Ali!!
Safiah merasa khawatir, wajahnya terlihat cemas.
*Ada apa? kenapa benda ini berbunyi?" Safiah tahu jika benda tersebut berbunyi, ada seseorang dari geng mereka sedang dalam bahaya dan meminta bantuan.
*Bagaimana ini? semoga saja ada yang menyelamatkan. Di sini sangat ramai aku tidak bisa berbicara.* ucap Safiah dalam hati.
Ia berusaha untuk tenang, tapi tetap saja ia tidak bisa. Karena Safiah memiliki jiwa peduli yang sangat tinggi.
_______
Bbuugghh...
Ali terjatuh, wajahnya sudah di penuhi oleh memar akibat pukulan musuhnya.
"Aakkhh...." Dia bangun dan mengelap darah yang ada di sudut bibirnya.
"Heh? jawab!!! dimana dia Sekarang?" ucap Micle menekankan kalimat yang dia ucapkan.
Ya, karena Safiah kabur di saat penentuan kekuasaan. Micle tidak terima, ia mencari keberadaan Safiah tapi Ali tidak ingin memberitahunya.
"Aku tidak tahu dia dimana!"
"Omong kosong!" Micle manasik kerah baju Ali.
"Cepat katakan."
Di belakang mereka geng Drackness sudah terbaring tidak berdaya melawan geng Graxda. Karena jumlah geng Graxda yang sangat banya mereka kalah dan sekarang sisa Ali.
"Kau lacak dia!" paksa Micle.
"Aku tidak ingin." Ucap Ali datar.
Bbuugghh....
Micle memukul Ali hingga sekali lagi Ali terjatuh.
"Baiklah, jika kau tidak ingin memberitahukannya. Aku sendiri yang akan mencarinya."
Ia pergi ke ruang khusus di markas geng Graxda. Ruangan yang di penuhi dengan komputer.
Ia mencari nomer handphone Safiah. Dan ketika sudah menemukan nomer handphone tersebut ia mulai melancarkan aksinya.
Ali menghampiri Micle dan dia sudah berhasil menemukan keberadaan Safiah. Micle menarik sudut bibirnya tersebut puas, ia bangkit dan berjalan pergi.
Ali berjalan dengan gonta karena ulah Micle. Ia berusaha menelepon Safiah, tapi Ali tidak akan membiarkan Micle membuat keributan. Ia segera mengejar Micle dan bawahannya.
_______
Sementara Safiah masih gelisah, ia tidak fokus dengan apa yang di sampaikan gurunya.
Safiah memutuskan untuk pergi ke belakang.
Semua sedang sibuk dengan orang orang di depan.
Safiah pergi ke belakang, tapi di belakang masih ada santriwati dengan jas merah yang berjaga.
Ia tidak peduli dan ingin pergi.
"Mau kemana dek?"u cap santriwati dengan jas merah.
"Saya ingin ke kamar mandi sebentar."
"Tidak bisa, acara masih berlanjut. Kamu tidak bisa pergi."
Safiah sedikit kesal mendengar perkataan wanita tersebut.
Ia hanya tidak biasa di atur.
Dengan terpaksa Safiah kembali, ia diam diam memberi pesan dengan benda yang ada di tangannya. Balasanpun muncul.
Din, geng Graxda hancurkan markas dan membuat geng kita babak belur. Sekarang dia mau menuju ke tempat lu berada.
Itu adalah pesan yang di sampaikan Ali, Fatimah sedikit terkejut. Ia menatap Zayyan dan berusaha memberikan kode dengan tangannya kepada Zayyan.
Tapi Zayyan tidak meliriknya dan sibuk dengan hal lain.
Tapi Zayyan tiba - tiba menyadari, dan Safiah dengan cepat memberi kode rahasia kepada Zayyan.
Zayyan terlihat kebingungan tapi akhirnya dia memberi kode yang sama dan pergi.
Tiba - tiba seorang santriwati memberi tahu Safiah bahwa ia di panggil oleh gus Zayyan.
"Maaf kamu sepupunya gus Zayyan ya?"
"Iya." Safiah mengangguk.
"Itu di panggil sama gus Zayyan."
Dengan cepat Safiah langsung pergi ke arah yang di tunjuk oleh mbak santri.
Ia sudah melihat Zayyan berdiri dan menunggunya.
"Kenapa?" Ucap Zayyan.
"Gawat, geng gua di serang. Dan kemarin yang ngajak gua balapan, dia mau dateng kesini."
"Kalo aku tidak datang, dia pasti akan buat kerusuhan."
"Darimana kau tahu itu."
"Dari ini." Safiah menunjukkan benda yang ada di tangannya.
"Ini benda yang geng kami buat, jika ada dari kami yang dalam bahaya mereka bisa memencet salah satu tombol untuk keadaan darurat. Dan kau tahu tadi yang bunyi apa? Ini!!"
Zayyan menatap benda tersebut.
"Jadi apa yang kau inginkan?"
"Aku pergi dulu untuk menyelesaikan semua ini, dan aku akan kembali."
"Hhuuff...." Zayyan menghela nafasnya.
"Baiklah aku akan ikut."
"Hah!? kenapa kau ikut? jika kau terluka bagaimana?"
"Kau pikir aku tidak bisa bertaruh, aku ini anak silat."
"Oh sudahlah, yasudah ayo sebelum mereka datang kesini."
Merekapun akhirnya pergi.
"Biar aku yang menyetir, berikan kuncinya." Ucap Safiah, Zayyan meraba sakunya dan memberikan kunci mobil kepada Safiah. Mereka masuk ke dalam mobil dan segera berangkat.
_____
Sementara Ali mengendarai motornya dan mengikuti geng Graxda, dia tidak bisa membiarkan ini.
Ia membawa motornya dengan kecepatan maksimal dan berhenti mendadak di depan geng Graxda.
Bbruukk!!
Micle dan anak yang lain yang berada di dalam mobil. Mereka terbentur karena rem yang mendadak.
"Dasar bocah ini!" dengan marah Micle keluar ia membanting pintu mobil.
"KAU!!" amarahnya sudah memuncak, ia menghampiri Ali dan melayangkan pukulan. Tapi Ali bis menghindari pukulan tersebut. Pertarungan pun di mulai, dan geng Graxda ikut membantu ketuanya sehingga keadaan Ali begitu terpojok.
Bbuugghh.
Bbuugghh.
Bbuugghh.
Semua orang mengeroyok Ali hingga ia tidak berdaya lagi. Tiba - tiba banyak batu yang menghujani mereka.
"Eh eh eh siapa ini?"
"Siapa yang melemparkan batu?"
"Sial! kenapa ini."
Tiba - tiba cahaya muncul, sorotan dari lampu motor menyinari mereka. Seseorang yang jumlahnya cukup banyak datang dengan kain hitam yang menutup wajahnya.
Mereka berhenti tepat di depan geng Graxda.
"Heh siapa kalian!?"
Bukannya menjawab pertanyaan Micle, mereka langsung menyerang pasukan Micle. Pertarungan pun kembali terjadi.
Buughh...
Bbuugghh...
Micle terjatuh akibat ulah mereka.
"Haiisy, siapa kalian?"
"Kau tidak perlu tahu siapa kami, dan kau! tidak bisa seenaknya membuat kekacauan." Ucap salah satu dari mereka dan.
Bbuugghh....
Pukulan melayang di wajah Micle, tapi Micle tentu saja tidak mudah di kalahkan ia bangkit dan kembali menyerang musuhnya.
Sementara Ali bingung dengan mereka.
*Siapa Mereka?*
ia melihat pasukan dengan kain hitam yang menutupi wajahnya menyerang geng Graxda. Dan salah satu geng Graxda tumbang di sampingnya.
Ia melihat lelaki bertopeng tersebut, tapi lelaki itu tidak menghiraukannya dan menghajar geng Graxda.
Walaupun jumlah mereka lebih sedikit dari geng Graxda, tapi mereka sangat kuat dan tidak kalah dengan geng Graxda.
Pada akhirnya geng Graxda tumbang, mereka kalah dengan para lelaki tersebut. Setelah geng Graxda sudah tidak berdaya, kumpulan laki - laki tersebut pergi begitu saja.
Dari kejauhan akhirnya Safiah sampai. Ia turun dari mobil dan menghampiri Ali yang sudah babak belur.
"Ali." Tapi karena tidak kuat bangun dan tadi dia di keroyok Ali pun pingsan.
"ALI!!"
