Bab 1: Genderang Keadilan
Fajar baru saja menyingsing ketika kabut tipis masih menyelimuti ibu kota Kekaisaran Tianxia. Cahaya matahari yang lembut memantul di atap-atap istana berlapis genting hijau, sementara lonceng-lonceng kuil di kejauhan berdentang mengiringi dimulainya hari. Jalan utama yang menuju Balairung Agung telah dipenuhi para pejabat berpakaian resmi. Sebagian berbincang pelan, sebagian lagi hanya menatap lurus, menyembunyikan pikiran mereka masing-masing.
Namun pagi itu, suasana terasa berbeda.
Di depan gerbang istana, rakyat berkumpul lebih banyak dari biasanya. Mereka berbisik-bisik, menyebut satu nama yang belum pernah benar-benar mereka kenal.
"Hakim baru..."
"Kudengar usianya bahkan belum tiga puluh tahun."
"Apa mungkin orang semuda itu mampu menghadapi para pejabat licik?"
Bisik-bisik itu terus bergema hingga sebuah kereta sederhana berhenti di depan gerbang.
Tidak ada ukiran emas. Tidak ada lambang kebesaran keluarga bangsawan. Kereta itu tampak begitu biasa, seolah hanya milik seorang cendekiawan.
Pintu kereta terbuka.
Seorang pria berusia sekitar dua puluh tujuh tahun turun dengan tenang. Jubah hakim berwarna biru tua menutupi tubuhnya. Sabuk giok sederhana melingkari pinggangnya. Wajahnya tampan tanpa kesan angkuh, sementara sorot matanya begitu tenang hingga sulit ditebak apa yang sedang dipikirkannya.
Dialah Shen Tian, hakim termuda yang baru diangkat langsung oleh Kaisar.
Ia menatap gerbang istana beberapa saat sebelum melangkah masuk.
"Mulai hari ini," gumamnya lirih, "aku memikul hukum negeri ini."
Di belakangnya berjalan seorang pria kurus membawa gulungan bambu dan sebuah kotak kayu.
"Aku sudah mengatakan berkali-kali," katanya sambil tersenyum tipis, "jangan memasang wajah terlalu serius. Rakyat akan mengira kau tidak pernah tersenyum."
Shen Tian meliriknya sekilas.
"Jika hukum dijalankan dengan benar, rakyatlah yang akan tersenyum."
Pria itu terkekeh.
Jawaban seperti itu sudah biasa ia dengar.
Namanya Mo Yan, sahabat sekaligus penasihat Shen Tian sejak mereka belajar di akademi kekaisaran. Di balik sikap santainya, ia memiliki kemampuan mengamati yang luar biasa. Banyak orang menyebutnya mampu menemukan kebohongan hanya dari cara seseorang menarik napas.
Tak lama kemudian, langkah kaki berat terdengar dari belakang.
Seorang pria bertubuh tegap dengan pedang panjang di pinggang memberi hormat.
"Yang Mulia Hakim."
Shen Tian mengangguk.
"Lei Hu."
"Aku telah memilih empat pengawal terbaik sesuai perintah."
Empat orang berpakaian hitam segera maju.
Han Wei, ahli pelacakan.
Guo Lin, pemanah terbaik.
Zhao Ming, penyamar ulung.
Xu Qian, mantan penyelidik militer.
Shen Tian memandang mereka satu per satu.
"Mulai hari ini kita bekerja sebagai satu tim."
Keempatnya serempak mengepalkan tangan.
"Demi keadilan."
---
Sidang pertama berlangsung di Balairung Keadilan.
Ruangan itu dipenuhi para pejabat daerah yang ingin melihat seperti apa hakim baru yang begitu dipuji Kaisar.
Di atas kursi utama duduk Kaisar dengan wajah tenang.
Tatapannya menyapu seluruh ruangan sebelum berhenti pada Shen Tian.
"Shen Tian."
"Hamba hadir."
"Kau mengetahui alasan aku memilihmu?"
"Hamba tidak berani menebak."
Kaisar tersenyum tipis.
"Karena kau tidak memiliki keluarga bangsawan."
Ruangan mendadak sunyi.
Kalimat itu terasa tajam.
"Banyak hakim sebelum dirimu gagal karena mereka berutang budi kepada keluarga besar. Mereka takut menghukum orang yang berkuasa."
Beliau berdiri perlahan.
"Aku membutuhkan seseorang yang hanya tunduk kepada hukum."
Shen Tian membungkuk.
"Hamba akan menjalankan hukum tanpa memandang kedudukan."
"Itulah jawaban yang ingin kudengar."
Namun belum sempat sidang ditutup, seorang prajurit berlari masuk dengan napas memburu.
"Laporan darurat!"
Seluruh pejabat menoleh.
"Apa yang terjadi?"
"Terjadi pembunuhan di Paviliun Teratai!"
Ruangan langsung gaduh.
Paviliun Teratai merupakan tempat tinggal para pedagang kaya yang memiliki hubungan dekat dengan istana.
Korban bernama Lin Guoxing, saudagar sutra terbesar di ibu kota.
Prajurit itu melanjutkan.
"Semua pintu terkunci dari dalam. Tidak ada seorang pun yang melihat pelakunya masuk ataupun keluar."
Beberapa pejabat saling berpandangan.
"Ruang terkunci?"
"Mustahil..."
Kaisar memandang Shen Tian.
"Inilah tugas pertamamu."
Shen Tian membungkuk hormat.
"Hamba menerima perintah."
---
Perjalanan menuju Paviliun Teratai memakan waktu hampir setengah jam.
Semakin dekat ke lokasi, kerumunan warga semakin banyak.
Rumah megah milik Lin Guoxing dijaga puluhan prajurit.
Tak seorang pun diizinkan masuk.
Seorang pejabat daerah segera menghampiri.
"Yang Mulia Hakim."
"Kapan jasad ditemukan?"
"Sekitar satu jam lalu."
"Siapa yang pertama menemukannya?"
"Pelayan pribadi."
Shen Tian mengangguk.
"Bawa aku ke tempat kejadian."
Pintu kamar dibuka perlahan.
Bau darah langsung memenuhi udara.
Di tengah ruangan, seorang pria setengah baya tergeletak di lantai.
Dadanya tertusuk sebilah belati pendek.
Darah telah mengering.
Yang aneh, seluruh jendela tertutup rapat dari dalam.
Pintu juga dikunci menggunakan palang kayu.
Mo Yan berjongkok di samping jenazah.
"Hmm..."
Ia mengamati luka tanpa menyentuh apa pun.
"Bagaimana?"
tanya Shen Tian.
"Luka tusukan hanya satu."
"Langsung mengenai jantung?"
Mo Yan mengangguk.
"Korban meninggal hampir seketika."
Lei Hu mengelilingi ruangan.
"Tidak ada jejak kaki."
Han Wei memeriksa lantai.
"Tidak ada bekas lumpur."
Xu Qian melihat langit-langit.
"Tidak ada lubang."
Sementara Zhao Ming memeriksa jendela.
"Semuanya terkunci."
Keheningan memenuhi ruangan.
Seolah pembunuh menghilang begitu saja.
Pelayan yang menemukan jasad dipanggil masuk.
Ia gemetar hebat.
"Namamu?"
"Liu... Liu Sheng."
"Kapan terakhir kali melihat majikanmu hidup?"
"Tadi malam."
"Apakah ada tamu?"
"Tidak ada."
"Apakah beliau memiliki musuh?"
Pelayan itu ragu beberapa saat.
"Majikan sering bertengkar dengan seorang pejabat pajak..."
Belum selesai ia berbicara, seorang pria berpakaian mewah langsung berseru.
"Itu fitnah!"
Semua mata tertuju kepadanya.
Pria itu adalah Pengawas Pajak Kota, Gao Ren.
Wajahnya memerah.
"Aku memang pernah berselisih dengannya, tetapi bukan berarti aku pembunuh!"
Shen Tian menatapnya tanpa berkedip.
"Tidak ada yang menuduhmu."
Ucapan singkat itu membuat Gao Ren terdiam.
Mo Yan berbisik pelan.
"Orang yang tidak bersalah biasanya akan menyangkal tuduhan setelah dituduh."
"Sedangkan dia menyangkal sebelum dituduh."
Shen Tian hanya mengangguk kecil.
Ia belum mengambil kesimpulan.
Di dekat meja, sebuah cangkir teh masih setengah penuh.
Asapnya telah lama hilang.
Di sampingnya terdapat papan catur.
Hanya ada satu pemain.
Shen Tian memandang susunan bidak itu cukup lama.
Lalu perlahan ia berjalan menuju jendela timur.
Tangannya menyentuh bingkai kayu.
Debu tipis menempel di ujung jarinya.
Namun tepat di salah satu sudut...
Debu itu hilang, seolah baru saja tersapu sesuatu.
Ia tidak berkata apa-apa.
Hanya tersenyum sangat tipis.
Mo Yan memperhatikan ekspresi sahabatnya.
"Kau menemukan sesuatu?"
Shen Tian mengangguk pelan.
"Mungkin."
"Apa itu?"
"Bukan jawabannya."
"Lalu?"
"Petunjuk pertama."
Ia kembali memandang jenazah.
"Kasus ini jauh lebih menarik daripada yang terlihat."
Di luar rumah, langit yang semula cerah perlahan tertutup awan gelap.
Tak seorang pun menyadari bahwa pembunuhan terhadap seorang saudagar hanyalah batu pertama yang akan mengguncang seluruh Kekaisaran Tianxia.
Dan tanpa diketahui Shen Tian, sepasang mata sedang mengawasinya dari balik atap bangunan.
Sosok berjubah hitam itu tersenyum tipis sebelum menghilang bersama embusan angin.
Permainan telah dimulai.
