Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Mempercepat Pernikahan

Pov. Rafli

Tuan Dirga memintaku menikahi cucunya yang selama ini tak menyukaiku.Awalnya aku menolak karena aku yakin dia akan menolak menikah denganku karena selama ini dia tak menyukaiku.Setelah keputusan kakeknya untuk mempercepat pernikahan kami membuatnya begitu kesal hingga ia pergi mengurung diri di kamarnya,aku mencoba bernegosiasi dengan Tuan Dirga.

"Maaf,Tuan apakah tidak sebaiknya kita menunggu Nona Mutia benar-benar bisa menerima saya?"tanyaku.

"Sampai kapan?Atau kamu mau aku menunggu sampai aku tutup usia,hah?"tanya Tuan Dirga dengan nada kesal.

"Maafkan saya Tuan.Saya hanya tak ingin Nona Mutia merasa tertekan."sahutku.

"Itu akan jadi urusanku yang terpenting sekarang kalian harus cepat-cepat menikah karena aku tak rela cucuku bersama dengan lelaki tak bermoral itu."tegasnya padaku.

Aku hanya menghela napas panjang karena baik Mutia maupun kakeknya sama-sama keras kepala.Aku hanya bisa menuruti ucapan Tuan Dirga karena aku banyak berhutang pada beliau.Beliau yang membiayai pendidikan serta hidupku selama ini.Aku di angkat sebagai cucunya karena beliau merasa aku berpotensi dalam bisnisnya.Aku yang di anugerahi otak yang lumayan pandai membuatnya tak ragu untuk membiayaiku hingga aku lulus S2 dan mengabdi pada beliau.

Setelah Tuan Dirga rasa cukup perbincangan antara kami,ia pergi meninggalkanku di ruang tengah bersama kedua orang tua Mutia.

"Kami percayakan Mutia padamu,Raf!"seru papa Mutia padaku sambil menepuk pundakku pelan.

"Kamu harus bersabar ya dengan Mutia."ujar mama Mutia.

Aku hanya menganggukan kepala menjawab ucapan mereka dan sesungguhnya aku merasa sungkan harus menikah dengan cucu majikanku sendiri.

Setelah kepergian mereka aku bingung harus bagaimana hingga aku berpikir untuk kembali bicara dengan Mutia mengenai pernikahan kami dan nekat ke kamarnya dan masuk ke dalam kamarnya.Saat aku menanyakan kembali tentang keputusannya menerima pernikahan kami,ia justru menggodaku dan membuatku tidak fokus dengan perbincangan kami.

"Sial kenapa dia justru menggodaku seperti ini!"umpatku dalam hati.

Aku sebagai lelaki dewasa tentunya akan tergoda dengan tubuh indah itu tapi otakku masih mampu berpikir dan memintanya untuk menghentikan aksinya.Andai aku lupa diri,pasti akan ku terkam dia saat itu juga.Aku mencoba menetralkan perasaanku dan terus memancingnya dengan pertanyaan yang justru membuatku semakin terhina dengan jawabannya.Aku tersenyum singkat ke arahnya lalu aku pergi dari kamarnya kembali ke kamarku.

Keesokan harinya setelah semalam aku tidur cukup meskipun sebelumnya aku adu mulut dengan Mutia,aku harus bersiap menemani Tuan Dirga keluar kota untuk melihat kantor cabangnya di sana.

"Kamu sudah siap khan,Raf?"tanya Tuan Dirga padaku.

"Iya,Tuan."jawabku singkat.

"Maaf meskipun besok pernikahanmu,aku masih memintamu bekerja dan menemaniku!"seru Tuan Dirga.

"Tidak masalah Tuan.Memang sudah tugas saya melayani Anda."sahutku.

Kami berdua pergi menaiki mobil Tuan Dirga menuju luar kota dan sepanjang perjalanan hanya seputar pekerjaan yang kami bahas dan di selingi dengan perbincangan mengenai Mutia.

Tuan Dirga mengatakan padaku bahwa perusahaan akan menjadi tanggung jawabku setelah pernikahanku dengan Mutia.

"Setelah pernikahanmu dengan Mutia nanti,perusahaan akan aku serahkan padamu untuk kamu kelola."ujar Tuan Dirga.

"Maaf Tuan masih ada Tuan Ardi yang bisa melanjutkan kepemimpinan Anda."tolakku.

"Ardi sudah ku beri perusahaan sendiri dan aku juga sudah mengatakan ini pada Ardi dan dia sama sekali tidak keberatan dengan keputusanku."sahutnya.

"Tapi Tuan masih ada yang lebih berhak dari saya seperti Nona Mutia sendiri."elakku.

"Mutia adalah seorang perempuan dan jika suatu saat nanti dia melahirkan anak kalian,maka mau tak mau kamu yang akan mengurus perusahaan saat dia melahirkan.Mana mungkin dia akan bekerja setelah melahirkan."tegas Tuan Dirga.

"Ah,sudah sejauh itu Tuan Dirga memikirkan tentang jalannya pernikahan kami.Padahal belum tentu cucunya mau aku sentuh."ujarku dalam hati.

Namun aku tak berani berkata seperti itu di depannya.Aku hanya bisa menelan ludah kasar mendengar ucapannya.

"Oh ya,aku juga telah menyiapkan honeymoon kalian di puncak.Aku rasa udara dingin puncak akan membuat kalian bisa cepat-cepat memiliki keturunan."ujarnya lagi.

Seketika aku menatap Tuan Dirga dengan membulatkan bola mataku.

"Bagaimana bisa ia berpikir kami akan berbulan madu dan memberi keturunan secepatnya."batinku heran.

"Ehem...maaf Tuan tapi rencana Anda sungguh terlalu jauh."sahutku dengan senyum canggung.

"Apa salah memiliki keturunan setelah menikah?"tanyanya padaku.

"Tidak Tuan."jawabku singkat.

"Rasanya percuma aku melawan."batinku mengeluh.

Setelah itu kami sampai di kantor cabang dan segera masuk menemui pimpinan kantor untuk memeriksa prospek kerja kantor tersebut.

Cukup lama kami berada di sana dan kami baru saja kembali pulang saat hari telah beranjak sore.Sesampainya di rumah Tuan Dirga,hari telah malam.Aku bergegas membersihkan diri begitu juga dengan Tuan Dirga sebelum kami makan malam bersama.Usai mandi aku menuju balkon kamarku dan melihat Mutia duduk di taman samping rumah seorang diri.Tampaknya dia sangat murung dan seperti ada yang ia pikirkan saat itu.Aku keluar kamar berniat menghampirinya dan mengajaknya bicara siapa tahu dia butuh teman bicara.Sesampainya di sana,ku lihat dia menundukkan kepalanya dan memainkan jari-jari tangannya.Dia tak menyadari keberadaanku di sana dan saat aku menegurnya dia sama sekali tak menjawab sapaanku.

"Sedang apa Anda berada disini sendirian Nona?"tanyaku padanya.

Dia masih diam tak menjawab pertanyaanku dan masih fokus memainkan jarinya sambil menundukkan wajahnya.

Aku menghampirinya namun tetap menjaga jarak dengannya tak ingin ia merasa terganggu dengan keberadaanku di sana.Aku pikir dia masih marah denganku karena rencana pernikahan kami dipercepat saat itu.

"Apakah saya membuat kesalahan pada Anda sehingga Anda tak mau bicara dengan saya?"tanyaku.

"Bisakah kamu memelukku?"tanyanya lirih.

"Hah,apa?"tanyaku lagi ingin meyakinkan jika yang ku dengar tidaklah salah.

"Peluk aku sekarang!"pintanya memelas dengam mata yang berkaca-kaca saat menatapku.

Aku mendekat padanya lalu aku merentangkan tanganku dengannya yang langsung masuk ke dalam pelukanku dan aku mendekap tubuhnya.

"Mengapa terasa sakit saat aku mendengar dia akan menikahi Suci,hiks...hiks...?"tanyanya dengan tangisnya.

"Aku kira aku akan kuat dan bisa melaluinya,tapi ternyata aku lemah."tambahnya.

"Aku kira berpura-pura bahagia di depannya itu mudah,tapi ternyata sangat sulit dan menyakitkan."ujarnya lagi.

Tangisnya begitu pilu dan aku rasa tangisannya terlalu berharga untuk pria yang tak berguna seperti Attar.

"Puaskan tangisan Anda sekarang dan aku harap besok Anda bisa ceria lagi.Habiskan kesedihan Anda saat ini karena besok kesedihan itu harus berganti dengan kebahagiaan."sahutku.

"Aku terlalu mencintai pria yang tak pantas aku cintai.Aku terlalu mengagungkan lelaki yang tak layak untukku."ujarnya lagi.

"Lalu mengapa Anda masih bersih keras menemuinya jika Anda tahu dia tak pantas buat Anda.Bukankah Anda tahu sudah berkali-kali dia melukai hati Anda."ujarku.

Dia hanya diam dan tak menjawab lagi.Hanya isak tangis yang terdengar darinya.Hingga satu jam ia menangis di pelukanku,akhirnya ia menyudahi tangisannya dan menghapus air matanya yang membasahi pipinya.

"Setelah pernikahan kita saya minta Anda tak menemuinya lagi."pintaku tegas.

"Aku tak akan menemui suami orang.Aku bukan wanita seperti itu."sahutnya.

"Meskipun kita menikah hanya karena perjodohan tapi mungkin saya akan merasa cemburu saat Anda bersama dengan pria lain."jelasku.

Mutia menatapku sejenak lalu ia mengalihkan pandangannya ke tempat lain.Ia menghindari kontak mata denganku dan selalu itu yang ia lakukan saat aku menatapnya dalam seolah ia tak ingin bertatapan denganku.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel