Kabur
"Tunggu, tunggu. Kita sekamar?"
"Hmm."
Zayyan melepas jas yang ia
pakai. Ia mengambil sarung hitam yang berada di atas meja dan menggunakan sarung tersebut.
"Saya ingin mengajar, kau jangan pergi kemana mana. Jika lapar kau bisa meminta makanan kepada bunda."
"Ohh baiklah."
Zayyan pergi meninggalkan istrinya." hmmm ... apa yang harus aku lakukan?"
"Eemm ... Aku akan bersih bersih dan membereskan baju."
Safiah pergi ke kamar mandi. Setelah mengganti pakaian dan menghapus make up yang ada di wajahnya.
Ia memasukkan bajunya yang ada di dalam koper ke lemari.
"Aakkhh, akhirnya kelar juga."
Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang, Dan memainkan heanphonenya.
Pesan.
Ali : "Safiah, Aura nantang lu buat balapan nanti malam. Kalo lu gk dateng dia pasti ngeremehin lu."
Safiah : "bilang sama dia, gua sibuk."
Ali : "lu harus dateng malam ini."
Safiah : "gua tidak bisa!"
Ali : "Aura kerja sama dengan geng Graxda. Dia bakal buat onar lagi sama geng kita. Lu harus dateng"
Safiah : "okeh, gua dateng."
Ia mematikan heanphonenya.
Masalahnya belum selesai dengan kelompok - kelompok lain.
Safiah adalah perempuan berhijab. Setelah masalah yang terjadi kepada keluarganya, ia memutuskan untuk meluapkan kekesalannya dan depresinya.
Dengan balapan dan akhirnya masuk ke salah satu geng besar di kota tersebut.
Dan sekarang ia menjadi wakil ketua dari geng tersebut. Karena ketua mereka sedang menempuh pendidikan di Singapore.
"Sial! gang Graxda belum puas.
Mereka masih ingin merebut markas, aku tidak bisa diam seperti ini. Aku tidak ingin teman teman aku terluka seperti kejadian waktu itu"
"Aku harus menghadirinya, Tapi ... dia tidak akan mengizinkan aku. Aku harus memikirkan cara, Dan kabur dari sini malam nanti."
"Tapi aku lupa membawa motor, Sial! Aku harus menghubungi
Ali untuk menjemput aku."
Pesan.
Safiah : "Ali lu jemput gua di
jalan **** jam 10, Motor gua di sita."
Setelah mengirim pesan kepada sahabatnya tersebut. Safiah keluar dari kamar dan menemui mertuanya.
"Bunda." Safiah memanggil
Bunda.
"Iya kenapa?"
"Zayyan kapan pulang Bunda?"
"Setelah asar dia akan pulang, Tapi abis isya dia ke pesantren lagi untuk mengajar. kamu ikut ya?"
"Hah!? Ikut? hmm ... sepertinya aku butuh istirahat dulu. Bagaimana jika besok saja aku memulai hidup seperti santri."
"Yasudah jika seperti itu.
Karena disini butuh beradaptasi, besok kamu mulai belajar dan sekolah di pesantren ya."
"Iya bunda."
"Nanti bunda akan bilang ke para sayyidah untuk mengantar kamu."
Safiah mengangguk menandakan bahwa ia mengerti dengan apa yang harus ia lakukan.
"Jika kamu kangen orang tua kamu, kamu bisa pergi. Tapi jangan lupa izin dengan suami kamu. Karena itu sangat penting."
"Ayo duduk" Ucap Bunda Ela.
Ia mengajak Safiah untuk duduk dan Safiah pun mengikutinya.
"Safiah."
"Iya bunda."
"Kalian memang tidak saling mencintai, Tapi. Menikah tidak harus di sadari dengan cinta."
"Ibu kamu pernah berkata sama bunda, dia ingin kamu belajar agama. Kamu jadi anak yang sholehah, punya suami yang bisa membimbing kamu.
Nak, apa kamu ingin membahagiakan ibu kamu?"
"Heh!" Safiah menarik ujung bibirnya, ia menundukkan kepalanya.
"Siapa yang tidak ingin membahagiakan orang yang merawat kita dan menerima kekurangan kita. Walau Safiah nakal, tapi Safiah tetap sayang sama ibu dan ayah."
