Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Seperti Bidadari

Bab 4. Seperti Bidadari

Akhirnya, Bejo memilih untuk menggerakkan tubuhnya sedikit dan berharap Angel terjaga dari tidurnya. Tapi Angel masih tetap pulas dengan tidurnya.

Ulat keket Bejo kembali tegang. Tangan Bejo terasa dingin. Jantungnya kembali berdetak kencang. Beberapa saat yang lalu, Angel masih tidur sambil bersandar di pundaknya.

Bejo sebenarnya ingin memegang tangan mulus Angel agar menyingkir dari tubuhnya, namun sekali lagi ia tidak berani. Akhirnya Bejo membiarkan begitu saja dengan menahan hasrat lelakinya yang bergejolak. Sesekali Bejo melirik hidung mancung Angel dan menatap bulu mata yang lentik itu. Rambut Angel yang berwarna pirang sebagian menutupi wajahnya.

"Benar-benar cantik gadis ini!" Bejo memuji Angel di dalam hati.

"Tapi, siapa aku? Mana mungkin gadis ini mau sama aku?" Bejo bermonolog sambil tersenyum sendiri.

Beberapa saat pun berlalu, akhirnya Angel bangun dan kembali kepada posisinya semula.

"Thanks you, Bejo," ujar Angel yang menatap Bejo sambil tersenyum.

Bejo hanya mengangguk dan membalas senyum Angel, meskipun ia tidak mengerti apa yang diucapkan Angel.

Keduanya kini terdiam untuk beberapa saat. Tidak ada yang memulai untuk saling bicara. Bejo menarik nafasnya perlahan untuk menetralkan kembali detak jantungnya. Pertemuan Bejo dengan Angel seperti bertemu dengan bidadari yang turun dari surga. Apa lagi Angel mengajaknya berbicara dan juga mengajaknya berteman.

"Bejo," panggil Angel dengan dialek asingnya.

"Iya," jawab Bejo sambil tersenyum hingga menampakkan deretan giginya yang putih yang menambah semakin menggodanya wajah Bejo.

"Where do you live?" tanya Angel sambil tersenyum.

Bejo yang tidak mengerti dengan pertanyaan Angel mengangkat bahunya.

Angel tersenyum sambil menatap Bejo. Bejo dengan malu-malu menundukkan wajahnya sambil menarik kaosnya untuk menutupi ulat keketnya yang sejak tadi tegang.

"Angel, kamu sudah mengobrak-abrik hatiku. Baru kali ini aku bertemu gadis secantik kamu," batin Bejo dengan perasaan yang tidak menentu.

"Bejo," ujar Angel sambil memegang tangan Bejo dan menyerahkan kertas yang ada di tangannya.

Kembali ulat keket Bejo menjadi tegang. Dalam hati Bejo mengeluh.

"Kenapa kamu harus tegang terus? Mau kalau sampai dia tahu."

Bejo membaca tulisan Angel sambil menahan gejolak dalam dadanya. Dia membaca tulisan Angel. "Kamu tinggal di mana?"

Bejo mengeluarkan dompetnya dan mengambil KTP untuk ditunjukkan pada Angel. Setelahnya Angel mencatat alamat rumah Bejo.

"Thanks you, Bejo," ujar Angel, lalu mengembalikan KTP milik Bejo.

Parmin mengambil KTP nya kembali dan memasukkan ke dalam dompet.

"Thanks you Bejo, I like you," ujar Angel sambil mencium pipi Bejo.

Bejo terkejut mendapati ciuman Bejo di pipi kirinya. Dia baru pertama kali ini dalam hidupnya mendapat ciuman dari lawan jenisnya. Jantung Bejo kembali berdegup kencang. Tangannya terasa dingin dan bergetar hebat. Apa lagi ulat keketnya kembali tegang dan celananya terasa sesak.

"Ya Tuhan, mimpi apa aku ini? Dicium bidadari yang turun dari surga," batin Bejo.

Bus yang ditumpangi Bejo berhenti di terminal Madiun.

"See you at another time, Bejo," kata Angel yang kembali mencium pipi Bejo.

Angel berdiri dan berjalan meninggalkan Bejo, juga penumpang lainnya. Angel menoleh ke arah Bejo dan tangannya menyentuh bibir mungilnya sebagai tanda kiss bye.

Bejo tersenyum memandang kepergian Angel. Ketika menoleh lagi ke arah Bejo yang masih terpaku berdiri, Angel melambaikan tangannya dan Bejo kembali membalasnya dengan senyum.

***

Di hati Bejo seperti ada yang hilang ketika Angel telah pergi meninggalkannya.

"Kalau jodoh pasti bertemu lagi." Bejo hanya bisa bermonolog.

Bejo perlahan memejamkan matanya. Dia seperti masih merasakan kecupan lembut dari Angel di pipinya. Dengan mata yang masih terpejam, Bejo membayangkan wajah Angel yang menurutnya benar-benar seperti bidadari yang turun dari surga.

Waktu hampir menunjukkan pukul sepuluh. Tiga puluh menit yang lalu, Angel telah berlalu dari hadapan Bejo.

"Menuju rumah Pak Karjo, kita naik angkodes saja, Jo," ujar Paijo mengagetkan lamunan Bejo.

"Saya ngikut aja," jawab Paijo pelan.

Angkodes berhenti di depan mereka. Paijo menghampirinya yang diikuti oleh Bejo. Keduanya kini sudah duduk di kursi penumpang angkodes.

Perlahan angkodes yang membawa mereka sudah meninggalkan terminal bus Madiun. Satu jam menempuh perjalanan menggunakan angkodes, akhirnya sampai juga di rumah Pak Karjo.

Setelah tiba di jalan desa yang ada di depan rumah Pak Karjo, angkodes itu berhenti. Paijo dan Bejo turun dengan membawa tas ransel masing-masing.

"Bejo, kamu tidur bersama Paijo. Sekarang kalian bisa istirahat dulu! Besok pagi bisa mulai bekerja," ujar Pak Karjo pada Bejo.

"Iya, Pak," jawab Paijo.

"Ayo, Jo," ajak Bejo pada Paijo.

"Permisi, Pak, Bu," pamit Bejo sambil meletakkan tas ranselnya di lantai keramik dekat ruang tamu. Bejo mengikuti Paijo masuk ke dalam rumah.

Bu Siti menganggukkan kepalanya.

Paijo membuka pintu kamar tidur. Kamar mereka berukuran 3x3 dengan kasur yang empuk, ada bantal dan guling di atasnya. Juga ada lemari baju yang letaknya tidak jauh dari ranjang tidur.

"Enak Jo kasurnya. Beda dengan di rumah," ujar Paijo.

Bejo duduk di tepi ranjang dan merasakan betapa empuknya kasur mereka.

"Iya, pantas saja kamu kerasan di sini!" ledek Bejo sambil tertawa.

Bejo berdiri dan mengambil tas ranselnya untuk berganti pakaian santai.

"Kamar mandinya ada mana?" tanya Bejo pada Paijo.

"Ayo aku antar!" ucap Paijo yang berdiri keluar dari kamar tidur menuju kamar mandi yang tidak jauh dari kamar tidur.

Bejo segera masuk ke kamar mandi untuk buang air kecil, cuci muka, kaki dan tangan. Selesai dari aktivitasnya di kamar mandi, Bejo kembali lagi ke kamar tidur.

Tiba di kamar tidur, Bejo mendapati Paijo yang tengah memainkan ponselnya.

"Aku bisa minta tolong tidak, untuk kirim pesan ke Pak RT untuk disampaikan kepada si mbok kalau aku sudah sampai di sini," pinta Paijo yang kemudian ikut merebahkan diri di atas tempat tidur, tepat di samping Paijo.

"Iya. Ini aku mau kirim pesan. Kamu bisa lihat kok!"

Bejo memperhatikan Paijo yang mengetik di layar ponselnya.

"Sudah, Jo."

"Terima kasih ya, ngomong-ngomong harga ponsel seperti milikmu itu berapa?" tanya Bejo yang merasa ingin tahu.

"Apa kamu mau beli?"

"Iya, tapi nanti kalau aku sudah bayaran."

"Kalau begitu kamu bilang saja sama Pak Karjo, kalau kamu ingin punya ponsel. Nanti pasti dibelikan dengan sistem potong gaji. Pak Karjo itu orangnya baik, kok."

Tiba-tiba Paijo tersenyum sambil membayangkan wajah Angel.

"Betapa bodohnya aku, kenapa tadi tidak minta nomor ponselnya?" gumam Bejo yang menyalahkan dirinya sendiri.

"Jo , tadi di dalam bus, aku bertemu gadis asing yang sangat cantik. Apa kamu tidak lihat?"

Bejo tidak mau menceritakan pertemuannya dengan Angel apa lagi sampai mendapatkan kecupan dan ciuman manis dari gadis asing itu.

"Tidak. Mungkin dia duduk di belakangku. Karena tadi aku tertidur. Memang kenapa?" tanya Bejo pura-pura tidak mengerti.

"Aku kira kamu tahu. Sayang sekali aku tidak sempat mengambil foto gadis cantik itu."

"Sudahlah, tidak usah dipikirkan! Ayo kita istirahat saja!"

"Jo, kamu tahu tidak? Gadis asing itu benar-benar seperti bidadari. Cantik sekali," kata Paijo yang masih menceritakan soal Angel.

"Kamu suka, ya?"

"Yang jelas dia yang tidak mau sama aku, Jo. Sudahlah, ayo tidur! Besok kita harus kerja," ujar

Paijo.

Bejo mulai menutup mata, namun bayangan wajah Angel melintas di kepalanya.

"Angel, kenapa bayang wajahmu terus melintas di kepalaku? Sedang untuk bertemu denganmu serasa tidak mungkin lagi. Dan yang pasti kamu juga tidak menyukaiku," batin Bejo.

Kedua tangan Bejo ditaruh di belakang kepalanya sebagai bantalan, sedang matanya menatap langit-langit kamar.

"Lupakan Angel! Di sini aku untuk bekerja bukan untuk memikirkan Angel yang tidak mungkin aku temui lagi. Bicara dengannya saja aku tidak becus," batin Bejo.

Bejo perlahan memejamkan matanya dan berusaha menghapus kenangan pertemuannya dengan Angel.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel