BAB 6 KODE SELY
"iya...iya...aku cuman bercanda kok. gak beneran mau minta." kataku canggung. Padahal aku kan sudah punya salinan fotonya dalam laptopku.
Ratna mengendurkan mukanya yang tadi cemberut berlipat-lipat seperti pakaian dalam almari dan tersenyum penuh kemenangan.
"Besok lagi ga usah bikin foto kaya gitu lagi ya! bikin repot aja."
"Jagat maya tak seindah dunia teletubies. Jika fotomu jadi disebar di Internet, kamu sadar akibatnya kan? Makanya ati-ati."
Saranku pada Ratna menghapus senyum kemenanganya. Ia memonyongkan mulutnya sambil menirukan aku ngomong dengan wajah mengejek.
"Udah ya, aku cabut dulu." kataku sambil mencangklong tas punggungku dan beranjak pergi, karena menurutku masalah telah selesai.
"Kok buru-buru sih Man, nggak mau temenin aku dulu disini?" Ucap Ratna, tak rela aku pergi. Mulai memasang wajah sayu.
"Enggak ah, aku ada janji sama Seto" jawabku.
"O, ya udah. makasih ya Man." katanya.
"Sama-sama. Jangan diulangi lagi ya." aku mengatakan itu sambil melenggang pergi.
Ratna hanya mengangguk dengan wajah kecewa dengan mimik muka sendu dan mata berkaca-kaca. Aku selalu sebal melihatnya berakting seperti itu.
"Minta fotomu ya?" Ucapku mencoba membuatnya melupakan rasa kecewa.
"NGGAK BOLEHHH!!!" Ratna berteriak kemudian mengambil kerikil di dekatnya dan melemparkannya padaku, tapi tak kena.
Aku berlari sambil tertawa.
Ya, paling tidak rasa kecewanya beralih menjadi rasa dongkol padaku.
Sebagai laki-laki, kadang kala aku juga menyimpan gambar dewasa dari berbagai model fulgar sebagai bahan berfantasi. namun aku belum kepikiran nantinya foto-foto Ratna itu mau diapakan. Dimasukkan koleksi atau di hapus saja. Pastinya foto itu tak akan pernah kuanggap sebagai bayaran untukku karena telah menolongnya.
Selama ini, aku tak pernah meminta bayaran pada semua orang yang pernah aku tolong. Jikalau mereka memberi, jelas aku terima. Namanya rejeki jangan ditolak. Tapi kalo urusan proyek, jelas beda lah. Yang jelas aku percaya jika rejeki itu ada yang mengatur. Walaupun semuanya butuh uang, namun bagiku uang bukanlah segalanya.
Sesampainya di parkiran kendaraan, langsung ku tancap motorku dan melesat menuju kos Seto. Tadi pagi, aku sudah bilang padanya jika siang ini akan meminjam buku catatan kalkulus dan menyalinnya sebagai bahan belajar nanti malam. Besok ada jadwal ujian Kalkulus, salah satu mata kuliah yang paling aku benci.
Seto adalah teman kampus seangkatan dan sekelas denganku. Dia berasal dari luar pulau dan terdampar di kota ini. Secara pertemanan, Aku akrab dengan Seto. Namun tidak terlalu dekat dan hanya saja beberapa kali satu kelompok tugas kuliah dengannya.
Kupacu sedang motorku hingga tiba di depan gerbang masuk ke komplek kos Seto. Tampak sebuah mobil sedan berwarna silver dengan stiker ACOUNTING UNT di kaca belakangnya, sedang terpakir di pinggir luar pagar komplek kos.
“Sepertinya aku tak asing dengan mobil itu. Kalau ga salah kepunyaan seorang dosen di jurusan akuntansi.” Gumamku.
Masuklah aku ke dalam komplek kosan Seto yang tak begitu luas dan hanya terdiri dari sepuluh deretan kamar menghadap satu arah. Posisinya agak menjorok kedalam dan terjepit diantara dua bangunan bertingkat. Bentuknya seperti sebuah lorong. Kamar kos Seto terletak di deret paling ujung. Nomer sepuluh.
Saat aku masuk dalam komplek kos, suara motorku terdengar menggema. Karena pantulan suara dari dinding bangunan yang mengapitnya.
Suasana komplek kos terlihat sepi karena masih jam kuliah. Sepertinya penghuni yang lain juga sedang berada di kampus mereka. Wajar saja karena sekarang masih jam perkuliahan.
Tak kulihat motor Seto yang biasanya di parkir depan kamar kosnya. Pintu kamarnya pun tertutup, kompak dengan kamar lainnya yang juga tertutup pintunya.
Aku berhenti di depan kamar Seto dan kumatikan mesin motor. Sesaat terasa seperti berada di sebuah kota mati.
Di samping pintu terlihat sepasang sepatu pantofel dan sepasang sepatu wanita. Ternyata Seto juga punya sepatu seperti itu. Aku merasa aneh, karena selama ini tak pernah melihatnya menggunakan sepatu formal dan mahal seperti itu di kampus. Setauku dia itu penyuka sepatu sneaker. Ahh.. ngapain pula aku mikir yang nggak penting kaya gitu.
Sejenak aku celingukan mengamati deretan kamar. Sepertinya memang tidak ada tanda-tanda kehidupan disitu. Aku pun menelpon Seto untuk menanyakan keberadaannya.
TUTTTT…..TUTTTT…
Panggilan pun tersambung.
“Halo, Man” kata Seto menjawab telepon.
“Eh To, kamu lagi dimana? Ini aku lagi di kos kamu mau ambil catatan kalkulusmu buat ku copy. Kosan kamu kok sepi?” Kataku.
“Lho, gak ada Sely di kamar? Tadi katanya dia mau pinjam kamarku buat bimbingan skripsi sama dosennya. Pas aku tinggal, dia masih dalam kamar. Baru setengah jam juga.” Jawab Seto.
Sely adalah teman sekampusku namun beda angkatan dan jurusan. Angkatan dia lebih muda satu tahun, di jurusan akuntansi. Dia tipikal cewe yang alim. Gak neko-neko. Mirip Ratna yang juga teman seprodinya.
“Ow, paling bimbingan di tempat lain.”
“Trus, sekarang kamu lagi dimana? Lama tidak?” Tanyaku.
“Aku lagi servis motor nih, kayaknya bisa dua sampe tiga jam baru balik kos. Antrinya banyak banget. Nanti aku kabarin aja kalo udah di kos.” Balas Seto dengan background suara motor meraung-raung.
“Ok To.” Jawabku singkat dan menutup panggilan.
Bersamaan dengan aku menutup telepon, terdengar suara pintu kamar kos Seto dibuka. Munculah kepala Sely menengok keluar dari sela-sela pintu yang dibuka seperempat.
Wajah Sely terlihat kusut dalam pandangan sendu dan rambutnya terlihat sedikit acak-acakan. Tanganya memegang atas bajunya yang kancingnya tidak terpasang dengan benar.
“E-Eh, Herman. Ada apa?” Katanya dengan nada bergetar seolah ketakutan.
“Loh, ternyata kamu di dalam to Sel?” Kataku terkejut melihatnya.
“I-iya Man, sory tadi ketiduran gak dengar kamu datang.” Jawabnya gugup.
“Aku mau pinjam catatan kalkulus punya Seto. Mau aku copy.” Ucapku sambil mendekat ke kamar Seto.
Ekspresi Sely berubah ketika aku mendekati kamar. Dia terlihat panik dan sorot matanya seolah menyuruhku berhenti melangkah.
“Ak-aku ambilkan saja.” Dia berkata dengan terburu-buru dan menghentikan langkahku.
“Kamu kenapa sih Sel? Kok tingkahmu aneh baget?” tanyaku curiga.
“Aku tak pake celana.” Jawabnya cepat dan singkat.
“Oh, pantas saja. Tapi kamu tau kan yang mana catatan Seto? Tolong ambilin ya.” Kataku canggung kawatir berpikir lebih jauh lagi. Tapi yang namanya pikiran Herman…
“Bisa jadi Sely belum sempat memakai celana karena baru saja bermain setrika tubuhnya atau mungkin tadi Seto sempat bertukar keringat dengannya dulu sebelum pergi.”
Pikiranku tetap ngelambrang dengan liar ke mana-mana. Kayanya kepalaku minta ditampol. Udah ah, itu urusan mereka.
“Tau, Sebentar ya.” Kata Sely cepat sambil menutup pintu agak keras, membuat praduga tak bersalah kotorku terhenti.
Lumayan lama aku menunggu Sely mengambilkan catatan Seto. Untungnya tak selama menunggu cewek dandan yang bila sambil bermain game asasinkred pasti bisa sampai tamat.
“I-ini catatan kalkulusnya.” Kata Sely. Kepalanya nongol kembali di sela pintu yang dibuka seperempat sambil menjulurkan tangan kirinya menyodorkan buku yang bertuliskan KALKULUS segede gaban. Wajahnya masih terlihat gugup dan nada suaranya bergetar.
“Makasih ya Sel. Abis ini langsung aku copy bukunya, trus aku balik sini lagi buat ngembaliin. Jangan tidur dulu ya.” Ucapku setelah memasukkan catatan Seto kedalam tas dan Sely hanya membalas dengan anggukan.
“Ma-Man… A-Aku titip beliin air mineral dua botol ya.” Kata Sely dengan Gugup.
“Widih, dispenser Seto meledak ya Sel? Hahaha…” Candaku sepontan.
Sely diam saja tak tertawa. Wajahnya pun terlihat sendu. Kemudian ia menutup pintu kamar kos.
Aku cabut menuju tempat fotokopian terdekat. Setelah selesai menyalin catatan Seto, aku mampir di warung untuk membeli pesanannya Sely. Kemudian kembali ke kosnya.
Saat aku mematikan motor di depan kamar, Sely keluar dari kamar dan menutup pintunya kembali. Dia berdiri didepan pintu dengan pandangan gugup seolah ketakutan. Aku menghampirinya.
“Ini Sel, catatan Seto dan pesananmu.” Kataku sambil menyerahkan kantong plastik yang berisi catatan Seto dan air mineral.
Sely berpaling ke belakang sebentar, memandang kearah pintu. Sepertinya ada sesuatu di belakang pintu. Apakah itu hantu? Bukan… ini bukan kisah horror atau misteri.
Sesaat kemudian, tangan kanan Sely menarik pergelangan tanganku sambil tangan kirinya memberikan isyarat diam dengan menempelkan jari telunjuk di bibirnya. Aku kaget.
Dengan cepat ia menusukkan kuku ibu jari kanannya yang berkuku agak panjang dengan kuat ke pergelangan tanganku dan meninggalkan bekas cekungan merah di kulitku. Dia menusukkan beberapa kali hingga bekasnya berderet memanjang dan terasa perih. Kemudian ia melepaskan tanganya dan meraih kantong plastik yang aku sodorkan.
Saat Sely memegang pergelanganku, sempat kurasakan tangannya dingin dan bergetar. Matanya seperti berkaca-kaca dalam ekspresi ketakutan.
Setelah mengambil kantong plastik dari dari tanganku, dia memberi isyarat menyuruhku pergi dengan melambaikan tangan dan berbalik masuk kedalam kamar kos serta mengunci pintunya. Tak ada sepatah kata pun dari mulutnya.
Pada saat masuk kamar, sempat kulihat langkahnya. Kakinya menyentuh tanah. Tuh, bener kan. Bukan cerita horror.
Sejenak aku hanya bengong dan memilih mengendarai motor keluar dari kos. Aku berhenti di depan gerbang komplek kos dan melihat mobil sedan silver masih terparkir disitu.
Masih terasa perih bekas tusukan kuku Sely yang meninggalkan bekas memerah berbentuk deretan garis tegak dan mendatar seperti ((( _ _ _ ((( .
“kok bisa berurutan seperti ini bekasnya? kayak script emoticon.” Gumamku dalam hati. Sesaat kemudian aku menyadari sesuatu.
“Tunggu dulu. Jika bekas yang berdiri itu adalah titik dan yang mendatar adalah garis, maka itu akan menjadi sebuah kode morse titik titik titik garis garis garis titik titik titik.”
Ingatanku pun kembali pada pelajaran pramuka. Kode morse itu sangatlah familiar, sangat sering digunakan. Bahkan dikalangan hacker pun kode itu juga sering digunakan.
Kode itu berbunyi SOS.
Artinya, saat ini Sely sedang dalam masalah dan aku harus segera menelpon Seto.
