Buruk hah?
"Tunggu!!!"
Entah bagaimana Zayyan datang dan membuat mata tertuju padanya.
"Zayyan?" Safiah merasa heran, tiba - tiba saja Zayyan datang.
"Bagaimana kamu,"
Zayyan terlihat marah menatap tajam ke arah Safiah.
"Ikut saya." Ucap Zayyan dengan datar ia menarik tangan Safiah.
Dengan terpaksa Safiah turun dari motor dan menjatuhkan motornya.
"Tunggu, tunggu. Mau kau bawa kemana dia?" ucap Micle, pertandingan baru akan di mulai tapi sudah ada yang mengacaukannya.
Zayyan tidak memperdulikan perkataan itu dia membawa Safiah pergi.
"Serang dia!" ucap Micle yang tidak terima, Geng Graxda melaksanakan perintah tuannya. Mereka maju dan ingin menyerang Zayyan dan Safiah.
"Aaaaa."
"URAAAAA!!" semua pasukan Graxda menyerbu secara tiba - tiba dan Safiah segera menyiapkan aba - aba untuk melawan mereka.
Ketika ada salah satu dari geng Graxda ingin mengarang Safiah. Dengan cepat Safiah membela diri. Dan Ali yang melihat itu segara bergabung, diikuti dengan pasukan Drackness lainnya.
Kini kedua kelompok saling berhadapan dan kelompok lainnya hanya melihat saja.
"Tunggu! kenapa malah jadi perang sih???"
"Jika kau tidak berani, kau tinggal bilang. Jangan lari seperti ini, itu pengecut!" ucap Micle.
"Aku tidak lari, Zayyan kau pergi saja. Aku ingin menyelesaikan masalah ini dulu."
"Aku tidak mengizinkan kamu dan kau harus ikut dengan saya."
"INGAT SEMUANYA!"
"Saya adalah suaminya, Dan saya bertanggung jawab atas dia. Dia adalah urusan saya, dan saya tidak ingin dia bapalan."
Ucap Zayyan dengan lantang, semua mata terbelalak. Mendengar hal tersebut tentu Safiah sangat terkejut.
Tidak hanya Safiah tapi yang lain juga terkejut. Zayyan membawa Safiah pergi, sementara yang lain hanya diam kebingungan.
Dan bagaikan sambaran petir, hati Ali merasa begitu sakit. Selama ini Safiah adalah gadis yang ia cintai.
Semenjak Safiah gabung dalam geng Drackness. Ia tertarik dengan Safiah dan pada akhirnya ia mencintai gadis tersebut.
Tapi ia tidak mengatakan hal tersebut, karena ia tahu Safiah hanya menganggap dirinya sebagai teman.
Tapi sekarang seorang pria datang dan mengatakan bahwa dia adalah suaminya.
*Tidak, ini tidak mungkin. Bagaimana bisa dia memiliki suami, bukankah dia masih bersekolah. Tidak, ini pasti salah satu caranya.* Ucap Ali dalam hati. Ia tidak percaya dengan perkataan pria tersebut.
Sementara Safiah di bawa pergi oleh Zayyan. Dia berusaha memberontak.
"Lepasin."
"Lepaskan Zayyan, sakit!"
Zayyan berhenti di samping mobil, ia membuka pintu mobil tersebut.
"Masuk!" suruh Zayyan.
"Tidak bisa! aku harus menyelesaikan urusan ini dulu."
"Masuk!" gertak Zayyan. Safiah yang tidak ingin mencari masalah dengan Zayyan masuk ke dalam mobil. Zayyan juga ikut masuk dan mereka pergi dari sana.
Di dalam mobil wajah Zayyan terlihat marah.
"Kenapa kau keluar tanpa izin dari saya?" ucap Zayyan.
"Ini terpaksa! jika aku tidak datang, mereka akan saling bertarung. Aku hanya tidak ingin teman - teman aku terluka."
"Dan jika aku meminta izin kepadamu, pasti kau tidak akan memperbolehkan aku."
"Kau ini sekarang sudah menjadi istriku. Dan aku sudah berjanji kepada ibu kamu untuk menjagamu." Zayyan masih fokus menyetir.
"Hhuuff ... ingat! kita ini hanya di jodohkan. Kita tidak saling mencintai, untuk apa kau perduli.
