Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Berbelanja Bersama Rara

Bab 7. Berbelanja Bersama Rara

"Mas Bejo, apa hari Minggu kamu bisa menemaniku?" tanya Rara memulai pembicaraan.

"Kemana, Mbak?"

"Ke acara pernikahan teman sekolahku."

"Maaf Mbak, aku di sini bekerja untuk membantu pekerjaan orang tua Mbak Rara. Jadi tidak enak kalau aku meninggalkan pekerjaan."

"Acaranya siang Mas, jam satu. Biar nanti aku yang bilang sama ibu," ujar Rara meyakinkan.

Bejo hanya menganggukkan kepalanya tanpa bisa menolak.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Pak Karjo dan Bu Siti juga sudah pulang.

"Dari mana, Bu?" tanya Rara.

"Oh ya, bagaimana tadi pekerjaannya di kebun?" Bu Siti bukannya menjawab pertanyaan putrinya, tapi justru menanyakan pekerjaan di kebun.

"Lumayan bagus Bu isinya. Itu ibu bisa tanya sendiri pada Mas Bejo dan Paijo," jawab Rara begitu meyakinkan.

"Bejo, Paijo, mungkin sekitar satu minggu, kita libur kerja di kebun. Di depan sini mau aku dirikan bangunan," ujar Pak Karjo.

"Bangunan apa, Pak?" tanya Bejo penasaran.

"Kalau misalnya panen dan belum langsung dijual, mau aku pakai untuk menyimpan hasil panen. Tapi, kalau hasil panen sudah dijual, bisa dipergunakan untuk menyimpan pupuk," ujar Pak Karjo sambil menunjukkan tempat yang akan dibangun.

"Kok didirikan bangunan sih Yah, memang hasil panen kita tidak langsung dijual?" tanya Rara yang juga merasa penasaran.

"Iya, kalau pas harganya bagus langsung dijual. Tapi, kalau harga pasaran rendah, di simpan dulu."

"Semoga panenannya selalu melimpah dan harga pasar juga selalu bagus," ujar Bejo ikut berharap.

"Amiin," sahut Pak Karjo yang bersamaan dengan Bu Siti.

***

Pagi itu azan Subuh berkumandang dan segera membangunkan tidur Bejo.

Seperti biasa, bangun tidur Bejo keluar dari kamar dan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu untuk menunaikan Salat Subuh.

Selesai Salat Subuh, Bejo kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan tidur di samping Bejo.

Hari libur kerja di kebun sampai satu minggu ke depan. Bejo bisa santai di rumah selama satu minggu.

Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Bejo membuka matanya dan ketika melihat ke samping ternyata sudah tidak ada Paijo.

Bejo bangun dari tidur dan duduk di atas kasur. Dia merenggangkan kedua tangannya, rasa kantuk dan lelah juga lelah masih dirasakannya. Tapi Bejo merasa tidak enak dengan Pak Karjo dan Bu Siti jika harus tidur kembali. Bejo keluar dari kamar menuju ke dapur dan bertemu dengan Bu Siti.

"Paijo kemana, Bu?" tanya Bejo.

"Ke kebun bersama Pak Karjo. Kamu setelah ini temani Rara pergi ke pasar," jawab Bu Siti yang membuat Bejo merasa heran.

"Bukannya di kebun libur, Bu?" Bejo memberanikan diri untuk bertanya.

"Katanya tidak jadi, makanya Pak Karjo dan Paijo hari ini pergi ke kebun." Bejo menganggukkan.

"Baik Bu, saya siap-siap dulu," ujar Bejo, lalu mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi.

Tidak lama kemudian, Bejo keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju kamar tidur. Ketika tiba di depan pintu kamarnya, ia bertemu dengan Rara.

"Mas Bejo, temani aku pergi ke pasar ya? Aku tunggu di depan."

"Iya, Mbak. Saya siap-siap dulu," Bejo segera masuk ke dalam kamar. Dia berganti baju dan menyisir rambutnya. Setelahnya, ia segera keluar kamar tidur dan menemui Rara yang menunggunya di depan rumah.

"Jalan kaki saja Mas, tidak jauh kok," kata Rara ketika mengetahui Bejo datang.

Bejo dan Rara berjalan beriringan menyusuri trotoar menuju ke pasar.

"Mas Bejo, kamu sudah kerasan belum kerja di sini?" tanya Rara memulai pembicaraan.

"Kerasan Mbak, kalau tidak kerasan saya mau kerja apa di desa? Mana ada yang mau menerima saya kerja yang hanya lulusan SD, Mbak?" jawab Bejo sambil berjalan menyejajarkan langkah kaki Rara.

"Pacar kamu, gimana?" tanya Rara dengan mendongak ke arah Bejo.

"Saya belum memikirkan soal pacar Mbak, buat hidup saja masih susah," nanti kalau hidup sudah enak, baru mikir pacar dan menikah," jawab Bejo begitu santai.

Rara mengangguk dan terus berjalan. Kini Bejo merasa tidak canggung lagi dengan anak dari juragannya.

Bejo dan Rara berjalan sambil ngobrol santai hingga tanpa terasa langkah mereka sudah sampai di pasar. Bejo mengikuti Rara yang berbelanja kebutuhan sehari-hari.

"Bumbunya tidak, Mbak?" tanya Bejo mengingatkan.

"Di catatan tidak ada. Mungkin di rumah masih," jawab Rara.

"Sini, biar aku bawa yang ini!" ucap Rara mengambil satu kantong plastik belanjaan.

"Berat, Mbak."

"Sudah, gak apa-apa. Ayo, pulang sekarang!" ajak Rara.

Bejo mengikuti ajakan Rara untuk pulang, walaupun perutnya lapar ia tidak berani bilang.

Bejo dan Rara keluar dari pasar dan kembali berjalan menyusuri trotoar untuk pulang ke rumah.

"Sebentar Mas Bejo, kita makan dulu," ajak Rara yang disambut anggukan oleh Bejo.

"Mbak, dibungkus saja!" pinta Bejo ketika Rara duduk di kursi yang ada di dalam warung.

"Makan di sini saja, Mas!" tolak Rara.

Bejo masih berdiri di ambang pintu.

"Ayo duduk sini! Kenapa berdiri di situ?"

Bejo akhirnya duduk di kursi yang ada di dalam warung di sebelahnya Rara.

"Bu, soto dua, teh panas dua. Dimakan di sini. Ditambah nasi bungkus satu," pesan Rara.

"Makan di rumah enak, Mbak. Aku langsung bisa membantu di kebun."

"Sama saja, Mas. Kamu ini kenapa sih, bingung banget kalau dekat sama aku? Tidak bakalan aku makan kok, Mas," ujar Rara bercanda.

"Saya merasa tidak enak saja, Mbak. Saya ini cuma pembantu, masa makan bareng anak juragan."

"Mas... Mas.... Tidak perlu merasa tidak enak seperti itu. Seperti aku ini anak raja saja," gumam Rara merendah.

Ibu pemilik warung datang membawa dua gelas teh panas dan diletakkan di hadapan Rara. Rara kemudian menggeser satu gelas ke hadapan Bejo.

"Terima kasih, Mbak," ujar Bejo mengambil satu gelas teh dan meminumnya.

Tidak lama kemudian, ibu pemilik warung datang lagi dengan membawa dua mangkok soto dan meletakkannya di hadapan Rara dan Bejo.

"Mari, Mbak," kata Bejo yang mengajak Rara untuk sarapan.

Rara mengangguk dan menikmati nasi soto bersama Bejo. Selama makan tidak ada perbincangan sama sekali di antara keduanya.

Keduanya segera menyelesaikan aktivitas sarapan tersebut, lalu Rara membayarnya.

"Terima kasih, Bu," ujar Rara sambil menerima satu nasi bungkus yang dipesannya.

Bejo dan Rara kembali berjalan beriringan untuk pulang menuju ke rumah.

"Kenapa aku tadi ngajak kamu sarapan, Mas? Biar kuat bawa barang belanjaan ini. Di samping itu, aku memang merasa lapar," ujar Rara sambil tersenyum.

"Iya Mbak, saya tadi sebenernya juga merasa lapar, tapi tidak berani buat ngomong. Malu," ujar Bejo sambil tertawa.

Rara tersenyum mendengar pengakuan Bejo.

Akhirnya keduanya tiba di rumah dan langsung menuju ke dapur.

"Kok lama, Ra?" tanya Bu Siti pada Rara sambil mengupas bawang putih dan bawang merah.

"Makan dulu di warung Bu, habisnya lapar."

"Kamu beli makanan apa?"

"Ini Bu, aku belikan nasi bungkus buat ibu," jawab Rara sambil menyerahkan nasi bungkus pada Bu Siti.

"Iya, Ra," ujar Bu Siti yang langsung berdiri dari duduknya. Bu Siti menerima sebungkus nasi dari Rara dan dibawa ke meja makan.

Sebelum pergi ke kebun, Bejo membantu dulu mengupas bumbu-bumbu untuk memasak di dapur hari itu.

Sementara Bu Siti sudah selesai dari sarapannya. Wanita itu kemudian menghampiri Bejo dan Rara yang sedang mengupas bumbu-bumbu.

"Ra, apa kamu tidak siap-siap kuliah? Biasanya kamu tidak mau membantu di dapur, tumben sekarang rajin," ujar Bu Siti heran dengan anak gadisnya.

Rara menatap ibunya beberapa saat. "Ibu ini dibantu protes, tidak dibantu juga protes. Gimana, sih?"

Bejo hanya mendengarkan pembicaraan ibu dan anak itu, sambil menyiapkan bumbu-bumbu masak.

"Ok Bu, aku siap-siap dulu. Aku pulang besok hari Sabtu Bu, sekalian mau ke acara nikahan teman aku. Aku rencananya ngajak Mas Bejo, Bu," pamit Rara sambil berdiri.

"Kok ngajak Bejo?" tanya Bu Siti penasaran.

"Terus aku mau ngajak siapa? Masa aku ngajak Ayah. Ya malu kan, Bu. Teman-teman aku ngajak pacarnya semua. Karena aku gak punya pacar, jadi aku ngajak Mas Bejo. Bolehkan, Bu?"

"Terserah kamu. Bejonya mau tidak?"

"Dia mau. Sudah aku tanya semalam, kok."

Bu Siti hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel