Alarm
Setelah perjalanan yang cukup menguras air mata. Mereka sampai di rumah, suasana sudah sangat sepi karena sudah malam.
Mereka keluar dari mobil dan tiba - tiba bunda Ela datang.
"Apakah kamu baik baik saja? kenapa kamu kabur?" Ela memperhatikan tubuh Safiah untuk memastikan dia baik - baik saja. Tapi Safiah hanya diam. Ia masih sedih.
"Bunda, sepertinya Safiah butuh istirahat."
Ela melihat wajah Safiah, matanya terlihat sembab. Ia mengerti apa yang terjadi.
"Baiklah, bawa dia tenangkan dia" Zayyan mengangguk, Dan merangkul pundak gadis tersebut. Mereka pergi ke kamar, sementara Safiah hanya berjalan dengan tatapan kosong.
"Bersihkan dirimu dan istirahatlah. Besok kau sudah mulai sekolah." Safiah pergi ke kamar mandi, dia bersih - bersih dan memakai baju tidur.
Ketika dia keluar dari kamar mandi. Matanya mencari seseorang, Tapi ia tidak tidak ada. Karena sudah lelah Safiah memutuskan untuk segera tidur.
Keesokan harinya. Ia terbangun karena suara keran terus menyala. Ia melihat sekeliling, tiba tiba Zayyan keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah.
Mereka saling bertatapan, Zayyan segera memalingkan wajahnya.
"Cepatlah bersiap siap, kita akan pergi sholat di pesantren." Ucap Zayyan. Safiah melihat ke arah jam, Dan jam menunjukkan tepat 02.30
"Ini masih sangat pagi." Ucap Safiah.
"Kau bisa mandi dulu karena nanti akan ada banyak kegiatan." Ucap Zayyan. Safiah pun mengangguk dan berjalan ke kamar mandi.
"Tidak ada salahnya juga mandi pagi." Ucap Safiah ia masuk ke dalam kamar mandi.
"Heh dia ternyata sangat cantik." Guman Zayyan pelan, ini pertama kalinya ia melihat safiah tidak memakai hijabnya. Dan ia terlihat sangat cantik dengan rambut panjangnya. Ia mengambil sorban dan pergi.
Setelah beberapa lama, Safiah selesai mandi. Ia menggosok - gosok rambutnya dengan handuk. Dan memili, Setelah menemukan hamid yang cocok ia mulai bersiap - siap.
Tiba - tiba ada yang mengetuk pintu dari luar. Safiah mengerutkan keningnya, Tapi ia tetap membuka pintu tersebut.
Setelah ia membukanya, ada seorang perempuan menggunakan gamis dan menundukkan kepalanya.
"Maaf ini Safiah yang ingin mondok kan ya? Sepupunya Gus Zayyan.?"
Safiah mengangguk.
"Saya di minta uztazah Ela untuk mengantar kamu ke pesantren."
"Ohh okeh okeh, apa yang harus saya bawa?"
"Eemm ... bawa al-quran dan buku tulis saja." Ucap perempuan tersebut dengan malu - malu dan menundukkan kepalanya.
"Oh tunggu, aku akan mengambilnya" Safiah segera mengambil al-quran dan buku.
Santriwati tersebut melihat dinda yang tidak memakai kaos kaki.
"Maaf, di pesantren perempuan wajib memakai kaos kaki." Safiah melihat kakinya, ia masuk kembali dan mengenakan kaos kaki.
"Sudah? apa ada yang kurang?"
Santriwati tersebut mengacungkan jempolnya. Safiah tersenyum dia menutup pintu dan memakai sendalnya.
"Yasudah ayo."
Merekapun berjalan bersama - sama.
"Eemm ... kalo boleh nanya nama kamu siapa?" Ucap perempuan tersebut.
"Ohh kenalin nama aku Safiah, nama kamu?"
"Nama aku aisyah."
"Ohh aisyah, kelas berapa?"
"Aku udah kuliah, sekalian ngabdi di sini."
"Kuliah dimana?"
"Di xxxxx"
"Ohh ... kenapa tidak kuliah di luar negri?"
"Hehehe aku teh pengen di sini saja"
"Ohhhh."
Setelah perbincangan yang cukup singkat, mereka sampai di gerbang pesantren.
Ada dua gerbang dan ada tembok yang memisahkan santri putri dengan santri putra.
Merekapun masuk.
"Sekarang kita ke masjid dulu, jika kamu sudah ingin sekolah. Aku akan memperkenalkan lingkungan di sini."
Safiah hanya mengangguk, ia melihat sekitaran. Ada gedung asrama. Ada lapangan khusus untuk menjemur pakaian.
Di suatu lapangan Safiah melihat sudah ada banyak santriwati.
Mereka sudah mengenakan pakaian rapi dan menggunakan atasan mukena dan memakai masker. Mereka sibuk dengan perlengkapan mereka masing - masing.
"Kamu pakai mukena ya, Dan ini maskernya."
"Memang harus apa seperti ini?" ucap Safiah.
"Tidak, hanya saja saat ini kita ingin sholat di masjid santri putra. Dan pendiri pondok, yaitu ayah dari gus Zayyan akan datang."
"Ohhh." Safiah hanya mengangguk, Dan ia mengenakan pakaian seperti santri lainnya.
Sementara seorang santri wanita dengan jas merah sedang menyuruh para santriwati untuk berbaris.
Jumlah santriwati di sana tidak terlalu banyak tidak sampai 100 orang. Safiah ikut berbaris, setelahnya. Mereka di antarkan ke masjid santri putra.
"Ayo, ayo jalan cepat! tidak ada yang melirik." Merekapun berjalan dengan cepat hingga sampai di masjid putra.
Mereka menata sendal mereka dengan baik dan rapih dan masuk ke dalam masjid.
Santri putra dan putri di pisahkan dengan tirai di tengah - tengahnya. Safiah duduk dan melihat di depan sudah ada Zayyan, ia juga melihat seorang pria yang sudah agak tua di samping Zayyan.
Menggunakan gamis putih dan sorban, wajahnya putih bersih.
"Maaf ayahnya gus Zayyan yang mana ya?"
"Oh abi? itu di samping gus Zayyan." Ucap seorang santri dan menunjuk pria di samping Zayyan dengan jempolnya.
"Kamu santri baru ya?"
"Iya."
"Ohhh, di sini biasanya nyebut Abi, dia baru saja pulang dari yaman untuk mengantarkan putrinya." Safiah hanya mengangguk.
"Kamu dari mana?"
"Aku dari bogor."
Santri tersebut hanya mengangguk.
Semua berdiri dan melaksanakan sholat tahajud. Setelah tahajud, menunggu waktu subuh abi atau ayah dari Zayyan ceramah.
"Assalamualikum. Warahmatullahi. Wabarakattu."
Suara salam menggema di masjid tersebut.
"WAALAIKUMSALAM WARAHMATULLAHI WABARAKATTU." Para santri kompak menjawab salam Abi.
"Dengan menyebut nama allah yang maha pengasih maha penyayang. Dan nabi besar kita muhammad, dan tampaknya kita tidak akan berada di dunia ini."
Abi berceramah, Dan menyebarkan ilmu yang sudah ia dapat selama ia hidup. Sementara Zayyan terlihat mencari sosok istrinya.
Di tengah kerumunan santriwati, ia menemukan Safiah yang sedang serius mendengar ceramah dari ayahnya.
"Kita harus menghapal al-quran, walau itu berat, tetapi jika kita bersungguh - sungguh. Pasti Allah akan memudahkannya. Jika kaloan hafal al-quran, nanti kelak di akherat kalian akan memakaikan mahkota mana saja yang kalian pilih. Dan akan kalian pakaikan kepada orang tua kalian." Ucap abi.
Pesantren ini adalah pesantren yang mengharuskan santri menghafal al-quran.
"Jika kalian merasa tidak mampu untuk menghafal ayat al-quran yang sangat banyak. Saya katakan kalian MAMPU! jika kalian bersungguh - sungguh Allah pasti akan memudahkan kalian.
Kun fayakun, jadilah maka jadilah. Tidak ada yang mustahil bagi Allah, jika sesuatu itu mustahil bagi kita tapi bagi Allah tidak ada yang mustahil."
Setelah berceramah kurang lebih 45 menit. Waktu subuh tiba, mereka menjalankan sholat subuh secara berjamaah.
Setelah sholat subuh dan zikir selesai. Sekarang waktunya Zayyan untuk menyampaikan dakwahnnya kepada para santri.
Ketika sedang berbicara di depan, terdengar bunyi nyaring yang sangat kencang. Zayyan mencari dari mana sumber suara tersebut.
Safiah panik karena tiba - tiba benda di lengannya berbunyi.
Ia segera mematikan benda yang ada di pergelangan lengannya. Semua orang menatapnya begitupun dengan Abi dan Zayyan.
Wajah Safiah seketika memerah dia sangat malu.
