Bab 3
Mungkin fikirnya, aku tidak menyadari dengan apa yang sedang di lakukannya ini. Sebisa mungkin, aku terus menahan gejolak birahiku ini.
Aku membungkuk mengambil laptop lusuhku dari dalam tas kerjaku. Aku menaruh laptop diatas meja, membuka layar monitor, mengaktifkan layar monitor laptop, membuka file persyaratan.
"Ini Bu, persyaratannya?" Ucapku sambil memperlihatkan layar monitor laptop kepadanya, agar dia memberhentikan kegiatan mengelus pahaku ini.
Dia malah menggeser bokongnya menempel ke bokongku dengan telapak tangan kirinya yang menempel diatas pahaku, mendekati pentolan batang hitam kontolku yang sedang mengeras ini.
Batang hitam kontolku ini pun, teruslah mengeras mencengkal di dalam celana bahan ketatku.
"Oh itu ya Mas, persyaratannya?" Ucapnya sambil terus mengelus-ngelus pelan pahaku dengan lembut. Jari telunjuknya bergerak ke kanan dan ke kiri di atas paha tepat di bawah pentolan batang hitam kontolku ini.
Sementara belahan payudaranya yang kencang itu? Seperti sangat sengaja di dekatkan di hadapan wajahku.
Terus mengeras pentolan batang hitam kontolku ini di buatnya. Semakin tidak nyaman aku di buatnya.
"Lalu mana lagi Mas, persyaratannya?"
Ucapnya dengan telapak tangan kirinya memegang halus kepala pentolan batang hitam kontolku ini.
Terasa linu pentolan batang hitam kontolku ini. Mungkin fikirnya, aku tidak merasakan sentuhan demi sentuhan tangan lembutnya itu. Aku pun membiarkannya dan berpura-pura tidak mengerti dengan kegiatan yang sedang di lakukan olehnya ini.
"Iya Bu, itu saja persyaratannya."
"Mmm.. gitu.." Ucapnya sambil mendekatkan belahan payudaranya di hadapan wajahku, sambil terus mengelus pahaku, sambil jarinya mengelus pentolan batang kontolku ini.
Tik!
Tik!
Tik!
Terdengar suara rintik hujan lumayan lebat bersama dengan suara gemuruh angin kencang yang lumayan hebat.
Ia langsung melepaskan tangannya dari atas pahaku. Ia sedikit menegakkan badan. Ia sedikit menggeser bokongnya.
"Mas, motornya masukin saja dulu? Hujan tuh, nantinya karatan? Kasihan kan, kalau nantinya karatan seperti saya ini?." Ucapnya.
'Maksudnya Bu?' Tanya di dalam hatiku.
"Baik Bu."
Aku bergegas bangkit berdiri dari Sofa, melangkahkan kaki menuju keluar pintu rumahnya. Sangat mencengkal pentolan bantang kontolku ini. Benar-benar sangat terasa mengeras di buatnya. Sangat tidak nyaman aku melangkahkan kaki ini.
Aku segera menuntun motorku lalu memasukkannya di garasi rumahnya. Lebih tepatnya aku memarkirkan motorku ini, di sebelah mobilnya.
Aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam rumahnya kembali. Terlihat Ia yang masih duduk di Sofa dengan posisi satu kakinya yang menangkring di atas kaki yang satunya menghimpit vaginanya. Ia menatap kearahku yang sedang berjalan ke arahnya ini.
Belum sempat aku duduk di Sofa, Ia langsung mendirikan badannya di hadapanku. Secara otomatis belahan payudara sama tubuh sexy di balik baju dress yang tembus pandangnya itu pun, terlihat jelas di kedua bola mataku ini.
"Mas, basah begitu pakaiannya?"
Ucapnya dengan jempol tangan kanannya mendarat lalu mengelus puting dadaku yang basah kuyup ini.
Secara otomatis pentolan batang kontolku ini pun semakin tegang, semakin horni, merespon puting dada kencangku yang terkena sentuhan lembut tangannya barusan.
"Iya Bu. Saya duduk di luar saja ya Bu?" Ucapku sambil menahan gejolak birah*ku yang sedang bergejolak ini.
Aku pun merasa sangat tidak enak, jikalau harus duduk di atas Sofanya, karena pastinya, nanti sofanya itu akan basah.
Blurp! "Auu"
Ia teriak langsung memeluk dada bidangku sangat erat, karena lampu mendadak mati. Secara otomatis kedua tubuh kita saling bersentuhan tanpa jarak. Kedua balon kencangnya menempel di dada bidangku yang basah ini.
Deg! Deg! Deg! Gemuruh jantungku berdebar sangat kencang. Pentolan bawahku semakin kencang sangat menonjol menempel ke bawahnya yang sedang memeluk tubuh kekar gempalku ini.
Mungkin Ia pun merasakan pentolan hitamku yang menonjol bergerak-gerak di bawahnya.
Aku hanya tetap berdiri kokoh, dan tidak tahu harus berbuat apa. Hampir lumayan lama, Ia memeluk dada bidangku sangat erat. Ia baru melepaskan pelukannya dari tubuhku.
"Maaf Mas?" Ucapnya sambil melangkah mundur.
"Tidak apa-apa Bu."
"Mas, saya boleh minta antar ke dalam kamar? Handphone saya ada di dalam kamar soalnya."
Apakah hujan, lampu yang mendadak mati dan suasana ini semua secara kebetulan? Mau ngapain sih Ibu, ngajakin aku ke dalam kamar? Tanya hatiku yang sangat tertutup ini.
"Maaf Bu, apakah tidak apa-apa? Kalau saya; mengantarkan Ibu ke dalam kamar?" Ucapku yang merasa sangat tidak enak karena takutnya nanti timbul fitnah. Aku pun belum mengetahui di dalam rumahnya ini ada siapa saja.
"Tidak apa-apa koq Mas. Saya kan, di rumah ini tinggal sendirian. Selain saya yang ingin mengambil ponsel, saya juga ingin menyalakan lilin dan juga mengambil sarung untuk kamu? Kasihan badan kamu Mas? Dan saya akan merasa sangat bersalah, jikalau nantinya kamu akan sakit Mas."
Ucapnya terdengar sangatlah lembut dan begitu perhatiannya Ia berbicara di hadapanku ini, dengan kedua matanya menatap kearah bibir tipis sedikit tebalku ini.
Mungkin sebenarnya di dalam hatinya, sangat ingin sekali memeluk tubuh kekarku kembali, lalu menciumi bibir tipis sedikit tebalku yang beraroma rokok ini.
Sementara, pentolan bawahku ini, teruslah meronta mengeras menapak dan mencengkal di balik resletting celana bahan ketatku ini. Sangat tidak bisa di kompromi batang hitam bawahku ini. Hmm..
"Kamu kan sudah terkena angin malam disaat perjalanan tadi, terkena air hujan pula. Nanti badan kamu pasti sakit, kalau kamu tidak mengganti pakaian kamu itu." Ucapnya terdengar sangat lembut, sangat perhatian, membuatku sedikit mematung, hatiku melayang.
Aku hanya berdiam diri di hadapannya dengan kondisi jantungku yang terus bergemuruh.
"Mari Mas?" Ucapnya sambil beranjak berjalan dengan tangannya yang memegang telapak tanganku ingin menarikku.
"Tapi Bu?" Aku tetap berdiri mehanan jalan.
Ia langsung berhenti, membalikkan badan, menatap wajahku.
"Apa lagi sih Mas? Tenang saja Mas, saya pastikan tidak akan terjadi apa-apa koq. Saya sangat takut, kalau harus jalan sendirian masuk ke dalam kamar Mas, takut ada hantu, kecoa, atau tikus mungkin."
Baik Bu. Kalau itu alasan kamu, aku sangat tidak tega kepada kamu. Hatiku yang berbicara.
***
Bersambung..
