Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2. Saling Mencuri Pandang

Kini, hari telah berganti malam.

Saat ini aku belum pulang ke kosan. Aku masih berada di warung kopi yang berada di luar tempat event property ku berada.

Drrrt! Drrrt!

Ponselku beberapa kali bergetar dan berbunyi. Membuat pentolan belut hitam kontolku ini sedikit terkejut.

Dengan segera aku memasukkan telapak tangan kananku ke saku celana, mengambil ponsel.

Aku langsung mengaktifkan layar ponsel. Terlihat ada pesan masuk di Ponselku.

["Pak, kamu jadi datang kan malam ini?"] Sms dari seorang Wanita yang bernama Ibu Halimah.

["Kalau mau datang. Dari sekarang saja kamu datangnya? Jangan terlalu malam."] Sms Ibu Halimah.

["Baik Bu, sekarang juga saya akan segera datang kesana."] Sms Ku.

["Baik, saya tunggu."] Sms Ibu Halimah.

["Baik Bu."] Sms Ku.

Percakapan sms telah di tutup. Dengan segera aku memasukkan ponsel ke dalam saku celana bahan ketatku kembali.

Sejenak aku mengambil uang yang sudah aku siapkan dari saku kemeja kantor.

"Berapa Bu?" Ucapku kepada Ibu pemilik warung kopi.

"Jadi 10 ribu bang." Ucap Pemilik warung kopi.

"Ini Bu." Aku membayar kopi dan cemilanku.

"Terima kasih Bang." Ucap Pemilik Warung kopi sambil menerima uang dariku.

"Sama-sama Bu." Ucapku.

Aku bangkit berdiri dari kursi, menggendong tas ransel kerja di punggung, berjalan keluar meninggalkan warung menuju ke motorku.

Aku mendaratkan bokong kencangku di jok motor, memakai helm, menjalankan mesin motor. Dengan segera aku menancapkan gas motor lumayan kencang di Jalan Raya menuju ke Kota tetangga, ke tempat tinggalnya Ibu Halimah.

Sekitar satu jam setengah berada di perjalanan, aku pun telah sampai di depan rumahnya seorang wanita yang bernama Ibu Halimah. Terlihat lumayan sepi juga komplek rumah yang di tempati Ibu Halimah ini.

Aku segera mematikan mesin motor, mengambil ponsel dari saku celana bahan ketatku sambil tetap duduk di Jok motor.

["Bu, saya sudah sampai di depan rumah Ibu."] Sms Ku.

["Oh ya? Tunggu sebentar ya? Saya langsung keluar."] Sms Ibu Halimah.

["Baik Bu."] Sms Ku.

Aku pun tetap menunggu Ibu Halimah di depan pintu gerbang rumahnya dengan posisiku yang tetap duduk diatas jok motor.

Tak berapa lama kemudian, terlihat Ibu Halimah sedang membuka pintu rumahnya. Terlihat Ibu Halimah memakai baju tidur dress yang lumayan cukup tembus pandang. Ibu Halimah berjalan menuju ke pintu gerbang, Ia membuka pintu gerbang rumahnya.

"Silahkan masuk Mas?" Seraya Ibu Halimah memanggilku dengan panggilan Mas, bukan Bapak?

Sedikit curiga aku kepadanya, tapi biarlah, yang terpenting penjualan rumahku ini dapat clossing, terlebih dengan statusku yang masih lajang ini.

"Baik Bu." Ucapku langsung menancapkan gas motor lalu memarkirkan motorku di depan rumahnya wanita ini.

Aku segera mematikan mesin motor, melepaskan helm, mengangkat bokong dari jok motor, lalu berdiri pinggir motorku.

Ibu Halimah segera menutup pintu gerbang rumahnya, Ia membalikkan badan, Ia berjalan mendekatiku yang masih berdiri di samping motor.

"Mari Mas?" Ucapnya untuk mengikutinya berjalan.

"Baik Bu." Aku berjalan di belakang mengikutinya.

"Mas, di dalam saja ya? Tidak enak kalau di luar, cuaca juga lagi mendung." Ucapnya sambil membuka pintu rumahnya.

'Padahal di depan teras rumahnya ini, terdapat kursi dan meja. Mau ngapain sih Bu Halimah?' Gerutuku saat ini.

"Baik Bu." Aku menurutinya saja.

Aku melangkah kembali mengikuti Ibu Halimah masuk ke dalam rumahnya. Bu Halimah langsung menutup kembali pintu rumahnya.

"Silahkan duduk Mas?" Ucapnya mempersilahkan diriku untuk duduk di Sofa di ruangan tamu.

"Terima kasih Bu." Ucapku lalu mendaratkan bokong di Sofa. Aku menaruh tas ransel kerjaku di lantai di sebelah kakiku.

"Tolong tunggu sebentar ya Mas? Saya pergi ke dapur dulu?" Ucapnya.

"Baik Bu. Tapi maaf Bu, apakah saya boleh merokok Bu?" Ucapku yang merasakan cuaca malam ini memang lumayan terasa dingin.

"Sangat boleh koq Mas. Terkecuali, jika sedang berada di dalam kamar saya. Sangat tidak di perbolehkan untuk merokok." Ucapnya.

'Apa? Di dalam kamar? Maksudnya apa?' Tanya hatiku.

"Itu Asbak rokoknya ada di bawah meja Mas? Ambil sendiri saja ya?" Ucapnya kembali.

"Baik Bu." Ucapku langsung menunduk mengambil Asbak rokok yang ada di bawah meja. Aku menaruh Asbak di atas meja.

"Ya sudah, saya tinggal ke belakang dulu ya? Mas-nya suka minum kopi apa?" Ucapnya.

"Kopi apa saja, saya suka koq Bu." Ucapku.

"Baiklah." Ucapnya.

Wanita itu membalikkan badan lalu berjalan menuju kearah dapur rumahnya sambil menggoyangkan bokongnya, membuat pentolan batang kontolku ini seketika meronta. Jari tangan kananku pun langsung mengelus pelan pentolan batang kontolku yang menapak di celana bahan ketatku ini.

Aku segera mengeluarkan sebatang rokok, membakar rokok, lalu menikmati sebatang rokok.

Sementara pemilik rumah ini, sedang membuatkan kopi untukku di dalam dapur rumah ini.

Tak berapa lama kemudian, Ibu Halimah berjalan sambil membawa kopi menuju ke ruangan tamu. Ia berhenti berjalan di sampingku.

Terlihat badannya yang langsing, sangat sexy, terlihat lengerienya di balik dress tidur tembus pandangnya itu. Belahan payudaranya pun terlihat kencang.

Ia menungging, mendaratkan kopi diatas meja "Ini Mas, kopinya?" Ucapnya.

Kedua mataku ini langsung tertuju melihat payudaranya dan juga melihat tubuh sama bokongnya yang sedang mengungging barusan.

Semakin mengeras pentolan batang hitam kontolku ini.

Kedua bola matanya Wanita ini pun tertuju ke pentolan batang kontolku, saat ia menungging menaruh kopi diatas meja barusan.

Ibu Halimah mendaratkan bokongnya di sebelah kananku. Ia duduk dengan posisi kaki kanannya menindih di kaki kiri, menghimpit vaginanya. Kedua matanya selalu menatap pentolan batang hitam kontolku.

"Terima kasih Bu." Ucapku lalu menggeserkan bokongku sedikit menjauh dari bokongnya.

"Jangan panggil Ibu lah Mas? Panggil saja Halimah?" Ucapnya dengan nada muanjah sedikit menggoda.

Aku duduk tenang, sambil menahan gejolak birahi yang membuat pentolan batang hitam kontolku yang terus meronta-ronta. Kedua mataku sesekali melirik ke samping, melihat belahan payudaranya.

Gemuruh jantungku ini pun kian berdetup sangat cepat, keringat sedikit keluar menahan gejolak birahiku ini. Sebisa mungkin aku bersikap tetap professional sambil sesekali merokok dengan tatapan kedua mataku kearah depan.

"Jadi, kira-kira, apa saja sih Mas, persyaratannya? Kalau saya, ingin mengambil rumah di Komplek Perumahan itu tuh Mas?" Ucapnya sambil menggeser pelan bokongnya mendekatiku, posisi tangan kanannya mendarat mengelus lembut pahaku yang sebelah kanan.

Semakin meronta mengeras pentolan hitam kontolku ini merasakan belaian halus tangannya di atas pahaku ini. Hmm..

"Sebentar ya Bu?" Ucapku.

"Baik Mas." Tangan kanannya tetap menempel mengelus pahaku.

Sesekali jari telunjuknya naik turun diatas pahaku mendekati kepala pentolan batang hitam kontolku yang kian mengeras melingkar di dalam celana ini. Ia pun seringkali menatap pentolan kontolku ini.

Mungkin fikirnya wanita ini, aku tidak menyadari dengan apa yang sedang di lakukannya ini.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel