Minta Izin Si Mbok
Bab 1. Minta Izin Si Mbok
"Hidup zaman sekarang memang serba susah. Apa lagi hidup di desa sebagai seorang petani. Harus peras keringat dan banting tulang. Hasilnya hanya cukup untuk makan sehari sama si mbok. Kapan bisa hidup enak seperti mereka? Tidak pernah kekurangan uang, punya motor bagus dan mobil mewah. Juga punya rumah bagus dan mewah?" keluh Bejo pada temannya yang bernama Paijo ketika mereka sedang duduk di gardu sambil bangunan masjid.
"Nasib keluarga miskin yang hanya berijazah SD. Ya seperti ini?" kembali Bejo mengeluh dengan memasang raut sedih.
"Jo, kamu tidak perlu mengeluh seperti itu! Tidak capek apa mengeluh terus sejak tadi? Aku saja yang mendengarnya capek. Kalau kamu mau bisa ikut kerja aku di kebun porang," ajak Paijo sambil menoleh ke arah Bejo.
"Memang di tempatmu kerja masih butuh orang?" tanya Bejo yang merasa penasaran.
"Iya, tadi waktu aku mau pulang bosku Pak Karjo, ngomong untuk mencarikan orang yang mau membantunya di kebun porang," jawab Paijo menjelaskan.
Bejo terdiam untuk beberapa saat. Dia memikirkan nasib si mboknya, Mbok Nah, jika harus ditinggal kerja dan menginap di rumah Pak Bos atau mungkin jika menginap di gubuk yang ada di kebun porang.
"Aku masih bingung Pay, bagaimana dengan si mbok jika harus aku tinggal kerja dan malam harinya menginap di sana?" ucap Bejo sambil menoleh ke arah Paijo.
"Aku pulang dulu untuk minta izin sama si mbok. Besok aku ke sini lagi kasih kabar sama kamu," lanjut Bejo sambil berdiri untuk meninggalkan gardu dan juga meninggalkan Paijo.
Bejo tinggal di sebuah desa bernama Selur, di wilayah kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Dia tidak di sebuah rumah yang terbuat dari dinding kayu bersama ibunya yang biasa dipanggil Mbok Nah.
Bejo masuk ke dalam rumah dan menghampiri Mbok Nah yang sedang memasak di dapur. Mbok Nah yang menyadari kedatangan anak Laki-laki nya segera bertanya, "Dari mana kamu, Le?"
"Dari rumah Paijo, Mbok. Tadi dapat kabar kalau bos Karjo lagi membutuhkan orang untuk membantunya di kebun porang," jawab Bejo yang segera duduk tak jauh dari Mbok Nah.
"Paijo kapan pulang, Le?" tanya Mbok Nah sambil menoleh ke arah Bejo, anak tunggalnya.
"Kemarin, Mbok," jawab Bejo yang diam untuk beberapa saat.
"Mbok, apa boleh aku ikut kerja Paijo untuk membantu di kebunnya Pak Karjo?" tanya Bejo pada Mbok Nah ketika sedang duduk di dekat dapur untuk menemani si Mbok nya yang sedang memasak menggunakan kayu.
"Waduh Le, kok jauh. Terus si Mbok di rumah sama siapa?" tanya Mbok Nah dengan raut sedih. Perempuan itu tidak ingin anak satu-satunya meninggalkannya seorang diri di rumah untuk merantau.
Bejo tak ubahnya juga seperti Mbok Nah. Dia menatap perempuan yang sudah melahirkannya itu dengan tatapan sedih.
"Mbok, kalau aku terus di rumah dan tidak bekerja, kapan aku bisa menjadi orang sukses? Bekerja sebagai buruh tani di kebun porang, bayaran yang diberikan cukup besar, Mbok. Boleh ya Mbok, aku bekerja di kebunnya Pak Karjo? Siapa tahu, nanti aku bisa membeli kebun sendiri, punya mobil sendiri dan bisa menjadi tuan tanah?"
Bejo memasukkan kayu ke dalam tungku, lalu memandang si Mbok nya yang sudah mulai keriput.
Sebenarnya Bejo juga berat untuk meninggalkan Mbok Nah, apa lagi Bapaknya sudah meninggalkan tiga tahun yang lalu.
"Mbok, piye?" tanya Bejo penuh harap untuk mendapat restu dari si mbok.
"Dengan berat hati si Mbok mengizinkan kamu, Le. Yang rajin kerja di tempat orang ya, Le. Doa si Mbok, semoga kamu menjadi orang sukses."
Entah definisi sukses itu seperti apa, karena masing-masing orang punya definisi sendiri tentang sukses. Demikian juga dengan Bejo dan Mbok Nah.
"Terima kasih, Mbok. Besok aku dan Paijo mau ke rumah Bos Karno," ujar Bejo dengan raut wajah gembira.
"Iya, Le," ujar Mbok Nah. Perempuan setengah baya itu kemudian berdiri sambil membawa mangkuk berisi sayur yang sudah matang.
"Le, nanti apinya kamu matikan, ya?" ucap Mbok Nah ketika menaruh mangkuk berisi sayur di atas meja yang letaknya tidak jauh dari dapur.
"Iya, Mbok," jawab Bejo singkat.
Pemuda berusia 23 tahun itu lalu berdiri untuk mengambil air dari penampungan air menggunakan gayung dan menyiramkannya ke tungku agar api menjadi padam.
"Mbok, kenapa kita tidak pakai gas elpiji seperti orang-orang?" tanya Bejo sambil duduk di kursi di depan meja makan.
"Sebenarnya kita juga dapat bantuan elpiji dan kompornya Le, tapi si Mbok takut untuk menyalakannya. Si Mbok takut kalau meledak. Lebih nyaman pakai tungku saja!" ucap Mbok Nah menjelaskan kekhawatirannya kalau memasak menggunakan elpiji.
@@@
Keesokan harinya, Bejo berangkat ke rumah Paijo yang tidak jauh dari rumahnya. Tiba di depan rumah Paijo, Bejo bersegera untuk mengetuk pintu. Beberapa saat kemudian, pintu rumah Paijo terbuka, menampilkan sosok Paijo yang hanya mengenakan celana pendek dan kaos pendek.
"Masuk, Jo," ujar Paijo mempersilakan Bejo yang masih berdiri di depan pintu untuk segera masuk.
"Kok sepi rumahmu, semua pada kemana?" tanya Bejo dengan pandangan mata mengitari rumah Paijo.
"Mereka semua lagi keluar. Duduk dulu!" ucap Paijo mempersilakan Bejo untuk duduk.
Bejo menganggukkan kepalanya dan segera duduk di kursi ruang tamu.
"Kemarin kamu bilang kalau bos kamu membutuhkan orang untuk membantu di kebun porang. Apa boleh aku ikut bekerja di tempat bos kamu?" tanya Bejo yang sudah merasa tidak sabar.
"Sekarang bisa, mumpung hari masih pagi. Apa kamu sudah minta izin sama si mbok?" tanya Paijo sambil memandang ke arah Bejo.
"Sudah, aku ingin sekali ikut kamu kerja. Aku ingin hidupku bisa lebih baik lagi," ujar Bejo yang mulai berkeluh kesah.
"Kalau begitu, ayo sekarang kita ke sana!" ajak Paijo yang langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Kita ke sana naik apa? Tidak mungkin juga bawa motorku yang butut itu," ujar Bejo ketika berjalan keluar rumah.
Paijo berdiri di teras rumah dan menghadap ke arah Bejo.
"Kamu tunggu di sini sebentar! Biar aku pinjam motornya Pak De," kata Paijo yang berjalan menuju rumah Pak De nya yang berada di samping rumahnya.
Bejo duduk di kursi kayu panjang teras rumah Paijo sambil pikirannya menerawang membayangkan masa depan. Semilir angin kemarau menyapu kulit Bejo yang sawo matang. Bejo memiliki tubuh yang menjulang tinggi sekitar 180 cm.
Beberapa saat kemudian, Paijo datang dengan mengendarai motor milik Pak De nya dan berhenti di tepi jalan yang ada di depan rumahnya.
"Jo, ayo kita berangkat!" ajak Paijo sambil menatap Bejo yang masih duduk di teras rumahnya.
Bejo pun segera berdiri dan berjalan menghampiri Paijo.
"Ini helm buat kamu!" kata Paijo sambil memberikan sebuah helm pada Paijo.
Bejo menerima helm itu dan segera mengenakan di kepalanya. Setelahnya dia duduk di jok belakang yang ada di belakang Paijo.
Paijo segera menghidupkan mesin motornya dan melaju meninggalkan desanya bersama temannya yang bernama Bejo.
Pagi itu matahari bersinar begitu cerah. Langit juga terlihat membiru. Paijo mengendarai motornya dan terus melaju membelah jalanan kota.
Setelah menempuh perjalanan dengan mengendarai motor sekitar dua jam, akhirnya Bejo dan Paijo tiba di rumah Bos Karjo.
Paijo menghentikan motornya di halaman rumah Bos Karjo. Bejo segera turun dari boncengan motor dan melepaskan helm di kepalanya.
"Kira-kira aku diterima bekerja di tempatnya Bos Karjo, tidak?" tanya Bejo dengan perasaan was-was.
"Semua keputusan ada di tangan Pak Karjo. Kamu berdoa saja!" kata Paijo sambil turun dari motornya.
Bejo dan Paijo melangkah masuk ke rumah Pak Karjo dengan halaman yang cukup luas dan terlihat menonjol dibanding rumah lainnya.
Tok... Tok....
Paijo mengetuk pintu meskipun pintu rumah itu terbuka. Bejo yang saat itu berdiri di samping Paijo, perasaannya selalu was-was. Bejo khawatir Bos Karjo menolaknya menjadi pekerja.
Bersambung
Kisah ini bukan semata-mata ingin menceritakan tentang cinta, tapi bagaimana pemuda dan remaja bisa mengemas masa depannya sebaik mungkin, meskipun tidak sempat menikmati pendidikan tinggi.
Hal ini ditunjukkan oleh pribadi tokoh yang bernama Bejo.
Selamat menikmati, semoga suka!
