Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Pembalasanku

Setelah berganti pakaian dengan pakaian yang aku beli di salah satu departemen store sebelum pulang tadi,aku kembali keluar rumah mengendarai mobilku menuju cafe tempat aku biasa menghabiskan waktuku bersama Attar dulu saat kami masih dekat sebelum aku mengadakan perjalanan bisnis keluar negeri.

"Hai,girl tumben beda banget nih gaya kamu!"seru Galih pemilik cafe itu.

"Oh ya.Apa aku terlihat cantik?"tanyaku pada Galih.

"Tentu saja.Mungkin aku akan tergila-gila padamu jika kamu bukan kekasih Attar."ujarnya.

"Apa salah kamu tergila-gila kepadaku meskipun aku sudah memiliki kekasih?"tanyaku memancing.

"Kamu mulai pandai memancing keributan ya."ujarnya memicingkan mata lalu mengedipkan sebelah matanya.

"Menurut pepatah sebelum janur kuning melengkung masih milik bersama."ujarku menggoda Galih.

Tak ku sangka Attar tiba di sana dengan seorang wanita dan aku sengaja mengakrabkan diri dengan Galih untuk membuat Attar cemburu.

Aku semakin mengakrabkan diri pada Galih dan mendekatkan wajahku dengan wajah Galih.

"Bagaimana?Apa kamu tertarik dengan tawaranku sebagai kekasihku yang kedua?"tanyaku pada Galih.

Melihat kedekatanku dengan Galih dan perbincangan kami yang sengaja aku bersuara cukup keras membuat Attar menghampiriku dan menegurku.

"Tia,apa-apaan kamu?"tanya Attar.

"Hai,Attar.Apa kabar."sapaku santai.

"Apa yang kamu lakukan dengan Galih?"tanyanya.

"Ah,kami hanya bercanda dan sepertinya kamu terlalu terbawa emosi dengan candaan kami."jawabku.

Attar menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki dan yang menjadi perhatiannya adalah rambutku seperti apa yang aku duga sebelumnya.

"Mengapa kamu potong rambut panjangmu?"tanyanya dengan nada pelan.

Mungkin dulu aku akan melemah dengan kata sopan dan lemah lembutnya tapi tidak untuk sekarang.Aku akan mengikuti permainannya hingga ia merasa kesal sendiri denganku.

Attar hendak menyentuh rambutku tapi aku melarangnya.

"Jangan sentuh rambutku!Aku baru saja meminta hair stylishku memperbaikinya."ujarku.

"Bukankah aku memintamu untuk tidak memotong rambutmu?"tanyanya lagi.

"Aku bosan dengan tampilanku yang itu-itu saja dan aku rasa sekarang aku lebih percaya diri dengan dandananku ini."jawabku.

Aku menatap wanita di belakang Attar lalu aku menyapanya dengan lantang.

"Hai,kamu kekasihnya juga?"tanyaku pada wanita itu.

"Aku,aku..."belum sempat wanita itu menjawab,Attar telah menyelanya.

"Dia sepupuku dan kebetulan aku mau mengajaknya berkeliling kota."ujarnya.

"Oh oke aku akan pergi dulu,jadi puaskan jalan-jalannya ya."sahutku lalu beranjak pergi dari sana.

"Bye,Galih see you!"seruku pada Galih.

Galih memberikan kiss bye padaku dan Attar kesal dengan tingkah Galih yang sengaja menggodaku.

Selepas aku pergi dari cafe itu,Rafli menarik tanganku saat aku akan membuka pintu mobilku.Aku berusaha melepaskan tanganku dari cengkeraman tangannya tapi Rafli semakin mencengkeramnya kuat.

"Lepaskan aku!"pintaku pada Rafli.

"Tuan Besar meminta saya menjemput Anda."sahut Rafli.

"Aku bukan anak kecil lagi yang harus diawasi setiap aku keluar rumah."balasku.

"Ini perintah Tuan Besar,Nona."sahutnya.

Aku di paksa masuk ke dalam mobilku dengan dia yang mengendarai mobilku pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah,Rafli ikut masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan kakekku.

"Tuan!"serunya pada kakek.

"Terima kasih kamu sudah membawa Mutia kembali!"seru kakek.

"Bukan masalah Tuan."sahut Rafli sambil menundukkan kepalanya.

Setelah itu aku duduk di ruang tengah dengan kedua orang tuaku dan kakek yang berada di sana.

Kakekku mengungkapkan keinginannya untuk segera menikahkanku dengan Rafli.

"Kakek akan mempercepat pernikahan kalian berdua!"seru kakek.

"Apa?"tanyaku terkejut.

"Dua hari lagi kalian akan menikah dan tak ada alasan untuk menolak."ujar kakek.

"Tapi aku tak mencintainya,Kek."protesku.

"Sudah Kakek bilang tak ada alasan untuk menolak."tegas kakek lagi.

Aku hanya bisa menghela napas panjang mendengar keputusan kakek sedangkan Rafli ku lihat tak berkata sepatah kata pun sejak tadi.

Aku melangkahkan kakiku pergi dari sana sedangkan kakek telah sibuk mempersiapkan pernikahan kami yang akan berlangsung lusa.Rafli masih bertahan di rumah karena kakek memintanya untuk tinggal di sana hingga hari pernikahan kami berlangsung.Sore harinya kakek memintaku dan Rafli untuk fitting baju pengantin.Aku terpaksa mengikuti kemauan kakek dan segera pergi ke butik yang kakek sarankan.Sepanjang perjalanan menuju butik itu,aku hanya terdiam karena enggan bicara pada Rafli.

"Apa Anda ingin menghentikan pernikahan ini Nona?"tanya Rafli tiba-tiba.

"Apa aku sanggup melawan kemauan kakekku."ujarku.

"Saya akan coba bicara pada Tuan Besar."sahutnya.

"Sudahlah jangan memaksakan yang tak bisa kamu lakukan.Kita turuti saja mau kakek.Jika kamu ingin berpisah tunggu hingga setahun pernikahan kita lalu kamu bisa mengajukan gugatan cerai padaku.Deal!"seruku sambil mengulurkan tanganku tapi Rafli tak menyambutnya.

"Apa mungkin terlalu lama bagimu waktu setahun itu?Baiklah 6 bulan saja bagaimana?"tanyaku pada Rafli.

"Saya tak akan melakukannya Nona.Saya tak akan menceraikan Anda."tegasnya.

Tanpa terasa kami telah sampai di butik yang di tuju.Segera kami masuk ke dalam butik dan menemui pemiliknya untuk mencoba beberapa pakaian pernikahan di sana.Betapa indahnya beberapa gaun yang di pajang di sana.Aku sangat menyukainya dan tanpa sadar membayangkan andai saja aku menikah dengan pria yang aku cintai.Dengan memakai gaun itu aku bersanding dengan Attar tapi mendadak aku menghempaskan bayangan itu karena itu tak akan mungkin terjadi saat itu.

Aku masuk ke dalam ruang ganti mencoba satu-persatu gaun pernikahanku dan begitu pula dengan Rafli yang mencoba jasnya.Aku keluar dengan gaun pertama berwarna putih dengan lengan pendek tapi tepat di bahunya terbuka menunjukkan punggung indahku yang putih mulus.Sementara Rafli mengenakan jas yang pas di tubuhnya dan aku sangat terpukau melihatnya yang begitu tampan begitu pula dengan dirinya yang menatapku tanpa berkedip.

"Tampan sekali!"pujiku dalam hati.

Aku segera memutus kontak mata dengannya tak ingin ia tahu jika kini pipiku merona saat melihatnya.Kami segera berganti pakaian lalu kembali keluar dengan pakaian semula sambil membawa gaun serta jas pernikahan pulang ke rumah.Dalam perjalanan menuju rumah,kami hanya diam karena aku merasakan kecanggungan yang luar biasa setelah fitting baju pengantin tadi.Hingga kami sampai di rumah,aku bergegas masuk ke dalam kamar begitu juga dengan Rafli yang menuju kamar tamu.

Sesampainya di kamar aku berbaring di atas ranjang dan mencoba menutup mata tapi entah mengapa bayangan Rafli saat mengenakan jas tadi mengusik pikiranku.

"Ah apa sih yang aku pikirkan.Mengapa aku selalu memikirkannya."gumamku seorang diri.

Aku merutuki diriku yang terpesona dengan pria pilihan kakekku itu.Sebelumnya aku tak seperti ini pada lelaki itu tetapi kini rasanya sangat berbeda.Saat aku masih gundah dengan hatiku,pintu kamarku di ketuk seseorang.Aku membukakan pintu lalu Rafli masuk ke dalam kamarku dan menutup pintu kamarku untuk bicara padaku.

"Apa yang kamu lakukan disini?"tanyaku padanya.

"Apa Anda yakin akan menerima pernikahan ini?Jika iya Anda tak akan bisa mundur lagi."ujarnya.

"Mengapa kamu tanyakan hal itu?Atau mungkin kamu yang ragu dengan pernikahan ini karena telah memiliki tambatan hati sendiri?"tanyaku memancing Rafli.

"Saya tak memiliki kekasih hanya saya tak ingin Anda terpaksa menjalani pernikahan ini."jawabnya.

Aku sengaja menggodanya dengan memainkan jariku di dadanya.

"Apa kamu tak ingin menikah denganku karena mungkin bagimu aku tak menarik?"tanyaku.

Rafli mencekal tanganku yang semakin liar menari di atas dadanya yang masih tertutup jas itu.

"Nona,jangan memancingku untuk berbuat lebih jauh karena bagaimanapun juga aku adalah pria normal."ujarnya memperingatkanku.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel