Perasaan Berbeda
Pov Attar
Aku merasa ada yang berbeda dari kekasihku saat itu.Ya,Mutia mendadak memangkas rambutnya menjadi lebih pendek padahal aku sudah berkali-kali mengatakan padanya jika aku sangat menyukai rambut panjangnya.Dia berbeda karena saat aku temui dia ketika aku datang ke cafe teman kami Galih ia tengah bermesraan dengan Galih saat itu di depan mataku.Bukan tipenya yang suka mengumbar kemesraan dengan lelaki lain selain aku.Dia pergi tanpa pamit padaku yang saat itu tengah mengajak teman wanitaku.Aku memilih tempat duduk untuk meluangkan waktu berdua dengan wanita itu.
"Kamu mau pesan apa?"tanyaku pada wanita itu.
"Moccachinno hangat saja."jawabnya singkat.
"Oke aku pesankan dulu ya."ujarku padanya.
Setelah itu aku menuju meja pesanan dan kebetulah ada Galih di sana sehingga aku sekaligus bertanya soal Mutia padanya.
"Pesan moccachinno hangat 2 ya!"seruku pada pegawai Galih.
"Gal,ada yang mau aku tanyakan padamu."ujarku.
"Soal?"tanya Galih masih sambil memeriksa laporan keuangan cafenya.
"Mutia."sahutku singkat.
Galih menutup bukunya dan menatapku dalam.
"Mengapa kamu bertanya tentang Mutia?"tanya Galih.
"Dia tampak berbeda kali ini."jawabku.
"Lalu?"tanyanya.
"Dia berpenampilan tak seperti biasanya dan aku merasa dia sangat aneh saat aku melihatnya hari ini."jawabku.
"Attar,Attar.Kamu itu sedang cemburu khan karena dia dekat denganku?Harusnya kamu memikirkan semua sebelum melakukan sesuatu."sahut Galih.
"Maksudmu?"tanyaku bingung.
"Dia melihatmu dengan wanita lain apakah kamu merasa dia akan baik-baik saja?"tanya Galih.
"Jika kamu terus mencari kesenangan tanpa peduli perasaannya,aku tak yakin dia akan bertahan denganmu.Aku pun akan menerimanya jika dia ingin bersamaku karena setelah aku melihatnya hari ini aku baru menyadari jika dia cantik dan seksi."ujar Galih membuat hatiku semakin panas.
"Jaga mulutmu!Dia wanitaku dan aku tak akan membiarkan siapapun menyentuh milikku."ujarku sambil mencengkeram kerah baju Galih.
Galih menepis tanganku dan ia tersenyum miring padaku.
"Lelaki egois yang bisanya bersenang-senang dengan banyak wanita tapi tak mau kehilangan wanitanya."ucap Galih lalu meninggalkanku sendiri.
Setelah pesananku jadi,aku kembali menemui teman wanitaku dan kami menghabiskan waktu berdua di sana lalu aku mengantarnya pulang setelah seharian bersamanya.
Saat aku kembali ke rumah aku masih terbayang wajah Mutia.Ku akui saat ini dia terlihat sangat cantik sehingga aku ingin sekali hubunganku membaik dengannya.
"Besok akan ku coba menemuinya."batinku saat itu.
Saat hari beranjak malam aku makan malam seorang diri dengan makanan yang ku pesan secara online dan setelahnya aku beristirahat di dalam kamar untuk melewati malam itu sendiri.
Keesokan paginya aku begitu bersemangat saat bangun tidur dan hari itu aku ingin pergi ke cafe Galih untuk menemui Mutia.Saat aku akan pergi ke cafe Galih,Suci datang dan ia mengatakan sesuatu yang membuatku terkejut.
"Attar,aku hamil."ungkapnya padaku.
"Apa?Bagaimana bisa?"tanyaku kesal.
"Aku lupa meminum pil KB-ku sekali.Mungkin saat itu yang membuatku hamil."jawab Suci beralasan.
"Aish...bagaimana kamu bisa melakukannya?Bukankah kita sepakat melakukan semua ini karena mau sama mau dan kita hanya bersenang-senang saja."ujarku kecewa.
"Tapi semua sudah terjadi dan ini adalah anakmu."sahut Suci.
Aku mengacak rambutku karena bingung harus berbuat apa.Harusnya aku tak melakukan hal itu dengan Suci yang jelas-jelas memiliki dendam pribadi dengan Mutia.
Awal aku dekat dengan Suci saat itu adalah karena Mutia pergi meninggalkanku untuk perjalanan bisnisnya keluar negeri untuk pertama kalinya.Suci sengaja mendekatiku dan menggodaku dengan berbagai cara.
"Attar apa kamu tak ingin merasakan hubungan yang lebih menantang daripada hanya sekedar yang biasa-biasa saja?"tanyanya padaku saat itu.
"Apa maksudmu?"tanyaku bingung.
Suci mendekatiku dan duduk dipangkuanku sambil menghadap padaku.Aku terkejut dengannya yang begitu berani melakukan itu padaku.Ia mulai mencium bibirku dan aku hanya diam karena tentu saja sebagai lelaki normal aku terpancing oleh hasrat sesaat itu.Ciumannya menuruni leherku dan ia menggigit pelan hingga tercipta tanda merah di sana.Aku yang tengah dikuasai gairah tak lagi bisa berpikir dengan otakku sehingga kami mulai bergelung di bawah kenikmatan dunia dengan bertukar peluh di ruang tamu rumahku yang tertutup.Setelah melakukannya aku menyesal dan merasa bersalah pada Mutia karena aku mengkhianatinya.
"Kenapa kamu murung?"tanya Suci padaku.
"Ini salah.Harusnya kita tak boleh melakukan hal ini!"seruku sambil merapikan pakaianku kembali.
Suci memelukku dari belakang dan mengatakan sesuatu padaku.
"Ah,Mutia juga tak akan tahu asal kita tak mengatakannya dan selama itu kita bisa memuaskan satu sama lain."ujarnya menghiburku.
"Tapi bagaimana jika akhirnya kamu hamil?"tanyaku panik.
"Aku akan minum pil KB dan pastinya aku tak akan hamil jika rutin mengkonsumsinya."jawabnya.
Aku pun percaya ucapannya dan mulai tenang hingga kami seringkali melakukannya ketika Mutia perjalanan bisnis keluar kota.
Sayangnya aku mulai terjebak dengan lingkaran hubungan terlarang itu dan terkadang aku harus bermain dengan wanita lain saat Suci tak bisa memenuhi keinginanku.Aku mulai terbiasa hingga lupa diri jika ada hati yang harus aku jaga.Hingga terakhir kali aku dan Suci melakukannya di kamarku.Saat itu Suci tiba-tiba dengan terburu-buru mengajakku masuk ke dalam kamar dan mulai memberikan rangsangan kecil padaku hingga kami berakhir di atas ranjang dengan tubuh polos yang hanya berbalutkan selimut.
"Aku senang sekali bisa melakukan ini denganmu,Tar."ucap Suci.
"Lalu bagaimana jika nantinya kita tak berjodoh?"tanyaku.
Suci menatapku dengan sedikit kecewa lalu ia kembali memelukku dengan erat.
"Aku mencintaimu dan aku rela harus menyerahkan tubuhku padamu."jawabnya.
Aku membelai rambutnya dan merasa kebutuhan biologisku terpenuhi olehnya selama ini.
Aku mulai nyaman dengan Suci dan juga dengan wanita lain yang tentu Suci tak mengetahuinya.Hingga pada akhirnya aku bertemu dengan Mutia di cafe Galih dengan membawa Suci yang meminta pertanggungjawabanku atas kehamilannya.Melihatku dengan Suci tiba di cafe itu,Mutia yang sedang berbincang dengan Galih seolah mengabaikan keberadaan kami.Bahkan saat aku mengatakan jika aku akan menikahi Suci sepupunya itu,dia acuh saja.
"Apa dia sudah tak cinta lagi padaku?"tanyaku dalam hati.
Tapi aku harus melupakan cintaku karena ada benihku di rahim Suci.Mutia justru asyik mengobrol dengan Galih dan mengucapkan selamat padaku saat aku mengungkapkan bahwa aku akan menikah dengan Suci.Dia melenggang pergi setelahnya tanpa peduli dengan kami.
"Ada apa dengannya?"tanyaku pada Galih.
"Tak ada apa-apa.Memangnya ada apa?"tanya Galih balik.
"Dia seperti santai saja mendengar aku akan menikah."jawabku.
"Mungkin dia sudah move on darimu dan sekarang dia sedang mencari penggantimu."sahut Galih.
Mendengar ucapan Galih aku mendadak kesal dan aku tak mengharapkan Mutia melupakanku.Seegois itu aku terhadap Mutia dan kini saat dia mengacuhkanku aku merasa kesal.Aku tak mengerti mengapa aku merasa kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupku setelah Mutia berubah padaku.Tak semanja dan sedekat dulu saat pertama kali kami menjalin hubungan.Relung hatiku kehilangan gadis manis yang selalu mengisi hari-hariku sebelumnya karena kini hanya sifat dingin yang kurasakan dari Mutia.
