Di jodohkan
Aku adalah Safiah Humairah.
Umurku 17 tahun, Dan meski umurku terlampau muda. Tapi itu tidak menjadi penghalang bagi orang tuaku untuk menjodohkan aku.
Aku masih bersekolah, Tapi orang tuaku menjodohkan aku.
Tentu saja aku belum siap, Tapi mereka memaksa aku.
Mereka ingin merubah sikap saya menjadi lebih baik. Aku memang suka pergi saat malam, Dan bolos sekolah.
Tapi aku melakukannya untuk mengobati depresi.
Seiring berjalannya kehidupan
yang aku jalani, ujian hidup selalu datang setiap waktu.
Dan hal buruk yang aku alami membuat aku menjadi arogant.
Hingga aku di paksa untuk menikah di umur yang masih muda.
"Safiah tidak ingin menikah ayah, ibu. Safiah masih sekolah,
dan Safiah masih ingin kuliah."
"Menikah bukan berarti kamu putus sekolah Safiah." Ucap Maryam, wanita paruh baya dan ibu dari Safiah.
"Kamu masih bisa sekolah, calon suami kamu tidak melarang kamu untuk sekolah" Ucap Maryam membujuk anaknya. Safiah terlihat kesal dan berusaha menolak.
"Tapi mah Safiah belum siap menikah."
"Ayah sudah membicarakan ini dengan teman ayah. Dan kamu tidak bisa membantah ayah, besok kita laksanakan pernikahan."
"Apa!?" Safiah terkejut, baru saja mereka menyampaikan berita tersebut. Dan ini sangat mendadak.
"Hhuuff ... baik Safiah akan terima pernikahan ini, Tapi dengan satu syarat."
"Apa?"
"Safiah mau pernikahan ini di rahasiakan."
Maryam dan Hasan terdiam, mereka memikirkan perkataan anaknya tersebut.
"Baiklah ayah akan bicarakan, jika mereka setuju. Pernikahan ini akan di rahasiakan. Tapi, ketika kalian sudah menikah. Kamu harus ikut bersama suami kamu, dan menjadi santri di pesantrennya."
"Hah!? jadi santri?" mata Safiah terbelalak mendengar perkataan ayahnya.
"Ah, sudahlah, itu keputusan ayah. Safiah pergi dulu, assalamualikum."
"Waalaikumsalam, Safiah jangan kabur" ucap Maryam memperingati anaknya, karena besok adalah acara pernikahan.
________
Keesokan harinya.
Hari ini adalah hari terburuk dalam hidup saya, saya harus menikah dengan seseorang yang tidak saya kenal. Dan saya belum pernah melihat wajahnya.
Saya sudah berdandan rapi dengan gaun putih yang saya kenakan. Menatap kosong ke
arah cermin.
"Tidak aku duga
Hari ini akan tiba, di jodohkan oleh seseorang yang tidak aku kenal. Dan harus merelakan orang yang aku cinta, untuk tidak berharap akan bersama dia."
"Safiah." Maryam membuka pintu dan melihat anaknya, ia menghampiri anaknya.
"Calon suami kamu sudah datang, Dan dia akan menjadikan kamu sebagai istrinya."
Safiah hanya diam. "Safiah, maafkan ibu dan ayah. Tapi percayalah, ini adalah yang terbaik untuk kamu. Laki - laki
itu akan membimbing kamu ke jalan yang benar."
"Dia adalah orang yang baik, Dan ibu yakin. Perlahan kalian akan saling mencintai."
"Entahlah". Safiah menjawab perkataan ibunya dengan ekspresi datar.
"Sah!!!...."
Dari luar pintu, terdengar kata tersebut. Maryam tampak senang mendengarnya, tanpa sadar ia meneteskan air matanya.
Walau Safiah nakal tapi dia tetap anaknya, Dan bagi ibu merelakan anaknya itu tidak mudah.
"Ayo Safiah, kita keluar."
Mereka berdua berjalan keluar dan pergi ke ruang tamu.
Ia melihat seorang laki - laki muda yang berhadapan dengan ayahnya di antara meja kecil.
Laki laki tersebut menatap aku sejenak dan menundukkan wajahnya kembali.
Aku duduk di depannya, Dan dia mengeluarkan cincin kapada saya. Lalu saya mengambil cicin lain dan memasangkannya di jari kekar milik pria tersebut.
"Safiah, cium tangan suami kamu."