"Jika Safiah sayang, berubah ya."
"Apa Safiah kurang baik? ibu dan ayah hanya tidak tahu sikap asli Safiah. Setelah kematian abang, ibu pasti sedih. Dan ini semua karena Safiah, Safiah hanya tidak ingin ibu benci sama Safiah karena penyebab kematian abang adalah Safiah." Safiah sedih saat teringat tentang kenangan buruk tentang keluarganya.
"Seorang ibu tidak akan membenci anaknya, walau anaknya sering menyakitinya. Dia akan selalu menyayangi dan mencintai anaknya.
Safiah liat kan? Sekarang ibu baik - baik saja? Jika Safiah merasa bersalah jangan menjadi seperti ini.
Safiah jadilah seseorang yang ibu mau."
Mengingat sang ibu dan masa lalunya yang kelam. Air bening terjatuh dari mata cantik gadis tersebut. Ia tidak bisa menahan air matanya, kejadian tersebut masih belum bisa ia lupakan.
Ela yang melihat menantunya menangis merasa bersalah mengatakan hal tersebut. Karena ternyata trauma yang di alami Safiah belum hilang.
Ela memeluk Safiah dan berkata, "maafkan bunda Safiah, jika perkataan bunda tadi menyakiti perasaan kamu."
Safiah menyeka air matanya.
"Tidak apa - apa, ini semua sudah menjadi takdir Safiah. "
Tiba - tiba pintu terbuka, Dan mereka melepaskan pelukannya.
Safiah melihat siapa yang membuka pintu dan itu adalah Zayyan. Zayyan menghampiri keduanya.
"Aku pergi dulu." Ucap Safiah yang pergi. Zayyan merasa bingung kenapa tiba - tiba Safiah pergi.
"Bunda, kenapa dia nangis?"
"Hhuuff ... bunda sudah memberitahu trauma yang ia alami, bunda mohon sama kamu jaga dia baik baik. Bunda harap dengan dia belajar agama, dia akan menjadi lebih baik."
"Zayyan akan berusaha mengubah Safiah menjadi lebih baik."
"Hmm ... Zayyan, dia berkata akan mengikuti kegiatan full di pesantren besok. Dan untuk sekarang ia ingin beristirahat dulu."
"Hmm ... Zayyan sudah memberi data Safiah untuk masuk pesantren. Zayyan sendiri yang akan mengajarkan Safiah pengajaran yang sudah di pelajari di pesantren ketika Safiah belum ada."
"Ya, bunda harap kalian bisa menjadi pasangan yang baik."
"Mohon doa bunda, Zayyan ke kamar dulu."
"Yasudah." Zayyan pergi ke kamar meninggalkan ibunya.
Ia masuk ke kamar dan melihat Safiah yang duduk di lantai dan bersandar di ranjang.
Ia menghampiri perempuan yang sudah menjadi istrinya tersebut.
Zayyan duduk di samping Safiah, tatapan Safiah kosong. Ia terlihat sedih, tapi karena Zayyan adalah pria yang sudah mempelajari tentang wanita.
Meski setiap bab sulit di pahami karena dia seorang pria, Tapi gurunya membuatnya lebih mudah memahami bab - bab tentang wanita tersebut.
"Sudahlah, jika ada pertemuan pasti ada perpisahan. Semua mahluk di bumi ini akan mati, hanya Allah yang kekal."
"Jangan kau ungkit masa lalu, sekarang pikirkan masa depanmu. Yang lalu biarlah berlalu, Dan yang datang harus kau pertahankan."
"Aku tahu perempuan itu memang susah untuk melupakan."
"Tahu apa kau tentang perempuan?" ucap Safiah.
"Heh! aku memang tidak tahu, Tapi tuhan tahu dan mengajarkan itu kepada semua hambanya."
"Sudahlah, lebih baik kau membaca al quran agar hatimu tenang."
"Ayo ambil whudu." Zayyan bangun, Tapi Safiah masih tetap berada pada posisinya.
"Ayo!" tapi Safiah hanya diam saja.
"Hmm apa kamu haid?"
"Enggak." Jawab Safiah dengan terpaksa ia bangun dan pergi ke kamar mandi. Sementara Zayyan hanya tersenyum dengan pertanyaan yang ia lontarkan dengan seorang wanita yang sudah menjadi istrinya.