Kita menikah bukan atas dasar cinta jadi jangan ikut campur urusan saya." Ucap Safiah, seketika Zayyan menghentikan mobilnya.
Ia menatap Safiah dengan tatapan tajam. Amarah terlihat dari matanya, Tapi ia berusaha untuk menahannya.
"Safiah! pernikahan ini bukan main - main. Bahkan langkah kaki yang kau injakan tanpa izin dari suamimu, kau akan di laknat."
"Dan pernikahan! tidak perlu di sadari cinta. Cinta itu akan tumbuh seiring waktu berjalan. Dan apakah pantas seorang wanita keluar tengah malam dan berantem."
"Aku tidak berantem, aku hanya ingin menyelesaikan masalah. Dan balapan itu cara terbaik."
"Tapi bayangkan, jika kau kecelakaan dari aksi balapan tersebut. Apa saya akan merestui itu? ingat Safiah ingat! sekarang syurga kamu tidak lagi berada di ibu kamu, Tapi surga kamu sekarang ada di saya."
"Safiah! Jangan hanya pikirkan dunia yang hanya sementara. Tapi pikirkan jika kamu mati, apa kamu akan tenang. Atau kamu akan di siksa."
"Stop, stop, stop. Sulit sekali, sulit sekali mempunyai yang taat.
Aku pikir jika aku mempunyai suami yang taat dia akan menasihati aku dengan baik dan lembut. Tidak marah - marah."
Zayyan yang mendengar hal tersebut terdiam. Ia melihat ke depan kaca mobil dan kembali menjalankan mobil tersebut.
"Seharusnya aku tidak menerima kamu untuk menikahi Aku, pasti aku sudah bebas. Dan bisa bersenang - senang bersama teman - teman." Ucap Safiah.
Ia mulai menyesal karena memilih untuk menikah dengan Zayyan.
"Kau hanya memikirkan dunia, Tapi tidak memikirkan akherat.
Tapi aku mengerti, inilah mengapa ibu kamu menyuruh saya untuk membimbing kamu.
Ternyata kamu lebih buruk dari yang saya kira."
"Apa kamu sombong?"
Safiah menatap kesal ke arah Zayyan, Tapi ia tidak mempedulikannya dan fokus menyetir.
"Bukankah kamu paham agama? seharusnya kamu tahu bagaimana bersikap baik. Dan tidak membanding - bandingkan.
Kau hanya tidak mengenal siapa Aku, aku memang buruk di mata ibu, aku memang buruk di mata ayah. Dana ku buruk di mata semuanya!"
Butiran air bening tersebut jatuh dari mata cantik gadis itu. Ia tidak bisa lagi menahan air matanya. Kata - kata yang ia lontarkan begitu menyakitkan, ketika mengingat semua hal yang telah terjadi.
"Aku harus apa? hhiiskk ...
hhisskk...."
"Aku udah melakukan apa yang aku bisa. Tapi aku tidak bisa melakukan yang terbaik untuk ibu dan ayah. Aku tahu aku nakal hhiiskk ... hhiiskkk...."
"Tapi, tapi ini semua karena keadaan."
Safiah tidak dapat lagi menahan air matanya. Zayyan terdiam, ia mulai tidak fokus.
*Apa yang saya lakukan? seharusnya saya bisa menahan emosi saya. Walaupun dia nakal, dia tetaplah wanita. Hatinya sakit ketika di bentak.* Batin Zayyan.
Ia menghentikan mobilnya, Dan melihat ke arah wanita yang berada di samping dia. Matanya merah, hidungnya merah. Pipinya di penuhi dengan air mata.
Ia memeluk gadis tersebut dan berusaha menenangkannya.
"Hhiiskk ... hhiiskk...." sementara Safiah menangis terseduh - seduh.
Di dada pria yang sudah menjadi suaminya tersebut.
"Maafkan saya, maafkan saya.
Jangan menangis lagi, tenangkan dirimu. Ini salah saya, maafkan saya."
"Kenapa? kenapa? hhiiskk ... hhiiskk...." Safiah masih menangis dan memukul pelan dada Zayyan. Ia ingin melampiaskan dendam yang terpendam di hatinya.
Rasa sakit yang ia rasakan begitu sakit. Ujian hidup begitu menyedihkan, sehingga ia tidak bisa memendamnya lagi dan melampiaskan hal tersebut kepada Zayyan.