Ucap Maryam, Safiah hanya diam dan wajahnya memerah.
"Zayyan, ayo! cium istrimu!"
Dengan terpaksa, Safiah mengambil tangan pria yang
sudah menjadi suaminya tersebut dan menciumnya. Dan Zayyan
mencium kening istrinya tersebut.
Setelah akad selesai, Safiah harus pergi meninggalkan kedua orang tuanya. Zayyan dan Safiah berada di dalam mobil.
Di dalam mobil sangat hening, kedua pasangan tersebut terlihat canggung. Hingga Safiah memulai pembicaraan.
"Heh! Nama lu Siapa?"
Dia menatap aku dengan wajah datar dan meberikan buku pernikahan kepada saya. Aku membacanya.
"Muhammad Zayyan Ibrahim."
"Umur.?"
"Hah!? 25." Aku melihat wajah pria tersebut.
"Heh! umur kamu terlihat seperti seseorang yang berumur 20 tahun."
"Aku memang awet muda." ucap Zayyan dengan wajah sombong.
"Aku tidak bilang kamu awet muda." ucap tetap dengan ekspresi datarnya.
"Tapi memang itu kenyataannya."
"Ah sudahlah aku malas
berdebat, Tapi kamu sudah tahu kan perjanjiannya. Pernikahan kita ini rahasia dan tidak boleh ada yang tahu."
"Hmm ... tapi aku ingin bertanya kepadamu"
"Apa?"
"Kenapa kau ingin pernikahan ini di rahasiakan?"
"Tentu saja, aku belum mengenal siapa kamu. Dan umur saya masih terbilang muda untuk menikah." Pria tersebut hanya mengangguk - angguk kan kepalanya.
"Baiklah saya mengerti, Tapi seperti suami istri pada umumnya. Kita akan tinggal se atap"
"Hah!?" Safiah terkejut mendengarnya.
"Tenang saja, rumah saya berada di belakang pesantren. Jadi tidak akan ada yang tahu."
"Tapi tetangga kamu?"
"Ibu saya akan berkata bahwa kamu adalah anaknya yang kembali dari luar negri."
"Bukankah bohong itu dosa?"
"Itu tidak sepenuhnya bohong
Karena ada benarnya. Kau sudah menjadi menantu ibu saya dan kamu juga adalah anak ibu saya"
"Okeh ... boleh juga.
Oh ya, ada satu yang tidak boleh kamu lakukan"
"Apa?" Zayyan menatap serius Safiah.
"Kamu tidak boleh melakukan hubungan suami istri kepadaku."
Zayyan melihat tubuh aku dari atas hingga bawah.
"Ihhhhhhh" aku melipat kedua tanganku di dada.
"Siapa yang tertarik dengan tubuh seperti itu."
"Heh? sombong. Aku tidak peduli, dan. Kamu harus berjanji tentang itu, Janji." Safiah mengacungkan jari kelingkingnya.
*Ada - ada saya perempuan ini.*
Batin Zayyan, Ia menerima janji tersebut.
Setelah sampai, merekapun turun.
"Safiah ayo masuk, kamu makan ya."
"Tida usah tante, Safiah sudah makan tadi di rumah."
"Ah jangan panggil tante. Panggil bunda saja, kan sekarang kamu sudah menjadi menantu saya."
"iya bu- bunda." Safiah agak canggung ketika mengucapkan kalimat tersebut.
"Yasudah jika kamu lelah pergi saja ke kamar dan istirahat. Zayyan ayo di antar."
"Iya bunda." Zayyan memberi isyarat agar mereka jalan bareng. Safiah mengikuti langkah Zayyan menuju ke sebuah pintu. Ia membuka pintu tersebut, mereka masuk dan Zayyan menutup pintunya kembali.
"Ini adalah kamar Kita, sudah ada kamar mandi dan itu pintu keluar. Aku sengaja membelinya. Jika kamu tidak ingin mereka tahu kita tinggal se atap. Kamu bisa lewat pintu tersebut, Dan aku akan selalu lewat pintu lain agar tidak ada yang mengetahui."
"Oh baiklah cerdas juga."
"Dan karena kamu sudah menjadi istri saya, mulai sekarang kamu tidak boleh pergi tanpa izin dari saya. Dan harus belajar bersama santriwati di pesantren."
"Hmm."
Zayyan membuka jas yang ia kenakan. Safiah mengerutkan keningnya.
"Tunggu, tunggu. Kita sekamar?"
