayan.
Shen Tian mempersilakan mereka duduk.
"Aku hanya menginginkan satu hal."
Semua menunduk.
"Kebenaran."
Ia memandang satu per satu wajah mereka.
"Siapa yang terakhir melihat Lin Guoxing hidup?"
Seorang pelayan wanita mengangkat tangan dengan ragu.
"Hamba..."
"Namamu?"
"Mei Lan."
"Ceritakan."
"Tadi malam sekitar jam delapan, hamba mengantarkan teh."
"Apa beliau sendirian?"
"Ya."
"Apakah ada yang aneh?"
Mei Lan berpikir sejenak.
"Beliau tampak sedang menunggu seseorang."
"Menunggu?"
"Beliau terus melihat ke arah pintu."
Shen Tian mencatat dalam ingatannya.
"Lalu?"
"Tidak lama kemudian hamba pergi."
Giliran penjaga gerbang dipanggil.
"Apakah ada tamu datang semalam?"
"Tidak ada, Yang Mulia."
"Yakin?"
"Saya berjaga sampai pergantian malam."
"Tak seorang pun masuk?"
"Tak seorang pun."
Jawaban itu justru membuat Shen Tian semakin berpikir.
Jika tidak ada tamu, bagaimana korban bisa tampak menunggu seseorang?
---
Sementara itu, Mo Yan memeriksa dapur.
Ia membuka wadah teh, kendi air, hingga tempat penyimpanan rempah-rempah.
Juru masak memperhatikannya dengan bingung.
"Yang Mulia mencari apa?"
"Jawaban."
Beberapa saat kemudian Mo Yan menemukan sesuatu.
Ia mengambil secarik kertas kecil yang terselip di bawah meja.
Tulisan di atasnya hampir luntur karena terkena air.
Ia segera membawanya kepada Shen Tian.
"Kulihat ini jatuh di dapur."
Shen Tian membaca tulisan yang masih tersisa.
"...malam ini..."
"...jangan sampai diketahui..."
Hanya itu yang dapat terbaca.
"Surat?"
Mo Yan mengangguk.
"Sepertinya disobek."
"Jangan buang. Simpan."
---
Menjelang sore, Gao Ren, pengawas pajak yang sebelumnya membantah tuduhan, kembali dipanggil.
Wajahnya terlihat kesal.
"Aku sudah mengatakan bahwa aku tidak membunuhnya."
Shen Tian duduk tenang.
"Aku hanya ingin mengetahui hubunganmu dengan korban."
"Kami berselisih soal pajak perdagangan."
"Seberapa besar?"
"Seratus tael perak."
"Apakah ia mengancammu?"
"Tidak."
"Apakah kau mengancamnya?"
Gao Ren terdiam sesaat.
"Hanya... ucapan saat marah."
"Apa isi ucapanmu?"
"Aku berkata suatu hari nanti ia akan menyesal."
Ruangan menjadi sunyi.
Mo Yan mencatat setiap kalimat.
Shen Tian tetap memasang wajah datar.
"Ucapanmu cukup berbahaya."
"Itu hanya emosi."
"Emosi sering menjadi awal kejahatan."
Gao Ren mengepalkan tangan.
"Tetapi bukan berarti aku pembunuh!"
Shen Tian mengangguk.
"Aku belum mengatakan kau pembunuh."
Untuk kedua kalinya Gao Ren merasa terjebak oleh kata-katanya sendiri.
---
Malam mulai turun.
Sebagian besar prajurit telah beristirahat, tetapi Shen Tian masih berada di kamar korban.
Ia meminta semua lampu dimatikan.
Ruangan menjadi gelap gulita.
Hanya cahaya bulan yang masuk melalui celah jendela.
Shen Tian memperhatikan arah datangnya sinar.
Kemudian ia berjalan beberapa langkah.
"Ternyata begitu..."
Mo Yan yang mengikuti dari belakang bertanya pelan.
"Apa yang kau temukan?"
"Jika seseorang berdiri di sini pada malam hari, bayangannya akan terlihat jelas dari halaman."
"Tetapi semalam tidak ada yang melihat."
"Itulah anehnya."
Shen Tian memandang langit.
"Artinya..."
"Pembunuh tidak berdiri di tempat yang kita duga."
Ia kembali melihat papan catur.
Kemudian pandangannya beralih ke rak buku di sudut ruangan.
Rak itu dipenuhi kitab-kitab dagang.
Namun satu buku tampak sedikit menonjol dibanding yang lain.
Shen Tian menariknya perlahan.
Klik.
Suara kecil terdengar dari balik dinding.
Lei Hu langsung mencabut pedangnya.
"Dinding bergerak!"
Sebuah celah sempit perlahan terbuka.
Semua orang menahan napas.
Di balik dinding ternyata terdapat lorong rahasia yang cukup untuk dilewati satu orang.
Udara lembap mengalir keluar bersama aroma tanah.
"Jadi benar..." bisik Mo Yan.
Lei Hu memegang obor.
"Aku akan masuk lebih dulu."
"Tidak."
Shen Tian mengangkat tangan.
"Pembunuh mungkin sudah pergi."
"Lalu?"
"Tetapi lorong ini bisa menyimpan jawaban."
Mereka bertiga memasuki lorong dengan hati-hati.
Lorong itu tidak panjang, hanya sekitar tiga puluh langkah.
Di ujungnya terdapat pintu kayu kecil yang mengarah ke gudang kosong di belakang rumah.
Gudang itu tidak dijaga karena dianggap hanya tempat penyimpanan barang rusak.
Han Wei segera memeriksa tanah.
"Ada jejak kaki."
"Berapa orang?"
"Dua."
"Dua?"
"Ya. Satu masuk ke rumah."
"Satu lagi keluar."
Mo Yan berjongkok.
"Jejak ini masih baru."
Shen Tian memperhatikan bekas telapak kaki yang samar di tanah basah.
"Aneh..."
"Apa lagi?" tanya Lei Hu.
"Orang yang keluar membawa beban."
"Bagaimana bisa tahu?"
"Lihat kedalaman jejak kaki kirinya."
Han Wei mengangguk kagum.
"Benar."
Shen Tian kembali memandang lorong.
"Namun satu pertanyaan masih belum terjawab."
"Pertanyaan apa?"
"Jika ada lorong rahasia..."
"Mengapa pembunuh masih mengunci pintu dari dalam?"
Tak seorang pun mampu menjawab.
Di saat itulah Xu Qian berlari dari arah halaman depan.
"Nona Mei Lan menghilang!"
Semua orang tersentak.
"Sejak kapan?"
"Baru beberapa saat."
"Ada pesan yang ditinggalkan?"
Xu Qian menyerahkan secarik kain.
Di atasnya hanya ada tiga karakter yang ditulis dengan tinta hitam.
Jangan Mencari.
Shen Tian menatap tulisan itu cukup lama.
Lalu ia menggulung kain tersebut dan berkata dengan suara tenang,
"Mulai malam ini, kasus ini bukan lagi sekadar pembunuhan."
"Ini adalah permainan antara pembunuh dan kita."
Di kejauhan, di atas atap rumah yang gelap, sosok berjubah hitam kembali muncul. Ia melihat cahaya obor yang bergerak di halaman Paviliun Teratai, lalu tersenyum tipis.
"Shen Tian... ternyata kau memang layak menjadi lawanku."
Sesaat kemudian, sosok itu melompat menghilang ke dalam pekatnya malam, meninggalkan pertanyaan yang semakin banyak dan jawaban yang masih tersembunyi.
