Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Perhatian Rara

Bab 6. Perhatian Rara

Bejo dan Paijo berjalan membawa barang belanjaan sambil bercanda, hingga tanpa terasa mereka sudah tiba kembali di rumah Pak Karjo.

"Tadi untuk membeli makanan ada uang lebih atau tidak?" tanya Bejo.

"Ini lebihnya, sepuluh ribu," jawab Paijo dan memberikannya kepada Bejo.

Keduanya meletakkan barang belanjaan di teras rumah dan satu kresek makanan yang langsung di bawa ke dapur yang diletakkan di atas meja makan.

"Bu Siti, ini uang kembalianya!" kata Bejo sambil menyerahkan uang kembalianya pada Bu Siti yang tengah duduk di meja makan bersama Rara.

"Bejo, bukankah tadi aku sudah bilang kalau uang kembalianya kamu ambil saja, kamu bagi dengan Paijo sebagai uang lelah membawa barang belanjaan yang segitu banyak," ujar Bu Siti.

Bejo masih berdiri terpaku dengan memegang uang lima puluh ribu.

"Ini untukmu dan Paijo! Kalian berdua segera sarapan! Setelah ini berangkat ke kebun bersama Bapak," ujar Bu Siti yang segera menyerahkan dua nasi bungkus pada keduanya.

"Terima kasih, Bu," ujar Bejo sambil menerima dua bungkus nasi.

"Aku lupa belum cuci tangan. Biar aku cuci tangan dulu!" kata Bejo yang berbalik menuju wastafel untuk mencuci tangannya.

"Tadi ada uang kembalian belanja 50 ribu. Oleh Bu Siti suruh bagi kita berdua. Kamu 25 ribu dan aku juga 50 ribu," kata Bejo sambil memberikan uang 25 ribu kepada Paijo, lalu membuka bungkus nasi.

"Iya Jo, terima kasih," ujar Paijo.

"Cantik ya, Rara?" tanya Paijo setelah mengunyah makanan.

"Menurutku biasa saja," jawab Bejo sambil melanjutkan makannya.

"Jo, andai Rara suka sama kamu, bagaimana??"

"Jangan ngayal kamu! Aku ini cuma babu, mana mau!" jawab Bejo sambil menatap Paijo.

"Kalau kamu bagaimana? Misalnya Rara suka sama kamu?" Bejo balik bertanya.

"Aku sih mau aja. Pasti hidupku akan jadi enak. Tinggal bantu mertua di kebun. Tidur juga gratis," jawab Paijo penuh harap.

"Memang benar semua yang dibilang Paijo, tapi aku tidak ingin hidup di bawah ketiak mertua. Lebih baik berusaha sendiri," batin Bejo sambil melanjutkan makannya.

"Oh ya, apa sudah ada balasan pesan dari Pak RT?" tanya Bejo disela-sela makannya.

"Dari tadi aku belum lihat ponsel," jawab Paijo yang juga meneruskan makannya.

Keduanya melanjutkan makan tanpa saling bicara. Mereka dengan lahap menikmati sarapan pagi. Setelahnya Bejo keluar kamar dengan membawa kertas minyak tempat makanannya tadi dan membuangnya ke tempat sampah. Setelahnya dia mencuci tangan di wastafel.

Ketika Bejo hendak kembali ke kamar, dia bertemu dengan Rara dan Bejo berhenti ketika Rara menyapanya.

"Eh, Mas Bejo."

Bejo tersenyum dan menganggukkan kepalanya bertanda menghormati anak sang majikan.

"Libur kuliah ya, Mbak?" tanya Bejo menatap Rara sekilas lalu menundukkan kepalanya.

"Iya, Mas," jawab Rara sambil tersenyum.

Bejo kembali menganggukkan kepalanya. Dia merasa canggung berbicara dengan anak sang majikan.

"Permisi, Mbak," ujar Bejo meninggalkan Rara dan langsung kembali ke kamar.

"Ini Jo, ada pesan dari Pak RT. Kamu baca sendiri!" ucap Paijo ketika Bejo masuk ke dalam kamar.

Bejo menerima ponsel Paijo dan membaca pesan dari Pak RT yang mengabarkan kalau Mbok Nah baik-baik saja.

"Paijo, bagaimana ini cara membalasnya? Tolong ajari aku!" ucap Bejo yang merasa bingung untuk mengoperasikan ponsel Paijo. Maklum selama ini Bejo tidak pernah memegang ponsel sama sekali.

Paijo memberi tahu bagaimana caranya membalas pesan. Setelahnya Bejo menulis pesan untuk Pak RT dan menyampaikan kalau keadaannya di tempat kerja baik-baik saja.

"Terima kasih, ya?" ucap Bejo mengembalikan ponsel Paijo.

"Akhirnya aku bisa menulis di ponsel," ujar Bejo dengan senyum gembira.

"Kampungan banget kamu, Jo!" ledek Paijo.

"He he, memang kenyataannya aku orang kampung," kekeh Bejo yang menerima begitu saja ledekan Paijo.

***

Kini keluarga Pak Karjo beserta Bejo dan Paijo telah bersiap untuk pergi ke kebun.

"Mbak Rara ikut juga?" tanya Bejo ketika Rara duduk di sampingnya.

"Iya Mas, di rumah sendiri, rasanya sepi," jawab Rara yang langsung masuk ke mobil pick up.

Pak Karjo segera menghidupkan mesin mobilnya dan meninggalkan rumahnya untuk segera berangkat menuju ke kebun.

Beberapa menit berlalu, akhirnya mobil yang ditumpangi Bejo sampai juga di kebun. Setelah Rara turun dari mobil, Bejo segera turun juga dengan membawa setumpuk karung yang akan diisi dengan porang yang waktunya sudah dipanen.

Tanpa menunggu perintah, Bejo dan Paijo segera mengerjakan tugas mereka.

Karung pertama yang mereka pegang sudah terisi porang, hingga menyusul karung-karung berikutnya.

"Mas Bejo, apa kamu terlalu sibuk?" tanya Rara sambil membawa nasi bungkus dan minuman. Gadis itu duduk menghadap Bejo.

"Tidak Mbak, hanya melanjutkan memasukkan porang-porang ini ke dalam karung," jawab Bejo sambil menunduk.

"Permisi, Mbak," ujar Bejo yang langsung berdiri.

"Mau kemana, Mas Bejo? Duduk saja di sini dan temani aku makan!" pinta Rara sambil menatap Bejo lebih lama.

Bejo menunduk ketika menyadari Rara menatapnya. Bejo kemudian menatap ke depan, ke arah bongkahan porang yang masih berserakan.

"Permisi Mbak, saya mau melanjutkan pekerjaan," pamit Bejo langsung berdiri.

Bejo kemudian berjalan sambil menenteng karung untuk melanjutkan memasukkan porang yang masih berserakan di ladang.

Di dalam hati Bejo berkata, "Untung porang-porang ini belum masuk ke dalam karung semua. Kalau tidak, bisa-bisa aku disuruh menunggu anak juragan yang sedang makan, malu juga aku."

"Jo, tolong ambilkan aku minum! Aku haus banget," kata Paijo dari jarak yang agak jauh.

Bejo hanya diam tanpa bisa berkata apa-apa. Dia segera mengambilkan air minum untuk Paijo. Bejo melihat sikap Paijo yang berbeda dari biasanya. Tapi, ia segera melupakannya dan memilih mengambilkan air minum untuk Paijo.

Saat itu, Pak Karjo dan istrinya meninggalkan kebun entah pergi kemana. Jadi, hanya ada Rara yang mengawasi.

Bejo datang menghampiri Paijo sambil membawakan air minum.

"Paijo, tolong bantu aku membersihkan tanah yang masih melekat di porang ini!" pinta Bejo tapi tidak ditanggapi oleh Paijo.

"Biar aku bantu, Mas," tawar Rara.

"Biar aku saja, Mbak!" tolak Bejo.

"Sudah, biar aku bantu membersihkannya! Kasihan kalau kamu melakukannya sendiri. Ayah dan ibu tadi pergi, katanya ada perlu," ujar Rara duduk di sebelah Bejo untuk membantu membersihkan tanah yang masih menempel.

Rara sebenarnya gadis yang menarik. Dia memiliki tinggi badan sekitar 160 cm. Berat badannya juga ideal.

"Paijo, kamu ini gimana sih? Kenapa sejak tadi diam saja dan tidak mau membantu membersihkan tanah yang masih menempel ini? Ayo, kamu bantu!" ucap Rara dengan raut yang kecewa.

"Maaf, Mbak Rara," ujar Paijo yang segera ikut membantunya.

Bejo hanya diam melihat tingkah laku Paijo. Dia ingin menanyakannya nanti ketika sudah santai ada di rumah.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel