Teman
"ALI!!!!" Safiah menghampiri Ali, yang tidak kuat lagi.
"Kalian memang kurang ajar!!!" ucap Safiah marah ingin menyerang geng Graxda dan Micle.
"KABUR!!!" sementara mereka bergegas kabur sebelum di hajar kembali.
"Dasar kalian!!"
"Bagaimana ini?"
Safiah menatap Zayyan, ia tersenyum.
"Apa harus aku?"
"Ya, masa saya."
"Haiisyy." Dengan terpaksa Zayyan menggendong Ali ke pundaknya dan membawanya masuk ke dalam mobilnya.
Zayyan masuk ke mobil, ia melihat ke belakang memastikan Ali baik dalam posisi tersebut.
"Kita mau kemana?"
"Bawa saja kerumah sakit."
Zayyan pun membawa mobilnya.
Setelah sampai ke rumah sakit ia kembali menggendong Ali.
Tapi tiba - tiba sepatu Ali terjatuh.
"Eh, tunggu." Safiah mengambil sepatu Ali dan memasangkannya lagi.
"Dia sangat menyusahkan."
Ucap Zayyan.
"Sudah ayo cepat bawa dia masuk."
Setelah di bawa ke rumah sakit Ali segera di obati oleh dokter.
Sementara Zayyan, dia sangat kesal karena dia juga harus membayar pengobatan Ali.
"Hehehe tidak apa - apa, kau kan sedekah."
"Bukankah kau kaya? kenapa harus aku yang bayar?"
"Darimana kau tahu aku kaya?"
ucap Safiah.
*Sial! gua salah ngomong.* Batin Zayyan.
"Orang tuamu, kan kaya."
"Ohhh ... sudahlah ayo pulang, kita tinggalkan saja dia. Aku ingin tidur."
Ucap Safiah, Zayyan pun pergi meninggalkan Safiah.
Mereka akhirnya pulang.
Sesampainya di rumah, Abi mengamati menantunya tersebut.
Mereka duduk di ruang tamu, Dan Safiah hanya tersenyum malu kepada Abi.
"Kalian dari mana?" ucap Abi.
"Eemm ... tadi temen Safiah, terluka jadi kami antarkan dia kerumah sakit."
"Kenapa bisa terluka?" Safiah terdiam sejenak bingung harus menjawab apa.
"Eemm.... tadi dia di keroyok preman."
"Ohhh... bagaimana sekarang keadaannya."
"Udah baik kok."
"Eemm... Abi sudah mendengar dari orang tua kamu, bahwa kamu suka pergi malam - malam dan bergabung bersama geng motor."
"Kamu sudah menjadi santri, Abi ingin kamu tidak keluar lagi tanpa izin dari suami kamu. Dan kamu harus keluar dari geng motor itu, kamu mau?"
"Maaf saya tidak bisa."
"Jika harus berhenti dan keluar saja tidak bisa."
"Kenapa tidak bisa?"
"Karena di sana ada teman dan adik - adik saya, dan mereka harus saya rawat."
"Abi tenang saja, saya tidak akan bertarung atau berkelahi. Kami bukan geng motor yang menyerang orang.
Kami geng motor yang baik, dan jika ada permasalahan antar geng. Akan kami selesaikan dengan cara yang baik."
Abi mengangguk, ia tahu bagaimana susahnya melepas kebiasaan yang sering kita lakukan.
"Baiklah asal kamu tidak berbuat yang jahat. Abi akan perbolehkan, besok kamu sudah belajar di pesantren. Tapi sebaiknya kamu keluar dari geng tersebut, karena itu akan menganggu kegiatan kamu di pesantren." Ucap Abi mendengar perkataan itu Safiah hanya diam.
Dia tidak biasa di atur seperti ini. Dia terbiasa hidup bebas dan bermain bersama geng nya. Jika di atur oleh kedua orang tuanya ia masih bisa melawan.
Tapi jika dengan mertuanya ia tidak tahu harus bagaimana, tapi yang pasti ia tidak suka di atur.
"Yasudah, Safiah ingin istirahat dulu. Assalamualaikum" Safiah pergi ke kamar.
"Waalaikummussalam."
"Yasudah Zayyan juga ingin istirahat ya bunda, Abi." Zayyan menyusul Safiah.
Di kamar Safiah mengganti pakaiannya . Ia mengambil heandphonennya yang ia letakkan di atas meja.
Ia melihat notifikasi dari teman temannya karena ia tidak membalas teman - temannya disaat teman - temannya membutuhkan dirinya.
Tiba - tiba ada seseorang yang meneleponnya.
( Malika )
Ia mengangkat telepon tersebut.
"Hallo, Safiah. Kenapa kau tidak mengangkat telepon kami? markas di serang oleh geng Graxda, sekarang semuanya ancur." Ucap Malika di dalam telepon.
"Maaf aku tidak bisa datang, sekarang aku sedang banyak masalah."
"Dan satu lagi, tadi pagi aku datang kerumah kamu. Ibumu bilang kau sudah tidak boleh lagi bergabung bersama kami. Dan kau tidak ada di rumahnya."
"Safiah, apa benar. Pria yang mengatakan dia suami kamu adalah suami kamu?"
"Hhuuff ... aku tidak bisa menceritakan itu sekarang. Besok kita bertemu akan akan menceritakan semuanya kepada kamu."
"Hhuuff ... yasudah, aku harap kau baik - baik saja. Jika ada masalah kau ceritakan saja kepada aku, aku akan siap menjadi pendengar."
"Hhmm, makasih."
"Yasudah, assalamualikum." Ucap Malika mematikan teleponnya. Dengan raut wajah sedih Safiah hanya bisa pasrah dengan keadaannya sekarang.
Tapi sekarang ia tidak memiliki waktu untuk memikirkan masalahnya. Hari sudah terang dan ia harus bersiap siap untuk pergi sekolah.
Ia sudah berpakaian sesuai jadwal, yaitu memakai sarung hitam. Baju hitam dan jilbab hitam, ia juga menyiapkan peralatan sekolahnya.
"Kau mengajar apa?" tanya Safiah kepada Zayyan yang sedang memainkan heanphonenya.
"Aku mengajar tarekh."
"Pelajaran apa itu?"
"Itu adalah pelajaran tentang sejarah para nabi."
"Ohhh..."
"Lalu kau mengajar apa lagi?"
"Aku mengajar kitab, tajwid dan tauhid."
"Ohhh... eemm jika aku ingin kuliah aku boleh, kan. berkuliah."
"Boleh." Ucap Zayyan tapi matanya masih tertuju kepada heanphonenya.
"Apa kau pernah berkuliah?"
Zayyan meletakkan heanphonenya dan menjawab pertanyaan Safiah dengan serius.
"Aku pernah berkuliah di al azhar mesir. Dan aku memutuskan untuk mengajar di pesantren setelah kuliah."
"Dan terkadang Abi suka membawa saya untuk bermain hadroh dan sekali kali saya di undang untuk ceramah. Karena saya mempunyai ilmu dari mesir."
"Dan saya juga pernah pergi ke kota tarim di yaman, di sana saya banyak bertemu dengan orang orang yang sholeh. Dan mereka sering kali mendapat keajaiban dari tuhan."
"Mereka juga sangat taat kepada Allah dan tidak pernah meninggalkan sembahyang. Kau tahu, perempuan di sana hanya keluar tiga kali seumur hidupnya."
"Hah tiga kali? Bagaimana bisa?"
"Bisa saja, pertama perempuan tarim keluar saat ia belum baligh (mestruasi/ dewasa), kedua saat ia menikah ia pergi ke rumah suaminya. Dan ketika saat ia mati."
"Wanita di sana sangat penurut, mereka di didik dengan baik oleh ibu mereka. Bermimpi tentang nabi muhammad itu sudah menjadi kebiasaan mereka. Dan di sana wanita menutup suratnya rapat rapat. Dia jarang keluar rumah. Yang membeli bahan - bahan makanan adalah suami mereka. Dan ketika kamu pergi ke pasaran, kamu akan menemukan banyak lelaki di sana."
"Hah? enak juga disana kita tidak perlu menjadi pembantu untuk suami"
"Tapi bagaimana jika dia ingin membeli sesuatu, apa ada lazada?" Mendengar hal tersebut Zayyan menghela nafasnya.
"Tidak, di sana juga ada pasar khusus untuk perempuan."
"Ohhh...."
"Ayo makan, bunda sudah menyiapkan sarapan." Ucap Zayyan mengajak Safiah untuk makan.
Safiah mengangguk dan merekapun pergi ke ruang makan untuk makan bersama.
Di meja makan sudah ada Abi
dan bunda. Dinda sedikit canggung karena belum terbiasa dengan keluarga baru.g
