Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Pergi Belanja

Bab 5. Pergi Belanja

Bejo dengan cepat dan hati-hati mengerjakan pekerjaan di ladang yang diberikan oleh Pak Karjo.

"Jo, apa di rumah kamu juga sering bekerja di ladang?" tanya Pak Karjo sambil mengasah sabit yang ada di tangannya.

"Iya, Pak," jawab Bejo dengan sopan.

Pak Karjo meneruskan aktivitasnya mengasah sabit.

"Berarti kamu juga bisa mencangkul di ladang?"

"Bisa banget, Pak."

"Baguslah. Kalau begitu nanti bantu memanen porangnya, ya?" pinta Pak Karjo.

"Iya Pak, tapi tolong nanti jangan ditinggal sendiri, takut tidak sesuai dengan yang Bapak inginkan," ujar Bejo mengungkapkan kekhawatirannya.

"Kamu tidak usah khawatir. Aku akan memandu kamu, kalau ternyata sudah sesuai keinginanku, tidak apa-apa kan ditinggal sendiri?"

Bejo mendengar ucapan Pak Karjo dan matanya langsung berbinar bahagia.

"Iya Pak, tidak apa-apa," kembali Bejo menjawab dengan sopan.

Bejo meneruskan pekerjaannya membantu Pak Karjo, hingga waktu menunjukkan pukul 11.45.

"Pak Karjo, saya minta izin untuk Salat dulu. Setelah ini saya lanjutkan membantu Bapak lagi."

"Iya Jo, silakan!" ucap Pak Karjo sambil menatap Bejo yang berlalu meninggalkannya.

Bejo menuju ke sungai yang tak jauh dari kebun porang itu untuk berwudlu. Selesai wudhu, Bejo berjalan menuju gubuk yang ada di tengah-tengah kebun porang untuk menunaikan Salat. Namun, sebelumnya Bejo mengganti bajunya dengan baju yang bersih.

Selesai Salat, Bejo kembali melanjutkan pekerjaannya di kebun hingga waktu menunjukkan pukul 14.00.

"Paijo, Bejo, kalian bisa beristirahat dulu," ujar Pak Karjo setelah waktu menunjukkan pukul 14.00.

"Iya, Pak," pamit Bejo dan Paijo untuk meninggalkan kebun itu dan kembali ke rumah. Setelah membersihkan tubuhnya keduanya segera beristirahat di dalam kamar.

Bejo segera merebahkan tubuhnya di atas pembaringan. Demikian juga dengan Paijo.

"Paijo, kita kerja di kebun sampai jam berapa setiap hari?"

"Tidak mesti Jo, kadang Pak Karjo jam dua sudah nyuruh kita istirahat, seperti hari ini. Tapi, kadang juga sampai pukul 04.00."

"Ayo, kita istirahat, Jo! Biar kita tidak kurang tidur!"

"Iya, ayo!" jawab Bejo.

Bejo beberapa kali menguap dan perlahan menutup matanya untuk tidur siang.

Hari itu memang merupakan hari pertama bagi Bejo untuk bekerja, sehingga ia melakukannya penuh semangat.

& & &

"Jo, ini uang jajan harian!" kata Paijo memberikan uang sebesar 30 ribu.

"Terima kasih," ujar Bejo dan memasukkan uang tersebut ke dalam saku celananya.

Bejo perlahan menutup mata dan segera terlelap dalam tidurnya. Lelah dari pagi hingga menjelang sore membuatnya segera terlelap untuk tidur.

Azan Subuh yang berkumandang di masjid membangunkan Bejo. Dia segera bangun untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan Salat Subuh. Setelahnya dia ingin melanjutkan tidur kembali karena masih merasa ngantuk.

"Jo, Bejo," terdengar suara Paijo yang sedang membangunkan Bejo.

"Ada apa? Aku masih ngantuk banget," ujar Bejo dengan mata yang terpejam sambil memeluk guling.

"Ayo ke Pasar!" Paijo memberi tahu Bejo akan tugas mereka berdua pagi itu.

"Hari ini kita dikasih tugas ke pasar. Tempatnya tidak jauh dari sini. Kita cukup jalan kaki," jelas Paijo.

Bejo menganggukkan kepalanya dan mengumpulkan tenaganya untuk bangun. Perlahan ia membuka matanya dan melihat Paijo duduk di sampingnya.

"Iya, aku mandi dulu," kata Bejo sambil bangun dari tidurnya. Dia melangkah keluar dari kamar tidur dan menuju kamar mandi dengan handuk tergantung di lehernya.

Beberapa saat kemudian, Bejo keluar dari kamar mandi dan bertemu Pak Karjo di dapur.

"Jo, setelah ini kamu ke pasar sama Paijo, ya? Uang dan catatannya ada di Bu Siti!" pesan Pak Karjo.

"Iya, Pak," jawab Bejo sambil menganggukkan kepalanya.

Bejo kembali ke kamar tidur dan mendapati Paijo di depan pintu kamar tidur.

Bejo segera berganti baju, menyisir rambut dan memandangi wajahnya.

"Kalau dipikir-pikir, aku ini sebenarnya ganteng juga," gumam Bejo memuji dirinya sendiri sambil mengamati wajahnya di cermin yang terpasang di dinding kamar tidur.

Paijo masuk ke kamar tidur masih dengan handuk yang menutupi sebagian tubuhnya.

"Paijo, tadi Pak Jarwo bilang kalau uangnya ada pada Bu Siti," ujar Bejo ketika Paio masuk ke kamar.

"Iya Jo, kamu ambil dulu! Aku mau pakai baju."

Bejo mengangguk dan berjalan keluar kamar untuk mencari Bu Siti.

"Jo, kamu belanja sama Paijo, ya?" kata Bu Siti ketika bertemu Bejo di ruang tamu.

"Iya, Bu," jawab Bejo singkat.

"Sebentar, aku ambilkan uangnya," ujar Bu Siti yang langsung masuk ke dalam kamar, sedangkan Bejo tetap menunggu Bu Siti di ruang tamu.

Bu Siti keluar dari kamarnya dan menghampiri Bejo.

"Ini uangnya, terus ini daftar belanjanya. Ada sisa sedikit buat kalian. Terus ini kamu belikan sarapan lima bungkus," ujar Bu Siti yang menyerahkan sejumlah uang dan kertas berisi daftar belanjaan.

Bejo membaca tulisan yang ada di kertas tersebut.

"Paijo sudah tahu tempatnya untuk belanja," ujar Bu Siti yang berlalu meninggalkan Bejo.

Bejo berjalan menuju kursi dan duduk menunggu Paijo datang.

Seorang perempuan seumuran dengan Bejo masuk ke dalam rumah. Bejo menganggukkan kepalanya dan tersenyum sambil menyapa perempuan itu.

"Mbak,"

Perempuan itu balik tersenyum.

"Karyawan Bapak yang baru?" tanya perempuan itu.

"Iya, Mbak," jawab Bejo sambil tersenyum.

Perempuan itu kemudian berlalu masuk ke dalam rumah dan memanggil ibunya.

"Ibu, ini Rara pulang."

Paijo datang dan membawa kantong belanjaan.

"Ayo Jo, kita ke pasar!" ajak Paijo.

Bejo berdiri dan berjalan bersama Paijo untuk pergi belanja ke pasar yang letaknya tidak jauh dari rumah Pak Karjo.

"Perempuan yang tadi masuk ke rumah, siapa ya?" tanya Bejo ketika ada di perjalanan menuju pasar.

"Itu tadi anak Pak Karjo dan Bu Siti. Namanya Rara. Dia kuliah, biasanya ngekos tidak jauh dari kampusnya," jelas Paijo.

"Terus, itu tadi dia pulang?"

"Iya. Cantik, ya?"

Bejo hanya tersenyum mendengar Paijo memuji Rara. Ingatan Bejo tiba-tiba melayang pada Angel.

"Di mana Angel sekarang, ya?" batin Bejo.

Bejo memegang pipinya dan mengusapnya perlahan, seolah mengingat kejadian beberapa hari yang lalu ketika Angel mengecup dan mencium pipinya.

Akhirnya Paijo dan Bejo sampai juga di pasar.

"Ayo, Jo!" ajak Paijo.

Bejo pun mengikuti Paijo masuk ke dalam pasar. Pasarnya cukup besar dan menyediakan semua kebutuhan.

"Karungnya sepuluh gulung, ditambah tali rafia tiga gulung besar," ujar Bejo pelan setelah membaca tulisan Bu Siti ketika berdiri di depan penjual karung.

"Pak, karung sepuluh gulung sama tali rafia tiga gulung besar," ujar Paijo pada penjualnya.

"Masih ada lagi?" tanya penjual itu setelah mengambilkan permintaan Paijo.

"Tidak ada lagi, Pak," jawab Bejo.

Setelahnya Bapak penjual itu menyebutkan harganya dan Bejo segera memberikan uang sejumlah pembayaran.

"Terima kasih, Pak," ujar Bejo.

Setelah capek berkeliling pasar untuk berbelanja, keduanya meletakkan barang belanjaan dan duduk di kursi.

"Aku haus, aku minum dulu, ya?" ucap Bejo dan mengambil satu botol mineral, sedangkan Paijo memesan makanan sebanyak lima bungkus.

"Bu, ini harganya berapa?" tanya Bejo sambil menunjuk satu botol air mineral. Penjual minuman itu segera menyebutkan harganya dan Bejo membayarnya menggunakan uangnya sendiri.

"Alhamdulillah," kata Bejo lirih setelah meneguk air mineral itu.

"Ayo, Jo!" ucap Paijo.

Bejo berdiri dan mengangkat karung belanjaan. Setelahnya dia keluar dari warung dan mengikuti Paijo yang berjalan di depannya.

"Kamu setiap hari bawa barang belanjaan sebanyak ini?" tanya Bejo pada Paijo ketika sudah keluar dari dalam pasar.

"Iya, Jo," jawab Paijo sambil tertawa.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel