Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Diterima Kerja

Bab 2. Diterima Kerja

"Masuk!" suara perempuan dari dalam rumah menjawab ketukan pintu Paijo.

Selang beberapa menit kemudian, muncul sosok perempuan setengah baya menghampiri Paijo dan Bejo yang masih berdiri di ambang pintu.

"Eh Paijo, silakan duduk! Pak Karjo nya sedang keluar," jelas wanita tersebut sambil mempersilakan duduk.

Paijo dan Bejo duduk di kursi tamu, di sebuah sofa yang empuk. Berbeda dengan kursi di rumahnya yang terbuat dari kayu yang terasa keras jika diduduki.

"Kira-kira kapan kembalinya, Bu?" tanya Paijo ketika sudah duduk berhadapan dengan istri Pak Karjo.

"Tidak lama lagi juga pulang. Tadi hanya pamit keluar sebentar," jawab Bu Karjo sambil berdiri.

"Tunggu sebentar, ya," kata Bu Karjo sambil berdiri dan berjalan masuk ke dalam rumah.

"Itu tadi siapa? Sepertinya kamu sangat mengenalnya?" tanya Bejo setengah berbisik.

"Itu tadi istrinya Pak Karjo. Namanya Bu Siti."

Bejo menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Tak lama kemudian, Bu Siti datang kembali dengan membawa dua gelas teh dan pisang goreng, kemudian ditaruh di atas meja.

"Silakan diminum!" ucap Bu Siti dengan ramah mempersilakan Paijo dan Bejo untuk minum teh dan menikmati pisang goreng.

"Paijo, ini siapa?" tanya Bu Siti ingin tahu.

"Dia Bejo, Bu. Kata Pak Karjo kemarin saya diminta mencari teman untuk membantu di kebun porang. Ini orangnya Bu! Kebetulan dia tetangga saya."

"Kamu serius ingin membantu kami bekerja di kebun porang? Kerjanya dari pagi sampai sore. Bagaimana?" Bu Siti menjelaskan kepada Bejo soal pekerjaannya.

"Iya, Bu. Saya mau. Tapi, apa kira-kira saya diterima karena ijazah saya cuma SD?" tanya Bejo ragu.

"Kalau kamu serius untuk bekerja semua itu tidak masalah."

"Syukurlah, kalau saya diterima," ujar Bejo dengan raut bahagia.

"Soal bayarannya bagaimana, Bu? Karena di rumah saya meninggalkan si mbok yang sudah tua yang juga membutuhkan biaya hidup."

"Soal gaji terserah kamu. Kamu menginginkan gaji harian, mingguan, atau bulanan?" ucap Bu Siti kembali menjelaskan.

Bejo menganggukkan kepalanya.

"Kamu boleh pulang ke rumah sebulan sekali, tiga bulan sekali, atau mungkin enam bulan sekali. Untuk transportasi pulang dan pergi kami yang menanggungnya," ujar Bu Siti kembali.

"Iya, Bu. Terima kasih," ujar Bejo dengan sopan.

"Bisa berangkat kapan?"

"Seminggu lagi kamu bisa datang ke sini," jawab Bu Siti memberikan instruksi.

"Iya, Bu," jawab Bejo dengan senyum bahagia. Cita-citanya yang ingin mengubah nasib akhirnya terlaksana juga.

Tak lama kemudian, Pak Karjo datang dan segera bergabung dengan mereka.

Paijo dan Bejo segera berdiri untuk menyalami Pak Karjo.

"Paijo, apa ini temanmu yang mau ikut membantu di kebun?"

"Iya, Pak. Namanya Bejo," jawab Paijo.

Bejo yang duduk di samping Paijo tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

"Bu, apa tadi sudah dijelaskan seperti apa kerjanya?"

"Sudah Pak, dan Bejo bersedia."

Mendengar jawaban istrinya, Pak Karjo menganggukkan kepalanya.

"Oh ya, Pak Karjo, nanti tidur saya di sini atau di gubuk yang ada di kebun?" tanya Bejo yang merasa penasaran.

"Kalian berdua tidur di rumah ini. Kamu tidur satu kamar dengan Paijo. Tadi kamu belum kasih tau Bejo, ya?"

"Maaf Pak, belum," jawab Paijo sambil tersenyum dan tertawa malu.

Tak terasa waktu semakin merambat siang. Paijo dan Bejo berpamitan untuk pulang.

"Pak, saya mau pamit untuk pulang dulu," kata Paijo yang berdiri dari tempat duduk dan diikuti oleh Bejo.

"Paijo, satu minggu lagi aku hubungi. Ponselmu bisa kan aku hubungi?" tanya Pak Karjo ketika mengantar kepulangan Paijo dan Bejo di halaman rumah.

"Bisa, Pak," jawab Paijo singkat.

"Hati-hati kalian di jalan!" pesan Pak Karjo.

"Iya, Pak," jawab Paijo yang segera naik ke atas motor. Setelahnya Bejo duduk di belakang Paijo. Dia tersenyum ramah sambil menganggukkan kepalanya kepada Pak Karjo. Tak lama keduanya meninggalkan halaman rumah Pak Karjo.

"Jo, kamu pengen kemana sekarang?"

"Aku mau pulang saja. Mau kasih kabar baik ini pada si mbok," jawab Bejo.

"Iya Jo, ikut Pak Karjo sebenarnya enak, asal kita rajin dan menurut sama perintah. Eh Jo, Ngomong-ngomong anaknya Pak Karjo cantik lho!" ucap Paijo di sela-sela perjalanan pulang.

"Aku tidak mau memikirkan perempuan dulu. Mau aku kasih makan apa nantinya? Kerjaan saja tidak punya. Aku tidak berani mengenal perempuan dulu kalau memang belum sukses," jelas Bejo.

"Buat penyemangat kerja Jo, jangan terlalu kampungan! Cinta itu indah dan nikmat, lho!"

"Kamu bisa saja," gumam Bejo sambil tertawa.

Motor yang dikendarai keduanya berhenti tepat di depan lampu merah.

"Jo," panggil Paijo sambil menepuk paha Bejo.

"Iya, kenapa?"

"Cewek-cewek di sekitar tempat tinggalnya Pak Karjo cantik-cantik. Di desa kita belum ada cewek yang secantik mereka," ujar Paijo menceritakan sekitar kehidupan di tempat tinggalnya Pak Karjo.

"Kamu ini yang dipikirkan hanya cewek cantik saja!" gerutu Bejo.

Lampu merah kini sudah berganti dengan lampu hijau. Motor yang mereka naiki sudah memasuki desanya kembali.

"Nanti kamu turunkan aku di depan rumahku!" ucap Bejo yang diiyakan oleh Paijo.

Keduanya kini sudah tiba di depan rumah Bejo.

"Kamu tidak mampir dulu?" tanya Bejo setelah turun dari boncengan.

"Tidak Jo, aku langsung pulang saja!" jawab Paijo yang segera meninggalkan rumah Bejo.

Setelah Paijo berlalu, Bejo segera masuk ke dalam rumah. Dia mendapati Mbok Nah yang sedang tiduran di kursi rumah tamu.

"Kamu dari mana, Le? Tadi mbom lihat naik motor sama Paijo."

"Tadi dari rumah Pak Karjo, Mbok. Aku diterima kerja di sana, Mbok," ujar Bejo dengan raut bahagia.

"Lalu kapan berangkatnya?"

"Satu minggu lagi, Mbok. Doakan ya Mbok, biar aku bisa jadi orang sukses," jawab Bejo sambil duduk di kursi dan memijit kaki Mbok Nah.

"Iya Le, Mbok selalu doakan kamu setiap saat. Yang rajin ikut orang, jangan neko-neko. Semoga lancar rezeki dan segera dapat jodoh." Mbok Nah berucap panjang lebar.

"Kok jodoh, Mbok?"

"Iya Le, apa kamu tidak ingin menikah jika sudah sukses nanti?"

"Iya, Mbok. Entah kapan aku bisa sukses. Punya tanah dan lahan yang luas, punya mobil sendiri dan juga punya rumah mewah. Aku akan menikah, Mbok."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel