Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Angel

Bab 3. Angel

"Mbok, aku berangkat dulu!" pamit Bejo setelah satu minggu kemudian.

Mbok Nah menatap kepergian anak laki-laki nya dengan mata yang berkaca-kaca.

"Hati-hati ya Le, ikut orang?"

"Iya Mbok, nanti kalau aku sudah bayaran, aku akan beli hp untuk telepon si mbok."

"Iya, Le," ujar Bu Nah sambil memberikan sejumlah uang sangu pada Bejo.

"Tidak usah, Mbok. Uangnya buat si Mbok saja selama aku belum bisa kirim uang." Bejo menolak uang saku pemberian Mbok Nah.

"Terus makanmu di sana, bagaimana Le?" tanya si Mbok dengan raut sedih.

"Aku makan di rumah Pak Karjo, Mbok. Si Mbok tidak usah khawatir."

Bejo dan Mbok Nah berbincang-bincang sambil menunggu Paijo menjemputnya.

"Le, di sana tolong kamu pandai-pandai membawa diri! Di sana kamu ikut orang. Jangan lupa untuk beribadah!" pesan Mbok Nah.

"Iya Mbok, saya akan ingat-ingat selalu pesan si Mbok."

Paijo datang dengan di antar Pak De nya. Dia langsung masuk ke dalam rumah Bejo.

"Jo, ayo kita berangkat! Tadi pagi Pak Karjo sudah telepon. Nyuruh kita untuk segera berangkat," ujar Paijo ketika berdiri di depan Bejo yang saat itu masih duduk di depan Mbok Nah.

"Mbok, aku berangkat ya, hati-hati di rumah! Kalau ada apa-apa si mbok minta tolong pada Pak RT untuk kasih kabar pada Paijo," ujar Bejo dan langsung bersalaman dengan Mbok Nah sambil mencium punggung tangan dari perempuan yang sudah melahirkannya itu.

Mbok Nah dengan raut sedih terpaksa melepaskan kepergian anak laki-laki nya.

"Paijo, Mbok nitip Bejo, ya?" pesan Mbok Nah dengan mata berkaca-kaca.

"Siap, Mbok," jawab Paijo dengan semangat. Paijo kemudian juga bersalaman dengan Mbok Nah.

Bejo berjalan membawa tas ranselnya menuju halaman rumah.

Sebelum berangkat, Bejo menatap si mbok nya dengan tatapan tidak tega, tapi dia harus menepis perasaan itu demi menggapai cita-citanya agar suatu saat nanti bisa menjadi orang sukses.

***

Setelah beberapa saat menunggu, sebuah bus berhenti di depan Bejo dan Paijo. Keduanya melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam bus dan mencari tempat duduk. Kursi tempat duduk Bejo selisih lima kursi dari Paijo.

Bejo duduk di kursi yang bersebelahan dengan seorang wanita yang memakai celana jean's dan kaos lengan pendek dengan rambut pirang yang bergelombang sebahu.

"Maaf Mbak, permisi," kata Bejo.

Ada perasaan gugup yang menyelimuti hati Bejo ketika duduk di samping gadis cantik yang baru kali ini dilihatnya.

Dengan bola mata birunya, gadis itu menatap Bejo lebih lama dan tersenyum.

"I don't know, what are you talking about?" ucap gadis itu yang semakin tidak dimengerti oleh Bejo.

"Ngomong opo to cah ayu iki?" gumam Bejo tidak paham dengan ucapan gadis itu.

"I don't understand your language," ujar gadis itu yang kembali tersenyum.

Bejo juga tersenyum menatap gadis itu. Dia kemudian menyandarkan punggungnya di sandaran kursi bus.

Bus yang ditumpangi Bejo sudah melaju semakin jauh meninggalkan desanya. Selama perjalanan, Bejo melihat pemandangan dari jendela bus. Sesekali ia melirik pada gadis cantik yang duduk di sampingnya. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menjalar di hati Bejo.

"Where are you going?" tanya gadis itu.

Bejo hanya bisa menggelengkan kepalanya karena sama sekali tidak mengerti dengan bahasa gadis cantik itu.

Gadis itu membuka tas ranselnya dan mengambil buku serta kamus. Dia menulis pada sebuah kertas dan diserahkan pada Bejo.

Dia menulis, Where: kemana, you: kamu, go: pergi.

Bejo segera menuliskan jawaban, 'Madiun' lalu menyerahkan pada gadis itu.

Gadis itu tersenyum membaca tulisan Bejo dan kembali lagi gadis itu membuka kamus, lalu menulis lagi di kertas dan menyerahkan pada Bejo.

"Siapa namamu?"

Bejo segera menjawab dengan menulis, 'Bejo.'

"Namamu Bejo?" tanya gadis itu dengan logat asingnya.

"Iya. Namaku Bejo. Nama kamu siapa?"

Gadis itu kembali membuka kamus dan mencari kata yang baru saja diucapkan Bejo.

"Angel," jawab gadis itu.

"Angel." Bejo menyebut nama gadis itu.

Angel tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Gadis itu terus menatap Bejo yang berada di sampingnya. Bejo merasa sangat gugup. Namun, beruntung kursi yang ada di depan Bejo tidak ada penghuninya, sehingga mungkin hanya Angel yang bisa melihat kegugupannya.

Bejo dengan sikap malu-malu menundukkan wajahnya. Saat itu jantung Bejo berdegup dengan kencang. Baru kali ini ia merasakan hal yang semacam itu.

Bejo selama ini bisa dikatakan tidak pernah berinteraksi dengan lawan jenis. Dia tidak pernah punya rasa percaya diri untuk mengenal perempuan karena kondisi ekonomi keluarganya.

Siapa pun pasti tidak menyebutkan kalau Bejo memiliki wajah yang jelek. Tampang Bejo begitu manis, tidak membosankan dan mampu menggoda siapa saja. Rambutnya sedikit ikal dengan hidung mancung untuk ukuran orang Indonesia.

Angel tiba-tiba memegang tangan Bejo yang membuat Bejo semakin gugup. Namun dengan cepat, Bejo segera melepaskan tangannya dari pegangan Angel.

"Bejo, I love Indonesia. I want to stay in Indonesia. You want to be my friend?" tanya Angel.

Bejo menggeleng, dia tidak tahu apa yang tengah dibicarakan Angel.

Terlihat raut wajah kecewa dari Angel.

"Maaf, aku tidak mengerti kamu ngomong apa," jawab Bejo dengan menunduk, namun wajahnya melirik ke arah Angel.

Angel kembali membuka kamus dan buku catatannya. Dia menuliskan sesuatu di sana dan memberikannya kepada Bejo.

Di sana tertulis, 'Apakah kamu mau jadi temanku?'

Bejo mengangguk dan tersenyum malu pada Angel.

Bus terus melaju dan keduanya masih berkomunikasi lewat bahasa tulis.

Dengan berbekal kamus, Angel tidak mengalami kesulitan untuk berkomunikasi dengan Bejo.

"Bejo, I want to sleep."

"Sleep?" Bejo tampak kebingungan.

Angel memejamkan matanya sambil kedua tangannya ditaruh di samping kepala untuk memberi isyarat bahwa dia ingin tidur.

Bejo menganggukkan kepalanya tanda mengerti dan membiarkan Angel tidur. Bejo memperhatikan sekitarnya sambil melihat pemandangan melalui jendela bus.

Ketika Bejo menoleh ke samping, tampak Angel yang masih tertidur pulas. Tiba-tiba kepala Angel bersandar di bahu Bejo dan tangannya tanpa sadar memegang salah satu paha Bejo.

"Ya Tuhan, kuatkan imanku," desah Bejo di dalam hati.

Saat itu, sikap Angel mau tidak mau membuat ulat keket Bejo yang belum pernah tersentuh oleh siapa pun langsung berdiri. Celana yang dikenakan Bejo terasa sesak ketika ulat keket itu telah tegak dengan sempurna.

Bejo merasakan ada cairan yang keluar dari ulat keketnya. Jantungnya juga masih tetap berdegup kencang. Saat itu kepala Angel sudah menyentuh pipi Bejo.

"Ya Tuhan, aku harus bagaimana?" kembali Bejo mendesah di dalam hati.

Bejo melihat ke bawah dan ternyata celananya sudah terasa basah.

Angel sedikit menggerakkan tubuhnya dan saat itu tangan Angel sudah memeluk tubuh Bejo. Jantung Bejo berdetak semakin kencang. Dia ingin menyentuh Angel, namun sama sekali tidak memiliki keberanian.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel