Hanya Bercanda
Niatku saat itu hanya bermain-main dengannya tetapi tatapannya yang nyalang menandakan jika ia tidak sedang bercanda.Aku mengabaikannya dan mendekatkan wajahku padanya lalu semakin menantangnya.
"Memangnya apa yang bisa kamu lakukan padaku Tuan Rafli,hmm?"tanyaku sambil menaikkan alisku sebelah.
Rafli menarik pinggangku dan ia mendekatkan wajahnya padaku hingga saat wajah kami semakin mendekat aku memalingkan wajahku dan melepaskan diri darinya dengan rasa canggung.
"Mengapa Anda menghindarinya Nona?Bukankah Anda yang bertanya lebih dulu apa saja yang bisa saya lakukan pada Anda?Bahkan saya bisa melakukan lebih setelah pernikahan kita nanti."jelasnya.
Mendengar ucapannya itu aku berbalik menatapnya tajam dan mengatakan sesuatu padanya.
"Jangan mimpi kamu!Aku tak akan melakukannya dengan pria yang tidak aku cintai!"seruku dengan tegas.
"Bagaimana jika akhirnya saya bisa membuat Anda jatuh cinta,hmm?"tanyanya.
"Tidak mungkin.Mana bisa orang dingin dan kaku sepertimu bisa membuatku jatuh cinta."ujarku.
Ia mengembangkan senyum smirknya lalu dengan santai melenggang pergi dari kamarku.
"Dasar pria gila!"umpatku setelah kepergiannya.
Aku merasa terlalu membencinya karena dia,aku tak bisa mencari pria yang aku suka dan sesuai seleraku.Dan yang kusesalkan lagi karena aku bertemu dengan Attar pria brengsek yang berani bermain bersama wanita lain di belakangku.
Aku merasa hidupku semakin sial kala pernikahanku di percepat karena mengubah penampilanku jauh dari Mutia yang dulu.Ku hempaskan tubuhku di atas sofa dalam kamarku sambil menatap langit senja saat itu dari balik kaca jendela kamarku.
"Hah,kapan aku bisa bebas menjalani hariku sendiri."ujarku bermonolog.
Saat langit semakin gelap aku masih betah menatap perubahan langit hingga matahari benar-benar tenggelam dan bintang serta bulan yang berganti menampakkan dirinya.Suara ketukan pintu di kamar mengejutkanku dan aku membuka pintu kamar untuk melihat siapa yang berada diluar kamarku.
"Ya."sahutku.
"Anda di minta ke ruang makan sekarang juga Nona!"seru salah satu pelayan wanita di rumahku.
"Tolong bilang pada kakek juga orang tuaku bahwa aku tidak lapar."pintaku padanya.
Setelah itu aku kembali menutup pintu kamarku.Aku sedang berusaha untuk memberitahu mereka bahwa aku sedang kesal dengan perjodohan ini.
Aku memeriksa beberapa pekerjaan yang asistenku kirim lewat email lalu ku dengar pintu kamarku kembali di ketuk.
"Aish siapa lagi sih?"tanyaku mengeluh.
Dengan malas aku terpaksa turun dari ranjang dan membuka pintu kamar dengan rasa kesal.
"Ada apalagi sih?"tanyaku tanpa melihat siapa yang berada di depan kamarku.
"Ikut makan bersama dan jangan seperti anak kecil yang mengambek tak jelas!"seru kakekku.
Nyatanya yang mengetuk pintu kamarku saat itu adalah kakek.Aku pun hanya bisa mengikuti semua permintaannya dan keluar dari kamarku ikut makan bersama-sama.
Aku menekuk mukaku saat melihat Rafli di sana makan bersama kami semua.Rasanya aku tak sanggup menelan makananku saat ada dia di sana.
"Aku sudah selesai makan.Aku permisi kembali ke kamar!"pamitku kepada yang lain.
"Apa kamu tak ingin berbincang dengan kami malam ini?"tanya kakek.
"Maaf,Kek.Aku sibuk karena banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan."jawabku.
"Baiklah kalau begitu."sahut kakek.
Aku melangkahkan kaki meninggalkan ruang makan menuju kamarku untuk kembali memeriksa pekerjaanku.
Malam itu ku lalui bergelut dengan pekerjaanku hingga lewat tengah malam dan setelahnya aku mulai beristirahat karena besok aku akan kembali ke cafe tempat biasa aku bertemu dengan Attar untuk kembali melancarkan aksiku.
Keesokan harinya setelah sarapan pagi bersama,kakek dan Rafli akan pergi ke kantor cabang diluar kota.Aku merasa hari itu adalah hari keberuntunganku sehingga aku bisa bebas tanpa di ikuti pria dingin itu.Setelah kepergian kakek dan Rafli dari rumah,aku pun bergegas menuju cafe Galih.Sesampainya di sana seperti biasanya Galih akan menyapaku dan kami berbincang akrab berdua.
"Kamu kembali lagi kemari?"tanya Galih padaku.
"Pastinya,sebelum aku terikat dan tak bisa kemana-mana."jawabku.
"Memang mengapa bisa begitu?"tanya Galih.
"Setelah aku menikah,mana mungkin aku bisa sebebas sekarang."jawabku.
"Kalau kamu menikah denganku,aku tak akan mengekangmu Tia."ujar Galih.
"Ahahaha.Pria sepertimu apa masih berpikir tentang pernikahan.Kamu di kelilingi oleh wanita dan tentu saja aku tak percaya jika kamu bermimpi untuk menikah."ujarku dengan tawa.
"Bodoh sekali pria yang tak mau menikah denganmu.Kamu cantik,karirmu bagus,menarik dan seksi tentunya."ujarnya sambil mengabsen setiap inci dari diriku.
"Nyatanya Attar tak seperti itu.Sepertinya kamu juga tahu jika dia lebih suka menghabiskan waktu dengan wanita lain di banding denganku."sahutku.
Baru saja aku membicarakannya,Attar datang dengan Suci sepupuku dan aku tak merasa heran dengan kebersamaan mereka.Suci yang merasa bisa membuatku cemburu dengan kedekatannya dengan Attar berjalan angkuh di sisi Attar sambil menggandeng lengan Attar.
Aku menatapnya malas lalu kembali aku fokus pada Galih dan berbincang bersamanya seolah aku tak melihat keduanya di sana.
"Tia,apa kabar?"tanya Suci.
"Seperti yang kamu lihat jika aku cukup baik saat ini."jawabku tanpa menoleh padanya.
"Tia,aku mau mengatakan sesuatu jika aku akan menikah dengan Suci."ungkap Attar.
"Aaaaa...begitu ya."ujarku lalu menatap kedua orang itu.
"Selamat ya...kalian memang cocok sekali."jawabku.
"Kamu mau datang khan ke pernikahan kami?"tanya Suci sambil menggenggam tangan Attar di hadapanku.
"Uhmm...bagaimana ya?"tanyaku.
"Kamu bisa datang denganku jika kamu mau,Tia."tawar Galih.
"Aku pasti datang dengan sebuah kejutan."ujarku pada mereka.
"Maaf jika aku mengecewakanmu!"seru Attar.
"Aaahhh...jangan sungkan begitu.Aku baik-baik saja kok.Ya khan Galih!"seruku pada pria pemilik cafe itu sambil mencolek dagunya.
"Tentu saja."jawab Galih lalu merangkul pundakku di depan Attar.
"Wah hebat sekali!Kamu menemukan pengganti Attar dengan cepat setelah baru saja diputuskan!"seru Suci mengejekku.
"Masih lebih baik daripada menjadi pagar makan tanaman."ujarku lantang.
"Ups...sorry keceplosan."tambahku.
Suci tampak geram dengan ucapanku dan ia hanya bisa menghentakkan kakinya karena kesal padaku.
"Oke,sudah saatnya aku pergi dan terima kasih untuk obrolannya hari ini ya,Gal."ujarku pada Galih.
"Sama-sama,Sayang."sahut Galih.
"Sampai jumpa lagi Galih."balasku.
Setelah itu aku melenggang pergi dengan santai menuju mobilku dan dapat ku lihat ada rasa heran dalam hati Attar karena aku sama sekali tak memprotes tentang dirinya yang akan menikah.
Setelah masuk ke dalam mobil aku melajukan mobilku dan aku berhenti mendadak di tepi jalan.Aku merenungi sesuatu lalu kembali menangisi pria yang tak pantas ku tangisi.
"Hiks...hiks...hiks...aku sangat menyedihkan dengan perasaan ini."lirihku.
Aku mencoba bersikap baik-baik saja tapi siapa sangka hatiku begitu sakit saat mendengar pria yang aku cintai selama ini justru memilih sepupuku di banding aku yang selalu bersamanya dan berkorban semua demi dirinya.Puas menangis aku kembali ke rumah lalu sesampainya di sana aku segera masuk ke dalam kamar dan mengurung diri di sana.Aku malas untuk beraktifitas dan hanya berbaring di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamarku.Rasanya tak ada semangat untuk melalui hariku saat itu.Mengapa aku harus bertemu pria seperti Attar di saat pertama kali aku jatuh cinta.Dan mengapa begitu sulit melupakan Attar yang benar-benar membuatku kecewa.
